KANAYA

KANAYA
Episode 3


__ADS_3

Aku menoleh ke arah jam tanganku sambil menyeruput jus apel yang aku pesan sedari tadi. Berkali-kali aku menoleh tapi tak kunjung melihat sosok Uni dan Arief. Uni segera meneleponku saat aku sampai di Jakarta dan menanyakan keadaanku. Lalu hari ini ia memintaku untuk menemuinya di kafe. Kebiasaan terlambatnya memang tak pernah hilang tapi aku tetap sabar menantinya meski aku sudah menghabiskan dua gelas minuman. Tak lama terdengar suara Uni menyapa. Dia dan Arif menghampiriku yang menatapnya jengkel.


 


 


“Lama banget, sih?” ujarku jengkel.


 


 


“Maaf, macet di jalan.” Ujar Arief beralasan.


 


 


Mereka duduk di kursi yang terletak di seberangku lalu memesan dua minuman untuk mereka. Aku masih sibuk mengaduk-aduk es batu yang ada di dalam gelasku yang mulai habis. Meskipun aku tidak melihatnya, aku tahu Uni menatapku dengan tatapan sendu.


 


 


“Jangan gitu, aku enggak apa-apa, kok.” Ujarku.


 


 


Uni menggenggam kedua tanganku tiba-tiba lalu kulihat air matanya mengalir. Beberapa kali dia mengusap air matanya dengan tisu yang diberikan Arief. Arief pun memintaku untuk bercerita tentang kejadian yang aku alami. Aku pun menceritakan semuanya. Mereka mendengarkanku dengan seksama tanpa berkata apa-apa hingga aku menyelesaikan ceritaku.


 


 


“Ya ampun, Nay. Yang sabar, ya, Honey.” Ujar Uni.


 


 


“Kamu enggak perlu sedih, Nay. Mestinya kamu bersyukur, Tuhan kasih tahu kamu bahwa laki-laki itu enggak baik buat kamu sebelum terlambat. Aku yakin, Tuhan akan kasih kamu jodoh yang terbaik nanti.” Ujar Arief meyakinkanku.


 


 


Uni pun mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. Aku hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun. Aku pun setuju dengan ucapan Arief.


 


 


“Terus, rencana kamu apa sekarang, Nay?” tanya Uni.


 


 


“Mungkin besok aku balik kerja. Aku udah telepon pak Dody.”


 


 


“Apa enggak sebaiknya kamu istirahat aja dulu. Tenangin diri dulu gitu.”


 


 


“Dalam situasi begini, sebaiknya aku menyibukkan diri daripada berdiam diri di rumah. Hmm...aku kangen kerjaanku.”


 


 


“Terserah kamu deh.”


 


 


Uni menceritakan bagaimana hebohnya teman-teman sekantor tentang pembatalan pernikahanku. Ia memberi saran agar aku sebaiknya bersiap-siap tentang sikap atau pertanyaan-pertanyaan dari rekan-rekan kantor nanti. Kantor kami tidak terlalu besar dan hanya memiliki 30 karyawan termasuk aku. Jadi, aku rasa akan terjadi kehebohan di kantor dan berbagai macam reaksi dari mereka.


 


 


“Oh, iya ,Nay. Aku dapat kabar katanya Julian balik ke Indonesia.” Ujar Arief.


 


 


“Masa? Kapan?” tanyaku terkejut.


 


 


“Aku kurang tahu kapan, yang aku dengar enggak lama lagi. Kamu masih punya kontaknya?” tanya Arief.


 


 


“Enggak, dia udah ganti nomornya tepat saat dia pergi tanpa kabar.” Ujarku marah.


 


 

__ADS_1


“Siapa Julian?” tanya Uni.


 


 


“Dia temen kuliah aku dan Naya. Aku denger dia tinggal di Amerika sekarang. Iya ‘kan, Nay?” tanya Arief.


 


 


“Enggak tahu! Aku kesel sama dia.” Ujarku.


