
Nisa memandangi wajahnya di depan cermin, kedua netra itu sedikit bengkak setelah semalaman menangis. Sepertinya ia harus mengakali dengan sapuan bedak yang lebih tebal dari biasanya.
Nisa mendengkus sebal. Saat penampilannya seperti itu, ia pun harus memikirkan rencana untuk melewati hari kedua di pulau ini, jika tak ingin terkurung dalam kamar hotel seharian.
Setelah gagal mendulang kisah romantis jilid dua dengan Angga, Nisa ingin langsung meninggalkan Bali pagi itu juga. Namun, urung ia lakukan takkala teringat akan sang mama. Ah, andai saja ia memiliki sedikit saja rasa pengabaian terhadap orang lain seperti yang dimiliki Angga, masa bodoh dengan tatapan aneh mama ketika melihatnya pulang sebelum waktunya. Pun ia tak perlu berlama-lama menabur bedak di wajah, cukup menggunakan kaca mata hitam yang lebar sudah bisa menutupi bekas kesedihan di matanya.
Ketika dirasa sudah cukup puas melihat penampilannya, ia segera beringsut dari kursi rias. Berjalan ke arah pintu, hendak keluar dari kamar. Namun, Nisa berbalik sejenak, menatap ruangan yang masih berantakan. Biarkan saja, sebentar lagi petugas hotel yang akan merapikan. Tetapi netranya kemudian terpaku, melihat lingerie hitam menyembul dari dalam lemari yang tidak tertutup rapat.
Nisa berjalan lunglai mendekati lemari tersebut. Ia ingat saat memilih lingerie tersebut di sebuah mall. Ibu dua anak itu sempat meragu, masih pantaskah ia mengenakan pakaian dalam yang seseksi ini?
Tubuhnya tak semolek dan tak sekencang gadis-gadis muda yang berseliweran di depannya.
Namun, tekad Nisa yang besar, ingin memberikan sajian yang special buat Angga, mengalahkan keraguan di benaknya. Tak perlu malu ... bukankah Angga juga tak sekekar sepuluh tahun yang lalu?
Nisa tersenyum pahit mengingatnya. Segera memperbaiki pintu lemari agar tidak lagi memamerkan lingerie yang berkisah suram.
***
"Menakjubkan." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Nisa saat melihat hamparan laut Hindia Selatan, betapa besar keagungan Sang Maha Kuasa menciptakan bumi dan segala isinya. Pemandangan indah yang tersaji di lensa teropongnya, memberikan sensasi tersendiri di hati Nisa.
"Indah, tetapi penuh misteri," lirih Dewa di sampingnya. Tak salah, karena laut merupakan perairan yang sangat luas. Banyak yang belum diketahui soal laut dan segala isinya, terutama penghuni di dalamnya.
Nisa menjauhkan teropong dari matanya, ia memandang samudra yang tidak pernah bosan beriak, dengan mata polos. Tak ada habisnya ombak berkejaran di sana, tak jarang hempasan air menjilati pura Uluwatu. Untuk penderita thalassophobia atau pobia terhadap laut sebaiknya tidak memilih tempat ini. Namun, jika penasaran dengan pura Uluwatu ada baiknya membawa rekan yang paham akan kondisi si penderita.
Dewa membawa Nisa menikmati pemandangan pura Luhur Uluwatu pagi itu setelah selesai menikmati breakfast.
"Kamu ingin tahu, kan, alasan saya menghilang dari kalian?"
"Bukan hanya menghilang, bahkan kamu sengaja melupakan El. Andai saja aku tahu, kamu akan seperti ini, tak mungkin kuijinkan El bertemu denganmu."
"Kita bicarakan ini di sana saja," sergah Dewa, menarik pergelangan tangan Nisa dengan cepat.
__ADS_1
Tak ada pilihan lain, selain mengikuti lelaki itu jika tak ingin menjadi tontonan gratis para tamu hotel.
Dan Dewa baru melepaskan cengkramannya, ketika mobil yang dikemudikan melaju meninggalkan pelataran parkir.
"Sepertinya Bali tidak bisa mengubah sifatmu yang suka memaksa," dengus Nisa. Sisa-sisa kekesalan masih tampak di raut wajahnya.
"Saya tidak asal maksa dan lagi, tidak semua orang saya perlakukan seperti itu."
Nisa mendecak sia-sia berdebat dengan pria di sampingnya.
.
.
Hotel tempat Nisa menginap, beberapa tahun yang lalu mengalami kerugian besar akibat krisis ekonomi global. Aldebaran sahabat Dewa ketika kuliah, berencana mengambil alih hotel tersebut. Tentu saja dengan sokongan dari ayah Aldebaran yang seorang pejabat tinggi di negeri ini.
