JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Pulau Bali


__ADS_3

"Nina aku bawa, ya?" tanya Nisa. Saat itu mereka berbincang cukup lama di sebuah cafe, setelah keluar dari warung bakso.


"Ngapaian bawa anak kecil," dengus Dewa kesal.


Nisa menatap Dewa dengan jengah. Sikapnya masih menjengkelkan. Apa karena Nina bukan anak kandungnya? Berbeda sekali dengan sikap yang ia tunjukkan pada El. Mungkin karena Dewa belum mengenal Nina gadis ciliknya.


"Kalau tak sama Nina, aku tidak akan pergi," tegas Nisa. Bukan karena ingin membuat mereka dekat, tetapi pergi dengan membawa anak jauh lebih baik dari pada hanya berdua dengan Dewa.


Dewa menatap getir Nisa, mengapa wanita ini sulit sekali memahami maksudnya? Sudah tak ada lagikah sisa-sisa kenangan saat mereka masih hidup bersama.


"Kenapa begitu memaksa membawa dia? Kamu takut aku perk*sa?!"


Kembali Nisa mengelih Dewa dengan kesal, bicaranya memang blak-blakan. Orang yang baru mengenal Dewa mungkin akan beranggapan ia pria yang kasar. Beruntung Nisa sudah paham akan tabiat sang mantan, jadi tidak terlalu kaget. Hanya pasti akan membuat malu, jika ia bersikap seperti itu di tempat umum.


***


"Kenapa membawa kami ke sini? Bukannya kamu sedang sibuk?"


Nisa heran mengapa Dewa tidak membawa ke hotel tempatnya bekerja. Bukankah pria itu berkata, hotelnya tengah mempersiapkan tempat untuk delegasi Malaysia dan Thailand dalam acara World Conference on Creative Economy (WCCE) yang berlangsung di Bali.


"Nggak pa pa, kan? Supaya koleksi kenanganmu bertambah, tidak hanya hotel itu saja. Saya akan membuat kenangan kita berdua di tempat ini."


Nisa melempar pandangan ke arah laut. Posisi Dewa yang terlalu dekat, membuatnya risih. Ia pun menggeser sedikit tempatnya berdiri. Hotel mereka berlokasi di kawasan Amed yang terkenal akan terumbu karang yang indah. Hanya butuh waktu 15 menit saja untuk mencapai lokasi snorkeling terbaik di Desa Banyuning itu.


Pengunjung hotel itu akan dimanjakan oleh aktivitas air. Namun, jika tidak terlalu suka bermain air, tempat itu akan membuat betah dengan suasana yang menyenangkan plus fasilitas yang lengkap. Tamu dapat bersantai di spa atau di dipan yang terletak di pinggir infinity pool yang menghadap laut biru. Bisa juga mencicip makanan fusion ala Jepang–Bali yang disajikan di restoran. Benar-benar tempat yang memanjakan bagi pengunjungnya, baik untuk pecinta laut ataupun tidak.


Saat ini Nisa tengah berdiri di balkon yang mengarah ke laut. Senja mulai berganti malam, Nina pun sudah terlelap di kamar karena letih berenang di kolam sore tadi.


Dewa datang mengetuk kamar Nisa, membawa beberapa cemilan sebagai teman kala menikmati indahnya bulan purnama yang akan muncul sesaat lagi. Meskipun malam, pemandangan yang tersaji sangat cantik.

__ADS_1


Nisa mundur kebelakang, duduk di kursi rotan yang lebar.


"Takjub dengan indahnya alam ciptaan Tuhan?" lirih Dewa. Entah kapan pria itu sudah berpindah duduk dekat Nisa.


Nisa berusaha tenang, meskipun hawa panas sudah menjalari tubuhnya. "Hu'um," jawab Nisa singkat. Tak berani menoleh ke arah Dewa, jarak mereka terlalu dekat. Hingga saat menggerakkan badan, lengan mereka akan bersentuhan.


Dewa membuka jaketnya, memasang di bahu Nisa. "Pakai ini, biar nggak masuk angin," ujarnya lembut. Tangan kokoh itu menarik segera Nisa bersandar di bahunya.


Anehnya Nisa tak menolak, ia seperti hanyut dan terbawa suasana malam itu. Hingga ketika Dewa lebih mengeratkan dekapan dengan kedua lengannya, membenamkan Nisa lebih dalam di dada bidangnya, wanita itu pasrah saja. Bahkan Nisa membalas pelukan pria itu.


Aroma tubuh Dewa yang menguar di hidung Nisa, membuat wanita itu terlena seperti dulu. Ketika cintanya masih untuk pemilik lengan kokoh yang merengkuhnya.


Tak ingin melewatkan kesempatan panas itu, Dewa mulai berkelena. Membuat seluruh syaraf Nisa lumpuh dari kesadaran. Ia seakan mendapat pelepasan dari pengkhianatan Angga.


