
Setibanya di kamar kanaya nampak begitu khawatir dengan ucapan justin, “Bagaimana jika laki-laki itu melukai bunda dan anak-anak? Aku harus berbuat apa?” kanaya berjalan mondar mandir karena gelisah.
Tiba-tiba dia teringat satu nama, “Sepertinya hanya om yang dapat membantuku kali ini, tidak ada pilihan lain.”
Kanaya mengambil tas nya kemudian dia mencari-cari kartu nama itu, “Argh, di mana kartu nama nya? Bukan kah aku menyimpan nya di tas ini?” kesal nya.
“Ketemu,” kanaya mengambil ponsel nya hendak menghubungi om denilson, “Sudah jam sebelas malam semoga saja om belum tidur.”
Kanaya menunggu panggilan itu tersambung, lama dia menunggu akhirnya telepon nya di jawab oleh om denilson, “Halo, siapa ini?” sahut om denilson dengan suara parau, sepertinya lelaki itu terbangun dari tidurnya.
“Halo om ini kanaya, maaf kanaya mengganggu waktu istirahat om,” ucap nya tidak enak hati.
“O-oh kanaya, tu-tunggu dulu om,” terdengar suara gaduh dari sana.
Tidak lama, “Ha-halo kanaya ada apa?” tanya nya.
“Kanaya butuh bantuan om, apa om bisa temui kanaya besok?”
“Bisa kanaya, jam berapa dan di mana?” Tanya nya.
“Jam sembilan pagi saja om, kalau tempatnya terserah om saja,” Jawab kanaya.
“Bagaimana kalau di toko kue bunda kamu saja? Nanti alamatnya akan om kirim kan.”
“Baik om, terima kasih maaf sudah mengganggu om beristirahat selamat malam om,” pamit kanaya.
“Iya tidak apa-apa selamat malam juga untuk mu,” Kanaya mengakhiri panggilan telepon itu, tetapi walaupun dia sudah menghubungi om denilson perasaan nya masih belum tenang dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan bunda dan anak-anak panti.
Semoga saja om bisa membantuku.
...°°°°°...
Setelah mendapatkan pesan dari om denilson kanaya bergegas pergi menuju toko kue yang mereka bilang milik bunda nya itu.
Setibanya di Kana cake kanaya langsung masuk ke dalam toko mencari keberadaan om nya itu, setelah menemukan nya kanaya segera menghampirinya.
“Maaf om kanaya telat, tadi jalanan sedikit macet.”
“Tidak apa-apa, duduk lah kamu mau pesan apa?” tanya om denilson.
“Tidak perlu repot-repot om, oh ya tante jia di mana?”
“Tante mu sedang berbelanja keperluan toko,” sahut om denilson.
__ADS_1
“Oh begitu.”
Mereka berdua berbincang dan saling menanyakan kabar setelah cukup berbasa-basi, akhirnya kanaya mulai membicarakan hal yang membuat kanaya ingin menemui om denilson.
“Om sebenarnya kanaya mengajak bertemu karena ingin meminta bantuan kepada om,” ucap kanaya dengan mata berkaca-kaca.
“Katakan!”
Kanaya menceritakan semua nya tentang justin dan ancaman laki-laki itu yang ingin melukai keluarganya di panti asuhan, kanaya mengatakan segalanya dengan menahan air mata nya membuat om denilson merasakan kesedihan yang dirasakan oleh keponakannya itu.
“Jadi kamu ingin om membantu mu apa?”
Kanaya nampak ragu, “Tidak perlu sungkan kepadaku, kamu adalah keponakan ku.”
“Bisakah om mencarikan tempat persembunyian yang aman untuk bunda dan anak-anak panti sampai semua nya membaik?”
“Jika hanya sekedar menyembunyikan keberadaan mereka itu perkara mudah, tapi jika laki-laki itu masih bebas berkeliaran dia akan tetap menemukan di mana renatha dan anak-anak panti lain nya cepat atau lambat, oh ya apa kamu sudah melaporkan nya ke polisi?”
“Sudah, tapi dia dibebaskan dalam hitungan bulan saja, jadi kanaya harus bagaimana om? Kanaya takut bunda dan yang lain nya terluka.”
“Baiklah om dapat mengusahakan tetapi kamu harus memenuhi syarat yang om berikan, bagaimana?” ujar om denilson seraya menyeruput secangkir kopi.
“Syarat? Bukan nya om sendiri yang bilang kepada kanaya kalau om akan membantu kanaya jika kanaya sedang butuh bantuan,” kanaya terlihat marah.
“Tapi mereka dalam bahaya itu semua disebabkan oleh kanaya,” sahut nya dengan wajah kecewa sebab perkataan om denilson.
“Om yakin kamu pasti bisa memenuhi persyaratan itu, sebab om hanya mau kamu menemui oma walaupun sebentar.”
