
"Kamu sudah terlalu jauh memanjat, Nis. Berhentilah jangan diteruskan lagi," ujar mama.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak, Ma? Mereka masih kecil, masih mau sekolah setinggi-tingginya. Aku nggak masalah berhenti, asal mas Angga mau bekerja lagi. Mama tahukan sekarang dia menarik diri dari pergaulannya. Aku harus bagaimana?"
Bukannya Nisa terlena akan dunia kerja, tetapi sudah tak ada pilihan lain. Suaminya sudah tak ingin lagi mengurusi perusahaan miliknya. Angga lebih betah menghabiskan waktunya di rumah bersama anak-anak.
Awalnya, baik Angga dan Nisa tak masalah dengan bertukar pelan. Semuanya masih bisa dikomunikasikan, saling membantu, dan saling toleransi. Namun, seiring meningkatnya gairah Nisa dalam berkarir, bertambah pula lah kesibukannya.
Jujur ada rasa kepuasaan dalam diri perempuan itu, manakala melihat satu lagi bangunan tinggi menjulang itu adalah aset perusahaannya. Inilah bentuk penghargaan atas kerja kerasnya, walaupun waktu bersama El dan Nina menjadi jauh lebih berkurang.
Namun, Nisa tak tahu semakin bersinar karirnya, semakin tenggelam pula Angga dalam keterpurukan. Pria itu semakin tersudut di ruang yang gelap. Tak ada uluran tangan yang menggapainya keluar dari tempat itu. Hanya canda tawa El dan Nina yang menjadi penerang hidupnya.
"Kenapa Anda tidak memilih berpisah dari suami, setelah tahu perbuatannya menyakiti Anda?" tanya psikiater cantik tersebut.
"Aku memikirkan anak-anak. Mereka sangat mengagumi ayahnya. Jika kami memilih berpisah, belum tentu mereka bisa menerima kehadiran orang lain yang ingin menjadi bagian keluarga kami," jawab Nisa.
"Hanya itu?"
Nisa menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, karena Anda memilih bertahan dari pada berpisah, seharusnya Anda sudah tahu apa yang menjadi konsekuensinya. Tanggung jawab Anda menjadi dua kali lebih berat. Kini tugas Anda tidak hanya mengurus anak-anak dan masalah domestik di rumah, tetapi Anda juga dituntut merawat trauma psikis suami Anda."
"Trauma psikis? Bukankah dia sendiri yang menyetujui perselingkuhan itu? Trauma kah namanya jika mereka suka sama suka?"
"Dampak setelah perselingkuhan itu berakhir. Orang tuanya meninggal, kehilangan potensi dan kepercayaan diri, dan yang lebih mengerikan melihat eks selingkuhannya memiliki segudang penyakit."
Nisa tertegun mendengar penjelasan dokter tersebut.
"Disaat seperti itu peran keluarga atau pasangan, sangatlah berarti. Apalagi jika dia memiliki mental yang lemah. Namun, sejauh ini saya melihat suami Anda masih terbilang cukup tegar menghadapinya. Dia tidak punya keinginan menyakiti diri sendiri, kan?"
Nisa menggeleng lemas.
"Nah, tugas Anda menjadi lebih mudah. Beri waktu yang banyak padanya, dengarkan keluhannya dan tumbuhkan rasa percaya dirinya kembali. Jika suami Anda tidak mendapatkan semua itu, dia akan semakin terpuruk, cemas, dan lebih sering berpikiran negatif. Mengenai masalah Anda dengan anak-anak, sepertinya dia cemas jika anak-anak akan melakukan hal yang sama seperti Anda. Pengabaian. Karena itu suami Anda tanpa sadar membuat mereka jauh dari Anda. Misalnya dengan menunjukkaan sikap acuh atau membisikkan langsung hal-hal buruk pada anak-anak."
Deg!
Hilang sudah sisa-sisa semangat dalam diri Nisa, mendengar penjelasan dari Dokter tersebut.
Jika masih ngotot ingin bertahan, itu berarti Nisa harus membelah dirinya menjadi banyak, agar semua orang bisa mendapat perhatiannya.
__ADS_1
Sementara jika Nisa memilih untuk berpisah, tegakah ia meninggalkan Angga yang sudah tak mempunyai siapapun di dunia ini? Bisakah ia melihat Angga berusaha mengobati luka-lukanya sendirian? Tidak! Aku harus mendampinginya di saat-saat seperti ini. Aku tak ingin ia kembali ke jalan nista itu.
Sepanjang jalan Nisa mencari-cari solusi agar semua bisa kembali serasi, selaras, dan seimbang. Tapi bagaimana caranya?
Tanpa sadar mobil yang dikendarainya sudah memasuki halaman rumah. Nisa melirik jam yang melingkar di tangan, pukul dua puluh satu lewat sepuluh menit. Ternyata butuh waktu satu jam lebih untuk konsultasi dengan Psikiater tersebut.
"Bawalah suami Anda kemari, jika datang minggu depan. Kita sama-sama akan menggali masalah di antara Anda dan suami," katanya Dokter itu sebelum mereka berpisah.
