JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Rasa Yang Salah


__ADS_3

Dia mendekat, menatapku dengan tajam. Hingga tak sadar tangan kiriku sudah terangkat olehnya.


 


"Ini apa?"


 


Aku tercekat, menelan ludah.


 


"Ini ... ini cincin, Pak," jawabku asal.


 


Dia kembali menjentikkan pelan jarinya di kening ini. Entah mengapa hari ini, dia gemar sekali melakukan itu. Pelan, mengusap bekas tangan Dewa.


 


"Apaan sih, Pak? Dari tadi jentak-jentik. Lama-lama bisa bolong, nie Jedar ... eh jidat," sungutku. Pura-pura merajuk, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


 


"Masa, sih?" Dia meraih kepalaku. Melihat dengan seksama di kening ini. Kembali ada nyetrum!


 


Heran deh, mengapa setelah statusku berubah menjadi tunangan Angga, gampang banget deg-degan bila berdekatan dengannya.


 


Ya Tuhan, ampuni, ampuni, ampuni. Sungguh ini di luar kendaliku. Segera aku beristigfar, mungkin saja ini ujian hubunganku dengan Angga.


 


Dia masih terus melihat di dahi ini. Posisi kami yang berdekatan, membuat pandanganku penuh, pada badan yang terbalut kemeja lengan panjang. Aroma maskulin yang sangat familiar, menguar di hidungku.


 


Hening. Aku bergeming, seperti terlempar ke masa lalu, saat diri ini menggilai aroma favorit Dewa. Dan dia pun diam tak berkutik di hadapanku. Seakan dia ingin menghipnotisku dengan pesona badan tegapnya.


 


Dug! Dug! Dug!


 


Kembali aku mendengar, suara mirip tabuhan gendang. Kupejamkan mata? Mendengar dengan seksama suara itu.


 


"Pak, suara itu terdengar lagi."


 


"Suara apa?"


 


"Suara seperti tabuhan gendang," jelasku pelan. Sementara Dewa terdiam. Kedua alisnya yang lebat bertautan ditengah. Ekspresinya itu, membuatku semakin salah tingkah.


 


"Pak, jangan terlalu dekat. Takut orang salah paham, mengenai sikap Bapak," pintaku seraya menjauh darinya.


 


"Padahal saya suka seperti tadi. Berdua, berdekatan dan tidak bertengkar," akunya.


 


"Hu'um, tapi tetap nggak boleh. Bukan muhrim, HARAM." Kucoba untuk mendebatnya.


 


"Makanya Halalin, dong."


 


Aku berdecak, menanggapinya.


 


"Saya duluan, Pak! Nggak enak dilihat fans Bapak," ujarku melongos pergi meninggalkannya.


 


Aku menghembus nafas lega. Setidaknya untuk sesaat, dia tak bertanya mengenai cincin ini.


\===


Mona datang mendekat saat melihatku memasuki ruangan. Kupercepat langkah menuju mesin absen, sebelum dia berhasil menghadang dengan gosip terkini. Mesin absen berbunyi, bertepatan dengan Mona menyeret tangan ini. Sekali lagi ya, Gaes ... menyeret bukan menarik.


 


"Kenapa sih, Mon? Buru-buru amat?" protesku. Belum juga sempat duduk, bahkan tas masih bergantung di tangan.


 


"Nis, tadi ketemu pak Dewa di bawah nggak?" tanyanya serius.


 


"Hu'um, ketemu. Memang kenapa?"


 


"Dia marah-marah nggak?" cecarnya lagi.


 


"Marah? Sepertinya enggak, deh. Ada apa sih?" Aku mengeryitkan dahi mendengar pertanyaan Mona, ambigu.


 


Dia menepuk jidatnya.


 


"Ternyata perkiraan rekan seruangan ini benar. Eh, Kamu tau nggak? Selama Kamu nggak masuk sehari, dia tuh uring-uringan terus. Persis perempuan kalau lagi PMS," bebernya setengah berbisik.


 

__ADS_1


"Ya kali, kalau gara-gara saya. Mungkin saja ada yang buat dia marah," kilahku.


 


"Sepertinya enggak deh. Anak-anak juga sudah mulai curiga mengenai hubungan Kalian. Kamu harus siap, Nis. Sepertinya gosip makin kencang saja." Kali ini dia berkata dengan serius.


 


Aku menghela napas, kemudian berjalan kembali menuju bilik kerjaku. Sementara Mona berjalan di samping.


 


"Biarkan saja, Mon. Saya sudah kebal dengan gosip-gosip seperti itu. Ini nggak seberapa, dibanding saat hamil El. Sudah biarkan saja, nanti juga pada capek sendiri," pungkasku.


 


Kutarik kursi, mendudukkan pinggul yang sedari tadi lelah berdiri. Menekan tombol power CPU dan monitornya.


 


Mona memijat pundakku. Entah apa yang dia dipikirkan.


 


"Jujur saya baru punya teman seperti kamu, Nis. Semangat. Kita sama-sama berjuang. Ok," pesannya.


 


Kutepuk tangannya, seraya tersenyum. Dia pun berlalu, kembali ke tempatnya.


\===


Hari ini Angga tak bisa mengantarku ke kantor. Dia sedang sibuk mengurus masalah proyek yang ada di kota lain. Katanya sih, mungkin selama seminggu berada di sana. Aku tak masalah, toh belum resmi juga dia menjadi imamku. Jadi biarlah Angga bebas mengejar janda eh, maksudku karir.


 


Mona sebenarnya ingin menemaniku, tapi kutolak. Nggak enak sama mas Dwi, tunangannya.


