
Pov Nisa
Pagi yang cerah, diselimuti hati yang biasa saja. Telepon dari Angga membuat kaki terasa berat, menyambut datangnya hari baru.
Seharusnya aku bahagia mendapat telepon darinya, apalagi dia mulai memangil dengan sebutan Adek. Pengen rasanya digulung, ehh gulung-gulung di kasur. Tapi entah mengapa, masih ada sudut hati yang terasa kosong.
Sudah tiga hari aku sengaja menghindari Dewa. Bukan tanpa sebab melakukan hal tersebut. Selain karena diri ini telah bertunangan dengan Angga, juga keanehan yang terjadi dalam hati. Yang senantiasa berdegub bila bersamanya.
Siang ini, salah satu rekan kerja mentraktir beberapa loyang pizza di jam istirahat. Jadilah kami makan bersama dalam ruangan tersebut.
"Kok, cuma dikit, Nis?" Mona heran melihatku mengambil sepotong kecil makanan tersebut.
"Nggak doyan, yah?" cecarnya lagi.
"Sstt, jangan keras-keras. Nanti kedengaran sama yang traktir," ucapku seraya menempelkan jari telunjuk di bibir.
"Hu'um, Jadi nanti mau ke kantin lagi?"
"Nggak tau, nanti aja diliat. Lagian perut sudah diganjal dikit, masih bisa bertahan. Tenang aja, Mon." Aku kembali mengunyah potongan kecil Pizza gratis siang itu, ditemani segelas air putih. Sementara Mona beranjak ke pantry untuk mengisi botol minumannya.
Tiba-tiba seorang office boy datang menghampiri. Disodorkannya kresek putih di hadapanku.
"Ini Mbak, ada titipan dari seseorang," ujar OB tersebut.
Aku mengernyitkan kening sambil mengangkat bahu, "Dari siapa?" tanyaku kemudian.
"Dari boss," jawabnya pelan. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam plastik makanan. Sebuah lipatan kertas, yang sudah beralih padaku.
"Ada pesan yang dia tulis di sini," kata OB tersebut.
Aku berusaha bersikap setenang mungkin, agar tak menimbulkan kecurigaan para rekan kerja yang lain. Dan sepertinya, OB itu juga sudah diberitahu sebelumnya oleh sang pengirim paket makan siang tersebut. Bisa dilihat dari caranya berbicara pelan sehingga tidak menarik perhatian orang lain.
Meskipun masih bingung dengan si pengirim, lekas kuucapkan terima kasih, agar tugasnya selesai.
"Nasinya dimakan. Saya tau mantanku, masih belum bisa makan roti-rotian." Isi pesan di kertas tersebut.
Kutarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan dengan pelan. Melipat kembali kertas tersebut. Dia masih ingat, semua tentangku.
Bugh!
Sebuah pukulan cukup keras mendarat di punggungku. Membuat tangan serta merta memegang pinggiran meja, agar badan tidak menyentuh dinding bilik kerjaku. Cukup terkejut dan tak bisa bangkit lagi, uwo ~ uwo!
Ada apa lagi ini! Kuperbaiki posisi duduk, menengok ke belakang.
"Aduh, kamu Non. Ada apa sih? Main pukul segala. Sakit nih," ujarku kesal. Perempuan bertubuh semok bernama Noni, rekan satu ruangan dan satu devisi marketing. Usianya tiga tahun di atasku.
"Jangan kira saya nggak tau, apa yang Kamu bicarakan dengan OB tadi." Alisnya terangkat satu.
"Maksudnya?" tanyaku heran.
"Heleh, jangan sok kegatalan yah. Sadar diri dong. Kamu, kan ... boleh dikata masih anak baru dibanding kami semua. Bisa-bisanya minta dibelikan makan sama pak Dewa," ketusnya. Tangannya bersedekap di bawah dada.
Dia kenapa, sih!
"What?" Aku menggidikkan bahu.
"Sebentar, sebentar! Kamu kenapa? Datang-datang ngomong gatel. Tolong ya ditahan, ini kantor! Bukan jalanan! Ada aturannya, ok!" Emosi banget dikatakan kegatelan. Emang dia pernah lihat aku garuk-garuk!
"Terserah! Saya cuma mau mengingatkan, anak baru jangan sok cari muka di depan Boss!" dengusnya kemudian berlalu pergi begitu saja.
Mona yang berpapasan dengannya pun, disenggol dengan badan semoknya. Untung tidak terjatuh.
"Kenapa sih, dia? Jutek amat," decak Mona sambil mendudukkan pinggulnya di kursi sebelahku. Menaruh botol minuman yang sudah terisi air.
"Tauk tuh, mungkin lagi datang bulan," jawabku sedikit kesal.
"Kamu ada masalah dengan dia?" Dia melihatku. Heran mendengar jawaban kesal barusan.
__ADS_1
"Bukan aku, tapi dia." Lalu kuceritakan apa yang barusan terjadi.
"Lagian, buat apa pak Dewa ngirim makanan segala, hhah!" Mona menatapku tak berkedip. "Noni itu sepertinya juga suka, sama si Boss. Makanya dia jutek," bisiknya pelan.
