KANAYA

KANAYA
21. Bertemu oma.


__ADS_3

Kanaya baru saja tiba di kediaman keluarga besar mackenzie, rumah yang menjadi saksi bisu atas perlakuan oma dan tante nya yang lain kepada kanaya semasa kecil.


Baru saja dia melangkahkan kaki nya suasana hampa sudah menyelimuti ruangan itu, suasana begitu sepi dan sunyi hanya ada beberapa pekerja yang terlihat sedang membersihkan ruangan.


“Ada apa kanaya?” tanya om denilson.


“Tidak, apa suasana rumah ini selalu sepi seperti ini om?”


“Entahlah, setelah kamu di titipkan ke panti om sudah tidak tinggal di rumah ini lagi, ke sini pun hanya sekedar menjenguk ibu setelah itu om langsung pulang.”


“Berarti oma hanya tinggal sendiri di sini? Lalu di mana tante zeline?”


“Dia sudah pergi dari sini bersama suami nya setelah mendapatkan warisan milik ayah mu, padahal kakek mu memberikan masing-masing hak nya tapi entah kenapa dia menjadi semakin serakah, sedangkan oma tinggal di sini bersama suster dan beberapa asisten rumah tangga.”


“Apa mungkin tante zeline membenciku hanya karena warisan?"


“Entah lah om juga tidak paham, sudah tidak perlu kamu pikirkan lagi pula warisan yang di tinggalkan ayah mu lebih besar dari pada warisan yang di bawa oleh zeline.”


“Iya om kanaya tidak perduli masalah warisan, hanya saja kanaya tidak menyangka tante zeline seperti itu hanya karena warisan,” sahut kanaya tersenyum.


"Jika berurusan dengan harta semua irang dapat bertindak seperti zeline," ucap om denilson.


...°°°°°°°


...


Om denilson mengantar kanaya ke ruangan di mana oma nya berada, “Masuklah! Om akan menunggu di ruang tamu jika ada sesuatu panggil saja om,” pamit nya.


“Iya om.”


Kanaya perlahan membuka pintu kamar itu, “Permisi,” gumam nya pelan.


Suasana kamar itu sama dengan ruangan yang ada di bawah, kanaya menutup kembali pintu itu dia menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di atas kursi roda nya sambil menikmati biru nya langit dari jendela kamar, Raut wajah nya pun terlihat sangat sendu tidak seperti dulu.


Semakin dekat jarak diantara mereka suara debaran jantung nya pun semakin kencang, gugup dan takut menjadi satu tetapi dia harus menepati janji nya.


“Bukan kah sudah aku katakan aku tidak lapar dan tidak ingin makan, apa kamu tidak mengerti juga?” tutur wanita paruh baya itu tanpa membalikan pandangan nya.


“O-oma,” sapa kanaya terbata.


Mendengar suara yang sangat asing itu oma langsung memutar kursi roda nya, “Kamu pasti perawat baru yang di kirim denilson dan jia li, sudah sering aku katakan aku tidak perlu perawat apa mereka berdua tidak paham juga? Padahal aku hanya ingin anak dan cucu ku berkumpul di sini menemani aku melewati hari tua yang menyedihkan ini.”


Kesedihan terpancar dari raut wajah oma, “Andai thomas masih ada, pasti dia yang akan merawat ku tidak seperti si denilson itu yang terus saja mengirim perawat untuk menjaga ku, memang anak yang tidak berbakti!”


“O-oma,” lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulut kanaya.


“Kenapa kamu hanya bilang oma-oma saja dari tadi? Siapa nama mu?” tanya oma seraya memakai kaca mata nya agar dia dapat melihat dengan jelas gadis yang berada di hadapan nya itu.

__ADS_1


“Kenapa kamu malah menangis bukan nya menjawab pertanyaan ku? Apa aku sangat menakutkan?” tanya oma lagi.


Kanaya menggeleng lalu dia mendekati oma dan bersimpuh di hadapan oma agar tinggi mereka sejajar, “Oma.”


“Apa aku pernah melihat mu sebelum nya? Kenapa wajah mu terlihat tidak asing?” tanya oma.


“Dia anak kak thomas dan kak elisia bu, kanaya cucu yang selama ini ibu cari,” ucap om denilson yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Oma terdiam tetapi air mata nya menetes membasahi pipi nya, “Cu-cucu ku.”


Oma langsung memeluk dan menciumi wajah kanaya bahkan oma juga sampai terjatuh dari kursi roda, “Maafkan kesalahan oma kanaya, oma sudah berdosa kepadamu maafkan oma.”


Kanaya mengangguk dan tersenyum walaupun air mata nya terus membasahi wajah cantik nya itu, “Maafkan oma kanaya,” oma terus saja meminta maaf hingga tiba-tiba oma tidak sadarkan diri.