 


Ini hari kedua berangkat ke kantor sendiri. Meskipun sepi, tak ada teman ngobrol, tapi tetap kunikmati. Kapan lagi bisa bebas seperti sekarang.


 


Menelusuri trotoar dengan berjalan santai, sengaja tak memesan Ojol. Nanti saja bila sudah sampai depan minimarket, baru panggil abang ojek pangkalan, yang banyak mangkal di sana. Hitung-hitung bagi rejeki.


 


Namun, sepertinya rencanaku harus di-cancel. Suara klakson mobil Dewa, menghentikan langkah.


 


"Naik, Nis," ajaknya saat kaca jendela terbuka.


 


"Bisa nolak, nggak?"


 


"Apa perlu saya gendong, biar cepat dan nggak buat macet jalanan?" ucapnya seraya mengerlingkan mata.


 


Aku mendengus, setelah melihat beberapa kendaraan yang ikut berhenti di belakang mobilnya. Ikhlas tidak ikhlas, ku turuti ajakan tersebut.


 


 


Aku mencebik malas meladeninya. Mengalihkan pandangan ke luar jendela. Meskipun sudah ratusan kali kumelihat apa yang tersaji di luar sana.


 


"Kita lewat jalan lain saja. Sepertinya Kamu bosan setiap hari lewat jalan ini," ujar Dewa tiba-tiba. Sepertinya dia bisa membaca pikiranku.


 


Seandainya dulu, lelaki itu bisa melakukan hal yang sama, mungkin ... ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba melankolis, apa karena lagu yang sedang mengalun.


 


'It's been written in the scars on our hearts


 


We're not broken


 


Just bent, we can learn to love again'


 


Aku menelan ludah, tanganku berangsur ingin menekan tombol off. Namun, Dewa sigap menangkap jemari ini.


 


"Biarkan saja. Biarkan dia membuktikan, bila rasa itu benar-benar pergi. Kamu tidak akan terpengaruh. Tapi bila rasa masih ada, tak perlu sungkan untuk menangis. Bahuku masih ada untukmu."


 


Deg!


 


Ya Tuhan, ada apa dengan diri ini? Mengapa Angga harus pergi jauh, saat kami harus lebih saling mengenal kepribadian masing-masing? Mengapa hati ini kembali berdegub, saat bersama Dewa? Mengapa, mengapa?


 


Ada banyak kata 'Mengapa' yang kini bermain di pikiran. Dan aku tak punya, satu pun jawaban untuk mengurainya.


 


Dewa menepikan mobil di sebuah taman, bersamaan dengan berhentinya lagu 'Just Give Me a reason.'


 


Aku bergeming, membiarkan Dewa kembali meraih jemariku.


 


"Nis, kembalilah hidup bersamaku. Kupastikan semua jauh lebih indah, dibanding yang dulu. Berilah kesempatan sekali lagi," pintanya seraya mengusap punggung tangan ini.

__ADS_1


 


Ingin rasanya kuberkata, "jangan cuma dielus, pijitin sekalian. Lebih berfaedah." Namun, urung ku ucapkan.


 


Aku menatap lurus mata elang itu. Apakah ada kebohongan di sana?


 


"Terlambat. Sudah terlambat. Saya bukan Nisa yang dulu, saya __" aku tercekat, tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya. Perih.


 


Dewa menarik diri ini dalam dada bidangnya. Tidak! Aku tak boleh cengeng di hadapannya. Kugigit mulut ini, agar perihku berkurang.


 


Tangannya mengusap lembut kepala ini, dia tau aku menyukai itu. Pelan, hingga bahuku terkulai lemah dalam balutan kedua tangannya.


 


"I love you," bisiknya di telingaku.


 


Duerrr!


 


Akhirnya terucap juga tiga kata indah itu. Bertahun-tahun aku menunggunya, menunggu dia mengucapkan padaku. Tak bisa lagi kutahan air mata yang sedari tadi ingin menghambur keluar. Bahagia dan melayang rasanya diri ini.


 


Dia melepaskan lilitan tangannya. Mengangkat dagu ini. Mendekatkan wajahnya, lebih dekat, lebih dekat. Hingga dapat kurasakan deru napas yang memburu.


 


Menuntun jemariku untuk menyentuh wajahnya. Kuusap kedua rahangnya. Aku ... aku sangat menyukai wajah ini, dulu, sekarang dan selamanya.


 


Mataku terperjam, saat dia kembali menarik dagu ini. Tuhan, aku berdosa pada-Mu dan Angga.


 


"Mas Angga!" pekikku tanpa sadar. Mataku terbuka. Kudorong wajah Dewa yang hampir saja berhasil mengesun rasa lipblam yang kukenakan.


 


Dewa pun sepertinya tersentak. Entah karena tepisanku atau karena pekikanku.


 


"Maaf, Pak. Saya nggak bisa, mengkhianati mas Angga. Saya dan dia __"


 


"Kenapa, Nis? Ada apa antara Kalian berdua?" desaknya gusar.


 


"Ini!" ujarku sambil mengangkat jari yang berhias cincin tunangan.


 


"Aku dan mas Angga, sudah bertunangan. Maaf," ucapku seraya membuka pintu mobil, keluar dan berjalan ke trotoar untuk menyetop taksi. Tak lama kemudian, berhasil naik ke dalam sebuah taksi, meninggalkan Dewa sendiri.


.


.


 


Bersambung


 


Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja. Untuk menyemangati author labil ini.


 


Terima Kasih


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2