
Aku meletakkan secangkir teh hangat di atas meja sedangkan Julian hanya menatapku. Aku tak mengacuhkannya meskipun aku tahu dia ingin aku mengatakan sesuatu yang seharusnya dilakukan seorang teman pada temannya yang tak lama bertemu, seperti “aku kangen” atau “ke mana aja”. Aku bahkan tak tersenyum padanya ketika memintanya untuk masuk ke dalam rumah. Aku duduk di sampingnya tanpa menatap matanya. Julian tahu bahwa dia berhutang seribu penjelasan tentang menghilangnya dia selama ini. Aku dan Julian sangat dekat semasa kami kuliah meskipun jurusan kami berbeda. Kami bertemu pada saat aku menjadi ketua mahasiswa di kampus dan dia menjadi salah satu anggotaku. Ketika acara wisuda, aku tak melihatnya di kampus dan aku mendengar dari teman-teman bahwa Julian pergi ke luar negeri. Tak ada kabar. Tak ada pemberitahuan. Aku sangat marah padanya.
“Nay, kamu marah?” tanya Julian memecahkan keheningan.
Aku masih diam. Julian hanya tersenyum melihat tingkahku yang kekanakan. Aku bahkan tidak peduli apa yang dia pikirkan.
“Aku minta maaf karena enggak menghubungi kamu sewaktu aku pergi. Aku ganti nomorku dan lupa kasih kabar ke kamu.” Jelasnya.
“Enggak usah minta maaf. Lagian aku bukan apa-apa buat kamu.” Ujarku kesal.
“Jangan begitu. Kamu segalanya buat aku. Kamu emang sahabat aku satu untuk selamanya.” Rayunya sambil tersenyum.
“Tahu dari mana kamu rumah aku?”
“Dari Arief. Aku baru dateng dari Amerika. Kebetulan aku ketemu temen satu kampus di sana lalu aku minta nomor ponselnya Arief. Aku juga kabarin dia kok sebelum pulang.”
“Oh, begitu. Kenapa kamu enggak minta nomor aku ke Arief?”
“Aku enggak kepikiran hehehe... Aku berniat langsung ketemu kamu dan akhirnya aku di sini. Oh iya, Nay, aku juga denger soal kamu yang gagal nikah dari Arief. Aku turut sedih.”
Aku menghela nafasku. Aku masih kesal padanya tapi aku selalu menyerah dan tidak bisa marah padanya terlalu lama. Aku sangat merindukannya.
“Harusnya kamu ada waktu aku melewati itu. Kamu enggak ada di saat aku butuh, Julian.” Rengekku.
Julian mendekat ke arahku lalu merangkulku dengan tangan kanannya. Aku menoleh ke arahnya dan melihatnya tersenyum. Ia masih sama seperti dulu, maksudku sifatnya. Secara fisik, kurasa dia kehilangan banyak berat badannya karena wajahnya semakin tirus. Meskipun begitu, Julian masih tampak tampan seperti dulu.
Aku menceritakan tentang permasalahanku dengan Rian sampai pertemuanku dengan Faridh. Julian mendengarkanku dengan saksama sambil sesekali ia meminum teh hangatnya.
“Aku enggak pernah tahu kamu semenderita itu, Nay.” Ujarnya.
“Aku rasa kamu yang paling menderita. Apa kamu sudah pulang ke rumah sekarang?” tanyaku.
Julian menggeleng, “Aku menginap di hotel yang tak jauh dari sini. Kapan-kapan mampir, ya.”
“Kenapa kamu enggak nginep di rumah aku aja? Rumah ini punya dua kamar kosong.” Tanyaku.
“Hahaha...kamu mau kita digerebek warga?” candanya.
