JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Cemburu Dewa


__ADS_3

Pov Nisa


"Dari siapa?" tanya Dewa, saat kurir telah keluar. Dasar kepo!


"Ada deh," jawabku asal. "Maaf Pak, saya permisi dulu." Kubawa buket bunga itu dengan hati yang juga sedang berbunga-bunga. Seumur hidup baru kali ini mendapat kejutan seperti itu.


Semua mata tertuju padaku, saat keluar dari ruangannya. Berbagai ekspresi tergambar dari wajah rekan-rekan satu devisi. Ada yang memberi senyum, mungkin karena ikut merasa bahagia. Ada yang biasa-biasa saja alias datar, bahkan ada beberapa yang saling berbisik.


"Bahagia betul hari ini, Nis," sahut Mona. Kuletakkan buket bunga itu di atas meja.


"Alhamdulillah, sekali-kali merasakan gelonjotan lagi kayak masih ABG," balasku sambil terkekeh.


"Dari siapa sih?"


"Angga." Pandanganku tak bisa lepas dari bunga mawar yang memenuhi meja kerja.


"Ya ampun, romantis banget Nis. Mas Dwi aja, nggak pernah kasih bunga ke saya."


Mona lagi memuji atau meratapi nasib, sih?


"Lha, itu kartu kredit punya dia, kamu yang pegang. Kurang apa coba mas Dwi? Bunga bank saja dia rela berikan apalagi cuma mawar."


"Kurang bayar tagihannya saja!" ketusnya


"Isshh matre, yang gesek kamu sendiri, ya bayar sendiri, Sayang."


Mona hanya tersenyum simpul, kembali melanjutkan pekerjaan. Aku pun berniat kembali kerja. Namun, buket ini tak memberiku cukup ruang di meja.


"Simpan di pantry dulu!" Terdengar suara tegas dari belakangku.


Aku berbalik, mati aku!!! Apalagi yang akan dia perbuat? Baru saja dia merasa senang karena bertemu El, kini ....


Dewa berdiri menatapku dengan tatapan entahlah!


"Kenapa bengong? Cepat bawa ke pantry!" tegasnya.


Aku menelan saliva, dengan gugup segera meraih buket bunga itu dan berlalu menuju pantry.


"Setelah itu, langsung ke ruangan saya!" katanya lagi. Terdengar menggelar karena tak ada yang berani mengeluarkan suara saat itu.


.


.

__ADS_1


"Saya minta semua laporan pencapaian target tahun ini." Mimik wajahnya serius saat mengatakan itu. Kucoba mengamati diam-diam, barangkali saja dia sedang membuat video prank dengan kamera tersembunyi. Kemudian meng-uploadnya di youtube dan ... dan ....


"Kenapa diam?" Suara Dewa menyadarkanku.


"Nggak mau Pak. Eh maksudku nggak apa-apa."


Aduh Nisa kamu kenapa sih? Fokus! Fokus!


"Soal laporan yang Bapak minta. Apa aku harus bawa semuanya di tahun sekarang?"


"Benar, mulai bulan Januari sampai Agustus tahun ini!" jawabnya tanpa melihatku.


Mendadak mukaku kebas. Tugas di meja belum kelar, dia memberikan tugas yang baru.


"Kapan Bapak, membutuhkan laporan-laporan itu?"


"Secepatnya!" Kembali dia mendikte. Dingin dan arogan. Aku tak suka! Kenapa sih, dia tiba-tiba aneh begitu? Menyebalkannnnn!!!


Memutar balik badan, ingin rasanya langsung menghilang dari tempat itu tanpa harus berjalan.


.


.


Kulirik jam di dinding kantor, sudah satu jam berlalu dari waktu pulang karyawan. Namun, aku harus lembur mencari laporan yang tersusun di rak file, yang sedikit berdebu. Jangan-jangan dia sengaja mengerjaiku?


Tapi tunggu, dimana buket itu? Jangan-jangan masih di pantry?


Menyebalkan!!


Aku memindai jalan ke arah pantry, ya ampun hanya ada sebuah lampu yang masih menyala. Seramm.


Kembali berjalan menuju arah lift. Tak ingin melewati tangga kali ini. Suasananya itu lho, mengundang hawa nyai kunti hihihi ... osram!!! Menunggu depan pintu lift.


Ting!


Terdengar suara pintu lift terbuka. Memperhatikan seseorang di sana. Pertama cek kakinya, apa menyentuh lantai. Alhamdulillah, yess. Perhatikan wajahnya ... Dewa lagi! Heran, apa kantor ini begitu sempit? Yang kutemui selalu dia, dia dan dia!


"Makanya lain kali, bedakan mana waktu kerja, mana waktu untuk urusan pribadi. Biar nggak sering lembur begini?"


Seingatku kami hanya berdua. Apa dia bicara denganku? Atau sedang menelepon? Aku menoleh. Dia tidak sedang menelepon.


"Bapak sedang bicara sama aku?"

__ADS_1


"Iya. Memangnya ada lagi di sini?"


"Urusan pribadi yang mana?"


"Bunga-bunga itu. Kamu mau menunjukkan ke semua orang, kalau punya penggagum atau kekasih yang romantis."


"Bapak cemburu?"


"Nggak!"


"Nggak!"


"Cemburu!" sahut Dewa refleks.


"Nah kan, aku bilang juga apa!" Aku tertawa penuh kemenangan.


Hening sesaat! Ah biarkan saja, nggak penting juga.


Ting!


Lift terbuka. Aku berjalan keluar lebih dahulu. Kupercepat langkah menuju pintu utama.


"Nisa ... tunggu!! Saya antar!" Dia berusaha mengejar.


"Nggak perlu! Sudah ada yang menjemput." Kudengar suara langkahnya semakin mendekat dan dia berhasil menyusulku. Menghentikanku dengan berdiri tepat di depanku.


"Siapa yang menjemput?"


"SAYA." Dewa menoleh ke belakang, aku memiringkan kepala hendak melihat si pemilik suara.


"Hai Nis, ayo pulang." Tepat waktu, Angga datang di saat yang tepat.


"Iya Mas," kataku berjalan ke arahnya. Bersama keluar melewati pintu masuk utama.


Dari pantulan dinding kaca, aku melihat Dewa menatap kami dengan tatapan tak berkedip.


.


.


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja. Untuk menyemangati author 😁😍🙏


Terima Kasih


__ADS_2