
Selepas joe berangkat nesya menghampiri kanaya dengan wajah yang ceria, “Sepertinya ada yang sudah baik kan nih?” goda kanaya.
“Sudah dong,” sahutnya riang.
“Perut nya mulai kelihatan ya kak? Sudah USG kak?”
“Sudah.”
“Lalu apa jenis kelamin nya kak?”
“Aku sengaja tidak bertanya jenis kelamin nya, yang penting kedua bayi nya sehat.”
“Dua bayi? Kakak hamil anak kembar?” tanya kanaya terkejut.
Nesya mengangguk, “Wah, aku akan jadi tante untuk dua adik bayi, selamat ya kak sekali hamil langsung dapat dua.”
“Oh ya bagaimana perkembangan hubungan mu dengan zayn? Aku dengar-dengar dalam waktu dekat kalian akan melangsungkan pernikahan?”
“Entahlah aku rasa sama saja seperti hari-hari biasa, setelah dia melamar ku waktu itu sampai sekarang hanya beberapa kali saja dia menghubungiku, itu pun hanya sekedar memberitahu kalau tante menyuruhku ke rumah,” kanaya cemberut.
“Haha sama saja berarti dengan joe, kecuali kemarin.”
“Ah iya aku juga ingin minta penjelasan, kemarin bunda rena menghubungiku dia bertanya apa kakak sudah sampai di rumah, berarti waktu itu kakak menginap di panti?”
“Iya aku menginap di sana.”
“Astaga kenapa kakak tidak bilang dengan ku, kakak tau setelah kembali dari babymoon kak joe seperti zombi, entah sudah berapa kali dia datang ke rumah menanyakan keberadaan kakak.”
“Biarkan saja, biar dia tau rasa.”
“Jahatnya, oh ya kak lalu bagaimana hubungan kakak dengan ibu kakak?” kanaya nampak ragu.
“Ya mulai membaik, seperti nya joe mencari ke rumah ibu ku waktu kemarin jadi ibu menghubungiku, dia menanyakan bagaimana keadaan aku dan juga anak ku,” jawab nesya tersenyum.
“Syukurlah.”
“Jadi kapan kalian menikah?” tanya nesya.
“Tidak tau.”
“Lah, kalian yang mau menikah tapi kamu malah tidak tau.”
“Tanya zayn saja kalau urusan pernikahan aku sudah tidak mau tau, bertemu waktu itu saja malah bertengkar.”
...°°°°°°...
Beberapa hari yang lalu kanaya berada di rumah zayn sebab mama elva memintanya ke rumah untuk membantunya membuatkan kue karena akan ada tamu dari teman-teman mama elva yang mau datang.
Saat itu zayn berada di ruang tamu bersama dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja, dia begitu fokus mencocokan laporan yang tercatat di berkas dan juga laptop nya.
Sesekali dia terlihat kesal dan menghela nafas kasar lalu menghubungi seseorang, “Apa zayn selalu bekerja seperti ini tante?” tanya kanaya.
“Ya seperti itu lah dia gila kerja, kamu juga harus terbiasa dengan sifatnya yang seperti itu, apalagi kalau sudah memegang laptop kamu ajak bicara pun jarang menyahut, tapi biasa dia mengerjakan nya di ruang kerja tapi karena hari ini ada kamu jadi dia pindahkan tempat semedi nya ke ruang tamu.”
“Oh ya tante apa zayn tidak pernah tertawa jika di rumah? sebab saat dia menonton film komedi dengan ku dia tidak tertawa sama sekali padahal itu sangat lucu menurutku.”
“Terkadang dia suka tertawa tapi lebih sering nya sih dia hanya tersenyum saja, sebenarnya zayn anak yang periang dulu namun semenjak papa dan kakak nya tiada seketika zayn lebih sering diam seakan senyuman riang nya menghilang bersama mereka.”
“Kalian membicarakan ku?” ujar zayn yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
“Tidak, pede sekali kamu,” sahut mama elva.
“Oh ya kebetulan kamu di sini, jadi kapan kamu menentukan tanggal pernikahan kalian?”
“Aku kan sudah bilang kemarin, aku ikutin saja kemauan kalian sebab aku sangat sibuk sekarang,” zayn mengambil minum di lemari es.
“Ya kalau mama sama keluarga nya kanaya sih sudah sepakat kalau pernikahan kalian di adakan bulan depan.”
“Ya sudah atur saja,” zayn kembali ke ruang tamu.
