
Pov Author
Buru-buru Angga keluar sambil menutup pintu. Jantungnya berdegup tak beraturan, wajahnya serasa panas. Ini pertama kalinya, dia melihat utuh bentuk seorang wanita. Ada hasrat yang bergejolak sebagai lelaki normal, tapi dia tak ingin gegabah, menyentuh sesuatu yang telah halal untuknya. Dia tau bahwa Nisa, belum mencintainya secara utuh. Dan naluri Angga bisa merasakan hal itu.
Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Nisa keluar dengan balutan pakaian yang lengkap. Beruntung kebiasaan selama di kos-kosan, ketika mandi harus membawa pakaian lengkap masih terbawa hingga hari ini. Meskipun untuk sekarang terlihat aneh, karena ini hotel dan tak ada orang lain, selain Angga sang suami. Namun sedikit banyak kebiasaan yang semestinya dihilangkan itu, telah membantunya keluar moment awkward yang baru saja terjadi.
Wajah Nisa yang memerah malu, dia sembunyikan dalam gerai rambut yang sedikit basah. Angga pun nampak mencoba menetralisir perasaan canggung berbalut hasrat, yang ingin segera meneguk manisnya madu malam ini.
Nisa terduduk di pinggiran ranjang mewah. Ditelannya saliva berulang, seraya mengatur napas yang serasa memburu.
"Maaf!" kata Nisa dan Angga bersamaan.
Lagi-lagi, mereka berdua salah tingkah. Hening kembali. Angga yang semula berdiri di samping jendela, berjalan mendekati istrinya. Nisa yang menyadari hal tersebut, kembali membuat jantungnya bertalu tak beraturan.
[Tidak, jangan sekarang! Aku belum siap seratus persen! Masih sembilan puluh sembilan persen!] pekiknya dalam hati.
Angga yang diam-diam memperhatikan, nampak mengulum senyum, melihat kikuknya gerakan Nisa.
[Aduh, serasa ngedeketin perawan saja! Malu-malu meong,] seloroh di otaknya.
Lelaki itu mendudukkan dirinya di samping Nisa.
"Kok, jadi canggung begini ya? Seperti pasangan yang di jodohkan saja," ucap Angga memecah horornya suasana malam ini.
Nisa menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan pelan. Berharap debaran di dadanya sedikit berkurang. Ditariknya sebuah garis senyum, sebelum berkata, "iya. Mendadak dangdut, ehh, maksud saya, mendadak canggung dan gerah. Apa mungkin AC-nya kurang dingin."
Nisa berdiri, hendak meraih remote AC di atas nakas. Namun, Angga menarik cepat telapak tangan istrinya.
"Duduklah," titah Angga pelan. Tanpa aba-aba Nisa kembali terduduk di sisi pria maskulin itu.
"Saya tahu, Adek belum bisa mencintai saya sepenuhnya. Begitu pula dengan malam ini. Saya tahu, masih ada nama Dewa di hatimu," ujar Angga lembut, tanpa melepas telapak tangan istrinya.
Sementara Nisa, terkejut mendengar nama Dewa disebut malam ini. Dan apa yang dikatakan sang suami pun, benar adanya. Kini, perempuan itu dihinggapi rasa bersalah, terhadap pria yang baru saja mengucap ijab kabul depan pak penghulu.
Kepalanya mendongak, mencoba menatap suaminya. Ingin memberi penjelasan agar tak menjadi riak di kemudian hari.
"Mas, tolong dengar penjelasan saya, yah?" pinta Nisa, juga dengan suara yang lembut.
"Dek, tak perlu menjelaskan. Saya __"
"Mas, tolong dengar sebentar saja. Saya tahu, Mas, tidak membutuhkan penjelasan. Namun, dengan mengatakannya, membuat hati saya sedikit tenang," potong Nisa, lalu dia menjeda sejenak. Seakan meminta persetujuan imamnya.
Angga menatap lekat. Tepat di mata belok sang istri, yang kini posisi mereka saling berhadapan. Anggukan kecil darinya, seolah memberi tanda buat Nisa untuk melanjutkan, apa yang ingin disampaikan.
"Bukannya saya sengaja untuk memelihara perasaan terhadap mantan suami. Saya sangat berusaha move on dan itu pernah benar-benar hilang. Bahkan sempat, menaruh kebencian terhadapnya."
Dia berhenti, memberi kesempatan dirinya untuk bernapas.
"Tetapi, lagi-lagi takdir mempertemukan saya dan dia, bekerja di perusahaan yang sama. Seberapa jauh saya menghindar, sebesar dekat dia mencoba kembali. Interaksi yang intens, karena dia atasan saya. Membuat hati yang semula membenci, sedikit demi sedikit mulai bisa memaafkan."