Aku pun ikut tertawa karena candaannya. Terkadang aku lupa pandangan orang-orang ketika melihat kedekatanku dengan Julian. Aku selalu merasa dia adalah saudaraku meskipun kami tidak memiliki keterikatan darah. Aku bertanya alasan kepulangannya. Minggu depan adalah peringatan hari kematian neneknya dan ia berharap bisa datang. Aku menawarkan diri untuk menemaninya karena kupikir Julian akan mengalami kesulitan ketika bertemu keluarga besarnya. Julian diusir dari rumahnya dan memutuskan untuk pergi keluar negeri. Keluarga besarnya sangat mengenalku jadi itulah sebabnya aku pikir kehadiranku akan sangat membantu Julian. Julian pun setuju dan memintaku untuk menemaninya.
Malam semakin larut, Julian pamit pulang. Aku mengantarkannya sampai pagar rumahku. Kami bertukar nomor ponsel sebelum berpisah. Aku masuk ke dalam rumah setelah melihat Julian pergi menggunakan taksi yang dipesannya. Kudengar ponselku berbunyi dan kulihat pesan singkat dari Faridh. Ia hanya mengucapkan selamat malam padaku. Biasa saja tapi itu cukup berkesan untukku. Tanpa sadar aku tersenyum membacanya hingga aku sadar, aku tak seharusnya berbahagia sebelum aku tahu siapa Faridh sebenarnya.
Aku bangun pagi sekali tak seperti biasanya, mungkin karena semalaman aku tidak bisa tidur. Aku menggapai ponselku yang aku letakkan di laci samping tempat tidur. Aku mengirim pesan singkat pada Tony tentang pencarian soal Faridh tapi ia tak membalas atau mengabari aku sama sekali. Aku turun dari tempat tidur dan bergegas mandi. Selepas mandi, aku pun bersiap pergi bekerja.
Kulihat beberapa karyawan sudah datang namun mereka hanya mengobrol satu sama lain. Aku mendekati mereka karena merasa heran. Mereka tampak bersantai padahal seharusnya mereka mulai bekerja.
“Kenapa pada ngumpul di sini? Pak Dody belum dateng?” tanyaku.
“Udah. Dia lagi rapat sama Reno dan Dita.”
Aku pun meninggalkan mereka untuk ke meja kerjaku. Kulihat Uni sedang duduk di kursinya sambil memainkan ponsel.
“Kalau pak Dody rapat penting samma Reno dan Dita, artinya kita udah mulai kehabisan konsumen?” ujarku.
Reno dan Dita adalah tim keuangan dan tim produksi. Beberapa hari ini kami memang lebih banyak menganggur dikarenakan berkurangnya produksi. Aku pikir saat ini orang lebih menyukai e-book dibanding buku cetak, meskipun segelintir orang masih memilih buku cetak. Aku menghubungi Julian dan menanyakan kegiatannya hari ini. Julian bilang dia akan menjadi pembicara di sebuah kampus dua hari lagi. Aku mengajaknya untuk bertemu tapi dia bilang tidak bisa dan akan mampir ke rumahku petang nanti.
“Woy, kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Uni mengejutkanku.
__ADS_1
“Ah, enggak apa-apa. Aku cuma lagi balas pesan.” Jawabku.
“Siapa? Faridh? Ngomong-ngomong gimana perkembangannya? Faridh udah ‘nembak’ kamu?”
“Bukan. Ini Julian. Kalau soal Faridh aku belum yakin sama dia. Entah kenapa ya, Un, aku tuh berasa ragu sama dia. Padahal dia itu calon suami yang baik, perhatian, santun, rajin ibadah lagi. Tapi aku tuh ragu sama dia.”
“Yah, mungkin kamu belum lama kenal sama dia. Aku yakin, Faridh laki-laki baik kok. Meski aku belum pernah ketemu sih.”
Aku juga berharap begitu, batinku.