 


 


Hari mulai senja dan aku memutuskan untuk pulang. Aku harus menyiapkan baju dan perlengkapan kerjaku. Pagi harinya aku terbangun karena bunyi alarm ponselku dan bergegas untuk mandi. Aku mengecek rumah dan kupastikan semuanya terkunci. Lalu aku beranjak dari rumah dengan menggunakan taksi menuju kantor. Jarak kantor dengan rumahku tak begitu jauh dan hanya memakan waktu 20 menit. Kadang aku menggunakan sepeda menuju kantor tapi hari ini aku tidak ingin bersepeda. Setibanya di kantor, aku melihat beberapa teman-teman sekantor sudah datang. Ketika aku masuk, beberapa dari mereka menatapku. Aku muak dengan tatapan ini, tatapan mengasihaniku. Aku tahu masalah yang aku hadapi itu sulit, menyedihkan, dan menyakitkan tapi aku tidak terlalu suka dikasihani hanya karena masalah ini. Aku berjalan menghampiri kursi kerjaku dan duduk di atasnya. Kulihat tas Uni sudah ada di atas meja tapi aku tidak melihatnya. Aku menghilangkan rasa ketidaknyamananku dengan memainkan ponsel hingga waktu kerja dimulai. Tiba-tiba seseorang mengejutkan dengan cara menepuk bahuku. Kulihat Uni yang tertawa karena berhasil mengejutkanku.


 


 


“Aku kira kamu enggak serius mau masuk kerja.” Ujarnya.


 


 


“Kenapa juga aku harus diem di rumah.” Ujarku.


 


 


Kulihat Pak Dody sudah datang di kantor dan meminta semua karyawan untuk bersiap bekerja. Pak Dody langsung berjalan menghampiri ruangannya. Aku baru saja akan memulai pekerjaanku ketika telepon di mejaku berdering. Kudengar suara Pak Dody yang memintaku untuk masuk ke ruangannya dan menemuinya. Aku menutup telepon setelah ia menutupnya lalu aku bergegas menuju ruangannya. Kuketuk pintu dengan pelan. Lalu kudengar suara Pak Dody menyahut dari dalam dan mempersilahkan aku masuk. Matanya sibuk menatap layar laptopnya tapi ia menjulurkan tangannya sebagai tanda mempersilahkanku untuk duduk. Aku pun duduk terdiam hingga ia memulai pembicaraan. Pak Dody meminggirkan laptopnya dan menatapku dengan kedua tangan menopang dagunya.


 


 


“Nay, bukannya kamu masih ada sisa cuti, ya? Kenapa kamu masuk kerja?” ujarnya dengan logat jawanya yang kental.


 


 


“Biarlah, Pak. Saya pikir lebih baik saya kerja dari pada di rumah sendirian.” Jawabku.


 


 


“Memangnya kamu sudah siap mulai bekerja lagi setelah...”


 


 


 


 


“Aih... Wong wadon kuh aja galak-galak (Perempuan itu jangan galak-galak).” Ujarnya lagi.


 


 


Aku dan pak Dody memang cukup dekat, tentu saja sebagai atasan dan bawahan. Ia selalu mengandalkan aku dengan berbagai tugas. Lebih tepatnya merepotkanku. Aku tidak pernah berbicara formal padanya kecuali di depan karyawan lain. Aku bahkan dekat dengan istri dan anaknya, Alika. Pak Dody bukan hanya atasanku. Ia sudah kuanggap seperti pamanku sendiri. Aku tidak yakin ia menganggapku seperti keluarga, yang jelas aku adalah karyawan yang paling lancang baginya.


 


 


“Nay, sudah yakin siap kerja lagi?” tanyanya lagi.


 


 


“Sudah, Pak.” Jawabku singkat.


 


 


“Ya sudah kalau begitu, kamu balik lagi sana ke meja kerjamu.” Perintahnya.


 


 


Aku pun bangkit dari kursi dan keluar dari ruangannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku bahkan tidak berbalik menoleh padanya karena aku tahu saat ini dia menatapku dengan iba. Aku benci hal ini. Kuharap semuanya cepat berlalu dan tak ada lagi orang yang mengingat masalah ini, kecuali aku.


