
Pov Author
Setelah acara syukuran ulang tahun El, intents pertemuan Nisa dan Angga semakin sering. Perempuan itu mencoba membuka hati pada teman Naresh, kakak Nisa. Hal itu membuat gemuruh di hati sang mantan, Dewa.
Tidak leluasa rasannya untuk mendekati Nisa saat jam kantor dan menunggu jam pulang, janganlah berharap. Ada Mona yang selalu mendampinginya. Risih? Tentu, karena tak ada yang tahu bahwa mereka berdua pernah terikat dalam sebuah pernikahan singkat.
Hingga hari ini, Dewa menemukan kesempatan untuk membuat Nisa keluar bersamanya.
"Nis, dipanggil Boss," kata Mona di dekatku.
"Ada apa lagi, sih?" kesalnya.
"Laporanmu salah kali."
"Nggak kok! Sudah aku cek sampai dua kali, sebelum disetor."
"Boss, kangen kali?" bisiknya di telinga Nisa.
"Ish ... apaan. Jangan buat gosip macam-macam ya!" dengus Nisa. Muka dibuat cemberut. Padahal jantungnya berdebar, entah apa yang akan terjadi lagi. Dengan langkah gontai melangkah ke ruangan Dewa.
"Ikut saya supervisi ke outlet," kata lelaki itu. Berdiri memperbaiki kemeja biru.
"Ada mbak Reina, Pak."
"Dia ijin, hari ini. Masih ada bantahan, lagi? Kalau tidak ada, buruan siap-siap."
Nisa mendengus kesal. Berbalik keluar. Diraihnya sling bag dalam laci meja.
"Mon, aku ke outlet. Sepertinya ada sedikit masalah."
"Ohh, hati-hati. Jaga hati, ingat kakang prabu Angga," guraunya.
"Ya Tuhan, bisa nggak perempuan satu ini di kandangin. Satu hari saja, please," kata Nisa. Mona hanya terkekeh.
__ADS_1
.
.
Dewa melajukan mobil Alphard hitam.
"El ulang tahun, kenapa nggak beritahu saya?"
Netra Nisa menatap langit-langit mobil. Mencari jawaban yang tepat.
"Apa kehadiranku sudah tak berarti lagi buatmu dan El? Apa Angga lebih berharga untuk Kalian?"
Deg!! Perempuan itu tergemam, dari mana Dewa tahu akan kehadiran Angga?
"Bapak, mengikuti kami?" selidik Nisa. Namun, kali ini Dewa memilih bungkam.
"Untuk apa, Bapak melakukan itu?"
[Berhasil, sebentar lagi kamu pasti marah,] pekik girang Dewa dalam hati.
"Ada apa? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Apa yang Bapak rencanakan? Jangan berpikir yang macam-macam!" cecar perempuan itu kesal. Namun, lelaki di belakang kemudi masih bergeming.
"Turunkan di sini saja! Aku tidak terima di perlakukan seperti ini, Diacuhkan! Jadi, biar aku yang turun di sini." Nisa menatap lurus ke depan.
"Saya terima dan suka."
Nisa terbalalak. Mengalihkan pandangan ke arah lelaki itu. Tatapannya begitu menghujam, seakan siap meruntuhkan tembok pertahanan Dewa.
"Tapi aku tidak terima! Tidak suka! Tidak mau!"
"Dan saya suka," kata Dewa dengan wajah penuh kemenangan. Nisa tidak sadar, telah masuk dalam permainannya.
"Kalau salah satu tidak mau, nggak bisa dipaksa!" Perempuan itu meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Nanti juga kamu mau," kata Dewa santai. Seperti menikmati menyetir di tengah-tengah padatnya kendaraan di jalan raya.
Nisa menggigit bibir. Matanya membulat. Lelaki itu betul-betul ingin melihatnya dalam kemarahan.
"Aku bilang Tidak ya TIDAK. Hubungan kita sudah berakhir dan Bapak tidak lagi istemewa bagiku!"
"Suatu saat saya akan kembali menjadi istimewa bagimu." Dewa melirik perempuan di samping. Nampak awan kekesalan tengah menaunginya.
"Kenapa sih Bapak menyebalkan banget! Selalu menganggu! Apa nggak bisa ganggu yang lain? Aku masih mau sendiri, masih mau bebas!"
Hati Dewa berdesir menatap wajah menggemaskan Nisa. Tak ada lagi raut dingin dan datar yang selalu perempuan itu tunjukkan.
"Oh masih mau sendiri, masih mau bebas, Alhamdulillah. Artinya Angga bukan pacar, apalagi tunangan."
Dahi perempuan itu berkerut. Wajahnya memerah.
"Bapak pikir saya wanita apaan? Segampang itu menautkan hati pada seorang pria! Tapi biar bagaimanapun Angga tidak bisa di bandingkan dengan Bapak!"
"Eh ... jangan salah. Meskipun duda nggak kalah kuat sama yang perjaka."
Kesabaran Nisa sudah habis, segera dia menarik tuas pintu, saat lampu merah. Namun,tetap tidak membuka. Rupanya Dewa sudah mengaktifkan central door lock.
"Bahaya, Sayang. Nanti bisa tilang lho."
Nisa mendelik, sementara Dewa hanya mengangkat kedua alisnya.
.
.
Bersambung
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja, untuk menyemangati author 😁😍🙏🙏