Sudah beberapa hari ini kantor terasa seperti rumah. Kami lebih banyak bersantai daripada bekerja. Tentu saja ini mengkhawatirkan bagi pegawai termasuk aku. Aku sangat takut perusahaan ini bangkrut dan akhirnya aku harus mencari pekerjaan lain. Kami memang tidak terlalu khawatir soal gaji kami karena masih ada dua buku pelajaran yang masih dicetak dan diterbitkan. Untungnya dua buku pelajaran yang sudah diterbitkan itu laku keras dan masih dicetak di perusahaan kami. Tapi jika itu sampai berhenti, entah bagaimana nasib kami selanjutnya. Kulihat pak Dody masih tampak tenang meskipun dia tidak banyak bicara pada kami. Aku berharap dia mendapatkan titik terang untuk masalah perusahaan ini.
Aku duduk di teras rumah menunggu Julian menjemputku. Seperti yang sudah kami rencanakan, akhir pekan ini aku akan menemaninya untuk pulang ke rumah dan menghadiri hari kematian neneknya. Lamunanku buyar seketika saat suara klakson mobil mengejutkanku. Aku berdiri dan mencari tahu asal suara itu dan kulihat Julian datang dengan sebuah mobil sedan berwarna hitam. Aku setengah berlari menghampirinya. Kulihat mobil itu tampak agak tua tapi terkesan mewah.
“Mobil siapa ini?” tanyaku.
“Mobilku. Aku baru membelinya minggu lalu. Bagus, kan?” jelasnya.
“Wah, kamu banyak duit rupanya.”
“Ini barang second. Jadi harganya enggak begitu mahal. Ayo masuk!”
“Meski begitu, mobil ini senilai gajiku selama satu tahun.”
Julian tertawa. Aku pun masuk ke dalam mobil. Julian membantuku untuk memasang sabuk pengaman. Mobil pun melaju perlahan dan meninggalkan rumahku. Kami menempuh setengah jam untuk sampai di rumah Julian. Julian menghentikan mobilnya di seberang jalan rumahnya. Sepertinya ia belum yakin kedatangannya akan disambut baik oleh keluarga. Aku menggenggam tangannya dan berusaha menguatkannya. Aku tersenyum padanya dan dia membalas senyumanku. Julian dan aku turun dari mobil. Julian menatap rumahnya sambil menghela nafas panjang. Aku yakin ini sulit baginya. Kami berjalan bersama dan memasuki halaman rumah. Rumah berlantai tiga itu masih sama seperti dulu saat aku berkunjung kemari. Kulihat beberapa kendaraan terparkir di garasi rumah, tampaknya keluarga inti sudah ada di dalam rumah. Pintu depannya terbuka tapi Julian tetap memencet bel rumah. Terdengar dari dalam langkah kaki menghampiri. Seorang wanita muda keluar dari dalam rumah, tampak terkejut dengan kehadiran Julian. Matanya berkaca-kaca lalu setengah berlari ia menghampiri Julian dan memeluknya. Tangisannya pecah di pelukan Julian. Beberapa orang mulai keluar dari dalam rumah yang sepertinya mendengar tangisan wanita muda itu. Beberapa dari mereka datang dan memeluk Julian, kecuali pria paruh baya yang hanya berdiri terpaku menatap kehadiran Julian. Ia adalah ayahnya Julian. Julian digiring masuk ke dalam rumah sementara aku hanya mengikutinya dari belakang. Suasana haru berubah menjadi tegang ketika Julian berdiri di hadapan ayahnya. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara tapi tampak kerinduan mereka yang tak terbendung. Julian hanya menunduk, tak berani menatap ayahnya. Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Julian yang sepertinya siap dengan apa yang akan terjadi padanya. Semua orang yang berada di ruangan itu memekik terkejut, termasuk aku. Tapi selanjutnya hal yang tak terduga terjadi. Ayahnya memeluk Julian sambil menangis setelah menamparnya. Kurasa ia menumpahkan kekesalan, kekecewaan, dan kerinduan dengan cara seperti itu.
Keluarga Julian sangat baik dan ramah padaku seperti dulu. Kulihat hidangan lezat di atas meja makan yang berbentuk persegi panjang. Kami semua duduk di meja makan untuk menikmati hidangan. Ibunya Julian menghampiriku dengan membawakan sepiring makanan dan segelas jus jeruk.
