JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Mulai Mengerti


__ADS_3

"Kenapa keluarga ini jadi begini, Dek?" ratap Angga bingung, "belum juga Nina sampai di rumah, El harus masuk rumah sakit. Andaikan Tuhan mau menghukum, biarlah saya saja yang menerimanya."


"Jangan suudzon pada Tuhan mas. Dosa setiap manusia tidak bisa diwariskan pada orang lain, walaupun itu anak-anaknya. Mungkin ini teguran dari-Nya."


"Semua ini karena kebodohan saya. Saya memang pantas dihukum. Biarkan saja__"


"Sudahlah, Mas. Bukan waktunya kita mengeluh sekarang. Apa yang terjadi dengan El?" potong Nisa. Tentu saja ia pun sedih melihat kondisi anak-anaknya, tetapi menyaksikan awan kelabu menaungi Angga, Nisa sadar pria itu jauh lebih sedih lagi. Angga benar-benar menyayangi anak-anaknya.


"Saya pikir dia cuma batuk dan flu biasa, Dek, makanya saya cuma beri obat yang ada di kotak obat. Tapi sampai malam, batuknya semakin parah, pagi-pagi sekali saya larikan ke rumah sakit."


"Apa kata Dokter, Mas?"


"Masih menunggu hasil tes laboratorium, Nina bagaimana?"


"Semoga hasilnya baik-baik saja, mas. Nina aku titipkan mang Adul, dia sudah rindu suasana rumah."


"Nina mau? Nggak menolak pergi dengan supir?"


"Awalnya dia nggak mau, tapi setelah aku beritahu kakaknya juga lagi sakit dan membutuhkan perhatian seperti dia, Alhamdulillah ... Nina mau ikut."


Angga menarik napas lega. "Kamu pulang saja, Dek. Biar saya yang nungguin El di sini."


"Nanti saja, Mas, setelah hasil laboratoriumnya keluar. Aku sudah beritahu mbok Nah mengenai Nina," tolak Nisa. Mereka pun akhirnya menunggu dengan harap-harap cemas.


***


Akhirnya hasil laboratorium keluar.


"Bagaimana, Dok?" tanya Angga getir.


Tanpa sadar Nisa meraih jemari Angga, menggenggam, meremasnya, laksana menyalurkan sedikit kekuatan agar lebih tegar.


"Gejala bronkitis, Pak."


Angga terkulai, punggungnya tertarik pada sandaran kursi, sorot matanya memancarkan kegelisahan.


"Pasien merokok, ya?"

__ADS_1


"Merokok?!" Kali ini Nisa terkejut, "setahu kami tidak, Dok." Hampir tercekik tenggorokan Nisa saat mengatakannya. Beberapa cuplikan kemungkinan El merokok melintas di benaknya. Ah, betapa sedihnya hati Nisa.


"Saya tidak ingin menghakimi, saya hanya akan mengatakan apa yang tertera pada hasil laboratorium. Apa bisa dipahami?" tanya Dokter Alya bijaksana.


Nisa menganggukkan kepala, tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata. Bahkan penjelasan dari Dokter Alya pun bagai sebuah dengungan lebah di telinganya.


Demikian pula Angga, kondisinya tak jauh berbeda dengan sang istri. Berkali-kali ia mengusap wajahnya, menandakan pikiran yang sedang kalut. Mengapa El merokok? Atas kemauan sendiri atau paksaan orang? Dimana? Sekolah, warnet atau rumah?


Berbagai pertanyaan bermunculan di pikiran Angga. Hingga tak sadar mereka sudah berada di depan kamar perawatan El.


El tidak hanya didiagnosis gejala bronkitis, kakak Nina juga terserang demam berdarah. Dokter mengharuskannya opname dan di sinilah El saat ini, menggantikan Nina yang baru saja keluar dari rumah sakit ini.


"Jangan, Dek," ujar Angga. Menahan tangan Nisa yang ingin memutar hadle pintu kamar itu. "Kamu pulanglah terlebih dahulu, jangan sampai Nina sibuk mencarimu. Biar saya di sini. Ada yang harus saya bicarakan dengan El."


"Tapi aku ingin melihat kondisinya, sebentar saja mas," bujuk Nisa masygul.


"Datanglah bila Nina sudah tidur. Saya harus berbicara El, ini urusan antar laki-laki," tolak Angga tegas.


"Jangan tertalu keras mas, dia masih sakit."


"Percayakan saja padaku, Dek. Pulanglah."