“Bulan depan apa tidak terlalu cepat tante? Kenapa tidak menunggu sampai kontrak kerja ku habis tante? Lagi pula bulan depan aku harus keluar kota juga sebab ada pekerjaan.”
“Ya itu bisa di atur sayang, kalian menikah sebelum kamu berangkat ke luar kota.”
“Tapi tante.”
“Kenapa? Kontrak kerja mu memperbolehkan pekerjanya menikah kan?”
“Iya sih.”
“Jadi kenapa harus bingung begitu sayang, sudah sana kamu siap-siap.”
“Siap-siap untuk apa tante?”
“Untuk fitting baju pengantin, lalu mengambil pesanan cincin pernikahan dan jangan lupa foto prewedding, sudah sana mumpung masih pagi.”
“Semua nya di kerjakan sekarang tante?”
“Kamu tenang saja, kamu tinggal pilih gaun dan cincin yang kalian suka, tante sudah membuatkan beberapa untuk kamu.”
“Tante tau ukuran jari ku?”
“Tau dong, kan kamu pernah jadi model perhiasan tante.”
“Lalu kanaya pergi dengan siapa?”
“Ya dengan calon suami mu dong masa sama tante,” mama elva mendorong tubuh kanaya agar dia menghampiri zayn.
“Iya tante aku ke sana, sudah jangan dorong-dorong lagi.”
__ADS_1
“Nah gitu dong,” mama elva tersenyum lebar.
Kanaya dengan malas menghampiri zayn yang masih sibuk dengan laptop nya, merasa ada seseorang di dekat nya zayn langsung mengangkat kepalanya.
“Kenapa?” tanya zayn.
“I-itu.”
Zayn melihat ke dapur melihat mama elva tengah memberikan kode supaya mereka pergi, zayn menghela nafas, “Baiklah, tunggu sebentar aku merapihkan berkas-berkas dulu.”
“Tapi kan aku belum mengatakan apapun?”
“Aku sudah tau,” zayn menyimpan laptop dan juga tumpukan berkas itu ke ruang kerja nya.
...°°°°°°°°...
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya saling diam sesekali kanaya menatap kearah zayn yang begitu fokus dengan jalan di depan nya, Apa dia sungguh-sungguh ingin menikah denganku? Kenapa dia hanya diam saja, bicara dong.
Zayn memarkirkan kendaraan nya di parkiran khusus pelanggan toko itu, baru saja membuka pintu mereka sudah di sambut hangat oleh para karyawan nya.
“Tolong bawakan gaun yang sudah di siapkan oleh mama saya!” perintah zayn.
Tidak lama beberapa dari karyawan itu membawakan beberapa gaun yang begitu indah kehadapannya, “Pilih dan cobalah gaun yang kamu suka.”
Kanaya mengangguk lalu pergi mencoba gaun itu di bantu seorang karyawan toko itu, sedangkan zayn memilih duduk di sofa dekat kamar ganti, tidak lama kemudian tirai penghalang di buka zayn menatap kanaya yang memakai gaun pengantin itu dengan takjub.
Gaun yang di rancang sendiri oleh mama elva benar-benar pas di tubuh kanaya, gaun dengan model Ball Gown ini sangat sesuai untuk kanaya yang memiliki tubuh tinggi.
“Baiklah saya ambil model yang ini,” ujar zayn.
Karyawan itu mengangguk lalu menutup kembali tirai nya untuk melepas gaun yang di kenakan kanaya.
Setelah urusan gaun beres zayn mengajak kanaya pergi ke toko perhiasan yang letaknya tepat di sebelah toko itu, “Apa toko perhiasan ini milik mama mu juga?” tanya kanaya.
“Ya.”
“Jadi yang ada di sini semua desain mama mu juga?”
“Tidak juga, mama hanya desain sesuai dengan pesanan saja.”
Kanaya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian zayn membukakan pintu untuk kanaya, seperti di toko sebelum nya kedatangan zayn di sambut ramah oleh karyawan nya bahkan ada beberapa karyawan wanita yang mencuri pandang kearahnya.
“Selamat siang tuan.”
“Siang.”
“Silakan tunggu sebentar tuan, biar saya ambilkan pesanan tuan.”
Zayn mengangguk lalu mengajak kanaya duduk di kursi seraya melihat beberapa perhiasan di dalam kotak kaca.
“Perhiasan yang kamu lihat itu adalah hasil kerja sama antara mama dan mackenzie jewelry,” tuturnya.
Tidak lama karyawan itu datang mendekati mereka sambil membawa sebuah kotak beludru berwarna biru, “Ini tuan.”