“Ini untukmu, Nay. Tante senang kamu bisa ikut datang ke sini apalagi kamu bawa Julian ke rumah ini.” Ujarnya sambil tersenyum.
“Kenapa kamu enggak ikut masuk?” tanya Julian.
“Aku pikir itu momen kebersamaan kamu dan keluarga. Julian, aku pamit pulang, ya.” Ujarku.
“Biar aku antar. Kamu udah antar aku pulang jadi aku harus antar kamu pulang. Habis itu kamu antar aku pulang lagi.” Candanya
Aku tertawa dengan candaannya yang garing. Aku pamit pada keluarga Julian lalu ia mengantarkanku pulang. Sesampainya di rumah, aku terkejut melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahku.
“Kayaknya kamu kedatangan tamu.” Ujar Julian.
Julian memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumahku. Kami pun turun dan kulihat Faridh sedang duduk seorang diri di teras rumahku. Ia langsung berdiri ketika melihat kedatanganku. Aku memperkenalkan Faridh dan Julian. Julian menatap tajam pada Faridh lalu menjabat tangannya. Julian hanya mengerutkan dahinya saat menatap Faridh. Ia tak banyak bicara dan langsung pamit pulang. Aku tidak mengerti kenapa Julian bersikap seperti itu pada Faridh seakan Julian tidak menyukainya. Aku mempersilahkan Faridh masuk dan mengobrol dengannya. Sayangnya ia tidak bisa berlama-lama karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Aku pikir dia datang ke Jakarta karena ingin bertemu denganku tapi ternyata aku salah. Sepertinya dia datang karena urusan bisnis. Seharusnya aku tidak percaya diri berlebihan. Aku mengganti pakaianku lalu duduk di televisi saat ponselku menerima pesan dari Julian. Ia mengatakan sesuatu yang kurasa sangat mustahil.
Nay, lelaki yang kamu kenalkan tadi, dia menginap di hotel yang sama denganku. Masalahnya kemarin aku enggak sengaja lihat dia dengan perempuan masuk ke kamar hotel. Kalau kamu enggak percaya, kamu bisa datang ke hotel.
Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Julian. Aku memang curiga Faridh sudah memiliki kekasih tapi menginap di kamar yang sama dengan seorang wanita rasanya itu tidak mungkin. Apa aku yang salah mengenal Faridh sebagai laki-laki yang soleh? Aku membalas pesan Julian dan menanyakan kapan dia akan pulang. Aku harap Julian salah melihat orang.
Aku mengetuk pintu kamar hotel Julian. Kulihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 19.00 WIB. Tak berapa lama, Julian membuka pintu kamar hotelnya. Dia langsung menarik tanganku agar masuk ke dalam kamarnya. Aku bingung dan hendak bertanya padanya namun Julian memintaku untuk diam. Aku pun diam seperti yang ia perintahkan. Kami masih berada di belakang pintu. Julian memberiku kode bahwa aku harus merapatkan telingaku ke pintu kamar.
“Ada apa sih?” bisikku.
“Ssstt... Aku lihat mereka makan malam di bawah dan belum kembali. Sebentar lagi mereka pasti datang.” Ujar Julian sambil berbisik.
Tak lama aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Aku semakin mendekatkan telingaku ke pintu. Kudengar suara Faridh yang kemudian dibalas dengan sahutan suara wanita. Aku sangat syok ketika mendengar panggilan ‘sayang’ untuk wanita itu. Terdengar suara derit pintu terbuka yang berasal dari samping kamar Julian. Ketika aku mendengar pintu menutup, Julian memintaku untuk menghampiri Faridh dan melihat sendiri wanita itu sekamar dengan Faridh. Aku menarik nafas panjang dan berusaha menguatkan hatiku dengan apa yang akan aku lihat nanti. Aku pun bergegas membuka pintu lalu mengetuk pintu kamar Faridh. Sebuah sahutan terdengar dari dalam. Pintu pun terbuka dan kulihat seorang wanita berhijab berdiri di depan pintu dengan wajah terkejut saat melihatku. Tak lama kemudian Faridh muncul dan ikut terkejut saat ia melihatku.
