
Aku bergegas merapikan meja kerjaku sebelum jam pulang usai. Tugasku sebagai editor penerbitan buku membuat meja kerjaku dipenuhi berkas-berkas novel atau buku yang akan diterbitkan. Ini adalah hari terakhirku bekerja, sebelum aku mengambil cuti selama satu minggu. Untungnya saja aku berhasil menyelesaikan setengah pekerjaanku. Sisanya aku serahkan saja pada parter sekaligus sahabatku, Uni. Dan sekali lagi, beruntungnya aku memiliki parter kerja yang sangat baik hati.
"Kapan kamu balik?" Tanya Uni yang menatapku saat merapikan meja kerja.
"Kalau acaranya udah selesai. Kamu janji kan bakalan dateng?" Ujarku.
"Iya, kalau suami aku bisa nganter. By the way, selamat ya. Aku enggak sabar liat kamu pake baju pengantin." Ujarnya sambil senyum-senyum.
Iya, lima hari lagi adalah hari pernikahanku. Aku sudah berpacaran dengan Rian selama lima tahun dan akhirnya kami pun memutuskan untuk menikah. Besok aku akan pulang ke kampung halamanku di Subang. Aku sudah memesan travel dan mempersiapkan keberangkatanku. Aku dan Uni bergegas keluar dari kantor seusai aku membereskan meja kerjaku. Kami membicarakan banyak hal tentang persoalan rumah tangga yang sudah dilalui oleh Uni. Dia dan suaminya, Arief, sudah menikah selama tujuh tahun. Meskipun terkadang mereka bertengkar didepanku, tak ada satu masalah pun yang bisa memisahkan mereka. Aku berharap aku seperti mereka berdua, mampu melewati semua permasalahan rumah tangga dan saling mencintai selamanya.
"Udah berapa persen persiapannya?" tanya Uni.
"Sekitar 70%. Undangan udah disebar semuanya. " jawabku.
"Syukur deh. Ati-ati di jalan, ya Kabarin kalo butuh bantuan, oke?" ujar Uni.
"Oke." jawabku.
Kami pun berpisah di depan gedung kantor. Kulihat Arief menantinya di luar mobil yang terparkir sembari membukakan pintu mobil untuk Uni. Arief melambaikan tangannya ke arahku saat matanya menangkap sosokku. Aku pun membalas lambaian tangannya lalu masuk ke dalam taksi yang sudah ada di depanku.
***
Ponselku tidak berhenti berdering saat aku sedang mengepak baju-bajuku. Aku lihat nama Rian dilayar ponselku. Aku meneleponnya balik. Tak butuh waktu lama, Rian langsung mengangkat panggilanku.
"Halo. Nay. " sapa Rian.
"Iya, kamu kenapa nelpon aku berkali-kali? Persiapan semuanya baik, kan?" tanyaku.
"Kapan kamu pulang?" tanya Rian tanpa menjawab pertanyaanku.
"Besok aku pulang, ini juga lagi beres-beres. Kenapa?"
"Oh, gitu."
"Cuma 'oh,gitu'? Kamu kenapa, sih? Kayaknya ada sesuatu yang pengen kamu bicarain sama aku."
"Nanti aja kalo kamu pulang."
Rian lalu menutup teleponnya tanpa menunggu jawabanku. Sudah beberapa hari ini Rian tampak aneh dan jarang menghubungiku.Sekarang pun dia sangat aneh. Tidak biasanya Rian menutup teleponnya tanpa mengucapkan kata-kata romantis, seperti aku sayang kamu, i love you, atau yang lainnya. Rian baru saja menutup teleponnya seperti tergesa-gesa. Aku pun menepuk pipiku agar tidak berprasangka buruk atau memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku pun bergegas tidur setelah semua perlengkapan sudah aku masukan ke dalam tas. Aku memasang alarm di ponselku agar tidak terlambat. Aku tidak bisa bangun pagi-pagi tanpa ada alarm. Aku mematikan lampu kamar dan memejamkan mataku agar besok aku tidak terlambat.
