JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

"Untuk sekarang kamu mesti menyiapkan segudang sabar menghadapi anak-anak," ujar mama serius. Benang wol yang sedang dirajut, ia hentikan sementara. Menurutnya masalah yang dihadapi Nisa saat ini lumayan rumit.


"Kata-kata Mama membuatku takut."


"Bukan untuk menakutimu, buat apa mama bicara manis-manis sementara kenyataannya cukup pahit? Sebenarnya kamu sendiri yang membuat dirimu jauh dari anak-anak."


Nisa menatap mamanya penuh kebingungan. Dimana letak kesalahannya? Rasanya mama sudah tahu alasan Nisa bekerja keras akhir-akhir ini. Bukan murni kemauannya sendiri, ada campur tangan Angga di balik kesibukannya. Lalu mengapa mama bisa berkata seperti itu? Membuat Nisa menjadi pelaku tunggal atas kisruhnya dengan anak-anaknya.


"Kamu nggak menepati janjimu dengan anak-anak," ujar mama. Seperti tahu apa yang Nisa pikirkan.


"Janji?"


"Kamu sendiri kan, yang bilang cuma seminggu di Ausie, nyatanya molor tiga hari."


"Tapi, kan, Ma, itu karena Pradipta. Pengacara yang mas Angga janjikan berhalangan datang. Terpaksa aku yang harus bolak-balik mengurus administrasinya saat di rumah sakit," terang Nisa. Ia tidak berbohong, memang Pengacara yang Angga janjikan tak bisa hadir sesuai jadwal. Ada keluarganya yang sedang berpulang, menurut pesan yang Nisa terima.


Salah Nisa juga, mengapa ia tak mengkonfirmasi hal tersebut pada Angga. Ia pikir suaminya sudah mengetahui hal tersebut. Namun, setelah melihat efek yang terjadi beberapa hari ini, ia menduga Pengacara tersebut tidak memberitahu Angga atas ijinnya pada Nisa.


Mengertilah Nisa, rupanya inilah letak duduk permasalahannya. Ia segera bangkit dari sofa ruang tamu. Menghampiri mama seraya mengecup pipi dan punggung tangannya sebagai tanda pamit.


"Makasih Ma, sudah membuka pikiranku. Pulang dulu, ya," ucap Nisa sesaat sebelum meninggalkan rumah orang tuanya.


Sepanjang perjalanan Nisa sudah membuat rencana agar anak-anak mau memaafkan dan bersamanya lagi. Karena tak mungkin untuk berterus terang mengenai keterlambatannya pulang dari Australia pada keduanya, sebaiknya mengajak mereka menghabiskan waktu bersama mamanya. Apa mungkin menjelaskan siapa Pradipta kepada El dan Nina?


Untuk itu Nisa akan memberikan dua opsi demi sebuah kata maaf dari kedua anaknya. Mereka boleh memilih liburan ke negara mana saja atau Nisa akan menyediakan waktu khusus untuk mereka. El dan Nina boleh minta apa saja, selama waktu Nisa hanya untuk mereka. Memasak makanan favorit atau bahkan menemani mereka bermain seharian.


Dan mengenai Angga, sepertinya perlu waktu khusus untuk membicarakan mengenai ijin pengacara tersebut.


Dengan hati gembira, Nisa memasuki halaman rumah.


"Tumben cepat pulang, Dek?" sapa Angga. Akhir-akhir ini ia sudah tak pernah keluar lagi saat anak-anak belum pulang sekolah. Hanya sesekali saja, jika ia merasa suntuk di rumah. Misi terbesarnya mencari Pradipta sudah selesai.

__ADS_1


"Sengaja Mas. Anak-anak sudah pulang?" tanya Nisa datar.


"Sudah, tapi El pergi lagi. Ada Ekskul renang hari," jelas Angga, mengikuti Nisa masuk ke dalam rumah.


Ada sedikit kekecewaan saat mendengar kegiatan El, tapi Nisa tak menampakkan, toh masih bisa menunggu.


"Kamu sudah makan?" tanya Angga kemudian.


"Sudah, tadi sebelum pulang aku ke rumah mama, sekalian makan di sana."


"Oh, ya sudah. Cuma tadi bibik masak rendang kesukaanmu."


"Nanti saja, Mas. Nina kok, nggak kedengaran suaranya? Serius amat mainnya di kamar," ujar Nisa sembari ingin menuju ke kamar Nina. Namun, Angga segera mencegahnya.


"Masih tidur, biarkan saja. Nanti juga bangun sendiri."


Lagi-lagi Nisa harus mengerem keinginannya. Ternyata bukan hanya anak-anak yang sulit mendapatkan waktunya, ia pun kesulitan menyesuaikan waktu anak-anak dengan dirinya.


