JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
After Engagement


__ADS_3

Karena acara lamaran sudah dibuka dengan beberapa kata sambutan saat aku masih di kamar. Kini pemandu acara menyerahkan mic kepada papa Angga, untuk mengutarakan niat kedatangan mereka.


 


"Jadi, seperti yang telah Kita sepakati sebelumnya. Tujuan Kami datang ke sini, untuk meminta ananda Nisa, apakah bersedia menerima lamaran anak kami?" kata papah mas Angga.


 


Dan aku ...? Gugup, Pemirsah. Namanya juga a-c-a-r-a pasti dihadiri minimal puluhan pasang mata dan aku hanya mengenal sebagian saja para tamu yang hadir.


 


Dengan perasaan malu, aku menunduk. Saat mata ini melihat ke ubin, tiba-tiba saja sekelebat bayangan Dewa muncul di sana. Seketika beberapa kejadian menyebalkan, yang belakangan ini kualami terputar sekilas. Dan yang lebih menyebalkan, aku merasa dia hadir sambil menertawakan kemalangan akibat ulahnya.


 


"Kamu, nggak bakalan pernah bisa melupakanku seutuhnya, Nis," ucap bayangan itu seraya tersenyum sinis.


 


Hampir saja aku kehilangan kendali, bila mamah tidak menjawil tangan ini.


 


"Cepat dijawab, Nis. Calon mertuamu sudah bertanya sampai dua kali, Kamu belum jawab apapun. Masa mamah yang jawab, ntar bagaimana nasib papah? Menduda di usia senja," bisiknya mesem-mesem.


 


Aku berdehem dan sedikit melebarkan netra, berharap mamah kembali normal tanpa perlu dirukiyah.


 


Kuambil mic di atas meja depanku, meskipun tangan sedikit gemetaran. Sebuah senyuman manis terukir di bibir nan manis ini. Aku pun berucap, "maaf tadi ada sedikit gangguan teknis. Bismillah, inshaa Allah Nisa bersedia."


 


Ahh ... lega rasanya sudah mengatakan hal tersebut. Telapak tanganku berkeringat karena gugup. Namun, mengapa suasana ruang tamu nampak biasa saja? Tak ada pekikan bahagia dari para kerabat, saat aku telah selesai memberi jawaban.


 


Kuedarkan pandangan sekeliling, para tamu kasak-kusuk, saling bisik membisik. Ada apa ini?


 


Bang Naresh mengambil mic yang baru saja kuletakkan kembali di atas meja.


 


"Nis, tolong diulang sekali lagi jawabanmu. Soalnya tadi suaranya terlalu kecil. Mereka tidak bisa mendengarnya," pinta bang Naresh.


 


Apa?! Remendial jawaban? Issh ... baiklah demi calon mertuaku yang tajir, ehh!! Demi seluruh keluarga kami yang hadir saat ini, maksudku.


 


"Bismillah, inshaa Allah, saya bersedia menerima lamaran ini Titik nggak pakai puspa."


 


"Alhamdulillah, diterima." Terdengar beberapa perkataan dari mereka. Kulihat mamah dan papah yang tersenyum penuh kebahagian.


 


Acara pun berlanjut dengan pasang cincin di jari manis kami. Setelah itu berlanjut dengan sesi foto-foto. El tak pernah jauh dariku. Sesekali menggendongnya. Namun, Angga akan segera mengambil dari gendonganku, bila dia melihatnya.


 


Semoga ini bukan pencitraan semata. Aku takut bila hati ini kembali terluka.


\===


Aku kembali ke ibukota bersama dengan Angga. Sebenarnya ingin kutolak, mengingat pesan nenek. Jangan suka berduaan dengan yang bukan muhrim, nanti orang ketiganya pasti neng Kunti.


 


Tetapi mamah bilang boleh, saat Angga minta ijin, mungkin karena dia sudah sering mengantarku dan alhamdulillah, segel jandaku nggak pernah dirusak oleh Angga.


 


Diperjalanan kami banyak diam, mungkin masih canggung dengan status baru ini. Aku pun tak ingin mengganggu konsentrasinya, lebih memilih terlelap. Dan hanya terbangun saat merasa mobil tersebut berhenti.