“Terima kasih,” zayn membuka kotak itu dan terlihatlah sepasang cincin dengan nama kedua nya yang terukir di dalam.
Zayn mengambil salah satu cincin dan mengenakan nya ke jari manis kanaya.
“Pas sekali,” zayn melepaskan kembali cincin itu dari jari manis kanaya.
“Saya ambil yang ini.”
“Baik tuan.”
Zayn mengajak kanaya keluar dari toko perhiasan dan mengajak nya masuk ke dalam mobil, “Kalau bisa sendiri kenapa mengajak ku?” gerutu kanaya.
“Apa kamu mengatakan sesuatu?”
“Ya, kalau kamu bisa mengerjakan nya sendiri kenapa harus pergi dengan ku?” nampak sekali kanaya sangat kesal.
“Tapi kan aku menikah nya dengan mu, kalau aku menikah dengan diri sendiri ya pasti aku pergi sendiri.”
“Ya tapi percuma saja kamu mengajak ku, bahkan kamu tidak bertanya dengan ku lagi apa aku suka dengan gaun dan cincin nya atau tidak.”
“Kalau tidak suka mengapa diam saja dari tadi? Ya sudah kebetulan kita masih di sini pilihlah yang kamu suka.”
“Bukan begitu, aku suka dengan gaun dan cincin itu tapi setidaknya kamu bertanya lah dulu.”
“Kalau kamu suka berarti sudah tidak ada masalah lagi kan?”
“Sudahlah aku kesal dengan mu, aku tidak mau menikah dengan mu! Belum menikah saja kamu sudah membuatku kesal zayn.”
“Kalau seperti itu mau mu, biar nanti aku bilang kepada oma dan mama kalau pernikahan dibatalkan,” sahut zayn santai, kemudian dia melajukan mobil nya menuju suatu tempat.
...°°°°°°...
Sepanjang jalan mereka berdua hanya diam, setibanya di sana dia bingung mengapa zayn membawa nya ke tempat ini.
Ini bukankah studio foto milik kak david?
“Mau apa kita ke sini?” tanya nya dengan kesal.
“Untuk foto, apa kamu tidak melihat tulisan di depan pintu nya?”
“Iya aku tau, tapi kalau kamu mau foto kenapa kamu mengajak ku?”
“Aku mau foto prewedding bukan foto untuk melamar pekerjaan, jadi bukan kah wajar kalau aku mengajakmu.”
“Aku kan sudah bilang aku tidak mau menikah dengan mu.”
__ADS_1
“Iya aku tau tapi sayang nya undangan sudah di pesan, apa tante jia tidak memberitahu mu?”
“Apa!” kanaya nampak terkejut tapi zayn hanya tersenyum seakan dia begitu senang melihat kanaya cemberut kepadanya.
Karena kesal kanaya langsung turun dari mobil dan masuk ke studio terlebih dahulu meninggalkan zayn yang baru saja keluar dari kendaraannya.
“Kak david!” panggil kanaya.
“Loh kamu di sini? Ada apa bukan nya sekarang jadwal mu kosong? Atau ada perubahan jadwal dadakan lagi?” david langsung mengecek ponsel nya untuk memastikan bahwa jadwal nya benar atau tidak.
“Permisi,” sapa zayn yang baru saja masuk.
“Halo tuan zayn selamat datang, silakan duduk!”
“Oh ya tuan, ngomong-ngomong apa pasangan tuan belum datang?” tanya david lagi.
“Sudah, itu yang berdiri di sana,” zayn menunjuk ke arah kanaya.
David kembali menghampiri kanaya lalu berbisik, “Apa maksudnya ini kanaya? Apa kamu mau menikah, tapi kontrak mu dengan ku belum selesaikan? Lalu kapan kalian melangsungkan pernikahan nya?” bisik david.
“Bulan depan kak,” sahut kanaya ikut berbisik.
“Apa?”
“Ma-maafkan aku kak, tapi keluargaku yang mengatur semua nya.”
“Astaga, kenapa tidak menunggu sebentar lagi saja sampai kontrak kamu selesai padahal hanya tinggal beberapa bulan lagi, dan kenapa mendadak begini sih? Kalau kamu menikah bulan depan lalu bagaimana dengan pekerjaan mu di luar kota? Aku tidak bisa mencari model lain jika mendadak seperti ini dan aku juga tidak bisa sembarangan mengganti model dengan tiba-tiba.”
“Ma-maafkan aku kak, tapi kakak tenang saja aku akan tetap bekerja sesuai jadwal aku juga sudah membicarakan hal ini dengan nya dan dia tidak masalah.”