Pagi harinya setelah aku sudah siap untuk berangkat, ponselku berdering. Kulihat ayah melakukan panggilan. Aku hendak mengangkatnya tapi tiba-tiba ponselku mati. Semalam aku lupa mengisi baterai ponselku dan alhasil aku berangkat tanpa memberitahukan ayah dan ibu. Perjalanan menuju Subang membutuhkan waktu selama dua jam perjalanan karena kebetulan jalan tol tidak begitu padat dan macet. Begitu sampai di rumah, ayah dan ibu duduk di ruang tamu sedang membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Ayah, Ibu, Naya pulang!" ujarku disambut pelukan dan senyum bahagia.
Mereka menyambutku lalu menyuruhku untuk masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sudah lama rasanya aku tidak pulang dan tidur di kamarku sendiri. Aku hanya beberapa kali pulang setelah mendapatkan pekerjaan. Biasanya aku menghubungi ayah dan ibu melalui telepon dan mengirimkan uang yang aku sisihkan untuk mereka. Mereka memang tidak membutuhkan uangku tapi tidak ada salahnya aku memberikan sedikit penghasilanku pada mereka . Kamarku masih sama seperti pada saat aku tinggalkan. Cat dinding, buku-buku di atas meja, dan beberapa boneka sebagai teman tidurku. Aku sedang mengeluarkan pakaianku ketika suara pintu diketuk. Kulihat ibuku berdiri di sana sambil tersenyum. Ia pun masuk ke dalam kamar dan duduk di tempat tidurku. Ibu tidak mengatakan apa-apa selama aku mengeluarkan pakaianku. Tapi dari sorot matanya dan mimik wajahnya tersirat bahwa ada sesuatu yang mengganggunya dan ingin ia sampaikan padaku.
“Ibu, ada apa?” tanyaku.
“Enggak apa-apa. “ jawabnya singkat sambil tersenyum.
Aku mendekati dan duduk di sampingnya. Kupegang kedua tangannya yang sudah mulai keriput. Wajahnya yang menua tak bisa menghilangkan kecantikannya yang dulu.
“Kalau ada masalah Ibu cerita ke Naya. Ada apa?” tanyaku.
“Begini , Nay. Pernikahan kamu dan Rian sebentar lagi. Tapi, Rian enggak pernah muncul ke sini.” Ujar Ibu.
“Mungkin Rian sibuk, Bu.” Jawabku.
“Iya, Ibu harap juga begitu. Tapi ada satu hal lagi yang pengen Ibu bilang ke kamu. Adikmu, Toni. Dia bilang dia liat Rian sama perempuan lain beberapa hari yang lalu. Ibu khawatir kalo Rian sampe nyakitin perasaan kamu, Nay.” Ujar Ibu lagi.
“Enggak akan, Bu. Setau Naya, Rian enggak begitu. “ ujarku, meski dalam hati akupun ragu.
“Yah...Ibu harap juga begitu. Ya sudah, kamu istirahat aja.” Ujar Ibu, ia lalu keluar dari kamarku.
Pagi harinya aku terbangun saat seseorang mengetuk pintu kamarku berkali-kali. Kudengar suara Ibu memanggil-manggil, membangunkanku. Aku pun bergegas bangun dan beranjak dari tempat tidur. Kulihat di layar ponselku, tak ada satu pesan pun dari Rian seperti harapanku. Aku mengabaikannya meski rasanya ada sesuatu yang aneh pada Rian akhir-akhir ini. Aku tahu dua hari lagi kami akan bertemu di pelaminan tapi entah kenapa aku merasa gelisah. Seusai mandi, aku tak menyantap sarapan pagiku dan bergegas keluar rumah.
“Mau ke mana pagi-pagi? Enggak sarapan pula.” Ujar Ibu.