__ADS_1
“N-Nay, kamu ngapain di sini?” tanya Faridh.
“Aku cuma mau mastiin sesuatu. Kalau begitu aku pamit.” Ujarku dan bergegas meninggalkan tempat itu.
Aku mendengar suara Faridh memanggilku dan berlari ke arahku tapi aku lebih cepat darinya. Aku masuk ke dalam lift dan keluar dari hotel itu. Aku bahkan tidak berpamitan pada Julian yang sudah membantuku. Hatiku terasa panas. Aku tidak ingin menangis tapi tanpa terasa air mataku mengalir. Aku merasa kecewa, dikhianati, dan dibodohi. Berkali-kali aku menyalahkan diriku sendiri karena selalu beranggapan Faridh adalah calon imam yang pantas untukku. Dia bahkan lebih kurang ajar dibanding Rian. Aku tidak menyangka Faridh melakukan zina dengan seorang wanita yang berhijab pula. Mereka benar-benar tidak tahu malu.
Jarak hotel dan rumahku tak begitu jauh jadi aku sampai dengan cepat. Aku langsung berbaring di atas tempat tidurku tanpa berganti pakaian. Aku merasa seperti orang bodoh yang jatuh ke dalam lubang yang sama. Aku meratapi diriku sendiri yang selalu saja dibodohi oleh lelaki. Ketika pikiran dan hatiku sibuk saling menyalahkan satu sama lain, ponselku berbunyi. Kulihat nama Tony muncul di layar ponselku. Aku mengangkat panggilan dari Tony dengan suara parau.
“Teh, habis nangis, ya?” tanya Tony yang mendengar suaraku.
“Enggak. Kenapa nelepon?” tanyaku.
“Maaf, ya, Teh baru bisa kasih kabar sekarang soalnya sibuk ujian. Tony mau kasih kabar ke Teteh kalau cowok yang bernama Faridh, anaknya bu Endah itu udah nikah.”
“Apa?”
Aku segera bangun dari tempat tidurku dan berlari keluar rumah. Aku berharap ini belum terlalu larut untuk menghampiri Faridh. Tony menceritakan padaku sebelum aku menutup teleponnya. Dia bilang, Faridh sudah menikah dengan wanita yang berasal dari Bandung dan sekarang mereka tinggal di sana. Kupikir ada korelasi dengan kejadian ini sehingga aku ingin menanyakannya langsung pada Faridh dan mencari tahu kebenarannya. Butuh waktu sepuluh menit hingga aku mendapatkan ojek online yang sudah kupesan. Aku lebih memilih menggunakan ojek yang bisa dengan mudah melewati kemacetan. Tak lama kemudian aku sampai di hotel Julian menginap. Aku bergegas memasuki lift yang mengarah ke lantai kamar Julian. Sesampainya aku langsung mengetuk pintu kamar Faridh. Pintu kamar terbuka dan kulihat wanita tadi yang membukakan pintu kini menyambut kedatanganku lagi. Dengan nada lembut ia mempersilahkan aku untuk masuk. Aku terkejut ketika melihat Julian sudah ada di dalam kamar sedang berbincang serius dengan Faridh. Faridh bangkit dari duduknya. Ia tampak terkejut melihat kedatanganku, lagi. Aku langsung duduk di samping Julian. Suasana hening pun terasa. Wanita yang menyambutku tadi kini duduk di samping Faridh dengan wajah yang cemas.
“Nay, mereka sebenarnya...”
“Aku tahu.” Ujarku memotong ucapan Julian.
“Kalian sepasang suami istri, bukan?” tanyaku tanpa basa-basi.
