JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
CUTI


__ADS_3

Kutitipkan surat cuti pada Mona, agar tidak terjadi drama ikan terbang dengan sang mantan. Malam itu saat berada di kamarnya.


 


"Mon, tolong mintain tanda tangan ke pak Boss," pintaku malam itu. Kusodorkan secarik kertas permohonanku padanya.


 


"Ijin lagi, Nis? Perasaan baru selesai ijin?" Dia mengeryitkan dahi.


 


"Bukan, itu cuti."


 


Mona menelisik kembali kertas tersebut. Dia kemudian tersenyum.


 


"Hehehe, iya cuti," ujarnya seraya menggaruk kepala.


 


"Kamu, ada masalah di kantor?" sidiknya. Dan aku menggelengkan kepala.


 


"Nggak ada, cuma pengen istirahat bentar. Menenangkan pikiran."


 


"Kamu sebenarnya kenapa? Semenjak sudah tukar cincin, wajahmu mendung terus."


 


Aku menarik napas pelan, kemudian menghembuskan dengan perlahan. Berbaring di kasur Mona. Sedang dia masih bergeming menunggu jawaban.


 


"Saya kira sudah mengikhlaskan, tapi nyatanya belum."


 


"Siapa? Dewa?"


 


"He'em."


 


"Ikhlas tentang apa?" tanyanya kemudian.


 


"Hatiku masih sakit, Mon. Saat tau ada yang suka sama dia. Padahal selama ini, sudah berusaha untuk move on. Tapi ternyata kami harus bertemu kembali."


 


"Jadi ambyar ya, Nis? Si ikhlas sudah pernah ditambahin sabar, nggak?" Mona meletakkan surat cuti dalam tas kerjanya.


 


Kini giliran aku yang serius memperhatikan. Mengubah posisi tidur menyamping, menghadapnya.


 


"Padukan keduanya, saat Kamu lagi ada masalah. Karena masalah pasti butuh waktu untuk membereskannya. Dan waktu hanya meminta kita untuk bersabar. Berjalan selangkah demi selangkah, hingga tiba di garis finish." Mona menjeda nasehat bijaknya.


 


"Apa saya bisa, seperti itu?"


 


"Entahlah, hanya Kamu dan Tuhan yang tau jawabannya. Tapi Tuhan tidak pernah menguji hamba-Nya, melebihi kemampuan hamba itu sendiri."


 


Aku menghela napas berat. Sepertinya Mona memperhatikanku.


 


"Kamu yakin, perasaan yang Kamu rasakan untuk Dewa adalah rasa cinta? Bukan sekedar rasa iba karena dia ayah El?" Pertanyaan Mona, sukses membuatku tercekat sesaat. Mengapa hari ini dia begitu lihai bermain kata?


 


"Memang apa bedanya rasa cinta dan iba semata?" cecarku.

__ADS_1


 


"Kalau yang benar-benar tulus akan melihat pasangannya secara utuh, bukan hanya kelemahan, tapi juga kekuatan dan kelebihannya.


 


Sedangkan kasihan akan mengikat hubungan hanya karena simpati, terkesan segan mengakui pasangannya," urainya.


 


"Entahlah, Mon. Saya juga bingung. Tapi sepertinya, rasa sakit ini mirip kala Dia masih berusaha mempertahankan Wanda."


 


"Dekati Allah, Nis. Shalat istikharoh, karena hanya Dia sebaik-baiknya penolong dan tempat mengadu," pesan bijak Mona.


 


Ah Mona, dia selalu selangkah lebih maju dibanding diri ini. Aku tersenyum melihatnya. Harus lebih banyak bersyukur kepada-Nya, masih mempunyai sayang seorang sahabat seperti Mona.


 


\===


 


Esok harinya, dengan diantar bang Naresh. Aku dan mbak Nindi iparku, berangkat menuju puncak. Suasana pengunungan yang sejuk, membuatku berharap dapat menenangkan diri dan hati agar bisa berpikir jernih.


 


Kami banyak bercerita saat diperjalanan. Tentang segala hal, bahkan mengenai kesabaran bang Naresh dan mbak Nindi dalam menanti sang buah hati.


 


Diusia pernikahan mendekati akhir tiga tahun, mereka masih belum juga diberi kepercayaan untuk memiliki momongan. Bang Naresh selalu membesarkan hati istrinya, mengenai masalah ini.


 


"Insya Allah, menurut hasil pemeriksaan, Kami berdua sehat. Ya, hanya belum diberi kepercayaan saja sama yang di-Atas," ucap abangku.


 


Sementara mbak Nindi hanya tertunduk lesu. Kulihat bang Naresh kemudian meraih tangan istrinya. Menggenggamnya erat. Aku bahagia dan terharu melihat pasangan itu.


 


"Heiiii, jangan romatis begitu, dong! Dimana empati Kalian, pada mahluk cantik tapi jomblo. Yang sedang duduk di belakang," dengusku pura-pura merajuk. Aku tak ingin perjalanan ini berubah menjadi, kisah sedih di hari Kamis.


 


 


Siang hari kami tiba di salah satu villa milik uwa. Melihat ciptaan Tuhan yang terhampar di sana, membuat kami semua takjub. Rumah-rumah penduduk yang sebagian masih tradisional, menambah kesan eksotis. Udara segar dan hawa sedikit dingin, ditambah hamparan kebun teh milik sebuah perusahaan, membuat hati tenang.


