JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Harapan Ibu


__ADS_3

Kuperhatikan isi rak buku Dewa, semua buku tentang dunia pertambangan, Rapi. Ada sebuah buku yang tergeletak begitu saja di meja baca, di bawah susun buku. Mungkin saja sebelumnya baru selesai dia baca.


Ada yang terjatuh dari susunan kertas di dalamnya saat hendak menaruhnya dalam susunan rak. Selembar foto wanita, Wanda ...


Terlihat sangat cantik dalam foto, dengan dandanan ala super model. Sungguh sangat serasi jika mereka berdua bersanding di pelaminan.


Dewa yang gagah dan si cantik Wanda dengan bibir seksi yang menggoda. Sungguh sangatlah tak setara jika aku dibandingkan dengan wanita itu, tak ada apa-apanya.


Tiba-tiba ada rasa getir menjalar hati ini, apakah pantas merusak hubungan itu. Secara tidak sadar diri inilah orang ketiga diantara mereka.


\=\=\=


"Eh manten baru sudah bangun, Dewa sudah berangkat sejam yang lalu, Nis," terang ibu.


[Tahu, sangatlah tahu. Aku memang menunggunya meninggalkan rumah ini, baru beranjak bangun,] sahutku dalam hati.


Sengaja agar tak ada perbincangan antara kami, berusaha menghindarinya.


"Sarapan dulu, mau roti atau nasi silahkan pilih sendiri."


Aku mengulum senyum, merasa tak enak hati keluar kamar saat matahari sudah tinggi.


"Maaf Bu, Nisa terlambat bangun."


"Nggak apa-apa maklum masih baru, ibu ngerti kok. Lagian sudah ada bik Sum, jadi nggak usah sungkan."


Aku hanya tersenyum, sambil mengoles mentega di lembaran roti di piring.


"Ibu cuma minta, Kamu lebih memperhatikan Dewa. Tolong jaga dia, hanya itu yang ibu punya."

__ADS_1


"Iya Non, kalau perlu cepat beri momongan buat keluarga ini." Tiba-tiba bik Sum ikut menyahut dengan membawa segelas teh hangat di tangannya.


Uhuk, uhuk, uhuk!!!


"Kebetulan, diminum Non," katanya seraya menyerahkan cangkir teh tersebut.


"Bibik ini, orang nikahnya belum genap dua minggu juga," sahut ibu sambil terkekeh melihatku tersedak.


Anak? Nggak pernah terlintas sedikit pun di benak ini. Bagaimana bisa memikirkan hal itu, jika yang dia pedulikan mencari waktu yang tepat untuk berpisah.


"Dewa masih berkeras ingin pindah ke Kalimantan ya, Nis?" tanya ibu.


Sebenarnya sedikit terkejut mendengar pertanyaan ibu, lelaki itu tak pernah membahas ini. Ahh ... sebenarnya aku ini siapa? Harus menuntutnya melakukan itu!


Lekas kulengkungkan garis senyum di bibir, "kak Dewa belum bilang, Bu, mungkin dia masih berduka," jelasku.


Dia terdiam sejenak, menyesap air putih hangat di sampingnya.


"Ibu bilang ke dia, kalau ke Kalimantan kemungkinan besar rumah ini akan dijual, berat Nis. Ada kenangan tersendiri dari rumah ini. Tetapi kalau di Surabaya, rumah aman. Jakarta-Surabaya dekat, kok."


Aku mengganggukkan kepala, "nanti Nisa coba bicara sama dia, Bu."


Ibu menepuk punggung tanganku dan berlalu meninggalkan meja makan. Kubereskan piring dan gelas sisa pakai. Bik Sum datang tergopoh-gopoh, "sudah Non, biar bibik saja. Ini sudah tugas bibik."


"Nggak apa-apa Bik, belum tentu juga bisa bantu tiap saat."


Kubawa piring dan gelas ke dapur, meletakkannya ke dalam wastafel.


"Sudah Non, sampai di sini saja. Ke depan gih, bibik yang kerja."

__ADS_1


Aku mengangguk, kemudian melangkah ke dalam kamar, mengambil ponsel. Ternyata sudah ada pesan WA masuk dari Dewa.


[Maaf Nis, nggak sempat pamit sama istri sendiri, nggak tega bangunin 😘]


Tersenyum sendiri membaca pesan itu, inilah Dewa yang kukenal, jahil tapi ngangenin.


Lelaki dengan rahang sedikit lancip, memiliki sorot mata tajam, si mata elang julukanku. Selalu terlihat menawan meskipun tanpa senyum, Dewa sang penakluk hati ini.


Kutepuk jidat sendiri, kemana saja pikiran menerawang. Tak bisakah elegan sedikit dan tidak kampungan seperti sekarang. Ishhh ... memalukan.


Segera kubalas pesan dari kekasih hati, [santai saja suamiku 😂] send. Masih berwarna abu-abu, mungkin sibuk ....


\=\=\=


Malam kian larut, mata masih segar, entah mengapa rasa kantuk tidak menyerang. Kupandangi bantal di samping yang sudah tersusun rapi hanya tinggal menunggu pemiliknya saja. Namun, sepertinya sia-sia, Dewa mungkin tak pulang malam ini.


Baru saja berpikir demikian, terdengar derap langkah kaki. Kuambil posisi miring, agar dia tak tau kalau mata belum tertidur.


Pintu terbuka, entah apa yang dilakukannya. Sesaat kemudian terdengar deru napasnya, jantung berdegup kencang kala tangannya melingkar di pinggang ini, panas ....


\=\=\=


Ehemm ... apa yang terjadi selanjutnya yah? Cekidot episode selanjutnya yah ....


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Please komen, like, rate-nya, Reader 🙈😁🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2