Maafkan om yang telah mempersulit kamu kanaya tetapi om melakukan ini semua demi ibu.
Kanaya hanya diam memikirkan ucapan om nya, Aku belum siap bertemu dengan oma, tapi aku tidak tau kemana lagi aku harus mencari bantuan.
“Bagaimana kanaya?” Tanya om denilson.
“Baiklah om, kanaya akan pulang dan menemui oma tapi setelah bunda dan anak-anak itu dipindahkan.”
“Baikah, kamu hubungi renatha saja dulu agar dia segera menyiapkan keperluan yang harus dia bawa untuk tinggal di rumah baru mereka, nanti malam sekitar jam satu om akan mengirim kendaraan untuk membawa mereka sebab jika siang hari takut nya laki-laki itu tau.”
“Secepat ini? Memang om sudah dapat rumah untuk mereka?” tanya kanaya heran.
“Sebenarnya tempat tinggal itu sudah ada, dulu ayahmu membeli lahan untuk di bangun sebuah rumah untuk mereka yang tidak memiliki orang tua tetapi baru saja dia selesai membuat design nya, ayah mu mengalami kejadian naas itu jadi om yang melanjutkan nya dan baru saja selesai sekitar satu bulan yang lalu,” sahut om denilson.
“Syukurlah kalau begitu, terima kasih banyak om.”
__ADS_1
“Tidak perlu berterima kasih kepadaku, sebab rumah itu pun milik ayahmu.”
Setelah urusan dengan denilson selesai kanaya berpamitan sebab masih ada urusan di tempat lain, sepanjang jalan kanaya masih saja mengkhawatirkan bunda dan anak panti lain nya.
Setibanya di rumah kanaya terkejut melihat nesya yang sudah duduk manis di sofa, nesya melihat ke arah kanaya dan tersenyum senang karena berhasil membuat kanaya kaget.
“Kakak,” kanaya mendekat dan langsung memeluk kanaya dengan erat.
“Bagaimana kabar mu? Apa kamu merindukanku?” tanya nesya seraya membalas pelukan kanaya.
Gadis itu hanya mengangguk sambil berusaha menahan tangis nya tetapi akhirnya dia tidak kuasa juga, nesya menepuk pelan punggung kanaya membiarkan gadis itu melepaskan segala resah yang selama beberapa hari ini mengganggunya.
“Kanaya, kakak yakin suatu saat akan datang sebuah pelangi untuk mengusir awan mendung dalam hidupmu, kakak tau kamu pasti bisa melawati semua nya.”
“Kamu tidak sendirian kanaya ada aku dan orang-orang yang menyayangimu, jadi hapus air mata mu sudah cukup kamu menangis sekarang waktu nya kamu bersenang-senang,” ujar nesya.
“Sudah jangan menangis lagi! kanaya yang aku kenal tidak secengeng ini,” nesya memegang pipi kanaya dan menghapus air matanya.
“Oh ya kakak membawakan cemilan untuk mu, hari ini kakak mengizinkan kamu makan sesuka mu jadi jangan menangis lagi oke!”
Kanaya mengangguk dan tersenyum lebar, lalu dia langsung bergegas menyerbu tas yang berisi oleh-oleh dari nesya dan menyantapnya dengan lahap.
Lihatlah gadis ini, sebelum bertemu dengan makanan wajah nya sangat murung tapi sekarang bahkan dia mengabaikan ku.
...°°°°°°...
Di tempat lain zayn sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan, dia membaca dengan begitu teliti hingga suara gebrakan mengagetkan beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu.
“Bagaimana bisa pengeluaran kita sebesar ini tapi bahan-bahan untuk pembangunan bahkan tidak ada setengah nya?”
“Me-mereka bilang semua bahan bangunan sedang naik pak,” sahut salah satu karyawan.
“Kalau begitu dimana bukti pembayaran nya? Kenapa tidak ada nota pembelian dari kemarin?”
“I-itu.”
“Cukup! saya hanya menginginkan bukti pembayar itu, saya akan tunggu sampai jam istirahat selesai jika lewat dari waktu yang sudah di tentukan bukti itu belum ada juga, kalian semua yang akan bertanggung jawab,” zayn melempar berkas yang dia pegang ke arah ketiga karyawan nya itu.
“Ba-baik pak,” sahut mereka serempak.
“Keluar!” mereka bergegas pergi dari ruangan itu sambil ketakutan.
“Joe tolong selidiki! sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan keuangan perusahaan, sebab jika harga barang naik pasti mereka akan memberitahu gue dari awal lalu setelah gue teliti lagi kenapa dalam sehari harga bahan bisa naik tiga kali dan kenaikan harga nya tidak masuk di akal.”
__ADS_1
Joe mengambil beberapa berkas yang di lempar oleh zayn tadi lalu memeriksa nya kembali, “Baik, akan gue selidiki segera,” sahut joe.