 


Kami turun untuk mengisi perut karena masuk jam makan malam. Setelah itu kembali mobil berjalan hingga depan rumah kos.


 


Sebelum turun, aku meminta sesuatu padanya. Meminta kesepakatan tepatnya. Bukan duit untuk biaya hidup. Apalagi itu, yang iya, iya.


 


"Mas, bisa nggak, status kita sekarang jangan dipublish dulu?" tanyaku pelan.


 


"Memang kenapa, Nis?"


 


"Ehm, soalnya masa kerja saya di kantor belum genap dua tahun. Takutnya HRD tau, mereka punya alasan untuk memutus kontrak," terangku.


 


"Memangnya Nisa masih mau kerja, kalau sudah nikah?"


 


"Belum tau. Mas, maunya bagaimana?"


 


"Dulu sih, maunya punya istri sepenuhnya bisa mengurus keluarga. Senang rasanya, pulang kerja ada yang menyambut."


 


"Meskipun yang nyambut pakai daster bolong-bolong serta bau bawang?"


 


"Astagfirullah, nggak bisa bayangin suaminya 'cam mana? Tega benar buat perempuan jadi seperti itu. Ya jangan begitu juga, dong," jawab Angga seraya tertawa renyah.


 


"Ya, kali aja dia nikahnya sama om Gondo."


 


"Husst, ya ampun Nis. Malam-malam begini nyebut begituan. Jangan-jangan, Kamu __"


 


"Mas, takut?"


 


"Ehm, dikit. Kamu?"


 


"Takut banget."


 


"Astagfirullah, Nisa! Buruan gih, telepon Mona. Nggak mungkin, saya ngantar sampai depan pintu kamar malam-malam begini. Takut khilaf."


 

__ADS_1


"Iya, Mas. Saya telepon Mona."


 


"Makanya, kalau malam-malam begini, nggak usah nyebut-nyebut yang beda alam. Kita nggak bakalan cocok dengan mereka."


 


"Iya, Mas. Hihihi."


 


"Ya Allah, udah dong Nis. Beneran dah, saya lebih berani hadapin cewek asli lima orang, dari pada satu perempuan berdaster putih."


 


Aku tersenyum melihat ketakutan Angga, tak lama kemudian Mona datang membuka pintu pagar. Aku pun berpamitan padanya.


\===


Saat terbangun pagi hari, aku termenung. Rasanya tak percaya dengan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Semua bagaikan mimpi, dalam sekejap statusku sudah berubah menjadi sedang bertunangan.


 


Kuembuskan napas pelan, memperhatikan jari manis yang tersemat cincin. Ternyata cukup manis juga jari ini, bila berhias dengan cincin. Nyata dan tanpa kucing-kucingan seperti dulu.


 


Tiba-tiba terdengar suara ponsel yang memekik nyaring. Dengan malas tanganku berusaha mengapai, gawai di atas meja. Satu sentuhan tanpa sengaja membuat panggilan terjawab seketika.


 


"Assalamu alaikum," sapaku entah pada siapa di ujung telepon itu.


 


"Tan, hari ini masuk, kan?" Sepertinya suara Dewa, tapi mengapa ada sebutan 'Tan' memang aku rambutan!!


 


"Maaf, sepertinya Bapak salah pencet nomer deh."


 


"Apa? Jangan main-main, Nis. Ini __?"


 


"Benar, Pak. Di sini nggak ada yang bernama 'Tan' yang jual rambutan." Kusela saja orang itu.


 


"Tan? Siapa Tan?"


 


"Lha, Bapak tadi sebut 'Tan'" balasku.


 


"Tan, mantan kali. Gitu aja nggak paham. Kapokmu kapan? Hari ini mau dijemput nggak? Kebetulan __"


 


"Kebetulan apa?" tanyaku pada kalimat yang tak selesai itu.


 


"Kebetulan pengen jemput, mantan yang baru selesai ijin, siapa tau dapat oleh-oleh," paparnya.


 


"Nggak usah, Pak. Sudah ada mas Angga kok, seperti biasanya," kilahku.


 


 


"Ya bagus lah, nggak suka buat perempuan sakit hati."


 


"Aduhh, begini rasanya disindir mantan pagi-pagi. Nasib jomblo ... ngenes," katanya pura-pura meratap.


