
Pukul dua puluh satu lewat lima puluh menit, Angga baru saja berlalu dari depan pagar rumah. Lekas menuju kamar, terasa lelah menyelimuti. Kasur adalah pilihan yang paling terbaik saat ini. Ponsel berbunyi, ada beberapa pesan WA yang masuk.
Kubuka pesan dari Mona terlebih dahulu.
[Baru pulang, Nis?]
[Iya, baru nyampe. Mau tidur. Kenapa?]
[Ada kue nggak?]
[Banyak, di toko,]
[Busyet dah, eh kalian 💏 nggak?]
[Astagfirullah, ini orang. Otaknya mesum. Besok lagi Mon, dah ngantuk,]
[Ok, besok ceritain ya,]
Ku-read saja, tanpa membalasnya. Kemudian lanjut melihat pesan berikutnya. Ternyata dari Angga.
[Sudah tidur, Nis?] terkirim sepuluh menit yang lalu.
[Belum Mas, baru mau. Barusan balas pesan Mona,]
[Oo ... besok aku jemput yah?]
[Pergi atau pulang?]
[Dua-duanya, kalau bisa,]
[Perginya saja Mas, pulang biar bareng Mona,]
[Siap, selamat istirahat ya. Besok disambung lagi,]
Kuletakkan ponsel di atas meja, samping kasur. Memperbaiki posisi badan dan bersiap istirahat.
\=\=\=
Mobil Angga berhenti tepat di gerbang utama gedung. Kuucapkan terima kasih atas tumpangannya pagi ini. Dia tersenyum, kemudian pamit melanjutkan aktivitas hari ini. Beruntung rekan kerja yang lain belum terlalu banyak yang datang, mungkin akunya saja yang kecepatan.
Berjalan santai menelusuri koridor. Kulirik jam yang melingkar di tangan, masih tersisa waktu empat puluh lima menit lagi, sebelum jam kantor mulai. Memutar arah, melewati tangga, lumayan buat olah raga pagi. Satu demi satu menapaki anak tangga.
Tiba-tiba lengan ini tertarik, hingga aku bersandar pada dinding. Kutepis tangan yang mencengkram lengan, saat kutahu Dewa pelakunya.
__ADS_1
"Siapa laki-laki itu?" selidiknya.
"Sekali lagi kukatakan, bukan urusan Bapak."
"Ok, saya tidak akan bertanya tentang itu sekarang! Anak kecil itu, tolong beritahu siapa dia?"
"Untuk apa Bapak menanyakan itu? Kalau aku katakan, dia keponakanku. Apa bisa berhenti mendesakku!"
"Nisa, jangan membuat masalah ini rumit. Jika dia anak kita, saya akan menebus semua kesalahanku."
Tak terasa setitik bening, air mata lolos begitu saja. Akhirnya dia mengakui telah berbuat salah, walaupun mungkin dia tak sadar telah mengatakannya.
Tiba-tiba dia menarik tangan ini, kucoba memberontak, tapi sia-sia saja.
"Ikut saya!" Aku berjalan cepat dengan tangan yang masih dalam pegangannya. Melewati pintu samping kantor, rupanya mobil Dewa sudah siap di sana.
"Masuk, Nis."
"Nggak mau!"
"Tenang saya tidak akan macam-macam. Hanya ingin bicara berdua denganmu saja, tanpa ada gangguan."
Tatapan matanya, meminta persetujuan yang tulus. Hatiku luluh ....
"Masih ingat tempat ini?"
Aku bergeming. Netra ini nanar mencari sesuatu yang bisa mengingatkanku akan lokasi ini.
"Ayo turun, mungkin nanti Nisa sudah ingat akan kenangan terindah di sini."
Bagai seseorang yang terkena hipnotis, kaki melangkah mengikuti Dewa. Masuk ke dalam lift, hingga berdiri di depan pintu sebuah ruangan.
"Nisaa!" teriak seseorang. Seketika aku dan Dewa berbalik ke arah suara.
Angga, dia berdiri memaku melihat kami berdua. Kemudian berjalan mendekatiku.
"Sedang apa di sini?" tanyanya.
Aku menggeleng. Lalu menyambar tangan ini, menarikku di sampingnya.
"Hei, anda siapa?" bentak Dewa.
"Seharusnya saya yang tanya, Kamu siapa? Dan untuk apa membawa Nisa ke apartemen ini?" tanya Angga gusar.
__ADS_1
Apa apartemen? Sekarang aku ingat tempat apa ini.
"Jangan ikut campur, dia istriku!"
Angga terkekeh mendengar jawaban Dewa.
"Kamu pikir, saya baru kemarin kenal dengan Nisa. Hei Bro ... wake up!"
Aku melepaskan tangan ini dari pengangan Angga.
"Mas, berhenti! Biar saya beritahu, dia Dewa ayah El dan juga atasan saya di kantor."
"Kak, dengar laki-laki yang kau tanyakan tadi pagi itu adalah Mas Angga. Sekarang dia ada di hadapanmu."
Dua lelaki di hadapanku terdiam sepertinya dalam kondisi terkejut, setelah mendengar apa yang baru kukatakan di hadapan mereka.
"Jadi Kak, tak perlu lagi mengajakku ke sini. Sekarang aku ingat akan tempat ini dan semua pertanyaan tentang anak itu, sudah terjawab. El, anakmu. Namanya Ben Elard."
"Setelah mengetahui mengenai El, aku minta, jangan mengusik kami. Biarkan ini berjalan seperti biasanya. Aku dengan hidupku dan Kakak dengan keluarganya. Jangan jadikan kami alasan, bila hubungan Kakak dengan Wanda bermasalah." Aku melirik sejenak pada pria pemikat hatiku dulu. Nampak dia termangu.
"Kalau begitu, aku permisi pada kalian berdua," pamitku seraya membalikkan badan dari hadapan mereka.
"Nis, tunggu!" seru Angga. Berhenti tanpa menoleh ke belakang.
"Ayo, saya antar." Kembali tangannya menggenggam tangan ini, kubiarkan saja. Aku butuh seseorang untuk bersandar sejenak.
Pov Author
Sementara itu, Dewa tampak mengusap kasar muka dengan kedua telapak tangannya.
Kemudian meninju dinding apartemen itu, dengan kepalan tangan yang menggenggam kuat. Marah, sedih, bahagia semua menyatu dalam hatinya saat ini.
\=\=\=
Bagaimana kisah mereka selanjutnya yah?
Yuk jangan bosan menunggu episode selanjutnya yah 😙🙏
Bersambung
🌷🌷🌷🌷🌷
Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja, untuk menyemangati author 😁😍🙏🙏
__ADS_1