JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Dewa Bertemu El


__ADS_3

Pov Nisa


Saat makan siang bersama Mona di kamar, ponsel berdenting. Sebuah pesan dari Duda Mesum. Sebenarnya malas untuk membaca, tapi baru sadar, saat ini seharusnya dia ada di rumah bersama keluargaku.


Kubuka dengan tangan kiri. Sebuah video kebersamaannya dengan El.


"Videonya El, ya?" tanya Mona tanpa berhenti menyantap, ikan goreng bandeng berpadu lalapan dan sambal bawang.


"Kok tahu?"


"Iya lah, senyummu selalu sama kalau melihat foto atau video El." Meneguk air putih di gelas.


"Coba lihat," pintanya. Kuletakkan ponsel di depannya, lalu melanjutkan makan siangku.


"Eh ada pak Dewa, nggak salah lihat?" Dia mengulang video tersebut. Ingin memastikan lagi.


"Iya benar Nis, pak Dewa. Dia nyamperin di sana?" selidiknya.


"Hu'um, aku yang mengijinkan dia ke sana." Nasiku masih tersisa banyak.


"Alhamdulillah, bagaimana ya reaksi kedua orang tuamu?"


Aku hanya mengangkat bahu saja. Belum tahu apa yang terjadi.


Selesai makan, kami bersama-sama membersihkan dan mencuci peralatan yang masih kotor.


Kemudian Mona kembali ke kamar, sudah ngantuk katanya. Aku pun sama, mata mulai terasa berat. Walaupun sebenarnya ingin sekali menghubungi mama dan papa yang di sana, tapi urung kulakukan. Barangkali saja mereka tengah berbicara serius dengan Dewa.


.


.


Entah jam berapa aku terlelap. Namun, saat terbangun karena bunyi ponsel yang terus menerus, jam di dinding menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit, sore hari.


Sebuah panggilan video call dari mama. Segera kubenahi asal rambut yang pastinya sudah kusut karena baru bangun tidur. Kutekan tombol hijau. Dilayar muncul wajah yang seharusnya aku cium dan peluk hari ini.


"Ma ... ma," katanya sambil tersenyum lebar. Kusakan mataku mulai memanas. Mama rindu, nak!


"Mana salamnya, Nak?" aku bertanya.


Dia hanya menunjuk-nunjuk layar di depannya, dengan mulut yang mengerucut gemas.


"Obil, obil pa ...." El yang dalam pangkuan mama menunjukkan sebuah mainan baru yang aku pilihkan kemarin, saat menemani Dewa belanja.


"El suka mobilnya?" Tak menjawab, meronta minta diturunkan dari pangkuan. Kemudian berlari sambil membawa mainan itu.


"Ma, bagaimana di sana?" tanyaku, kini di layar sudah berganti wajah mama.


"Baik-baik saja, kok. Dewa orangnya memang agak pendiam ya?"


"Memang kenapa, Ma?"

__ADS_1


"Enggak, dia itu berbicara seperlunya. Langsung ke inti masalah. Saat ditanya juga menjawab seperlunya. Mama jadi bingung mau bicara apa lagi, nggak ada bahan, sudah habis hehehe."


"Memang begitu Ma, kalau baru ketemu. Tapi nanti kalau sudah akrab, Mama pasti sering candain nantinya."


"Iyakah? Kamu sendiri bagaimana?" selidik mama.


"Bagaimana apanya, Ma?"


"Apa dia suka bercanda dengan Kamu sekarang?"


"Bukan bercanda Ma, tepatnya mengganggu. Suka buat kesal, buat bad mood kalau di kantor," cerocosku pada mama.


"Ada lagi?"


"Ada sih, sebenarnya dia suka menawarkan makanan, tapi kutolak. Malas deh kalau berurusan dengan dia."


"Hemm."


"Kok, hemm sih, Ma?"


"Mama melihat ada sesuatu diantara kalian berdua."


"Ih, Mama lagaknya sudah mirip paranormal yang di televisi-televisi." Aku terkekeh melihat lagak surgaku itu.


"Bagaimana tanggapan papa, Ma?"


"Biasa aja, sih. Papamu sekarang tidak seemosional dulu. Dia lebih sabar dan tenang. Sekarang bahkan sering ikut kajian dan menjadi salah satu pengurus mesjid kita. Makanya saat kamu beritahu, Dewa mau ke rumah, mama santai saja. Ya karena itu tadi," terang mama.


"Kamu, mau memulai lagi dari awal dengan Dewa?"


Aishh ... mama bertanya begitu, bagaimana cara jawabnya.


"Belum tahu Ma, belum kepikiran banget. Ma, sudah dulu ya, belum ashar nih. Tadi baru bangun waktu Mama telepon."


"Iya, jangan suka begadang. Kurangi nonton Drakor-nya." Nasehat mama kali ini.


Ya ampun, mama kok tahu soal Drakor? Ampun DJ.


"Hehehe, iya mamaku sayang. Assalamu alaikum."


"Waalaikum salam."


Gegas aku mengambil wudhu, menunaikan kewajiban yang tertunda.


.


.


Pagi ini, Dewa lewat di depanku dengan wajah yang ceria. Apakah pertemuannya dengan El membuatnya sebahagia itu? Entahlah.


"Nis, pak Dewa ceria banget ya hari ini. Dia tadi sempat melihat ke arahmu," bisik Mona.

__ADS_1


"Oo, nggak merhatiin, Mon. Kerjaanku banyak banget hari ini," kataku pura-pura menyibukkan diri. Sebenarnya penasaran mau mendengar cerita langsung dari Dewa, tapi ... sudahlah.


"Nis, teleponmu rusak ya?" Tahu-tahu mbak Reina sekretaris, sudah berdiri di belakangku.


"Nggak tahu, Mbak. Sabtu sore masih normal kok. Kenapa ya, Mbak?"


"Tadi saya telepon nggak bisa-bisa. Nanti tolong dicek, biar bisa dibenarin kalau memang rusak. Sekarang ke ruangan pak Dewa dulu. Kamu dicari sama dia," ujarnya.


"Siap Mbak," sahutku berdiri, melangkah ke ruangan itu.


\=\=\=


"Makasih sudah mengijinkan saya, menemui El dan kedua orang tuamu. Mereka baik dan cukup mengerti masalah kita," jelasnya.


"Iya, sama-sama. Bagaimana dengan El? Apa dia mau berinteraksi dengan Bapak?" tanyaku.


"Tentunya, namanya juga anak kandung pasti punya ikatan, seperti ...."


Tok, tok!


Suara ketukan pintu menghentikan ucapan Dewa. Dahinya berlipat, merasa terganggu, mungkin.


"Masuk!" Sedikit menaikkan volume suaranya.


Pintu terbuka. Nampak seorang kurir, membawa buket bunga mawar merah yang besar.


"Maaf Pak, saya terburu-buru. Terjadi sesuatu hal. Makanya saya nekat masuk kesini karena mencari mbak Nisa," jelas kurir itu.


"Iya. Silahkan saja," jawab Dea


"Apa Anda yang bernama Nisa."


Aku hanya mengiiyakan saja.


"Mohon, tanda tangani ini." Jawabnya menyerahkan selembar tanda terima. Segera kuterima.


"Dan ini buket seratus bunga mawar untuk Anda."


Aku tak bisa berkata karena terkejut. Seratus tangkai mawar?


Sementara itu, wajah Dewa berubah menjadi merah. Apakah dia kesal? Ah ... biarkan saja.


.


.


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja. Untuk menyemangati author 😁😍🙏

__ADS_1


Terima Kasih


__ADS_2