 


Aku meletakkan tas ransel di atas kursi jati, ruang tamu. Bang Naresh membawa tas istrinya ke dalam kamar.


 


Seperting kakakku enggan kembali ke kota. Buktinya dia mengulur-ngulur waktu untuk pulang. Memang suasana puncak, membuat orang terasa nyaman.


 


Mbak Nindi merasa sungkan mendesak suaminya kembali. Dia mendatangiku untuk meminta persetujuan, agar membiarkan bang Naresh menginap untuk hari ini. Dia janji akan menyuruh lelakinya pulang besok pagi.


 


Aku sempat tertawa melihatnya meminta ijin. Ah, dia terlalu sopan atau sungkan? Sama aja, Woii!! Plak. Nggak mungkin, aku mendepak kakak sendiri.


 


Kugunakan waktu siang hari untuk beristirahat sebentar. Merenggangkan otot yang sedikit capek selama perjalan pagi. Ponsel kuaktifkan kembali, yang sengaja aku matikan sejak pagi.


 


Beberapa kali, bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dari benda tersebut. Beberapa pesan dari aplikasi berwarna hijaui.


 


Ada puluhan panggilan masuk dari Dewa, serta beberapa pesan yang dia kirim. Biarkan saja. Scroll ke bawah, mencari nama Mona. Nihil!! Kembali kutekan tombol power. Sebelum menghangatkan kasur di kamar.


 


\===


 


Rencana jalan-jalan sore, bertiga dengan bang Naresh dan istri. Hanya terlaksana sekitar dua puluh menit. Tiba-tiba saja gerimis datang. Bertiga Kami berteduh di sebuah warung penduduk.

__ADS_1


 


Ternyata di warung tersebut menyediakan, minuman panas dan mie instant rebus. Sekalian saja Kami pesan buat menghangatkan badan.


 


Hujan sepertinya masih malu-malu, gerimis hanya datang menyapa sesaat. Setelah rintik kecil mulai berlalu, kami pun kembali ke vila dengan membawa beberapa penganan buat cemilan.


 


Malam harinya, saat kamu sedang menonton televisi. Bang Naresh dan mbak Nindi, mengajakku berbincang dari hati ke hati.


 


"Awalnya beneran, sudah mulai move on. Tapi saat di pertemukan kembali di kantor dengan divisi yang sama, lama kelamaan rasa-rasanya saya masih suka sama dia."


 


"Tapi coba tanya hatimu, maunya sama siapa? Trus sholat istikharoh, minta petunjuk-Nya. Karena Dia-lah sebaik-baiknya penentu semesta beserta isinya," ucap mbak Nindi. Mengapa nasehat Mona dan mbak Nindi sama? Apakah aku betul-betul jauh dari-Nya? Apakah sholatku belum ada apa-apanya, sehingga mereka menyarankan hal yang sama?


 


"Kalau memang sulit melupakannya dan Kamu memang sudah tidak berniat untuk bersamanya. Ada baiknya menyingkir dari hadapannya. Agar semua kenangan bisa dihempas manja," timpalnya kemudian. Bang Naresh hanya terdiam. Barangkali mencoba mencari kata yang tepat untuk menasehatiku.


 


"Iya, Mbak. Saya akan pikirkan baik-baik." Kutengok jam dinding vila ini. Waktu sudah menunjukkan pukul aebelas malam


 


Bang Naresh dan istrinya sudah mulai mengantuk. Aku beranjak duluan masuk ke kamar. Tak lama kemudian, mereka berdua juga bersiap-siap untuk tidur.


 


Kupandangi langit-langit kamar ini. Apakah aku memang harus menyingkir dari kantor itu, resign?


\===


 


Tibalah hari Minggu, hari dimana kami harus segera kembali ke ibukota.


 


Saat Bang Naresh datang dan beristirahat sekitar tiga puluh, lalu kami bertolak menuju ke habitat asli.


\===


Pov Author


 


Sementara itu di sebuah ruangan kerja, seorang lelaki nampak tak bisa konsentrasi dengan semua yang dilakukannya. Terlihat sesekali, memainkan jemari di atas keyboard komputer. Namun, beberapa saat kemudian menghempas punggung denga kasar pada sandaran kursi. Kemudian menghentak tangan pada pinggiran meja, agar dudukan itu berputar.


 


Dewa kemudian mencoba mengambil map-map yang menumpuk di depannya. Hanya sekitar lima menit, kemudian dia menjauhkan kertas-kertas itu lagi.


 


"Dia pergi tanpa kabar, hanya tiga cuti. Sudah seperti gila sendiri," lirihnya. Mengusap kasar wajah tampan itu.


 


"Apa yang harus saya lakukan? Agar kau tak pergi. Tolong beritahu aku, Nisa!" Berdiri. Berjalan mondar-mandir dalam ruangan dengan tangan bersedekap di bawah dada.


 


"Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan! Aku takkan membiarkan dirinya menikah dengan Angga!" Berbicara sendiri.


 


"Jika santet bisa membunuh tanpa menyentuh. Aku akan menikungmu. Janur kuning belum melengkung, kamu masih bebas untuk memilih," gumamnya dengan nada geram.


.


.


Bersambung


 


Please tinggalkan jejak review dan star atau apa saja. Untuk menyemangati author labil ini.


Terima Kasih


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2