"Hahahaha, jangan mikir kemana-mana. Kalau dia suka, sok atuh kejar dia. Jangan ngamuk ke saya."
"Serius, Nis?" Mona menyipitkan mata, mencoba menelisik di kedua netraku.
"Ah, sudah lah." Aku tak berniat membahasnya lagi. Makanan dari Dewa masih tersisa banyak, sudah tak ada minat untuk menghabiskannya. Merapikan kembali bungkusan nasi kebuli tersebut, mayan bisa buat makan malam.
Tapi mengapa, ada gemuruh di hatiku? Relakah aku bila melihat Dewa bersama perempuan lain?
\===
Jam pulang telah tiba. Aku segera membaur dengan yang lain. Sementara Mona sudah terlebih dahulu pulang.
Beruntung badanku terbilang mungil, sehingga misi menyusup diantara kelompok-kelompok kecil, tidaklah terlalu susah. Demi apa coba melakukan semua ini? Jangan jawab demikian, yah! Menghindari Dewa yang katanya ingin mengantarku pulang.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Berusaha untuk menjaga hati, saat tunanganku tidak di sini.
Saat telah melewati gerbang utama, kutepuk punggung abang ojek yang tengah asyik menikmati bakwan, di penjual gorengan depan kantor.
"Bisa express, Bang? Ntar bakwannya saya yang bayarin," pintaku penuh harap. Kalau harus memesan Ojol butuh waktu lagi, takutnya Dewa bisa menemukanku.
"Boleh, boleh, boleh, Neng. Bang bakwan saya Neng ini yang bayar. Saya siap-siap, Neng," kata abang ojek ngeloyor pergi, sebelum aku sempat memberi jawaban.
"Jadi berapa semuanya, Bang?"
"Bakwannya sepuluh biji, jadi sepuluh ribu."
Busyet dah tuh, abang ojek. Kirain lagi ngemil gorengan, eh taunya lagi makan malam! Sudahlah, biarkan saja! Bukan urusan saya.
Akhirnya aku berhasil meninggalkan kantor dengan menggunakan ojek, nggak pakai becek. Apaan, sih!
Kuserahkan selembar uang dua puluh ribuan kepadanya.
"Kembaliannya ambil aja, Bang."
"Tapi ini pas banget, Mbak." Dia terlihat bingung, mau garuk kepala eh masih pakai helm. Akhirnya cuma bisa mengangkat kedua alisnya.
"Coba dibuka lipatan uangnya, Bang. Ada uang serebu logam dalamnya. Buat Abang saja."
Si abang ojek terkekeh. Entah ikhlas atau kesel.
"Jangan dilihat dari nominalnya, tapi kebermamfaatannya. Buat kerokan."
Si abang melirikku sinis. Sebelum salah satu helmnya melayang ke arahku, sebaiknya aku segera pergi.
\===
Dalam kamar kepala terasa cenat cenut. Obat yang biasa aku minum kebetulan habis. Hanya ada minyak gosok yang bau wanginya, seperti kuntilanak lewat. Kuurungkan saja memakainya.
Aku mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan Dewa terlihat jelas. Heran mengapa akhir-akhir ini, wajahnya sering menghiasi alam bawah sadarku.
Jangan-jangan aku dipelet Dewa. Sehingga kepikiran dia terus. Aku mencebik kesal, membuang jauh pikiran aneh itu.
Ikhlas? Sebuah kata, dimana mengucapkannya jauh lebih mudah dibanding prakteknya. Kuraih ponsel di bawah bantal. Mencari nomer bang Naresh. Saat ini hanya dialah yang bisa kuajak bicara. Mamah dan papah sudah tak mungkin, karena mereka sangat bahagia bisa memiliki calon menantu mas Angga.
Bang Naresh mendengarkan semua keluh kesahku. Tentang bimbangnya hati ini.
"Makanya Bang, sudah saya bilang sebelumnya, kalau saya belum siap untuk menikah. Tapi Kalian terus mendesak, jadi seperti inilah jadinya."
Aku terus nyerocos, bang Naresh sesekali menimpali memberi pandangan. Kadang aku menyimak, tapi lebih banyak kuabaikan.
__ADS_1
"Bang, boleh tidak saya cuti. Mau liburan, biar pikiran kembali normal?"
"Mau kemana?"
"Puncak. Nginap di villa uwa, bagaimana?"
"Hemm, terserah Kamu."
"Abang nggak usah ikut, biar Dewa nggak curiga. Tapi mbak Nindi, saya bawa ya?"
"Hemm, nanti saya beritahu dia terlebih duhulu. Apa dia bisa ikut atau tidak."
"Hu'um, ya sudah Bang, kabarin saya mengenai mbak Nindi. Asslamu alaikum."
"Waalaikum salam."
Kuletakkan kembali ponsel di sampingku. Bersiap untuk sholat dan istirahat.
.
.
Bersambung
Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja. Untuk menyemangati author labil ini.
Terima Kasih
__ADS_1