JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Ben Elard, Namanya


__ADS_3

Pov author


Nisa tak menyadari di seberang jalan kontrakan, ada beberapa pasang mata yang dari tadi memperhatikannya, mengangkat jemuran yang sudah kering.


Terkadang perempuan itu sedikit kesulitan, mengambil pakaian dari tali gantungan yang tinggi. Sementara di dalam sebuah mobil, mereka yang mengamati gerak-gerik perempuan dengan perut yang membesar, terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing.


Hanya sesekali terdengar suara isakan Santika, yang tak bisa membendung rasa senang dan harunya, melihat kondisi Nisa.


"Kita tunggu sampai dia masuk ke dalam rumah, agar tidak menarik perhatian penghuni yang lain," kata Naresh berusaha setenang mungkin.


Cakrawangsa, papa Naresh hanya mengangguk, entah apa yang di pikirkan.


"Ayo ke sana, Nisa sudah masuk ke dalam rumah," pinta Santika seraya memasang kaca mata hitam lebarnya.


"Hati-hati Ma, perhatikan kendaraan yang lalu-lalang," kata Cakra.


"Papa dan mama duluan, saya mau memarkirkan mobil sebentar. Kamar Nisa yang nomer delapan," kata Naresh.


Nampak beberapa penghuni yang kebetulan ada di luar, menatap penuh selidik, pasangan yang sedang menuju ke kamar nomer delapan.


Tok, tok!!


Tak berapa lama, pintu terbuka. Betapa terkejutnya Nisa saat melihat orang tua yang dirindukan, ada di hadapannya sekarang. Santika langsung menghambur memeluk anaknya, yang masih terbengong.


Tak berselang lama Naresh muncul, kemudian dua lelaki berbeda generasi itu masuk ke dalam, menyusul Santika.


"Maaf Ma, Pa, Bang." Hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Nisa. Kepala menunduk menandakan rasa malu dan bersalah pada keluarganya.


"Sudahlah, kami semua sudah ikhlas. Nggak perlu lagi kita ungkit. Sekarang fokus pada dirimu dan juga anak dalam kandunganmu saja," sahut Santika. Matanya berkaca-kaca saat mengatakan itu.


"Kita pulang ke rumah dulu, sambil menunggu pernikahan Naresh selesai digelar. Setelah itu ... kita pindah di kampung saja," jelas Cakra yang dari tadi hanya diam.


Semua dalam ruangan itu tercengang mendengar penuturan sang kepala rumah tangga.


"Kenapa tiba-tiba, Pa? Lantas toko yang ada mau diapakan?" tanya Naresh bingung.


"Kalau istrimu mau mengelolanya, papa tak keberatan. Dari pada dia bosan nunggu kamu pulang kantor."


"Saya tidak tahu, Pa. Soalnya kami tidak pernah membahas ini sebelumnya."


"Ya kalau tidak ada orang yang mau mengurusnya, terpaksa dialihkan saja ke teman Papa."

__ADS_1


"Dijual, maksudnya?" Kali ini Santika buka suara.


"Iya, lagian kita sudah tua. Sudah waktunya menikmati masa pensiun, ditemani cucu," kata Cakra sambil menatap Nisa.


Santika mengulum senyum, mendengar penuturan suaminya. Meskipun terkesan acuh, tapi rencana yang dituturkan cukup bijak menurutnya.


Menghabiskan masa tua di kampung halaman sekaligus menghindari guncingan tetangga sekitar. Walaupun tidak ada jaminan, bahwa di desa akan bebas dari gosip.


Lain halnya dengan Nisa, hati perempuan itu mengharu melihat betapa besar kasih sayang orang tua kepadanya. [Apakah pantas diriku berlaku seperti sekarang?] gumam Nisa dalam hati. Ah, penyesalan memang datang terlambat.