Sudah lama Nisa mendambakan belaian kasih sayang dari seorang pria. Salahkah bila ia menemukan indraloka dari mantan suaminya? Ketika Angga menikamnya dengan perselingkuhan, wajarkah jika Nisa membalasnya dengan affair dengan Dewa?


"Saya sangat merindukanmu, Nis," bisik Dewa di telinga Nisa.


Namun, ketika bibir Dewa mulai menyentuh bibirnya, Nisa membuka mata seketika. Kesadarannya mulai pulih, otaknya bekerja kembali. Lengan hangat ini, pelukan memabukkan ini, bukan milik Angga. Bagaimana pun ia tersakiti, merasa jijik terhadap Angga, Nisa tak boleh ikut berselingkuh!


Nisa lantas mendorong tubuh Dewa, membuat pria itu mundur hingga ke tepi kursi. Nisa berdiri, melepaskan jaket Dewa. Sementara Dewa bersandar lemas, kepalanya terkulai ke belakang. Nyaris saja ia memasuki nirwana, jika saja Nisa tidak melemparnya kembali ke bumi.


"Maaf, Wa, aku tak bisa. Ini nggak benar, aku masih istri mas Angga."


"Bagaimana bisa kamu masih memikirkannya? Sedangkan dia telah menyakitimu."


"Entahlah, dia memang bukan suami yang baik, tapi dia Ayah yang baik bagi anak-anak."


"Saya iri dengan dia, Nis. Andaikan dulu kita tak berpisah."

__ADS_1


Nisa menghela napas, bukankah pria itu yang meminta pergi dari sisinya? Nisa mendekati Dewa, mengembalikan jaket itu dengan menutupkan di dada Dewa.


"Masa kita sudah berakhir, Wa. Saat ini aku ingin lebih perhatian terhadap anak-anak. Suatu hari nanti, kamu akan menemukan wanita yang bisa membuat hatimu jatuh cinta kembali," jawab Nisa. Lantas berlalu dari balkon, masuk ke dalam kamar menemui Nina.


Nisa memeluk gadis kecilnya dengan penuh cinta.


"Terima kasih Tuhan," lirihnya dalam hati. Hampir saja ia ikut menodai ikatan pernikahannya dengan Angga. Ia segera mengunci pintu menuju balkon. Biarkan saja Dewa keluar lewat jalur yang menghubungkan balkon kamar mereka.


Ia harus meninggalkan pulau ini secepatnya. Jangan sampai terjebak oleh pesona Dewa untuk kesekian kalinya.


Malam ini ia masih bisa lolos, tapi bagaimana dengan pertemuan-pertemuan berikutnya? Sanggupkah Nisa berkata tidak, pada Dewa yang penuh daya pikat?


***


Pagi hari sebelum kembali bekerja, Dewa menyempatkan diri untuk menemui Nisa. Rencananya ia akan mengajak Nisa dan Nina untuk bermain di laut, entah itu snorkeling, diving, atau sekedar membuat istana pasir. Tentu saja setelah ia membereskan beberapa tanggung jawabnya di kantor.


Namun, pria itu harus gigit jari ketika mendapati kamar Nisa sudah kosong. Barang-barang mereka pun juga tak ada lagi. Nisa bahkan meninggalkan hadiah-hadiah yang telah Dewa berikan padanya di atas kasur.


Rahang Dewa mengejang, sampai sejauh ini ... wanita itu menghindarinya. Segera ia mengambil ponsel dan menghubungi Nisa. Nisa harus memberikan penjelasan padanya. Ia merasa dilecehkan sebagai laki-laki. Apa salahnya memberi hadiah pada seorang teman?


Begitu sambungan itu terhubung, Dewa langsung mencecar Nisa dengan kesal. Namun, lidah mendadak kaku saat mendengar jawaban Nisa di ujung telepon.


"Mertuaku masuk rumah sakit, Wa. Ayah mas Angga terjatuh di kamar mandi," kata Nisa sembari terisak. Sambungan telepon pun terputus dengan sendirinya.


"Opa kenapa, Ma?" tanya Nina polos. Gadis itu heran mengapa mamanya tersedu seraya memeluknya.


"Bukan opa, Sayang. Tapi kakek yang sakit," jelas Nisa menahan isak. Untuk orang tua Angga, anak-anak memanggillnya kakek-nenek. Sedangkan untuk orang tua Nisa, El dan Nina mengikuti panggilan anak Naresh, opa-oma.


Nisa lekas menghapus air matanya saat Nina bertanya tadi, agar putrinya tak ikut cemas.

__ADS_1


Dan satu penyesalan terbesarnya saat ini, apa yang sudah ia lakukan saat keluarganya dalam keadaan cemas?


Bersambung


__ADS_2