"Apalagi saat saya melihat dia berusaha untuk mendapatkan perhatian El, hati saya merasa__"
"Mulai mencintainya," sergah Angga.
Nisa mengehela napas sesaknya, "Tidak sepenuhnya benar, tidak sepenuhnya salah. Saya__"
Tak sanggup lagi melanjutkan perkataannya, air mata mulai menggenang di kedua pipi. Melihat perempuan yang telah menempati seluruh ruang di hatinya, tergugu. Ada rasa iba menggelayuti di jiwa Angga.
__ADS_1
Dengan perlahan diusapnya air mata yang masih mengalir deras tersebut. Refleks membawa badan perempuan tersebut, dalam rengkuhannya.
"Sudahlah, Dek. Nggak perlu dilanjutkan lagi. Pelan-pelan saja, ok?" saran Angga.
"Maaf ... maaf," ucap Nisa dengan isakan.
"Ssst, nggak apa-apa. Nggak apa-apa." Dilepaskan tangan yang melingkar di pundak sang istri. Menangkup wajah Nisa dengan kedua tangannya. Maksud hati hanya ingin sekedar memandang. Tetapi ....
Jarak yang tipis diantara mereka, membuat Angga tak tahan, mencicipi indahnya mawar yang terbalut lipblam aloe vera.
Manis dan indah, seindah balasan hangat yang diberikan Nisa. Saling memberi dan menerima, fitrah sebagai manusia yang telah berstatus suami istri. Terpatri malam ini, tanpa paksaan sedikit pun. Hanya naluri dan hasrat yang berbicara.
"Terima kasih, Dek." Lembut Angga membisikkan di telinga istrinya. Setelah bersama menyesap manis madu malam pertama.
Nisa membenamkan dirinya dalam lingkaran tangan kokoh sang suami. Meski dia tak menjawab pertanyaan Angga, tapi gestur yang dilakukannya, cukup membuat pria itu bahagia. Apakah ini berarti Nisa mulai menerimanya? Entahlah, terlalu cepat rasanya menarik kesimpulan, hanya dengan kejadian malam ini.
\===
Pagi hari, Nisa terbangun, menggeliat. Badannya terasa pegal-pegal. Sesaat dia kebingungan, kala memperhatikan sekeliling. Namun, kemudian sadar apa yang telah terjadi dalam hidupnya.
Diliriknya bagian sisi ranjang yang lain, kosong. Tak ada Angga di sana. Netranya kemudian menyisir bagian dinding kamar, mencari jam untuk mengetahui waktu.
Pupilnya membulat sempurna, kala melihat jam mewah dengan desain klasik tersebut, menunjukkan waktu pukul 05.30 pagi.
"Astagfirullah!" Dia memekik, lekas melompat dari pembaringan. Menyambar asal baju ganti. Buru-buru menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian, Nisa keluar. Tanpa membuang waktu lagi, segera dilaksanakan kewajiban sholat subuh dua rakaat.
Saat tengah shalat, pintu terbuka. Angga masuk dengan menenteng sebuah kantong berwarna putih. Kemudian duduk di sofa yang menghadap televisi. Asyik memainkan ponsel seraya menunggu Nisa selesai shalat.
"Sudah selesai, Dek?" tanyanya pada sang istri. Kala melihat Nisa merapikan perlengkapannya.
"Nggak tega. Saya lihat tadi tidurnya pulas banget. Kecapaian, ya?" seloroh pria yang selalu terlihat rapi dan bersih tersebut.
Nisa mengulum senyum tipis. Ingatan kembali meraba kejadian semalam. Sebuah pengakuan rasa yang berujung pergulatan manis. Angga menjalankan haknya sebagai suami, dengan penuh kelembutan. Dia masih khawatir, bila Nisa akan menolaknya.
Semua terjadi begitu saja, tanpa terduga sebelumnya. Hanya ada hasrat, yang membuncah. Nisa hanyut dalam buaian indah ini. Meski ada beberapa sisi logika yang menolak, tetapi ribuan syaraf di permukaan tubuhnya sangat menginginkan jejak demi jejak yang Angga lakukan.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Ingat yang semalam?" gurau Angga.
"Ck." Nisa mencebik. Pura-pura marah. Yang sebenarnya hanya bingung, bagaimana harus berekspresi terhadap Angga.
Sementara Angga sepertinya tahu, apa yang tengah dirasakan oleh perempuan yang telah resmi menjadi istri tersebut. Menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Nisa.
"Dek," ucapnya pelan. Ditariknya bahu Nisa. Kini perempuan itu sudah bersandar padanya. Aroma wangi shampo yang yang menguar dari rambut sang istri, tercium oleh pria itu.