Melihat kebesaran hati keluarganya, perempuan itu dengan sukarela mengikuti segala rencana yang telah ditetapkan oleh mereka. Setelah berpamitan pada tetangga dan pemilik kontrakan mereka pun meninggalkan kota Bandung.


"Kulitmu kok kusam, Nis?" tanya Santika, memecah kesunyian dalam mobil.


"Namanya juga guide, Ma, ya harus rela berpanas-panasan bersama para pelancong," jawab Nisa.


"Pulang nanti, kita nyalon bareng. Biar nanti di pesta pernikahan abangmu, bisa kinclong lagi."


Dia hanya mengganggukan kepala dengan senyum tipis di bibir.


Santika mencuri pandang ke arah perempuan itu, ada gurat iba di wajah tuanya.


\=\=\=


Memang benar kata orang, bahwa kita tidak bisa memaksa orang untuk menyukai kita, meskipun diri telah melakukan yang terbaik.


Seperti saat ini, di kampung sendiri. Bisik-bisik tetangga masih saja berdengung. Namun, aku memilih untuk menulikan telinga agar tak menambah tekanan batin.


.


.


Kelahiran anak yang kukandung, hanya tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan kelahiran sudah kupersiapkan, tentu dengan bantuan mama.


Bang Naresh pun tak ketinggalan sibuk, walaupun kini kami berbeda kota. Dia dan istrinya, Nindi akan menyempatkan waktu pulang, setiap akhir pekan. Beruntungnya abangku ini, mendapatkan istri yang sholeha.


Toko papa telah dijual, hasilnya beliau membeli beberapa hektar tanah.


Berkebun, kegiatan yang dilakoninya saat ini. Tanaman buah pear, belimbing buah, pepaya california dan juga daun bawang adalah komoditas yang dia kembangkan, di tanah yang dibeli.


.

__ADS_1


.


Tibalah hari kelahiranku. Mama dan papa sudah gelisah semenjak di rumah, sedangkan bang Naresh tidak berhenti menelepon, meskipun dalam perjalanan. Entah bawaan hormon atau apa, tiba-tiba ada sebuah rindu pada Dewa, saat melihat pasien yang lain ditemani oleh pasangan masing-masing.


[Kuatlah!! Menangislah karena anakmu saja! Bukan karena dia,] teriakku dalam hati.


Hampir dua jam, aku berada dalam kamar bersalin. Dengan proses kelahiran normal, akhirnya seorang anak laki-laki, sehat dan normal lahir ke dunia. Hilang sudah semua gundah dan kesedihan kala melihat wajah tak berdosanya.


Papa mengambil alih tugas mengadzani anakku. Netranya tampak berkilat saat melakukan itu, tak tahu apakah rasa haru atau bahagia yang ada di sana.


Suka cita menyambut anggota baru keluarga kami, sangatlah terasa. Papa, mama dan bang Naresh mengadakan acara akikah besar-besaran untuk anakku. Dia kuberi nama Ben Elard. Seorang anak yang berani, artinya.


Aku bersyukur, meskipun El lahir tanpa seorang ayah. Namun, limpahan kasih sayang dia peroleh dari kami sekeluarga.


\=\=\=


"Ma, aku ingin bekerja lagi," kataku saat umur El sudah enam bulan.


Mama menarik napas dalam-dalam, "kenapa Nduk, kok tiba-tiba ngomong begitu," tanyanya. El nampak tenang dalam pangkuan eyang putri.


"Sekarang aku sudah punya tanggungan, Bu. Nisa mau menyekolahkan El, setinggi-tingginya."


Aku menjeda kalimatku.


"Nisa nggak mau lagi merepotkan papa dan mama, yang sudah mau menerima Nisa dan El."


Mama bergeming ....


\=\=\=


Apakah keinginan Nisa mendapat restu dari kedua orang tuanya?


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Yuk, jangan bosan menunggu kelanjutannya yah ❤🙏


Please tinggalin jejak Like, komentar atau apa saja untuk mendukung author 😍🙏🙏


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2