Faridh hanya menghela nafas sambil mengangguk. Wanita itu masih terdiam.
“Kenapa kamu enggak kasih tahu aku kalau kamu udah nikah? Mau kamu apa?” tanyaku kesal.
“Nay, dengar dulu penjelasanku sebelum kamu marah padaku.” Ujar Faridh.
Faridh menceritakan alasannya mendekatiku. Ibunya yang meminta agar Faridh mendekatiku dan mencoba berhubungan serius denganku. Ibunya ingin menjadikanku istri kedua Faridh karena istrinya yang sekarang menderita kista dan kemungkinan kecil untuk bisa hamil. Awalnya Faridh tidak menyetujui karena ia akan menyakiti perasaanku dan istrinya. Tapi istrinya malah mendukungnya. Selama kami bertemu, Faridh selalu menceritakan aku pada istrinya yang baru kuketahui bernama Aisyah. Aku semakin kesal mendengar penjelasan Faridh yang berniat menjadikanku istri keduanya. Aisyah melihatku marah. Ia mendekatiku dan memintaku untuk menerima suaminya sebagai suamiku. Tentu saja aku menolak. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menikah dengan lelaki beristri. Aisyah menangis di depanku dan mengatakan bahwa ia hanya ingin Faridh dan ibu Endah bahagia. Karena dengan cara inilah, Faridh akan mendapatkan keturunan. Aku terdiam. Aku masih marah tapi aku juga merasa kasihan pada Aisyah. Aku merogoh ke dalam tasku dan mencari letak dompetku. Begitu aku menemukannya, aku langsung mengambil sebuah kartu nama yang kusimpan. Aku menyodorkan kartu nama itu pada Faridh.
“Itu kartu nama dr. Tiara. Dia adalah dokter kandungan ternama di rumah sakit ternama. Sebaiknya kamu konsultasikan masalah ini padanya. Aku yakin, dia bisa membantu kalian.” Ujarku.
Faridh dan Aisyah menatap ke arah kartu nama itu lalu menoleh menatapku.
“Dengar, aku yakin masalah kalian bisa diatasi tanpa harus mengorbankan perasaan seseorang. Apa yang kalian lakukan itu salah. Apa kalian tidak berpikir bagaimana perasaanku?” ujarku kesal.
“Nay, aku minta maaf.” Ujar Faridh.
“Ya sudah. Sebaiknya kalian datang ke rumah sakit dr. Tiara. Aku harap kalian bisa memiliki anak seperti harapan kalian.”
Aku berdiri dan pergi meninggalkan kamar Faridh. Aku mendengar langkah kaki Julian yang mengikutiku dari belakang. Aku hanya bisa terdiam dan melamun begitu aku keluar dari kamar Faridh. Julian menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam kamarnya. Ia memberikanku sebotol air mineral untuk menenangkanku.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Julian.
“Aku seperti wanita bodoh, Julian. Aku bahkan berpikir yang tidak-tidak dan sempat mengumpat tentang mereka berdua tanpa aku tahu kebenarannya. Dan sekarang, aku merasa benar-benar bodoh.” Jelasku.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanyanya.
“Aku harus pulang ke kampung halamanku. Besok pagi.” Ujarku.
Julian menawarkan diri untuk mengantarku ke kampung halamanku besok pagi. Saat ini aku sangat syok dan sangat merasa menjadi orang bodoh. Julian menyuruhku untuk menginap dengannya karena malam sudah mulai larut. Aku pun menyetujui. Aku berbaring di atas tempat tidur dan memejamkan mataku. Julian menyelimuti tubuhku dengan selimut lalu ia mengambil bantal untuknya tidur di sofa. Aku berusaha untuk tidur dan mendapatkan energiku kembali. Aku harus bertanya dan berbicara langsung pada paman dan bibiku soal masalah ini. Aku benci hal seperti ini terjadi lagi dalam hidupku.
__ADS_1