
Pov Author
Ada rasa sakit yang menjalar, setiap mengingat kedekatan El terhadap Angga. Sebesar apakah luka yang telah dia goreskan pada Nisa, hingga mantan istri enggan mempertemukan dengan anak semata wayangnya.
Dewa menarik dasi hingga terasa longgar. Lantas menyandarkan tubuh di sofa. Ingatan beralih pada kejadian tadi pagi, lantas tersungging senyum di bibirnya. Membuat Nisa kembali seperti dulu, setelah itu baru mencoba mendekati keluarganya. Sebuah rencana yang sudah dia pikirkan dengan matang.
Dewa mencoba menelepon Nisa, tapi perempuan itu enggan menerimanya. Pada panggilan ke empat barulah tersambung.
"Ngapain sih telepon? Ganggu banget! Sudah malam!" Suara Nisa terdengar ketus. Sepertinya perjalanan ke outlet tadi pagi, masih membuat perempuan itu jengah.
Dewa mengelus dada, seandainya saja bukan orang yang dia cintai, tentu sudah balik membentaknya.
[Sabar, sabar. Dia begini juga karena andilku,] bisiknya dalam hati.
"Assalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh, calon kekasih halalku, calon ibu dari anak-anakku, yang senantiasa wangi sepanjang hari."
Nisa yang berada di ujung sana, di suatu tempat, semakin jengkel mendengarnya.
"Waalaikum salam," lontarnya. Masih dengan suara emosi, "Cepetan, mau ngomong apa?"
Dewa berusaha tenang dan sabar. Walaupun mengulum senyum saat membayangkan wajah Nisa yang ngambek.
"Neng sayang, Kakak mau minta tolong sesuatu, bisa nggak?"
"Apaan Nang neng nang neng, pakai sayang segala. Nggak perlu gombal! Mau apa?" Nada jutek masih mendominasi suaranya.
"Boleh kirim foto El, nggak? Kakak pengen lihat hasil dari bibit kakak, yang Neng sayang, berhasil buahi." Dewa tak bisa menahan geli, tangan menutup mulutnya.
"Huekk, dasar Duda mesum, duda gila! Buat apa sih minta foto El, kenal aja enggak!"
Dewa menghela napas, hatinya mendadak nyeri. Perkataan Nisa tentang El, sangat menohok.
"Saya ingin memajangnya di dinding, sebagai pengingat kalau sudah memiliki tanggung jawab. Bisa begitu, Neng?"
Di ujung sana Nisa tercekat, [Tanggung jawab,] gumamnya dalam hati.
"Ijinkan saya mengambil seluruh beban di pundakmu," tambah Dewa, saat tak mendengar jawaban dari perempuan itu. Hening. Hingga akhirnya sambungan telepon terputus.
__ADS_1
Lelaki itu kembali terpekur di atas sofa. Kepala menengadah ke atas, berharap Nisa mau memenuhi permintaan kecilnya.
Semenit, dua menit, tiga menit Dewa masih bertahan berharap ponselnya berbunyi. Mata hampir saja terlelap ketika getaran ponsel membuatnya kaget.
Sebuah pesan WA dari Nisa yang berisi beberapa foto El, anak mereka. Secercah harapan menjulang, bagai menembus angkasa. Senyum lebar melengkung di kedua sudut bibirnya. Hanya satu kata yang bisa melukiskan semua itu, bahagia.
Nisa yang enggan berbagi informasi mengenai El, kini telah melunak. Sedikit demi sedikit lelaki itu bertekad akan menjadi penawar akibat kesakitan yang dia toreh sendiri.
Dewa kembali membalas kembali dengan semangat yang lebih besar dari sebelumnya.
[Terima kasih, Sayang] dengan emoticon love.
\=\=\=
Nisa memandang ke arah jendela mobil, pemandangan yang sama setiap hari bagi warga ibukota. Kendaraan seakan tiada habisnya untuk menelusuri setiap ruas jalanan. Lalu lalang dan terdapat banyak titik kemacetan.
