KANAYA

KANAYA
13. Penolong.


__ADS_3

Nesya mengendarai mobil menuju kediamannya dia hendak mengambil beberapa barang dan keperluan lain untuk pemotretan besok, tetapi baru saja dia tiba dia sudah di kejutkan akan kehadiran laki-laki yang ingin sekali dia hindari.


“Dimana kanaya?” tanya justin dingin seraya melihat ke dalam mobil.


Nesya mengacuhkan justin, “Hey apa kamu tuli? Dimana kanaya?” geram nya tersulut emosi.


“Apa aku harus memberitahukan nya kepada mu? Memang nya kamu siapa nya kanaya sampai-sampai aku wajib menjawab pertanyaan mu?”


“Oh ternyata kamu berani kepada ku?”


“Kenapa aku harus takut kepada laki-laki pecundang seperti mu?”


Justin tidak bisa mengontrol emosi nya, dia mendorong tubuh nesya ke dinding dekat pagar sambil memegang dagu nya dengan satu tangan.


“Sebenarnya aku tidak mau menyakiti mu tetapi kamu malah menantang ku maka dari itu aku tidak akan segan-segan lagi,” justin memperkuat cengkraman tangan nya sehingga nesya terbatuk sebab leher nya tercekik.


Melihat nesya yang mulai lemas justin melepaskan tangan nya sehingga nesya jatuh terduduk di tanah nafasnya tersegal-segal.


“Dimana kanaya?”


“Mau kamu membunuhku sekalipun aku tidak akan memberitahu dimana kanaya.”


Justin menyeringai, “Membunuh seseorang tidak ada di dalam kamus ku, tetapi jika kamu terus menantang ku bisa jadi kamu adalah korban pertama ku,” ancam nya seraya mengeluarkan pisau lipat dari saku celana nya.


Sebenarnya nesya sangat takut kepada justin tetapi dia tidak menunjukan sisi lemah nya sebab jika justin tau kalau dia takut justin akan semakin senang.


“Tapi sepertinya tidak seru jika hanya membunuhmu langsung, bagaimana kalau aku jadikan kamu alat penghasil uang terlebih dahulu?” ujar justin sambil melihat tubuh nesya.


Tubuh nesya bergetar ketakutan membuat justin merasa puas, justin menarik tubuh nesya untuk masuk kedalam mobil.


“Lepaskan aku!” Nesya memberontak tetapi sayang tenaga nya tidak sama dengan justin.


Justin terus menarik tangan nesya, kondisi lingkungan yang sepi sebab perumahan di sini tergolong baru dan belum banyak yang menghuni membuat teriakan nesya tidak terdengar oleh warga yang lain.


“Aku bilang lepaskan aku!” namun justin tetap tidak menghiraukan nya.


“Hey dia bilang lepaskan tangan nya, apa kamu tuli?” ujar seorang laki-laki menghampiri mereka berdua.


“Tidak perlu ikut campur, ini urusan ku dengan nya.”


“Aku perlu ikut campur sebab kamu mengganggu ketenangan ku!” sahut laki-laki itu.


“Lagi pula kenapa kamu sangat kasar kepada kekasih mu? Apa tidak bisa kalian selesaikan baik-baik?”


“Aku bukan kekasih orang aneh ini!” tegas nesya.

__ADS_1


“Kalau begituuu, apa kamu mau di jual oleh laki-laki ini?” tanya nya dengan wajah tak berdosa.


Nesya langsung mengangguk, laki-laki itu langsung mengambil ponsel nya untuk menghubungi polisi tetapi justin langsung merampasnya kemudian membantingnya ke tanah.


Laki-laki itu nampak terkejut, Po-ponsel baru ku! Padahal baru saja aku membeli nya, batin laki-laki itu.


“Kau harus mengganti rugi!” geram nya, tetapi tanpa aba-aba justin langsung meninju wajah laki-laki itu hingga membuat hidung nya berdarah.


“Pecundang!” justin mendorong tubuh nesya untuk masuk ke dalam mobil, saat justin hendak menutup pintu mobil pundak nya di cengkram oleh orang di belakang nya.


“Pecundang seperti mu masih berani dengan ku?” justin membalikan tubuh nya bersiap untuk menghajar laki-laki itu tetapi siapa sangka laki-laki lemah tadi menjadi kuat.


Laki-laki itu menghajar justin habis-habisan hingga membuat justin terhuyung ke sana dan kemari, nesya hanya menutup mulut nya dia begitu terkejut melihat pertarungan di depan nya itu.