***


El melempar pandangannya ke samping. Anak itu tak ingin papa melihatnya menitikkan air mata. El merasa sangat bersalah melihat wajah papa keruh, walaupun papa mencoba menutupinya dengan senyum lembut, tapi El tahu telah menyakiti hati pria itu.


Dari pengakuan El, ia merokok ketika di sekolah dan di warnet. Awalnya memang terpaksa, mengisap batangan tembakau itu karena bully-an teman-temannya. Namun, setelah merasakan kenikmatannya, ia merokok karena keinginan sendiri. El merasa lebih macho, dewasa saat mengisap benda itu. Tetapi anak itu tak tahu, karena merokok lah yang membuatnya terbaring di rumah sakit ini.


"Papa nggak ingin mendengar El merokok lagi, bisa begitu, Nak?"


El masih terdiam, meremas ujung selimut dengan keras.


"Kamu tahu, Nak. Untung masih gejala bronkitis, masih bisa tertangani. Bagaimana jika menyerang paru-parumu? Paru-parumu akan berhenti berkembang. Usiamu masih sangat muda, tapi paru-parumu seperti orang yang telah merokok selama 40 tahun dan kamu pun berisiko menderita kanker paru.


Kamu ingin menyakiti dirimu sendiri dengan cara seperti ini, El?" urai Angga pelan, tapi penuh penekanan. Membuat lelehan air mata El semakin deras.


Sengaja Angga tak menghapus air mata sang anak yang masih memalingkan pandangannya. Ia ingin El tetap mempunyai harga diri meskipun anak itu sedang bersedih.

__ADS_1


"Pikirkanlah papa, mama serta adikmu Nina, saat kamu akan berbuat seperti itu, El. Kami sangat peduli padamu."


"Tidak! Memang benar Papa menyayangiku, tapi mama tidak! Dia hanya peduli pada Nina."


Angga berdiri dari kursi kecil yang ia duduki, bergerak mendekati sang anak. Kemudian membelai rambut remaja tanggung itu dengan penuh kasih sayang.


"Kamu salah, Nak. Mama sangat menyayangimu. Andaikan mama tidak peduli padamu, mungkin dia langsung pulang bersama Nina tadi pagi. Tapi nyatanya, Nina pulang dengan mang Adul."


"Kalau sayang, kenapa mama pergi berhari-hari meninggalkan rumah? Bahkan ketika pulang, mama jarang di rumah."


"Adikmu sakit, El, butuh perhatian ekstra dari orang sehat."


"Tapi tak perlu sampai harus meninggalkan rumah. Mama kan juga harus istirahat. Bagaimana bisa tidur nyenyak jika di rumah sakit?"


Angga tertegun sesaat, memperhatikan putranya dengan seksama. Ada haru yang menjalari hatinya, wajah polos El, mata bening anaknya. Ya Tuhan, Engkau tahu aku sangat menyayanginya. Sekarang Angga tahu, penolakan El terhadap Nisa bukan karena benci. Ada cemburu dan khawatir yang mendasari sikap El.


"Jika kamu ingin mama pulang, harusnya kamu mengatakannya, bukan malah mengacuhkannya seperti kemarin-kemarin. Mama tak pulang karena takut mengganggumu mengerjakan tugas sekolah."


El menundukkan pandangannya. "Maafkan El, Pah," cicitnya nyaris tak terdengar. Sekarang kepalanya terarah ke depan.


Angga menghela napas berat, kemudian memeluk anaknya dengan haru. Walaupun ia hanya ayah tiri, tapi Angga sangat memahami perasaan El. Rasa marahnya, keinginannya, ketakutannya bahkan rasa cintanya.


"Papa juga minta maaf karena belum bisa menjadi orang tua yang sempurna untukmu."


El menggeleng, baginya Angga sosok pria yang sangat ia banggakan, sempurna sebagai seorang ayah.


***


"Dek, saya ingin membicarakan sesuatu," lirih Angga lembut.


Saat ini mereka sedang duduk berdua di kursi besi panjang depan kamar El. Sementara anak itu sedang terlelap. Perasaan Nisa jadi tak enak, ia ingat saat tergugu dalam dekapan Angga di depan kamar perawatan Nina. Dan kini peristiwa itu seperti terulang kembali ... de javu.


"Teruskan mas, aku mendengar," sahut Nisa bingung. Ia tahu Angga sedang memperhatikannya dari samping.


"Kalau saya membatalkan niat untuk berpisah, maukah kamu memberi kesempatan untuk bersama lagi?" cetus Angga.


Serta merta Nisa menoleh ke samping, tepat saat Angga masih menelisiknya dengan lekat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2