Sementara Dewa mengemudikan mobilnya dengan sesekali melirik kepada perempuan di samping.
Sejak tadi tidak ada yang memulai untuk bercakap, entah apa yang dalam benak mantan sahabat sekaligus mantan suami istri itu. Hanya terdengar suara penyiar radio yang berceloteh di pagi menjelang siang.
"Saya pengen nanti kamu bersikap sewajarnya, kalau kita bertemu kepala cabang showroom. Soalnya mereka bukan bagian perusahaan kita, berbeda dengan outlet yang kita kunjungi kemarin. Itu masih milik anak perusahaan kita."
"Saya beritahu ya, supaya pengetahuanmu tidak hanya sekedar Drakor."
"What? Aku cuma suka nonton, bukan fans fanatik."
"Pantesan nggak ada kalem-kalemnya sama sekali. Sekali-kali contoh mereka, feminim, manja, imut-imut lagi." Kata-kata Dewa meluncur tanpa beban sama sekali, membuat sang mantan semakin gerah.
"Oh githu ya, baik aku memang tomboy. Bukan, sebenarnya aku laki-laki cuma lagi menyamar jadi perempuan. Nah, sekarang sudah jelas, nggak usah lagi mengganggu. Nggak perlu lagi nyebut-nyebut calon, calon!" sergahnya dengan seringai sinis.
"Maaf Neng mantan, saya akan tetap mengganggumu sampai dirimu halal untuk kedua kalinya."
Nisa mengernyitkan alis, sementara Dewa kembali fokus mengendalikan kemudi.
"Oiya, mengenai kamu ini perempuan atau bukan, kayaknya semua sudah terbukti di atas ranjang." Dewa berbicara dengan tenang tanpa memandang Nisa. Padahal dalam hatinya terbahak-bahak.
"Dasar duda mesum!"
__ADS_1
"Hahaha." Lepas sudah tawa yang sedari tadi dia tahan. "Apanya yang mesum? Perkataan saya yang mana?"
"Itu tadi ngomong ranjang. Mesum tauk!"
"Mendengar saja, bukan melakukan. Apa masih dikategorikan mesum?"
Nisa mengerucutkan bibirnya, menatap tajam ke arah lelaki itu.
"Nggak usah ngeles deh, aku tahu apa yang ada di pikiran, Bapak."
Dewa menghentikan mobil di tepi jalan. Menoleh menatap Nisa tak berkedip.
"Sekarang coba ceritakan apa yang ada di pikiran saya." Dia mencondongkan badan dan mendekatkan wajahnya, membuat Nisa gugup.
Sorot mata elang Dewa, tepat menancap di kedua netra sang mantan. Tatapan yang sering membuatnya luruh. Dulu. Nisa membisu tak tahu harus berkata apa.
Dewa tersenyum tipis, bisa merasakan perempuan itu masih memiliki rasa. Hanya perlu waktu untuk membuatnya benar-benar menerima dan jatuh cinta kembali. Seperti dirinya yang baru menyadari perasaannya, sesaat setelah menjatuhkan talak pada Nisa.
Hingga membuat hubungannya bersama Wanda hambar dan berakhir dengan kata PUTUS dari sang kekasih. Saat Dewa bertekad untuk mencari Nisa, saat itu pula Wanda sadar bahwa ada cinta yang ikut bersemi di balik persahabatan mereka.
Dewa kembali melajukan kendaraannya. Suasana berubah menjadi canggung.
"Kita mampir sebentar di kafe depan itu." Nisa bergeming, percuma saja untuk menolak.
Perempuan itu terkejut, saat kakinya memasuki area penikmat kopi. Nampak Naresh kakak Nisa, tengah menatap mereka berdua.
Lekas dirinya membalikkan badan, ingin menghindar dari kemarahan sang kakak. Namun, dengan sigap Dewa menggenggam tangan perempuannya.
.
.
.
Bersambung
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja, untuk menyemangati author 😁😍🙏🙏