“Aku mau ke rumahnya Rian dulu, Bu.” Ujarku.
“Eh, jangan. Pamali. Dua hari lagi kalian juga ketemu di pelaminan, ngapain ketemuan. Enggak boleh!” ujarnya lagi
Aku tidak mempedulikam ucapannya dan bergegas keluar rumah. Rumahku dan Rian tak begitu jauh hingga aku hanya butuh waktu lima belas menit dengan jalan kaki. Kampungku masih sama seperti saat aku tinggalkan hanya saja jalanannya sudah mulai di aspal. Sebelumnya jalanan ini berbatu dan rusak parah sehingga sangat sulit dilalui untuk kendaraan bermotor. Selama perjalanan ke rumah Rian beberapa warga yang masih mengingatku kini menyapaku. Beberapa kali aku berhenti untuk menyapa dan mengobrol sebentar dengan mereka. Aku sangat merindukan momen-momen seperti ini. Ketika aku kembali ke kota, momen ini tidak bisa kurasakan seperti di kampungku saat ini. Kulihat rumah Rian mulai tampak. Aku pun memasuki halaman rumahnya dan disambut oleh ibu Tini, ibunya Rian.
“Ya Allah, tambah gareulis (cantik) calon mantu ibu.” Ujarnya sambil memelukku.
“Alhamdulillah, sehat, Bu. Ibu gimana kabarnya?” tanyaku.
“Alhamdulillah, sehat, jag-jag lah ibu mah. Ngomong-ngomong, kenapa neng ke sini? Pamali atuh neng.” Ujarnya sambil mempersilahkan aku duduk di kursi teras.
“Aku mau ketemu Rian sebentar, Bu. Ngobrolin soal persiapan nikah. Rian berkali-kali dihubungin tapi enggak dijawab-jawab.” Jelasku.
__ADS_1
“Oh, kitu (gitu). Rian ada di balai desa, katanya ada perlu. Disusul aja atuh, neng.” Ujarnya
Balai desa jaraknya tak jauh dari rumah Rian sehingga aku pun pamit dan bergegas ke sana. Sebenarnya ini pantangan bagi yang akan segera menikah untuk bertemu tapi aku harus melihat sendiri keadaan Rian agar kegelisahaanku sedikit berkurang. Balai desa dan rumah Rian hanya terpisahkan oleh pematang sawah. Ketika aku berjalan, tanpa sengaja aku melihat ada dua orang yang sedang bertengkar di sebuah gubuk yang sering digunakan para petani untuk beristirahat. Aku memicingkan mataku, sepertinya aku mengenal sosok yang ada di sana. Tanpa pikir panjang, aku pun bergegas mendekati gubuk itu. Jarakku kini tak jauh dari gubuk itu sehingga aku dapat mendengar jelas apa yang dua orang itu bicarakan. Dua orang itu rupanya adalah orang yang aku kenal. Itu Rian dan Erni, teman SMA-ku. Mereka bertengkar hebat sambil diiringi suara isak tangis Erni. Aku marah mendengar ucapan pembicaraan mereka. Aku meredakan emosiku terlebih dahulu lalu keluar dari persembunyianku dan menghampiri mereka. Erni dan Rian tampak terkejut dengan kedatanganku, terutama Rian.
“Aku denger semuanya.” Ujarku singkat.
“Nay, aku bisa jelasin semuanya.” Ujar Rian.
“Enggak perlu. Malam ini datang ke rumahku. Kalian berdua.” Ujarku lalu berbalik meninggalkan mereka berdua.
Kudengar suara Rian yang memanggil-manggil namaku. Hatiku terasa sesak dan sesuatu mencekat tenggorokanku. Tanpa terasa air mataku mengalir. Kuusap air mataku dengan cepat dan berjalan menghampiri kediaman Rian. Ibu Tini masih duduk di kursi teras sambil mengibas-ibaskan kipas kayu di tangannya. Aku mengusap air mataku dan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa. Aku menghampirinya sambil tersenyum padanya. Ia pun membalas senyumanku dan menghampiriku.
