KANAYA

KANAYA
52. Warisan.


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana oma akan di makam kan, tetapi sampai saat ini pun Tante zeline tidak datang bahkan untuk sekedar menghubungi om denilson saja tidak.


Kanaya menabur bunga di atas pusara oma, dia masih tidak menyangka kalau oma akan meninggalkan nya secepat ini tapi ini lah kenyataan nya.


Setibanya di rumah kanaya masuk ke dalam kamar oma, kanaya melihat pigura besar yang ada di kamar itu, “Ayah sangat mirip sekali dengan kakek.”


Kanaya duduk di tempat tidur oma kemudian tangis nya kembali pecah kala teringat dengan nya, belum hilang rasa sedih karena kehilangan bayi nya kini oma pun pergi meninggalkan nya.


Kanaya beranjak dari tempat tidur berjalan ke jendela lalu dia membuka tirai kamar itu, “Saat aku kecil oma selalu duduk di sini bahkan sampai aku besar pun tempat ini selalu menjadi tempat bersantai oma,” kanaya menatap sendu pantulan wajah nya di jendela.


Ceklek.


Tante jia masuk ke dalam kamar dan menghampirinya, “Kanaya,” panggil tante jia.


“Ya tante.”


“Bunda renatha ada di luar,” dengan berjalan lesu dia mengikuti tante jia keluar.


Bunda renatha memeluk kanaya dan mengusap punggung nya tangis kanaya kembali pecah, “Oma pasti akan sedih jika tau kamu menangis seperti ini,” zayn memperhatikan istrinya dari jauh dia juga dapat merasakan kesedihan yang di rasa oleh kanaya.


Malam hari nya mama elva berpamitan kepada semua nya sedangkan kanaya dan zayn memilih untuk tetap menginap di sini bersama dengan kerabat nya yang lain.


Dari wajah nya zayn tau jika kanaya masih belum dapat melepaskan kepergian oma, tapi dia sudah berusaha untuk tetap kuat agar orang-orang di sekitarnya tidak merasa sedih.


“Kamu pasti lelah menangis sejak kemarin,” ucap zayn menatap kanaya yang tengah tertidur.


...°°°°°°°...


Tidak terasa satu bulan telah berlalu sejak oma meninggal tetapi kepergian nya masih saja menyisakan duka, walau begitu mereka harus bisa mengikhlaskan nya.


Hari ini semua anak, menantu dan cucu oma di kumpulkan di dalam sebuah ruangan karena ada sesuatu yang akan di sampaikan, bahkan tante zeline beserta anak dan suami nya juga sudah ada di sana.


Tidak lama pengacara oma masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa beberapa berkas dan juga dua kotak yang berisi Compact Disc (CD).


Pengacara itu tidak sendiri tetapi dia juga mengajak asisten nya dan juga beberapa orang yang saat itu menjadi saksi saat oma menulis surat wasiat ini.


“Saya rasa kalian juga sudah tau maksud dan tujuan saya mengumpulkan kalian semua di ruangan ini, walaupun begitu saya tetap akan memberitahukan nya lagi.”


“Seperti yang di ketahui sebelum nyonya meninggal dunia beliau sempat mengubah isi dari surat wasiat nya, maka dari itu tidak perlu membuang-buang waktu saya akan membacakan isi dari surat tersebut.”


Pengacara itu mengambil sebuah berkas dan mulai membacakan rincian harta yang dimiliki oma semasa hidup dan lain sebagainya.


Dengan diam mereka mendengarkan apa yang di katakan oleh pengacara itu, hingga tibalah di mana laki-laki itu membacakan inti dari isi surat nya.


Dengan sadar dan tidak ada paksaan saya membuat Pernyataan Surat Wasiat Waris kepada cucu kandung saya, yaitu :


Kanaya Amora Mackenzie.


Dengan surat ini saya nyatakan bahwa saya menyerahkan sebagian harta saya kepada cucu saya tersebut, yaitu sebuah Rumah yang saya diami dan seluruh aset perusahaan milik saya pribadi apabila saya sudah tidak ada, dengan ketentuan harta itu digunakan untuk menyelesaikan semua permasalahan hutang piutang saya jika ada lalu 20% nya lagi saya akan sumbangkan, Dan harta yang tersisa dari penggunaan yang telah disebut tadi, maka saya serahkan kepada cucu saya yang nama nya telah saya sebutkan.


Demikianlah surat pernyataan Wasiat waris saya buat, dengan di saksikan oleh saksi-saksi yang saya percaya.


Tentu saja keputusan oma yang seperti ini menimbulkan pro dan kontra antara anak dan cucu nya, “Apa apaan ini? Kenapa semua harta ibu jadi milik dia semua?” marah tante zeline.

__ADS_1


Zeline menghampiri kanaya, “Pasti kamu sudah menghasut ibu agar dia memberikan semua hartanya padamu kan? Memang benar buah jatuh tidak jauh dari pohon nya, dulu elisia yang menghasut kakak ku thomas agar dia mau menikahi wanita yang besar di panti asuhan seperti nya.”