David menghela nafas, “Ya sudah, bagaimana pun selamat atas pernikahan kalian.”
“Ekhm, apa sudah selesai mengobrol nya? Jadi kapan kita melakukan foto prewedding nya?” zayn merangkul pundak kanaya sambil tersenyum tetapi terlihat sekali dia sangat kesal.
“Oh iya maafkan saya tuan, mari kita kelantai dua,” sahut david.
David meminta kanaya untuk mengganti pakaian dengan sebuah gaun yang sudah di siapkan oleh pekerja wanita nya selain mengganti pakaian kanaya juga di rias dengan make up tipis tidak lupa rambut nya juga di tata oleh mereka.
Sedangkan zayn sudah siap dengan setelan jas, sambil menunggu kanaya siap dia mengecek beberapa pesan yang masuk.
Setelah semua nya sudah siap mereka langsung melakukan sesi foto, beberapa kali david mengarahkan zayn agar lebih terlihat alami dan jangan kaku seperti itu.
“Dekatkan wajah nya.”
“Coba lebih santai lagi wajah nya.”
“Dekatkan wajah nya seperti tuan akan mencium nya.”
“Oke seperti itu tahan ya.”
Cekrik..
“Oke, selanjutnya.”
Akhirnya sesi foto untuk prewedding telah selesai, setelah memilih foto yang mana yang sekiranya bagus mereka berdua langsung berpamitan dengan david.
Di dalam mobil kanaya merasa sedikit lapar, “Zayn bagaimana kalau kita ke restoran dulu, perutku lapar.”
Zayn tidak menjawab tapi dia langsung menuju restoran terdekat, setibanya di sana mereka berdua langsung masuk dan memilih tempat duduk namun tidak lama mereka dikejutkan akan kehadiran seorang wanita yang tiba-tiba saja memeluk zayn.
Zayn berusaha melepaskan pelukan wanita itu tetapi pelukan nya begitu erat, “Lepaskan aku!” zayn begitu marah tetapi bukan nya melepaskan pelukan nya wanita itu justru mencium pipi zayn, “Aku merindukan mu zayn.”
Mendengar wanita itu memanggil nama zayn, kanaya menjadi kesal dan memilih pergi dari restoran itu lalu memanggil taksi.
Melihat kanaya pergi zayn menjadi semakin marah dan membentak wanita itu sambil melepas pelukan wanita itu dengan kasar, “Sudah saya katakan lepaskan saya, apa kamu tuli? Dimana pihak keamanan? Apa mereka tidak bisa mengusir orang tidak waras ini!”
“Maafkan kami tuan, kami sudah teledor,” kedua orang itu langsung menarik gadis itu.
“Zayn apa kamu tidak ingat dengan ku?” tanya nya.
Namun zayn mengabaikan wanita itu, setelah merapikan pakaian nya zayn keluar dari restoran itu lalu melajukan mobilnya menyusul kanaya.
“Kenapa kalian tidak melepaskan ku! Kalian mau di pecat? Cepat panggil manager kalian, aku akan melaporkan tindakan kurang ajar kalian!”
...°°°°°°
...
Di dalam taksi kanaya menghapus air mata nya, entah kenapa hati nya sesak saat melihat zayn di cium oleh wanita lain begitu mesra di hadapan nya.
Kanaya meminta supir menuruninya di sebuah taman, setelah membayarnya kanaya keluar dari mobil itu dan langsung di tarik oleh zayn.
“Kenapa kamu pergi? Kamu bilang kamu lapar tadi.”
“Tidak jadi, kamu makan saja dengan wanita itu!”
“Untuk apa aku makan dengan wanita lain sedangkan aku sudah punya kamu.”
“Sudah kamu pulang saja, aku sedang ingin sendiri.”
Tanpa memperdulikan tolakan kanaya zayn langsung mengajak nya untuk masuk ke dalam mobil, “Aku sudah bilang ingin sendiri dulu, kenapa kamu suka sekali memaksa ku?” marah nya.
“Diam lah!” ucap zayn dengan suara sedikit meninggi membuat kanaya terkejut.
Zayn memukul kemudi, “Maaf aku tidak sengaja meninggikan suaraku lalu mama meminta kita untuk makan malam di rumah sebab mama sudah membuatkan makanan.”
Kanaya hanya diam saja, zayn langsung mengemudikan mobil nya untuk kembali ke rumah, setibanya di sana mereka berdua hanya saling diam tidak bicara apapun hingga membuat mama elva bingung.
Ada apa dengan mereka berdua?
__ADS_1