Merasa ada kesempatan nesya langsung keluar dari mobil dan bersembunyi di tempat aman seraya memperhatikan mereka dari kejauhan, justin terlihat semakin marah dia mengeluarkan pisau lipat nya hendak menusukan nya ke laki-laki tersebut tetapi dia urungkan sebab terdengar suara sirine yang mendekat ke arah mereka.


“Kamu masih beruntung hari ini tapi tidak untuk lain kali,” justin menduga ada polisi yang lewat jadi dia memilih masuk ke dalam mobil lalu pergi dari sana.


Setelah justin menjauh ternyata sirine mobil yang terdengar tadi bukan lah kendaraan polisi yang berpatroli tetapi suara ambulance yang kebetulan lewat.


Nesya perlahan menghampiri laki-laki yang membantu nya itu, “Apa kamu baik-baik saja?”


“Menurut kamu?”


Nesya dengan telaten membersihkan luka di sudut bibir pemuda itu dia juga mengompres luka lebam nya juga, “Tahan ya mungkin akan terasa sedikit perih,” ujar nesya.


“Ah, pelan-pelan,” pemuda itu meringis.


Setelah mengobati luka laki-laki itu nesya meletakan kembali kotak P3K lalu dia juga menghidangkan secangkir teh untuk nya.


“Kenalkan aku Joevandra panggil saja joe, siapa nama mu?”


“A-aku nesya.”


“Apa kamu baru tinggal di sini? Sepertinya saat itu penghuni nya sepasang suami istri dan satu anak laki-laki, apa kamu kerabat nya?” tanya joe.


“Mereka sudah tidak tinggal di sini, belum lama ini mereka menjual rumah ini dan adik ku membeli nya jadi sekarang ini adalah rumah adik ku.”


“Oh pantas saja.”


“Apa rumah mu di sekitar sini?”


“Tidak, aku hanya kebetulan lewat sehabis dari rumah teman.”


“Begitu ya, oh terima kasih banyak sudah membantuku tadi jika tidak aku pasti sudah di bawa oleh nya.”

__ADS_1


“Tidak masalah, lagi pula pantang untuk ku membiarkan seorang gadis disakiti oleh laki-laki.”


"Dan aku akan mengganti ponsel mu yang di rusak oleh laki-laki itu."


"Tidak perlu, aku ada ponsel lain," tolak joe seraya mengeluarkan ponsel nya yang satu lagi.


Nesya hanya tersenyum, tidak lama mereka berdua saling diam suasana begitu canggung, “Ekhm,” joe berdehem.


“Ah iya maaf ya aku lupa menyediakan minuman untuk mu,” nesya bergegas ke dapur untuk mengambil minuman dan beberapa makanan ringan.


“Tidak perlu repot-repot.”


“Kamu tunggu saja di situ ya,” nesya tidak menghiraukan ucapan joe.


Setelah di lihat-lihat gadis ini cantik juga.


“Silakan dinikmati,” ucap nesya.


“Terima kasih, oh ya jadi kamu tinggal di sini hanya dengan adik mu?”


“Iya.”


Tidak lama ponsel joe berdering, namun setelah dia melihat nama yang tertera di layar dia memasukan ponsel nya ke dalam saku.


“Kenapa tidak di jawab?” tanya nesya.


“Bukan orang penting,” sahut joe, namun ponsel itu lagi-lagi berdering.


Joe mengambil ponsel itu kemudian memblokir orang yang terus menghubunginya itu, “Oh iya apa aku boleh minta nomer mu?” Joe menyodorkan ponsel miliknya.


Nesya mengangguk kemudian dia mengambil ponsel joe lalu mengetik nomer telepon nya di sana.


“Terima kasih, karena sudah malam kalau begitu aku pamit ya.”


“Ah iya hati-hati di jalan, lalu terima kasih banyak atas bantuan mu tadi.”


“Ya,” joe tersenyum kemudian dia berjalan keluar.


Setelah bayangan tubuh joe menghilang nesya menutup pintu rumah itu, nesya bersandar di pintu dia memegang wajah nya yang terasa panas.


“Ada apa dengan ku? Kenapa wajah ku terasa panas tetapi badan ku terasa dingin? Apa jangan-jangan aku masuk angin?”


“Tidak-tidak kalau aku sampai sakit pekerjaan ku dan semua jadwal akan berantakan.”


Nesya bergegas mencari obat lalu meminum nya, sebelum dia masuk ke dalam kamar dia terlebih dahulu mengunci semua pintu.

__ADS_1


__ADS_2