KANAYA

KANAYA
61. Gagal.


__ADS_3

Bulan kian berganti hari-hari kelahiran pun semakin dekat,persiapan untuk persalinan pun sudah di persiapkan oleh zayn dari rumah sakit untuk istri nya bersalin bahkan dia juga sudah mencari orang-orang yang memiliki golongan darah yang sama seperti kanaya untuk berjaga-jaga dan untung nya saja di negara ini ada beberapa orang yang bersedia membantu.


Maka dari itu zayn sudah menyiapkan tempat tinggal sementara untuk mereka dan juga sedikit bingkisan nanti nya.


Perut yang semakin membesar membuat kanaya menjadi mudah sekali lelah, bahkan dia hanya berkeliling sekitar halaman rumah saja.


“Kamu sudah sarapan?” tanya zayn yang baru saja turun dari kamar nya menghampiri kanaya yang sedang menonton televisi di lantai bawah.


“Sudah.”


“Mama ke mana?” tanya zayn duduk di samping kanaya.


“Pergi belanja dengan bi lena.”


“Aku dengar kamu mau renovasi kamar yang di sebelah?” tanya kanaya.


“Iya tapi masih rencana saja.”


“Oh begitu, kamu tidak kerja?”


“Tidak.”


Tidak lama terdengar mama elva sudah pulang, zayn melihat beberapa kantong belanjaan yang di bawa oleh bi lena dan pak rudi, “Letakan saja di situ,” pinta mama elva.


“Mama belanja apa,” tanya zayn menghampiri mama nya.


Zayn membuka salah satu kantong belanjaan dan melihat ada beberapa pakaian bayi di sana, “Ma, baru saja kemarin mama beli pakaian bayi terus sekarang kenapa beli lagi?”


“Baju nya lucu-lucu jadi mama suka.”


Zayn menghela nafas nya, “Oh ya zayn mana kanaya?”


“Tuh lagi nonton televisi.”


Tidak lama terdengar suara kanaya memanggil zayn, saat dia menghampiri istri nya zayn melihat kanaya tengah memegang perut nya kesakitan.


“Ka-kamu kenapa? Perut mu sakit?” tanya nya.


Bukan nya menyahut kanaya malah mencengkram tangan zayn, “Jangan-jangan istri mu mau melahirkan zayn, sebab tadi pagi dia bilang kalau perut nya mulas, mama sangka dia sembelit karena hari perkiraan lahir nya masih dua minggu lagi.”


Mendengar hal itu bukan nya membantu istri nya zayn malah terdiam, “Kamu kenapa diam saja, cepat ajak istri mu ke rumah sakit.”


Mama elva bergegas keluar untuk meminta pak rudi menyiapkan mobil, lalu saat kembali dia kesal melihat putra nya itu, “Lihatlah kamu mirip sekali dengan papa mu,” akhirnya mama elva membantu kanaya berjalan menuju mobil di ikuti oleh zayn yang wajah nya sudah pucat karena panik.


Sepanjang jalan mama elva terus menenangkan kanaya sesekali dia melihat zayn di depan yang nampak gelisah, bahkan dia sampai berpegangan pada hand grip mobil begitu kuat.


Mama elva terus meminta kanaya untuk menarik nafas dan buang tiap kali rasa sakit nya muncul dan tentu saja zayn refleks mengikuti membuat mama elva ingin tertawa.


Setibanya di rumah sakit kanaya langsung masuk ke dalam ruangan, tetapi dokter bilang dia masih pembukaan dua, “Ma pembukaan dua tapi sakit nya sudah seperti ini bagaimana nanti kalau pembukaan nya sudah lengkap?” rengek nya.


“Sabar ya sayang,” mama elva menggenggam tangan menantu nya menguatkan, zayn terlihat banyak diam sebab dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, zayn juga membiarkan kanaya mencengkram tangan nya tiap kali rasa sakit itu muncul.


Mereka terus menunggu hingga kanaya di bawa ke tempat bersalin karena ketuban nya sudah pecah, mama elva menunggu di luar dengan cemas sedangkan zayn ikut ke dalam mendampingi istri nya yang tengah berjuang melahirkan buah cinta mereka.


Zayn menyaksikan sendiri bagaimana istri nya merasakan sakit bahkan dia sampai tidak memperdulikan tangan nya yang terluka karena cengkraman kanaya, hingga tidak lama terdengar suara tangisan yang begitu mereka nanti kan.