Awalnya Aldebaran enggan menyetujui rencana sang ayah. Namun, setelah bertemu Dewa, entah mengapa Aldebaran menerima usulan ayahnya. Tentunya itu terjadi ketika Dewa bersedia membantu Aldebaran mengelola hotel tersebut.
"Tapi bukan itu yang menjadi alasan saya menghilang dari kalian."
Dewa melirik Nisa sekilas, kemudian tersenyum kecut. Ia bisa melihat betapa jengkelnya wanita di sampingnya. Bahkan kesejukan udara di sana, tak bisa meredam kemarahan Nisa.
"Waktu itu, saya ingin menata hati dan hidup saya sendiri," lirih Dewa pelan. Hampir saja suaranya tertelan oleh bahana deburan ombak.
Andai saja Nisa tahu bagaimana tiap hari Dewa harus bertahan di antara perasaan benci dan rindu, mungkin wanita itu tak tega bersikap sinis padanya. Meskipun Dewa benci karena merasa dikhianati, tapi ia masih menyimpan gejolak gairah dan sebongkah cinta untuk Nisa dan juga El.
Dewa tak dapat mengenyahkan perasaan cintanya terhadap Nisa, apalagi setelah kehadiran El di antara mereka. Namun, apa yang dapat ia lakukan, jika kedua belahan hatinya memilih berlalu demi hidup bersama Angga yang mapan. Dewa sadar,
Bagaimanapun giat dirinya bekerja, tak akan bisa menandingi pundi-pundi uang Angga.
Untuk itulah dengan berat hati, ia memilih menjauh dan menerima tawaran Aldebaran mengembangkan hotel yang hampir gulung tikar. Dan untuk anak mereka El, Dewa percaya di bawah pengasuhan Nisa dan Angga, El bisa tumbuh menjadi anak yang hebat.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Nisa bingung. Sebuah buku tabungan dan kartu ATM diberikan Dewa padanya.
"Tabungan untuk El. Tiap bulan sudah saya sisihkan sebagian penghasilan untuk masa depannya. Memang tak banyak, tapi cukup membiayai kuliah El sampai S2," jelas Dewa. Pandangannya menatap jauh ke lautan lepas.
Hati Nisa terenyuh, ternyata Dewa tak sepenuhnya melupakan darah dagingnya. Diam-diam ia melirik lelaki yang masih memiliki pesona dan daya tarik yang kuat meski usia tak lagi muda.
Lelaki itu masih seperti dulu, bila Dewa sudah selesai dengan kesinisannya, mantan suami Nisa akan berubah menjadi sosok yang sangat peduli dan romantis.
"Kamu saja yang simpan. Jika nanti kamu menyerahkan pada El, ia akan tahu ayahnya masih senantiasa memperhatikannya," kata Nisa sembari memberikan buku dan kartu ATM di tangan Dewa.
Bukan dua benda itu yang menjadi prioritas Dewa, melainkan tangan mantan istrinya. Ia menggenggam dengan erat, erat sekali seakan tak ingin melepasnya kembali.
***
Angga membaca ulang pesan Nisa yang dikirim melalui semua media. WA, email dan bahkan SMS yang sudah jarang sekali ia baca, juga tak luput dari pesan istrinya.
Bukan hanya itu, Nisa juga memborbardir dirinya dengan bunga dan kartu yang dikirim ke kantor dan juga dalam kamar mereka. Isinya sama semua, berisi ungkapan cinta Nisa dan juga ajakan mengulang napak tilas perjalanan cinta mereka di Bali.
Diam-diam Angga tersenyum bahagia, ia bersyukur memiliki istri seperti Nisa. Yang tak pernah menuntut dan selalu bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Baginya Nisa adalah paket lengkap seorang wanita yang Tuhan kirim untuknya.
Nisa bisa menjadi seorang teman, istri dan ibu untuk kedua anaknya.
Lantas, mengapa dirinya tega mempersembahkan kerikil untuk wanita itu? Sementara berlian satu karat pun tak pernah Nisa minta darinya?
"Bodoh! Ceroboh!" Angga memaki dalam hati. Ia meremat rambutnya. Meratapi kecerobohannya merusak mahligai pernikahan sendiri. Menyesal, ia sangat menyesal.
Suara deringan ponsel di dekatnya, menyadarkan Angga dari ruang penyesalan. Hampir saja ia melempar benda tersebut, ketika membaca nama yang tertera di atas layar.
Namun, ia mengurungkan niatnya, ketika sebuah video masuk melalui aplikasi WA.
Bukan hanya video yang Angga terima, beberapa pesan bernada ancaman juga ikut menyertainya.
__ADS_1
"Ini hanya sebagian kecil kisah cinta yang telah kita rajut. Mas, nggak maukan video kita, ada di ponsel istri Mas tersayang?"
Bersambung