 


 


 


 


Sebulan sudah sejak peristiwa menyedihkan dalam hidupku berlalu. Aku pun sudah melupakan rasa sedih dan penyesalan meski rasa benci pada Rian tidak bisa kuhilangkan. Setidaknya aku berusaha untuk kembali ke diriku yang dulu. Pekerjaanku pun berjalan lancar seperti biasanya. Aku pikir semuanya akan berjalan mulus dan indah seperti yang aku bayangkan sampai akhirnya ibu menghubungiku. Aku sedang bekerja ketika ibu mengirimiku pesan singkat. Ia ingin akhir pekan ini aku pulang ke kampung halaman untuk membicarakan hal penting. Aku tidak tahu apa maksudnya jadi aku pun menghubunginya. Aku pamit pada Uni untuk meninggalkan meja kerjaku lalu aku berjalan ke bagian belakang kantor yang digunakan sebagai dapur. Aku menelepon ibu dan tak lama suaranya menyahut dari seberang telepon. Kurasa ia memang sudah menungguku untuk menghubunginya via telepon.


 


 


“Bu, ada apa? Kenapa Naya harus balik ke kampung?” tanyaku.


 

__ADS_1


 


“Neng, ibu mau bicara sama kamu. Pokoknya mah kamu harus pulang ya, Neng.” Ujarnya.


 


 


Lalu ibuku memutuskan telepon tanpa memberi kesempatan padaku untuk bertanya. Aku tahu sifat ibuku seperti apa. Ketika ia melakukan hal itu, artinya dia tidak ingin berdebat dan aku harus menuruti kemauannya. Aku dan Ibu memiliki sifat yang sama, yaitu keras kepala. Tapi herannya, aku selalu berseberangan dengannya dalam hal apa pun. Aku tidak punya pilihan selain mematuhinya. Aku pun menghubungi kantor travel yang sering aku gunakan dan memesan kursi untuk perjalananku akhir pekan nanti. Setelah menghubungi pihak travel, aku kembali ke meja kerjaku. Aku duduk sambil menghela nafas panjang. Uni, dengan sifat kepo-nya yang super duper tinggi, langsung merapatkan kursinya ke dekatku.


 


 


“Kenapa? Ada masalah apa?” tanyanya sambil berbisik.


 


 


“Enggak ada apa-apa, Un. Ibu tadi telepon minta aku pulang akhir pekan ini. Udah, gitu aja.” Jelasku.


 


 


“Tumben. Biasanya juga ibu kamu enggak pernah suruh kamu pulang. Kayaknya kami enggak pulang bertahun-tahun juga ibu kamu cuek aja. Apa kamu pikir itu enggak aneh, ya?” ujar Uni.


 


 


Uni kembali ke meja kerjanya lagi setelah mengatakan hal yang membuatku berpikir keras. Apa yang dikatakannya ada benarnya. Aku pernah tidak pulang ke rumah selama dua tahun penuh dan ibu tidak pernah menyuruhku pulang atau mengatakan rindu selayaknya ibu-ibu yang lain karena aku tahu sifat ibuku seperti itu. Tapi kali ini ibuku memintaku untuk segera pulang tanpa memberitahuku apa alasannya. Aku jadi berpikir apakah sesuatu hal terjadi di kampung. Aku segera mengetahui jawaban kegelisahanku pada saat sampai di sana. Aku menaiki ojeg menuju rumah dan melihat ibuku berdiri di teras. Sepertinya ia sudah menantiku setelah aku mengabarinya akan segera sampai beberapa menit yang lalu. Ia melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum sumringah. Ojeg berhenti tepat di depan gerbang rumah.  Ibu setengah berlari menghampiriku pada saat aku membayar ojeg.


 


 


“Ibu kenapa, sih? Sumringah bener keliatannya.” Ujarku curiga.


 


 


“Emang kenapa kalau ibu seneng liat anak sendiri pulang? Lagi pula ada yang mau ibu obrolin sama kamu. Ayo masuk.” Ajaknya.


 


 


Ibu menggandeng tangan kananku, masih dengan senyumannya yang sumringah. Kami duduk di ruang tamu. Aku bahkan belum minum atau rehat sebentar tapi ibu bersikeras untuk menyampaikan sesuatu padaku.


 


 


“Nay, paman dan bibi kamu mau ketemu. Nanti malam kita ke rumahnya, ya.” Ujarnya.