Nisa hanya tersenyum pahit mendengarnya. Mungkinkah Angga mau menemui dokter itu? Ah, rasanya itu tak mungkin. Pria itu akhir-akhir ini seperti menghindarinya.
Nisa terus berjalan dengan wajah murung, bahkan ia tak menyadari kehadiran Angga di ruang tamu. Terus melangkah menuju kamarnya.
Sementara Angga yang sedari tadi memperhatikan Nisa berjalan dengan wajah murung merasa semakin serba salah. Niat untuk meminta maaf pada istrinya kerena telah menamparnya, ia urungkan. Angga mengira Nisa sangat sedih dan malu setelah mendapat perlakuan kasar darinya. Ia pun pelan-pelan mulai berpikir. Seandainya kehadirannya selalu membawa keributan dan pertengkaran di rumah ini, lalu masih berartikah sosoknya untuk keluarga ini?
***
Pagi hari itu, ketika Santika tengah menikmati harum wangi teh chamomile dalam cangkirnya, tampak kupu-kupu berterbangan hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain mengisap madu-madunya. Santika memang gemar duduk di teras rumah, sembari memperhatikan tanaman-tanaman yang berjejer rapi dalam pot-pot berwarna hitam.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon. Santika menghela napas kesal, menengok sejenak ke dalam rumah.
"Siapa yang menelepon pagi begini? Masih jam delapan," rutuknya dalam hati.
Dan benar saja, tak lama kemudian seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh muncul dari dalam. Segera menyambar gagang telepon dengan menggerutu dalam hati. Bagaimana tidak menggerutu, jarak dapur dengan pesawat telepon lebih jauh dari pada tempat Santika duduk bersantai. Mana lagi ia harus meninggalkan seabrek pekerjaan di dapur. Nasib ... nasib, beginilah jadi orang kecil!
Santika tampak kebingungan, hilang sudah senyum di wajahnya. Ternyata telepon tersebut dari rumah anaknya, Nisa.
"Lho, lho, Kamu kenapa Ma?" tanya Cakrawangsa suaminya.
"Anu ... Pah ...."
"Anu, apa Ma? Ngomong yang jelas."
"Itu tadi ... ada telepon dari rumah anakmu, Nisa."
"Trus?"
"Ah, pokoknya saya juga kurang jelas. Soalnya Nina nangisnya kencang banget, saya nggak bisa dengar dengan jelas."
"Aduh, gimana, sih? Sudah buruan kamu siap-siap, kita ke sana sekarang juga," titah Cakra penasaran. Mau bagaimana lagi Santika tidak bisa memberikan penjelasan.
__ADS_1
Sedikit ngebut Cakra membawa roda empatnya membelah jalanan menuju rumah sang anak. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke tujuan. Saat sampai, keduanya terkejut melihat pemandangan di rumah itu.
Nina tak mau berhenti menangis walaupun sudah dibujuk pengasuhnya. Sementara El penampilannya sangat kacau, entah sudah berapa kali ia mengacak-ngacak rambutnya. El terkulai lemah duduk di sofa ruang tamu.
"Kenapa kalian ini? Kenapa nggak sekolah? Papa, Mama kalian ada dimana?" berondong Santika pada cucu-cucunya.
Bukannya menjawab, Nina semakin histeris mendengar pertanyaan oma-nya. El pun tak ingin buka mulut, membuat orang tua itu semakin gemas. Masa iya, ke sini pagi-pagi hanya untuk melihat lomba menangis? Huft!!!
Tak lama kemudian Angga muncul dari balik pintu kamar, begitu melihat sang mertua datang ia mempercepat langkah menghampiri orang tua Nisa.
"Ma, Pa, Nisa ...."
"Kenapa Nisa?" sergah Santika cepat.
"Maafkan saya, Ma. Nisa pergi dari rumah ini."
"Pergi? Kerja, ngantor, atau__"
"Nisa menghilang dari rumah ini. Dia pergi meninggalkan kami semua," jelas Angga pelan dan sedih.
"Apa?! Jangan main-main kamu sama orang tua," tampik Santika sembari membeliak.
Sementara Cakra langsung menerobos ke arah tangga, hendak memeriksa sendiri kamar pribadi Nisa.
Santika pun segera menyusul suaminya.
Namun, benar apa yang di katakan Angga, Nisa tak ada di kamar itu. Lemarinya masih rapi, kosmetik dan juga ranjangnya masih tertata rapi
"Nisa pergi membawa beberapa helai pakaian." Tiba-tiba Angga sudah tegak berdiri di ambang pintu. Nina yang dalam gendongannya sesekali masih terlihat sesegukan.
"Bagaimana dengan ponselnya? Apa kamu sudah menghubunginya?"
"Sudah Pah, bahkan saya sudah menghubungi kantor, katanya Nisa belum datang. Nomernya pun tidak bisa dihubungi," keluh Angga kecewa.
"Dia tidak meninggalkan pesan apa pun?"
Angga menggeleng pelan. "Nisa kamu dimana? Lihatlah anak-anak yang menjerit karena tidak menemukanmu hari ini," bisik Angga dalam hati.
Bersambung
__ADS_1