Om denilson langsung menghampiri mereka berdua dia menggendong oma dan merebahkan nya di tempat tidur lalu dia bergegas menghubungi dokter pribadi mereka.


Tidak lama dokter itu pun datang dan langsung memeriksa kondisi oma, “Apa oma akan baik-baik saja om?”


“Kita berdoa saja semoga oma baik-baik saja,” om denilson menenangkan kanaya walaupun dia sendiri begitu khawatir.


Dokter itu menghampiri om denilson dan juga kanaya, “Bagaimana keadaan ibu dok?” tanya om denilson.


“Nyonya baik-baik saja tuan, beliau hanya terlalu sedih dan syok saja, kalau begitu saya permisi.”


“Syukurlah, terima kasih banyak dok.”


“Kanaya,” panggil oma dengan pelan.


“Ya oma, apa oma butuh sesuatu?”


“Tidak, oma hanya ingin kamu di sini jangan pergi lagi tinggalkan oma,” pinta nya.


“Baiklah, kanaya akan di sini menemani oma.”


“Kanaya, maafkan oma.”


“Oma tidak perlu minta maaf lagi, kanaya sudah memaafkan oma lagi pula itu sudah berlalu yang penting sekarang oma harus sehat.”


“Iya sayang.”


Om denilson menangis haru, setelah sekian lama akhirnya apa yang diinginkan nya terjadi juga, kini oma sudah menerima kanaya dan kanaya juga sudah memaafkan mereka.


...°°°°°


...


Malam harinya kanaya baru saja sampai di rumah, sebelum masuk ke kamar kanaya memilih duduk di ruang tamu terlebih dahulu.

__ADS_1


“Kamu sudah pulang, dari mana kamu?” tanya nesya namun kanaya tidak berkata sepatah kata pun.


Apa terjadi sesuatu di luar? Kenapa pulang-pulang nih anak Cuma diam melamun saja, apa jangan-jangan dia kesambet ya?


“Kanaya,” panggil nesya dengan menggoncang tubuh nya.


“Ada apa sih kak? Kanaya ke kamar dulu ya mau istirahat kepala aku pusing,” kanaya bergegas masuk ke dalam kamar meninggalkan nesya yang masih heran dengan sikap kanaya.


Beneran kesambet nih anak.


Tidak lama ada notifikasi di ponselnya, setelah membaca isi pesan itu dengan cepat nesya menuju pintu gerbang dan membukakan pintunya, terlihat seorang pemuda yang tidak lain adalah joe datang membawa sebuket bunga dan juga beberapa hadiah lain nya.


“Untuk kamu,” ucap laki-laki itu.


“Terima kasih, tumben sekali kamu ke sini tanpa kasih tau aku dulu? Apa ada sesuatu yang penting?” tanya nesya.


“Apa aku tidak boleh masuk dulu?”


“Ya ampun aku lupa, silakan masuk!”


“Tidak perlu, aku kesini hanya sebentar saja.”


“Kamu tuh aneh ya?”


“Mungkin, oh ya setelah aku perhatikan semakin hari kamu semakin cantik saja,” rayu nya.


“Apa sih?” nesya menjadi salah tingkah.


“Aku jadi tidak ingin jauh-jauh dari mu,” goda nya lagi sambil mendekatkan wajah nya.


“Kamu jadi pandai merayu ya, bagaimana jika pacar mu tau kalau kamu menggodaku dari tadi?” nesya menjauhkan wajah joe.


“Pacar ku? Aku tuh lagi sendiri sekarang maka dari itu apa kamu mau menjadi pacarku?” joe mengutarakan perasaan nya secara tiba-tiba.


“Jangan bercanda deh.”


“Siapa yang bercanda sih, aku tuh kalau masalah perasaan tidak pernah bercanda tau.”


Nesya hanya diam tidak menjawab, “Apa kamu tidak memiliki perasaan yang sama dengan ku?” tanya joe lagi.


“Bagaimana aku bisa percaya jika kamu memiliki perasaan dengan ku, sedangkan kita bertemu saja baru beberapa kali dan selebihnya hanya mengobrol lewat chat saja setiap hari.”


Joe tersenyum sambil menatap mata gadis di depan nya itu, “Lihat aku dan dengarkan baik-baik! Aku mencintaimu nesya, aku sangat-sangat mencintaimu,” nesya terdiam.


“Tidak apa-apa kamu bisa menjawab nya lain kali, kalau begitu aku pamit ya masih ada sesuatu yang harus aku kerjakan,” joe bergegas masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan nesya yang masih mematung di depan gerbang.


“A-apa maksudnya ini, kenapa tiba-tiba dia berbicara seperti itu?” gumam nesya.

__ADS_1


__ADS_2