 


 


Aku hanya mengangguk tanpa mengerti apa maksudnya. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti saja apa yang diinginkan oleh ibuku. Malam harinya aku dan ibuku mendatangi rumah paman dan bibi yang jaraknya tak jauh dari rumahku. Ayah dan Tony berada di rumah dan sepertinya mereka pun tidak tahu apa yang direncanakan ibuku. Setibanya kulihat rumah paman dan bibi agak ramai. Kurasa mereka sedang kedatangan tamu. Aku bilang pada ibu untuk mengunjunginya besok pagi tapi ibu bersikeras dan menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah. Tamu yang berada di dalam rumah menatapku saat aku memasuki rumah dan bersalaman dengan paman dan bibi. Bibi langsung menarikku untuk duduk di sampingnya sementara ibuku duduk di samping paman.


 


 


“Ini namanya Naya, usianya 29 tahun. Sudah bekerja di Jakarta dan belum menikah.” Ujar bibi pada seorang wanita paruh baya yang duduk di depannya.


 


 


Aku menyalaminya dengan mencium tangannya. Kulihat laki-laki yang duduk  di sebelah wanita itu tersenyum menatapku. Akhirnya aku paham apa maksud ini semua. Kurasa ibu, paman, dan bibiku hendak memperkenalkan aku pada laki-laki ini. Mereka berbincang-bincang soalku seakan mereka tahu semuanya tentangku, sedangkan aku sendiri hanya duduk terdiam. Aku agak membenci ide ini tapi aku terpaksa melakukannya. Lagi pula tidak ada salahnya aku berkenalan dengan seorang lelaki meski dengan cara ini. Lelaki itu bernama Ardi . Usianya sama sepertiku dan saat ini ia bekerja sebagai guru SD dengan status pegawai negeri. Bagi sebagian orang di kampung ini, lelaki yang memiliki status pegawai negeri adalah lelaki yang mapan dan sempurna untuk calon anak mereka. Begitu pula dengan pemikiran ibuku. Beberapa kali kulihat Ardi melirikku sambil tersenyum. Kurasa ia menyukaiku tapi entah kenapa aku tidak menyukainya. Malam pun semakin larut. Mereka pamit pulang dan beranjak pergi meninggalkan rumah paman dan bibi. Sebelum pergi, Ardi meminta nomor ponselku untuk menghubungiku lagi. Aku memberikannya dan kulihat rona bahagia di wajah ibu dan bibi.


 


 


“Nay, kumaha? Kasep teu? ( Gimana? Ganteng enggak?).” Ujar bibi.


 


 


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Ibu dan bibiku tampak bahagia. Aku tahu mereka sangat menginginkanku untuk segera menikah karena usiaku yang terbilang tak lagi muda. Bagi sebagian orang di kampungku, usiaku ini sudah terlalu tua dan harus segera menikah. Wajar saja jika banyak dari teman-teman sekolahku rata-rata sudah menikah dan memiliki anak bahkan lebih dari dua. Itulah sebabnya ibu dan bibiku berencana mencarikan jodoh untukku, seperti Ardi.  Aku dan ibu pamit pulang. Selama perjalanan pulang ibu terus saja memuji-muji Ardi seakan ia mengenalnya sudah lama. Aku hanya mendengarkan dan mengangguk.


 


 


“Nay, ibu harap kamu bisa berjodoh dengan Ardi. Jangan pacaran lama-lama, perkenalan terus langsung nikah. Percuma pacaran lama tapi enggak dikawin juga, kayak kamu sama Rian.”


 


 


“Ibu, jangan bahas soal Rian lagi. Males dengernya.”


 


 


“Iya, ibu minta maaf. Pokoknya ibu selalu doain yang terbaik buat anak ibu.”


 


 


Aku merebahkan diriku setibanya di rumah. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini, apakah senang, bahagia, atau malah ketidaksukaanku dengan cara mereka. Aku berpikir sebaiknya aku menuruti keinginan ibu selama mereka tidak memaksakan kehendaknya. Ponselku berdering. Kulihat sebuah pesan singkat di layar. Ketika aku membukanya, kulihat pesan itu dari Ardi. Ia ingin aku menemuinya besok pagi. Aku menerima ajakannya lalu aku kembali merebahkan diriku. Aku berharap keputusanku tidak membuatku menyesal. Rasanya tubuh dan jiwaku terasa lelah dan tanpa sadar aku sudah tertidur pulas.


 

__ADS_1


 


__ADS_2