KANAYA

KANAYA
Episode 4


__ADS_3

Ini adalah hari terakhirku di Subang. Besok pagi-pagi sekali aku harus kembali ke Jakarta. Ardy mengirimkan pesan teks padaku pada malam itu. Ia bilang ingin bertemu denganku agar kami saling mengenal satu sama lain. Aku sempat ragu tapi aku pikir tidak ada salahnya juga kalau aku memberi kesempatan pada laki-laki yang ingin mendekatiku. Aku pun menyanggupi dan kami memutuskan untuk bertemu di salah satu resto di kota siang nanti. Aku pun bersiap-siap untuk bertemu dengannya. Awalnya Ardy berniat menjemputku tapi aku menolak dan aku lebih memilih Tony untuk mengantarkanku. Aku bukannya jual mahal tapi aku merasa tidak nyaman dengan lelaki yang baru aku kenal. Tony mengantarkanku sampai di depan resto. Aku menyuruhnya untuk pulang dan tidak perlu menungguku. Aku pun masuk ke dalam resto dan kulihat Ardy sudah berada di sana. Ia mengenakan kemeja berwarna biru dengan celana bahan berwarna gelap. Aku menghampirinya lalu ia tersenyum padaku.


 


 


“Kamu terlambat sepuluh menit.” Ujarnya sambil tersenyum.


 


 


“Oh iya? Maaf kalau begitu.” Ujarku lalu duduk di depannya.


 


 


Aku tidak tahu seperti apa sifatnya tapi yang jelas dia tidak bisa berbasa-basi. Aku memanggil pelayan resto dan memesan minuman dingin. Kulihat Ardy sudah memesan terlebih dahulu saat kulihat secangkir kopi di meja. Aku menunggu pesananku datang ketika Ardy memulai pembicaraan kami.


 


 


“Naya, aku dengar kamu kerja di Jakarta?” tanyanya.


 


 


“Iya, benar. Aku kerja di penerbitan buku. Posisiku sebagai editor.” Jelasku.


 


 


“Oh, begitu.” Ujarnya lalu menyeruput kopinya.


 


 


Aku terdiam. Entah perasaanku saja atau memang Ardy bukan orang yang membuatku merasa nyaman.


 


 


“Berapa jam kerjamu?” ujarnya lagi.


 


 


“Tergantung. Jam kerja memang Cuma delapan jam, tapi kadang aku harus lembur dan melanjutkan pekerjaanku di rumah. Untungnya saja aku boleh bawa kerjaanku ke rumah soalnya kantor kami cukup menyeramkan kalau malam.” Candaku.


 


 


“Oh, begitu. Sebenarnya aku punya kriteria khusus untuk perempuan yang akan aku nikahi.” Ujarnya.


 


 


“Oh, iya?” ujarku.


 


 


“Iya. Seandainya kita menikah, aku mau kamu berhenti bekerja dan cukup berdiam diri di rumah mengurus keperluanku dan anak-anak.” Ujarnya.


 


 


“Kenapa? Tapi aku suka bekerja. Lagi pula pekerjaanku enggak begitu menyita banyak waktu di luar rumah. Kadang aku mengerjakan pekerjaan di rumah tanpa harus datang ke kantor.”


 


 


“Tapi aku enggak suka. Aku juga mau kalau kita menikah kamu harus pindah ikut aku di sini.”


 


 


Aku hanya terdiam mendengarkan ocehannya tentang hal yang tidak boleh dan yang boleh aku lakukan apabila aku menjadi istrinya. Hatiku merasa jengkel mendengarkannya dan herannya lagi kenapa pelayan belum juga mengantarkan minuman pesananku.


 


 


“Ardy, kayaknya kita enggak cocok, deh. Aku enggak bisa hidup dengan semua peraturan yang kamu buat tadi. Terutama soal pekerjaan, aku sangat suka dengan pekerjaan aku sekarang.” Ujarku.