“Dan lihat lah sekarang kelakuan licik elisia di turunkan kepada putri nya, padahal dia itu hanyalah keturunan yang tidak di inginkan dalam keluarga ini sebab dia terlahir dari wanita yang tidak tau malu!”


Plakk... Suara tamparan begitu nyaring terdengar.


“Jaga ucapan mu zeline!” om denilson begitu marah.


“Lihat, bahkan kakak saja sudah terhasut oleh nya.”


“ZELINE!” bentak om denilson yang hendak menamparnya lagi namun suami nya tante zeline langsung mendorong tubuh on denilson.


“Hey, jangan sekali-kali kamu menyentuh papa saya! Kamu hanyalah orang asing yang menumpang hidup dengan keluarga ini jadi kamu tidak berhak ikut campur!”


“Kamu hanyalah anak kecil yang tidak tau apapun! Saya bisa saja menghancurkan mu dalam sekejap,” sahut om bimo sinis.


“Haha, kamu kira saya akan takut?” jawab zelvin tidak kalah sinis.


“Sudah zelvin, tidak perlu kamu meladeni orang seperti nya tidak ada untung nya juga,” tante jia menarik tangan zelvin.


“Hanya karena wanita ini kakak sampai berani menamparku, Memang benarkan dia hanyalah anak yang tidak di inginkan dalam keluarga ini? Bukankah ibu juga membenci nya? Lalu kenapa sekarang semua harta ibu menjadi milik nya? Bukankah sudah jelas wanita ini sudah menghasut kalian semua,” tante zeline menunjuk wajah kanaya.


“Sudah aku katakan jaga ucapan mu zeline! Percuma ibu menyekolahkan mu sampai perguruan tinggi tapi ucapan mu tidak mencerminkan seperti orang yang berpendidikan!”


“Jangan sama kan semua orang seperti mu zeline, jika kamu tidak menghasut ibu saat itu tidak mungkin ibu membenci anak kak thomas sampai seperti itu.”


“Ekhm sebelum nya maaf tuan dan nyonya apa bisa kalian semua tenang?” pengacara dan beberapa orang menengahi mereka semua.


Setelah suasana tenang laki-laki itu menyalakan televisi dan memutar sebuah kaset rekaman yang di rekam oma tiga jam sebelum dia meninggal.


Saya yakin jika keputusan yang saya buat ini memberatkan salah satu pihak, maka dari itu biarkan saya menjelaskan alasan mengapa saya memberikan semua nya kepada cucu saya kanaya.


Pertama tentang perusahaan saya, alasan saya memberikan nya kepada kanaya itu karena putra saya thomas lah yang membangun kembali perusahaan yang hampir hancur itu, setelah suami saya meninggal saya begitu terpukul hingga tidak menghiraukan masalah perusahaan padahal suami saya mendirikan nya dari nol, dengan mengorbankan segalanya thomas berkerja begitu keras agar kami semua tidak kesusahan.


Jadi saya memutuskan memberikan nya kepada thomas, namun karena dia sudah meninggal jadi saya mewariskan nya kepada cucu saya kanaya, itupun hanya sebagian nya saja sebab sebagian nya lagi sudah saya berikan kepada anak saya yang lain yaitu denilson dan zeline, tetapi karena zeline sudah menjual saham nya kepada denilson jadi zeline sudah tidak memiliki hak atas perusahaan itu.


Begitupun dengan rumah ini alasan nya karena selama thomas hidup dia belum mendapatkan apapun dari saya, sedangkan denilson dan juga zeline sudah saya berikan rumah saat menikah dulu.


Lalu untuk tabungan, itu memang hak cucu saya karena uang itu untuk pendidikan dan kebutuhan nya sehari-hari, jumlah nya sama besar dengan pengeluaran yang saya berikan untuk cucu saya yang lain.


Untuk sebagian dari harta yang lain seperti yang tertulis di surat wasiat akan saya sumbangkan dan juga untuk membayar hutang-hutang saya, saya harap penjelasan saya dapat di pahami oleh anak dan cucu saya.


Tidak terasa video itu sudah selesai, tante jia menenangkan kanaya yang menangis, “Lihat lah anak itu bahkan pura-pura menangis agar dianggap peduli dengan ibu, padahal dia lah yang bahagia,” sinis Tante zeline.


“Sudah aku katakan jaga ucapan mu zeline!”


“Kenapa kak? Jadi kita harus biarkan saja wanita ini menghasut ibu dan mengambil semua nya begitu?”


“Zeline!” om denilson menghentikan ucapan nya ketika kanaya memegang tangan nya.


Kanaya menghapus air mata nya, “Mungkin tante tidak percaya jika aku benar-benar sedih karena oma meninggal, sebab tante tidak pernah menyukaiku jadi apapun yang aku lakukan tante selalu berfikir negatif tentang ku.”


“Masalah menghasut oma agar memberikan warisan nya kepada ku itu pun tidak benar bahkan aku tidak perduli dengan masalah warisan, aku ke sini pun karena om denilson meminta ku datang.”

__ADS_1


“Kamu kira aku mudah terhasut oleh orang seperti mu!” sahut tante zeline.