Zayn menangis haru lalu mencium kening kanaya lama, “Terima kasih sayang,” ucap nya.


“Hey, kamu menangis?” kanaya menghapus air mata zayn.


Namun bukan nya menjawab dia malah semakin tidak bisa berkata-kata, “Kamu sudah menjadi seorang papa sekarang,” zayn mengangguk sambil terisak.


Setelah melihat putra nya zayn berjalan keluar menemui mama elva lalu dia memeluk nya, “Maafkan zayn ma,” mama elva menepuk-nepuk punggung putra nya.


“Tidak apa-apa sayang, bagaimana istri dan anak mu?”


Zayn menghapus air mata lalu melepaskan pelukan nya, “Bayi ku sehat dan kanaya sedang beristirahat sekarang.”


“Pasti perih kan?” tanya mama elva melihat lengan putra nya.


“Ya sedikit.”


Mama elva tersenyum lalu mengajak zayn untuk mengobati luka akibat cakaran kanaya itu, “Sudah, jangan menangis seperti anak kecil, ini hanya luka kecil saja,” goda mama elva namun zayn seperti tidak bertenaga untuk menjawab mama nya.


“Makan dulu, kamu pasti lapar kan sebab dari pagi kamu belum makan.”


Zayn mengangguk lalu dia berjalan ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan, saat dia kembali ternyata keluarga kanaya sudah tiba di sana.


Mereka semua memberikan ucapan selamat kepada nya dan juga mama elva, mereka tidak sabar untuk melihat bayi laki-laki itu.


...°°°°°°°...


Hari-hari melelahkan terus berlalu tidak terasa bayi laki-laki itu telah tumbuh menjadi seorang balita yang ceria dan juga bersemangat.


“Rainer di mana?” tanya zayn masuk ke dalam kamar.”


“Loh bukan nya dia ke ruangan kamu? Tadi dia bilang ingin ke papa,” sahut kanaya sambil membereskan mainan putra nya yang berantakan.


“Tidak, dari tadi tidak ada yang masuk ke ruangan ku.”


Kanaya nampak terdiam lalu menatap zayn, begitu pun dengan zayn dan seketika mereka setengah berlari menuruni anak tangga lalu menuju halaman belakang.

__ADS_1


Dan benar saja dugaan mereka jika anak nya tengah bermain air di kolam ikan, di sana juga sudah ada mama elva yang terus membujuk cucu nya untuk keluar dari kolam.


“Rainer aldrich!” zayn menatap tajam kearah putra nya tetapi tentu saja itu tidak mempan terhadap putra nya, justru dia malah tersenyum secerah matahari pagi.


“Papa ikan,” rainer mengangkat ikan yang dia dapat dari kolam dan menunjukan kepada zayn.


Zayn menghela nafas, “Iya papa tau itu ikan, tapi kenapa kamu bermain di sana? Kasihan kan ikan nya jadi mabuk.”


Zayn masuk ke dalam kolam lalu menggendong putra nya dengan hati-hati kemudian mengajak nya pergi ke kamar mandi.


“Sudah biar aku saja yang membersihkan rainer, kamu juga ganti pakaian mu.”


Zayn mengangguk lalu dia bergegas ke kamar nya untuk mengganti pakaian, kanaya menggendong putra nya masuk ke dalam kamar lalu mengeringkan tubuh nya menggunakan handuk.


“Mama,” panggil rainer.


“Ada apa?”


“Mama marah?”


“Tidak,” kanaya mengenakan pakaian pada putra nya, setelah rapi dia mengajak rainer turun ke lantai bawah.


“Rainer kemari lah,” panggil zayn yang tengah duduk di sofa.


Sambil tertunduk dia menghampiri zayn, “Duduklah.”


Rainer duduk di sebelah zayn, “Bukan kah papa sudah bilang ke kamu kalau berenang di kolam ikan itu bahaya apalagi jika tidak ada yang mengawasi?”


“Maaf papa.”


Zayn menghela nafas nya, “Rain janji tidak masuk kolam ikan lagi papa,” ucap nya sambil menunjukan jari kelingking pada zayn.


“Baik papa pegang janji kamu, tetapi bukan berarti kamu tidak papa hukum ya.”


Rainer menunduk, “Karena hari ini kamu masuk ke dalam kolam, berarti papa tidak jadi membelikan kamu sepeda ya.”


Rainer menatap sendu zayn, air mata nya juga sudah berlinang membuat zayn tidak tega jadi dia memalingkan wajah nya kearah lain.