 


 


“Kalau begitu kamu emang enggak cocok jadi istri aku. Kamu itu kayak perempuan pembangkang, enggak nurut sama suami. Belum jadi istri aja kamu udah protes, enggak kebayang aku kalau nanti kamu jadi istri aku.”


 


 


What?


Wajahnya tampak polos tapi kata-katanya tajam. Aku merasa panas dan kesal mendengar ucapannya seolah-olah dia itu sempurna. Aku tidak sanggup mendengarkan ocehannya lagi sehingga aku memutuskan untuk menyudahi pertemuan ini. Aku bangkit dari kursiku dan mengambil tasku.

__ADS_1


 


 


“Mau ke mana kamu?” tanyanya.


 


 


“Ardy, sebaiknya kita jangan ketemu lagi. Aku mau pulang.” Ujarku.


 


 


“Nay, kamu enggak mau pikir-pikir lagi. Aku ini PNS loh. Kamu enggak akan pernah lagi ketemu cowok kayak aku. Udah ganteng, gaji besar, PNS pula. Tapi kamu betul juga, sebaiknya kita enggak ketemu lagi. Aku enggak bisa sama perempuan kayak kamu.”


 


 


“Perempuan kayak aku? Maksud kamu gimana? Eh, denger ya. Aku enggak butuh pangkat kamu, aku enggak peduli seberapa besar gaji kamu. Kalau kamu enggak bisa menghargai perempuan, kamu itu enggak lebih berharga dari pada kutu busuk sekalipun, ngerti?” ujarku.


 


 


Dan kebetulan sekali pelayan datang membawa minumanku. Aku mengambil gelas minumanku dari nampan dan menyiramkannya ke arah Ardy. Dia menatapku seakan tak percaya. Aku pergi meninggalkannya dalam keadaan basah. Aku keluar dari resto dan sekilas terdengar suara makian dari Ardy. Aku tidak habis pikir kenapa seseorang selalu menganggap dirinya paling ‘wah’ ketika mereka menjadi PNS. Aku pikir itu bukan hal yang istimewa.


Aku menghentikan mobil angkutan umum yang mengarah ke rumahku. Ketika aku sampai di sana, rupanya ibu sudah menungguku untuk menceritakan bagaimana pertemuanku dengan Ardy. Aku duduk di samping ibuku yang sedang menonton televisi bersama Tony.


 


 


“Gimana? Kamu cocok sama Ardy?” tanya ibuku antusias.


 


 


Aku menggelengkan kepala.


 


 


“Kenapa?” tanya ibuku.


 


 


“Gimana ya, bu? Aku enggak cocok aja sama dia. Udah, titik.” Ujarku seraya bangkit dari sofa dan menuju kamarku.


 


 


 


 


“Cowok emang begitu. Kalau punya jabatan tinggi serasa dunia itu milik dia. Ih, sebel banget sama cowok kayak gitu.” Komentar Uni yang duduk di kursi kerjanya.


 


 


Aku menceritakan soal pertemuanku dengan Ardy pada Uni setelah dia bersikeras menanyakan alasan aku pulang ke rumah orang tuaku. Uni tampak kesal saat aku menceritakan apa yang diucapkan Ardy padaku sampai-sampai beberapa kali dia memaki-maki.


 


 


“Ibu kamu pengen banget kamu nikah kayaknya, Nay.”


 


 


“Iya, Un. Aku tahu ibu aku pengen banget liat aku nikah tapi ya mau gimana lagi.”


 


 


“Kamu masih belum bisa buka hati kamu? Ayolah, Nay, semangat. Kamu harus move on.”


 


 


“Aku bukannya enggak bisa move on, aku cuma masih agak trauma. Tapi aku berusaha kok buka hati aku untuk lelaki lain.”


 


 


“Harus, dong. Itu baru Kanaya yang aku kenal.”


 


 


Aku hanya tersenyum. Terkadang aku juga ingin menikah tapi kadang luka di hati membuatku ragu-ragu dalam melangkah. Tapi aku selalu berusaha dan mencoba untuk membuka hatiku pada lelaki lain.