“Udah ketemu Rian?” tanyanya.
“Udah, Bu. Nanti malam Ibu sama Bapak bisa ke rumah enggak? Ada yang pengen aku obrolin soalnya. Penting.” Ujarku.
Ibu Tini mengangguk cepat sambil tersenyum. Aku pun langsung pamit dan kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku meminta adikku, Toni, untuk mengerjakan sesuatu. Toni mengangguk, mengerti akan perintahku. Ia pun bergegas pergi sesuai perintahku lalu aku pun masuk ke dalam rumah. Aku menghampiri kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Kutenggak air itu langsung dari botolnya. Berulang kali aku meminum air itu hingga rasa mencekat di tenggorokanku menghilang. Ibu menegurku dan mengatakan aku tidak sopan karena meminum langsung dari botol. Aku tidak begitu mempedulikan omelan ibuku dan menghindari kontak mata dengannya. Ibuku pasti tahu aku habis menangis dan aku tidak ingin menjelaskan itu sekarang. Aku menghindarinya dan masuk ke dalam kamarku. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku pun menangis sambil menutup mulutku agar ibu tidak mendengar tangisanku. Dadaku terasa sakit. Perasaanku berkecamuk dan hilang kendali. Marah, kesal, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Beberapa menit kemudian aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Kak, ini Tony. Biarin Tony masuk.” Ujarnya.
Aku menghapus air mataku lalu membukakan pintu untuknya. Tony masuk dan menutup pintu kamarku. Ia melihat mataku yang sembab. Tanpa berkata-kata, Tony memelukku. Aku pun kembali menangis dipelukannya. Aku tidak tahu apakah Tony sudah mengetahui permasalahan yang aku hadapi sekarang atau tidak. Tapi yang paling penting, dia memelukku dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tony menguatkanku dan mengatakan semua informasi yang ingin aku dengar. Aku mendengarkan dengan seksama. Rasa sedihku saat ini berubah menjadi rasa marah.
“Ton, bilang sama Ibu dan Ayah untuk nanti malam. Mereka bakal kedatangan tamu. “ ujarku.
Tony mengangguk dan keluar dari kamarku setelah menepuk pundakku sambil tersenyum. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan bersiap segala hal yang akan terjadi pada malam ini.
Waktu berganti malam. Ibu menghidangkan beberapa minuman dan camilan di atas meja ruang tamu. Kulihat Ibu Tini dan suaminya sudah datang, begitu pun dengan Rian. Rian menunduk dan mengalihkan pandangannya dariku. Aku mempersilahkan mereka masuk.
“Neng, ada apa Ibu sama Bapak diundang kemari?” Tanya ibu Tini.
“Iya, ibu juga bingung. Ada apa, sih?” tanya ibuku.
“Nanti aku jelasin. Aku lagi nunggu satu tamu lagi.” Ujarku.
Tak berselang lama, mereka pun datang. Mereka adalah orang tua Erni. Erni pun datang bersama mereka. Aku meminta Tony untuk memastikan Erni datang malam ini dan semuanya berjalan sesuai rencana. Aku mempersilahkan kedua orang tua Erni untuk duduk. Orang tuaku dan orang tua Rian saling melempar pandangan karena situasi yang membingungkan ini. Setelah semua berkumpul, aku berdiri di depan mereka. Tony mendampingiku lalu menepuk pundakku seakan memberikan kekuatan padaku.
“Baiklah. Selamat malam semuanya.” Sapaku.
Tak ada yang menyahut. Semuanya terdiam dan terheran-heran.
__ADS_1
“Kalian pasti bingung kenapa aku kumpulkan kalian di sini, terutama untuk orang tua Erni. Aku ingin memberikan pengumuman penting pada kalian semua. Bahwasanya pernikahan aku dan Rian, DIBATALAKAN!”