"Nggak perlu merasa malu atau merasa bersalah pada saya lagi. Saat ini dan selamanya, akulah lelakimu, kata si Virzha. Insya Allah, saya ridho dan akan terus sabar, hingga hati Adek, menerima Erlangga Wicaksono sebagai seorang suami," ujar Angga penuh kasih. Sesekali mengesun pucuk kepala sang istri.
"Makasih, Mas," ujar Nisa sambil mengusap tangan Angga.
"Saya ingin, Adek, bisa santai dalam menjalani kehidupan berumah tanggah bersama nantinya. Jangan memberikan tekanan besar pada diri sendiri, untuk bisa menerima saya. Pelan-pelan saja. Tapi bila merasa sudah lelah berusaha, saya rela, bila Adek ingin p__"
"Mas, tetaplah bersamaku. Jangan pernah bosan menungguku. Saya tak selamanya begini, jadi tolong tetaplah disisiku," pinta Nisa, melingkarkan tangan di pinggang Angga. Erat sekali.
Angga tersenyum penuh arti. Dia pun melakukan hal yang sama.
"Tentu, Dek, tapi jangan terlalu lama begini. Saya takut nanti ada yang khilaf seperti semalam."
Buru-buru Nisa melepaskan tautan tangannya. "Kebiasaan deh, dikasih lampu hijau dikit, mikirnya aneh-aneh. Capeklah Mas, bolak-balik kamar mandi," sungut Nisa.
__ADS_1
"Nggak bakalan capek. Nanti, mas yang gendong," balas Angga.
"Memang kuat? Sarapan saja belum."
"Kuatlah, tadi pagi waktu joging sekalian minum jamu gendong plus telur ayam kampung. Bagaimana? Mau test drive?" ujar Angga seraya mengerlingkan mata.
Nisa mendelik, menjauh darinya.
"Mass, lapar. Cari sarapan, yuk," ajak Nisa mengalihkan topik.
"Lho, kita bisa dapat layanan service room. Adek tinggal pilih, mau makan di kamar atau di restoran hotel ini. Kalau saya sih, mau makan sandwich. Tuh, ada di atas meja," jelas Angga.
"Pihak hotel nggak masalah, Mas, bawa ginian?" tanyanya seraya melihat isi kantong putih.
"Nggak lah, Dek. Kita kan, cuma memberikan fasilitas. Terserah tamunya, mau memakai fasilitas tersebut atau tidak. Lagian, siapa yang berani menegur suamimu ini?" Tangannya menarik hidung bangir sang istri.
Nisa cengengesan, dia lupa bahwa pria yang ada dihadapannya, seorang ahli waris pemilik hotel bintang lima. Yang kini mereka tempati.
"Jadi, mau sarapan dimana?"
"Di kamar saja. Belum siap dipelototin sama karyawan Mas."
Angga terkekeh mendengarnya.
"Mas, kok, nggak minta dibuatkan sarapan dari hotel saja?"
"Bosan, Dek. Sudah hapal sama cita rasa di sini. Pengen yang lain," ucapnya. Kemudian segera memesan makanan melalui telepon di kamar tersebut.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Seorang waiter membawa makanan yang dipesan dengan menggunakan trolley. Angga memerintahkan untuk menata makanan tersebut di balkon. Dengan sigap waiter tersebut mempersiapkan semuanya. Setelah dirasa cukup, tanpa diminta waiter tersebut pamit kepada Angga.
Angga dan Nisa menikmati sarapan di balkon hotel, sembari melihat pemandangan sekitar. Angga menyeruput jus mangga lalu mengunyah sandwich. Sementara Nisa menyesap teh hangat, kemudian mulai menikmati nasi goreng seafood.
Perempuan itu sadar, Angga sedari tadi memperhatikan dirinya. Namun, diacuhkan saja. Toh, pria itu tak mungkin menerkamnya saat tengah sarapan.
Ponsel Nisa berdering nyaring. Lekas diraih benda yang tergeletak di sampingnya.
"Halo, Nis. Sorry ganggu pengantin baru."
"Hehehe, nggak kok, Mon. Tumben menelepon pagi-pagi. Kangen yah?"
"Iya, kangen. Nggak ada yang masak buat sarapan. Eh, Nis, Kamu tahu nggak, Dewa resign dari kantor kita. Per hari ini, dia sudah nggak di sini lagi."
"Hhah, resign?" Nisa terkejut mendengar kabar yang disampaikan Mona.
.
.
Bersambung
Please tinggalkan jejak review, star atau apa saja, untuk menyemangati author labil ini.
__ADS_1