Sama seperti Papanya, El sedikit terkejut melihat Nisa sudah ada di rumah sore ini. Biasanya El hanya bisa mendengar suara mobil atau sepatu Nisa, kala kedua matanya akan terlelap pukul sepuluh malam.


Angga memanggil El untuk bergabung, walaupun agak jengah karena Nisa terus memandanginya. Memangnya tak ada pemandangan lain selain dirinya? Tetapi ia akhirnya mendekat juga. Tas ranselnya ia letakkan asal di kakinya. Nisa ingin mengambil dan diletakkan di atas sofa yang kosong. Namun, El mencegahnya.


"Jangan, Ma, isinya cuma baju renang yang basah. Biarkan saja di sini."


Nisa hanya tersenyum kecut mendengarnya. Setelah itu tanpa membuang waktu lebih lama lagi, takut El semakin bosan duduk di sana, Nisa segera mengutarakan maksudnya mengajak liburan El dan Nina. Namun, yang terjadi di luar perkiraan Nisa.


"Papa ikut juga?" tanya El sedatar mungkin. Ia tak ingin membuat Angga serba salah, walaupun ia sendiri sangat gembira akan ajakan Nisa. Sudah lama ia merindukan mama yang jarang mempunyai waktu luang buat keluarganya. Jika saja boleh, El akan membeli waktu Nisa agar bisa menemaninya setiap hari.


"Nggak. Kalian pergilah bertiga, biar papa yang menjaga rumah," jawab Angga tenang.


"Ah, kalau Papa nggak ikut, jangankan ke Jepang, ke bulan juga ... El nggak akan ikut. Nggak seru."

__ADS_1


"Lho, kok, gitu?" seru Nisa spontan, kemudian beralih menatap Angga, "Mas boleh ikut, kok, ini kan liburan keluarga."


"Saya lagi malas liburan. Kalian, kan, bisa pergi tanpa saya," tampik Angga.


Tak ada kemarahan dalam suara Angga, tapi entah mengapa Nisa merasa suaminya sedang menentang keinginannya.


"Mas kenapa, sih? Lihat sendiri kalau Mas nggak mau pergi bersama kami, anak-anak juga menolak liburan denganku," tampik Nisa kesal.


"Anak-anak yang nggak mau pergi, kenapa saya yang disalahkan? Silahkan kamu bebas kemana saja, saya tidak pernah melarang. Mau bawa anak-anak juga bebas, asal mereka mau."


Duh, bukannya berdiskusi dengan gembira, ini bahkan menjadi ajang perdebatan kecil antara Nisa dan Angga. Terang saja El menjadi berang melihat kejadian itu, dengan kasar meraih tas ransel di kakinya. Membuat meja tamu ikut bergeser dan vas bunga hampir saja terjatuh.


Tak dipedulikan panggilan Nisa dan Angga, El terus saja berjalan meninggalkan mereka. Bukan hanya badan letih setelah berenang, hatinya pun terasa lelah melihat perdebatan tadi.


"Sudah seringkali saya memberitahumu, jangan bertengkar di depan anak-anak."


"Mas juga tidak memberiku muka di depan anak-anak. Apa susahnya menerima ajakanku? Mas nggak suka ya, kalau aku dekat dengan anak-anak?"


"Siapa bilang begitu? Kamu terlalu mencurigai saya, mengambil hati anak-anak bukan dalam hitungan jam atau hari. Itu perlu usaha dan sedikit pengorbanan."


"Pengorbanan? Mas bicara pengorbanan? Apa yang belum aku korbankan sampai sejauh ini? Waktuku dengan anak-anak sudah aku relakan, tak bisakah Mas menjaga mereka agar tetap dekatku?"


"Kenapa mesti saya? Fitrah seorang ibu itu, dekat dengan anak-anak, kalau mereka menjauhi ibunya ... berarti ada yang salah dengan dirimu."


"Salahkah aku menggantikan Mas mencari nafkah? Salahkah aku bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga ini? Kalau aku salah, ambil alih lah kembali semua tanggung jawab itu!"


"Dengan membiarkan wartawan mengejar-ngejar saya, kemudian membuat gosip-gosip yang membuat malu anak-anak? Maaf saya tidak bisa!"


"Bukan tidak bisa, Mas sadar sudah menghancurkan keluarga ini sejak selingkuh dengan Pradipta!" lantang Nisa geram.


Plaak!! Sebuah tamparan bersarang manis di pipi perempuan itu. Tepat di saat itu Nina baru saja keluar dari kamar dan melihat semua kejadian di ruang tamu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2