“Aku tidak tau apa yang membuat tante seperti ini, bahkan bukan kepada ku dan ibu ku saja tante menunjukan kebencian itu tapi pada ayah ku juga, aku tidak tau apa masalah kalian di masa lalu hingga membuat ku harus menanggung semua penghinaan ini.”


“Asal tante tau, semua orang yang hadir di pemakaman saat itu saja paham jika tante lah yang bahagia akan berita tentang kepergian oma, bukti nya tante lebih menyempatkan datang saat pembacaan surat wasiat di bandingkan hadir untuk melihat oma terakhir kali.”


Tante zeline begitu kesal dan hendak menampar wajah kanaya, “Jika kamu berani menyentuh wajah istriku dengan tangan kotor mu itu, aku akan memastikan kamu merasakan lima kali lipat dari rasa sakit yang di rasakan istriku!” zayn datang menghampiri mereka lalu mengajak kanaya menjauh dari tante zeline.


“Tu-tuan zayn, ke-kenapa tuan ada di rumah ibu mertua saya?” tanya om bima kaget.


“Ah pak bima, sudah lama kita tidak bertemu bagaimana kabar mu?” sapa zayn datar.


“S-saya baik tuan, oh ya ini adalah putri saya olivia dan d-dia itu istri saya,” om bima memperkenalkan keluarga nya kepada zayn dengan begitu ramah.


“Cih rubah licik,” gumam zelvin.


Om bimo menatap tajam zelvin, “T-tuan sudah berapa lama di sini?”


“Aku datang bersama dengan istriku, sebenarnya dari tadi aku ingin masuk tetapi aku tidak berhak ikut campur dengan urusan keluarga mackenzie jadi aku menunggu di luar, tapi walaupun begitu aku masih dapat mendengar apa yang istrimu katakan mengenai istri ku maka nya aku ke dalam dan untung saja aku masuk tepat waktu kalau tidak tangan kotor istrimu pasti mengenai wajah nya,” zayn menatap ke arah kanaya.


Mereka tentu saja terkejut apalagi selama ini yang membantu mereka adalah perusahaan milik zayn, dan mereka juga tidak menyangka zayn lah suami dari kanaya kalau saja dia tau dapat di pastikan om bimo akan melarang istrinya berbicara seperti itu.


“Ma-maafkan kelalaian saya tuan, saya tidak tau jika wanita ini adalah istri tuan.”


Om denilson dan juga zelvin tersenyum sinis melihat wajah panik om bima, “Emm, permisi tuan dan nyonya,” ujar pengacara itu.


“Apa kita bisa melanjutkannya sekarang? Masih banyak yang harus di urus maka dari itu saya mohon perhatian tuan dan nyonya.”


Akhirnya mereka semua melanjutkan nya dalam diam, setelah selesai menanda tangani beberapa berkas pengacara oma pun pamit dari sana tapi sebelum keluar dari ruangan pengacara itu memberikan satu kaset rekaman lain kepada kanaya.


“Nyonya meminta saya memberikan ini kepada nona kanaya,” kanaya mengambil nya lalu mengucapkan terima kasih.


“Kalau begitu saya permisi.”


Zayn menenangkan kanaya dan tersenyum tidak lama ponselnya berdering jadi zayn pamit untuk menjawab telepon sebentar tetapi sebelum keluar dia menatap tajam ke arah om bima dan juga tante zeline.


“Apa dia benar suami mu?” tanya om bima memastikan.


“Jika zayn sendiri yang mengatakan, kenapa kamu malah menanyakan nya lagi?” sahut om denilson dengan kesal.


“Aku tidak bertanya kepadamu kakak ipar.”


Kanaya tidak menghiraukan pertanyaan om bima, “Om denilson, zelvin bisakah kita berbicara sebentar?” tanya kanaya.


“Bagaimana kita mengobrol di ruang kerja saja, sebab di sana kedap suara jadi orang luar tidak dapat mendengar apapun, oh ya ma minta salah satu security untuk berjaga di depan pintu untuk berjaga-jaga dari orang yang mau menguping,” om denilson menatap tajam kearah adik dan ipar nya itu.


Kanaya mengangguk dan mereka bergegas keluar dari ruangan itu, “Begini om, om kan lebih mengerti mengenai perusahaan bagaimana kalau om saja yang mengurus perusahaan oma? Aku benar-benar tidak paham mengenai urusan kantor om.”


“Bagaimana ya? Sebenarnya om juga tidak begitu mengerti karena om sudah sibuk menjalankan mackenzie jewerly milik ayah mu, tapi kamu bisa bertanya kepada zelvin sebab dia yang bekerja di sana bersama oma.”


Kanaya menatap zelvin memohon, “Apa kamu bisa membantuku zelvin?”


“Aku hanya bisa membantumu menjalankan perusahaan ini, tetapi kamu juga harus belajar masalah kantor sebab ini sudah menjadi tanggung jawab mu, oma memberikan nya pada mu karena dia percaya kamu mampu menjalankan nya,” zelvin tersenyum.

__ADS_1


“Terima kasih zelvin.”


“Tidak perlu sungkan sebab kita ini keluarga,” sahut zelvin.


__ADS_2