“Ingat ya aku sedang menghukum rainer, jadi tidak ada yang boleh membelikan nya sepeda,” zayn menatap ke arah kanaya dan juga mama nya lalu dia berjalan keluar rumah meninggalkan mereka bertiga begitu saja.


“Oma,” rengek rainer.


“Kamu sih di bilangin sama papa tidak mau dengar.”


“Papa tidak jadi membelikan rain sepeda.”


“Iya nanti biar oma saja yang membelikan ya, sudah jangan menangis,” mama elva menenangkan cucu nya.


“Benar oma?” Tanya nya riang.


“Ma, sudah aku bilang jangan memanjakan rainer terus kan? Karena mama terus membelikan apapun kepada rainer dia menjadi manja dan tidak pernah mau dengar ucapan ku,” ucap zayn yang sudah berdiri di belakang mama elva.


“Kanaya ajak rainer ke kamar, sebentar lagi rekan bisnis ku mau datang jadi jangan sampai dia masuk ke dalam ruangan ku,” kanaya mengangguk lalu mengajak rainer masuk ke dalam kamar.


...°°°°°°...


Di dalam kamar rainer masih saja merasa sedih, “Ma, apa papa tidak sayang dengan rain ya?” tanya nya sendu.


“Papa sayang kok dengan kamu, siapa yang bilang kalau papa tidak sayang?”


“Tapi kenapa papa sering marah sama rain? Padahal kan rain ingin main saja dengan papa.”


Kanaya memeluk putra nya itu menenangkan nya, “Rainer papa itu tidak marah kepada mu, tetapi dia khawatir sama kamu saja sayang.”


“Tapi papa nya kak samuel tidak marah kalau kak samuel nakal?”


“Siapa yang bilang, kak samuel juga di marahi papa nya kalau dia nakal apalagi kalau kak samuel bertengkar dengan kak shopia.”


“Oh begitu, ma memang benar kalau rain tidak jadi di belikan sepeda?”


“Ya tergantung, kalau kamu rajin belajar tidak bermain ke tempat yang dilarang papa sama mama dan oma, bersikap sopan dengan semua orang, mungkin saja papa berubah pikiran dan membelikan kamu sepeda.”


“Rain mau dengar ucapan papa,” kanaya tersenyum lalu memeluk putra nya itu.


Malam nya zayn baru saja masuk ke dalam kamar, dia berjalan mendekat ke arah tempat tidur lalu duduk di pinggir nya, zayn mengusap pelan kepala rainer dan mencium nya.


“Kamu sudah selesai zayn?”


“Ya, apa aku mengganggu tidur mu?”


“Tidak, aku memang ingin bangun.”


“Apa rain marah dengan ku?”


“Lebih baik kamu tanyakan saja besok ke dia, dan kamu juga harus lebih sering-sering meluangkan waktu untuk nya, seperti nya dia ingin sekali bermain dengan mu.”


Zayn mengangguk seraya merebahkan tubuh nya di sebelah rainer lalu mengusap pipi nya, “Nanti aku akan mengatur ulang jadwal ku.”


“Apa hari ini rainer tidur dengan kita?” tanya kanaya.


“Ya, malam ini biarkan dia di sini.”

__ADS_1


...°°°°°°...


Pagi nya rainer terbangun lebih dulu dari pada orang tua nya, dia memperhatikan sekeliling nya dan baru menyadari kalau dia sedang berada di kamar orang tua nya, “Kenapa aku tidur di sini?”


“Kamu sudah bangun?” tanya zayn yang masih mengantuk.


“Papa,” rainer menunduk takut.


Zayn bangun dari tidur nya lalu dia bergegas mengambil sesuatu di dalam laci kemudian memberikan nya kepada rainer, “ Selamat ulang tahun,” zayn mencium kepala rainer.


Rainer mengambil hadiah itu dan langsung membuka nya dengan semangat, akan tetapi sepertinya dia bingung dengan hadiah itu, “Papa ini apa?”


“Helm lalu itu pelindung siku dan lutut.”


“Untuk apa?”


“Ya untuk melindungi tubuh mu saat main sepeda.”


“Tapi.”


“Hadiah mu ada di bawah,” sahut zayn tersenyum.


Rainer bergegas keluar dari kamar di ikuti oleh zayn, “Hati-hati jangan berlari.”


Rainer langsung memperlambat langkah nya, saat tiba di bawah dia melihat sudah ada sepeda roda empat di sana, rainer begitu senang kemudian di berlari untuk memeluk zayn.