 


Kuhiraukan saja, kemudian mengucap salam dan menutup panggilan tersebut. Mandi dan berangkat ke kantor bersama Angga.


\===


Sesampai di kantor, nampak Dewa sedang berdiri menyambutku depan pintu masuk gedung. Untung saja Angga sudah berlalu. Dia menatapku tanpa kedip. Whoaah dia kenapa seh?


 


"Pagi, Pak," sapaku hormat seperti biasanya.


 


"Hemm," jawabnya singkat.


 


Gegas kulangkahkan kaki berjalan menuju tangga ... nggak! Nggak jadi! Ada Dewa, ntar ujung-ujungnya berantem lagi. Mana dia ngentilin teross di belakang, kenapa juga mesti di belakang, bukan di samping?! Biar bisa berdampingan menuju pelaminan, ehh ... plak!! Eling, Nduk, ojo kemaruk.


 


Kuputar langkah kaki, hendak menuju pintu lift. Namun, dengan cepat tangan Dewa mencekal lengan ini.


 


"Mau kemana? Lanjutkan perjalananmu! Baru juga tangga kantor sudah menyerah, bagaimana dengan tangga rumah?" ujarnya sinis.


 


"Rumah tangga, Pak. Memang Bapak mau berumah tangga dengan saya?"


 


"Mau, mau banget. Alhamdulillah, akhirnya Kamu sadar juga. Nisa mau hidup sama saya lagi?" jawabnya dengan gembira.


 


"Mau, sih, tapi __"


 


"Tapi apa, Nis?"


 


"Tapi Boong! Ngapain sih Pak, ngikutin terus di belakang? Saya tuh, merasa seperti punya ekor yang panjangg. Nggak bebas," ujarku ketus.


 


"Terserah. Kamu, tuh nggak pernah berempati sama saya." Dewa berkata dengan muka datar. Aku menunggunya, agar berjalan bersama.


 


"Maksudnya?"


 


"Semenjak Kamu izin, saya sakit."


 


"Sakit? Kalau sakit ya, ke Dokter, Pak. Bukan nyariin saya," dengusku. Ada-ada saja alasannya.

__ADS_1


 


"Memang, Bapak sakit apa?" tanyaku lagi. Kali aja dia minta dibelikan susu atau roti tawar.


 


"Sakit rindu mantan," jawabnya sambil mengusap rambut sendiri ke belakang, dih ... tebar pesona.


 


"Tau ah, saya duluan Pak. Ada yang harus dikerjakan," tandasku. Malas ngeladenin gombalan yang nggak jelas.


 


Entah karena terburu-buru ingin menghindar, kaki belum sempurna menginjak anak tangga. Tergelincir. Akibatnya tubuhku oleng. Untung saja Dewa menahanku. Uhh ... seperti adegan didrama Korea, Pemirsah!


 


Dubh! Dubh! Dubh!


 


Jantung berdetak lebih keras, saat mata kami saling beradu. Sigap kuperbaiki posisi diri ini. Dia pun melepaskan tangannya.


 


"Lain kali hati-hati, jangan sampai saya gendong sampai di ruangan." Dia berucap sambil menjentikkan tangannya di kening.


 


"Hu'um, Pak tadi dengar sesuatu, nggak?"


 


"Dengar apa? Kamu, jangan aneh-aneh deh."


 


"Saya nggak bohong. Tadi seperti ada suara gendang ditabuh, Pak," kataku pelan.


 


Dia tak menjawab. Wajahnya entah mengisyaratkan apa. Ahh, mungkin saja memang nggak ada apa-apa. Kembali menaiki anak tangga.


 


"Tunggu!" panggil Dewa kemudian.


 


Aku menoleh, menghentikan langkah dan berbalik.


 


"Ya."


 


Dia mendekat, menatapku dengan tajam. Hingga tak sadar tangan kiri sudah terangkat olehnya.


 


"Ini cincin, apa?"


 


Aku tercekat, menelan ludah.


 


"Ini ...."


.


.


Bersambung


Saya doakan semua Reader's JTD dilimpahkan kesehatan dan rejekinya lancar, aamiin. Please tinggalkan jejak review, star atau apa saja. Untuk menyemangati author labil ini.


Terima Kasih


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2