“Kamu suka?” rainer mengangguk.


“Maafkan papa ya, karena selama ini tidak ada waktu untuk menemani mu bermain, tapi untuk hari ini papa akan menemani mu.”


“Sungguh? Papa tidak kerja?”


“Tidak, biar om joe saja yang mengerjakan semua nya.”


Mama elva, kanaya dan semua pekerja di rumah itu merayakan ulang tahun rainer dengan sederhana.


Siang ini mereka semua berkumpul di ruang keluarga menemani rainer bermain puzzle baru pemberian mama elva.


“Mama mana hadiah ku?” tanya rainer.


“Memang mama juga harus belikan kamu hadiah ya?”


Rainer mengangguk, “Memang kamu mau hadiah apa dari mama?” rainer nampak berpikir.


“Aku ingin punya adik ma seperti teman sekolah ku, dia selalu di antar adik nya kalau ke sekolah,” pinta nya merengek dengan wajah polos nya.


Zayn yang sedang minum air pun sampai tersedak mendengar permintaan putra nya itu, “Iya, Rain kan sudah lima tahun memang sudah saat nya kalian punya anak lagi, memang nya kalian tidak kasihan lihat rain bermain sendiri?” saran mama elva.


“Jadi rain ingin punya adik?” tanya zayn setelah menguasai rasa terkejut nya.


“Iya papa,” rengek nya.


“Kalau rain mau punya adik berarti rain harus belajar jadi kakak yang baik dulu, agar rain dapat bantu jagain adik rain nanti nya,” ucap kanaya.


“Iya mama, kapan rain punya adik?” rainer nampak bersemangat.


“Sabar ya sayang, kamu main saja dulu ya.”


Rainer mengangguk lalu mengajak oma nya untuk bermain di taman, rainer terus menarik mama elva hingga mau tidak mau mama elva menemani cucu nya bermain walau dia sedang nonton drama kesukaan nya.


Setelah mama elva dan rainer ke taman belakang, zayn menatap ke arah kanaya yang sedang membereskan mainan rainer.


“Apa tidak masalah kalau kita menambah anak?” tanya zayn.


“Ya, aku sih tidak masalah apa lagi rainer sendiri yang meminta nya dan benar kata mama sudah saat nya kita memberikan rainer adik,” sahut kanaya.


“Kalau begitu bukan kah kita harus membuat nya dari sekarang?” zayn tersenyum ke arah kanaya.


Lalu dia mendekati kanaya dan menggigit pelan telinga nya, “Zayn, nanti saja kalau rainer sudah tidur,” kanaya bangun lalu menjauh dari sana.


Tentu saja dia tidak membiarkan kanaya pergi, zayn mempercepat langkah nya kemudian menangkap tubuh kanaya lalu menggendong nya ke kamar.


Zayn merebahkan kanaya di tempat tidur tapi sebelum itu dia mengunci pintu kamar terlebih dahulu baru lah dia melepaskan satu persatu pakaian mereka.


Zayn menatap wajah kanaya begitu dalam kemudian dia mencium kening lalu ke dua mata nya dan selanjut nya dia mencium bibir kanaya begitu dalam.


Zayn melepaskan ciuman nya kemudian dia menjelajahi leher jenjang kanaya turun ke bagian dada dan erangan lolos begitu saja saat zayn memberikan kecupan di sana.


Tetapi saat zayn dan kanaya hendak memulai ritual pembuatan anak kegiatan mereka langsung terhenti saat rainer mengetuk pintu dan terus menerus memanggil kanaya.


“Mamaaa,” panggil rainer.


Gairah yang membara tiba-tiba saja padam seketika, zayn merebahkan tubuh nya di sebelah kanaya dan menutup wajah nya dengan bantal.


“Dia bilang mau adik, tapi dia sendiri yang mengganggu proses pembuatan nya,” gerutu zayn.


Kanaya tertawa sambil memakai pakaian nya kembali, “Sudah sana pakai baju mu.”


“Hmm,” zayn mengambil pakaian nya dan bergegas ke kamar mandi.


Kanaya merapikan rambut nya lalu membuka pintu untuk menemui anak nya, “Mama kenapa kunci pintu?” tanya nya dengan polos.

__ADS_1


“Mama sedang merapikan kamar tadi.”


“Oh, ayo mama kita main bersama,” rainer mengajak kanaya ke halaman belakang untuk menemani nya bermain.


__ADS_2