Lamunanku pecah ketika suara ponselku berdering. Kulihat nama ibu di layar ponselku. Aku tahu apa yang ia ingin bicarakan saat ini. Aku menarik nafas panjang dan menyiapkan diri untuk mendengar omelan ibu padaku. Aku pergi ke bagian dapur kantor dan mengangkat telepon ibuku. Aku hendak mengatakan kata ‘halo’ tapi ibuku sudah mengomeliku panjang lebar.


 

__ADS_1


 


“Naya, kamu teh kumaha, sih? Kamu kenapa bisa kurang ajar gitu sama si Ardy. Kamu tahu enggak? Ibu-ibu sekampung lagi ngomongin kamu gara-gara sikap kamu!” omel ibuku.


 


 


Sudah kuduga.


Segala sesuatu yang dilakukan ketika di kampung akan menjadi bahan pembicaraan seluruh ibu-ibu. Di kota  ada CCTV yang memantau tapi di desa ada ibu-ibu yang memantau dan menyebarluaskan. Aku diceramahi habis-habisan oleh ibuku soal diriku yang menyiram Ardy dengan minuman dingin. Luar biasa, bukan? Mereka bahkan tahu kalau aku menyiram Ardy dengan minuman dingin tanpa ada satu pun hal yang terlewat.


 


 


“Ya Allah, Nay, kamu bikin ibu malu.” Ujar ibuku.


 


 


“Udahlah, bu. Lagian ibu enggak tahu yang sebenarnya. Biarin aja kalo orang-orang ngomongin Naya.”


 


 


“Terus sekarang kamu gimana? Kamu mau cari lelaki yang gimana, Nay? Ibu tuh pengen liat anak perempuan ibu satu-satunya menikah dan dapet momongan.”


 


 


“Iya, bu. Naya juga pengen tapi mau gimana lagi belum ketemu yang cocok. Lagian ibu niat nyariin jodoh buat Naya tapi enggak bilang-bilang.”


 


 


“Kalau ibu bilang kamu pasti enggak mau. Yakin ibu mah. Nay, ibu kan udah tua dan enggak tahu kapan Allah panggil. Jadi sebelum ibu meninggal, ibu pengen liat kamu nikah terus punya anak.”


 


 


“Ibu apaan sih? Kok ngomongnya begitu?”


 


 


“Umur kan enggak ada yang tahu, Nay.”


 


 


“Iya sama, bu, jodoh juga enggak ada yang tahu datangnya kapan. Naya enggak nolak kalau ibu kenalin Naya ke lelaki manapun, tapi dengan syarat semua keputusan ada di tangan Naya.”


 


 


“Bener, ya? Nanti ibu cari lagi calon suami yang pas buat kamu. Tapi kamu jangan kebanyakan pilih-pilih, nanti jodohmu tambah jauh. Inget, bulan depan kamu itu mau umur 30 tahun.”


 


 


“Iya, ibu.”


 


 


Ibu menutup teleponnya tanpa mengucapkan salam perpisahan. Beberapa hari kemudian, ibu berkali-kali memintaku untuk pulang pada akhir pekan dan memperkenalkan aku pada lelaki pilihannya. Ada yang bekerja sebagai TNI, polisi, wiraswasta, sampai anak pak lurah. Dari semua lelaki yang diperkenalkannya padaku, tak ada satu pun yang membuatku merasa nyaman. Kupikir ibuku akan menyerah tapi ternyata tidak semudah itu. Aku mendapatkan telepon dari ibuku bahwa bibi akan memperkenalkanku pada seorang lelaki. Bibi bilang aku tidak perlu pulang ke kampung karena lelaki itu akan datang ke Jakarta. Bibi sudah memberikan nomor ponselku padanya. Ia bilang padaku untuk menunggu kabar dari lelaki itu. Beberapa hari kemudia setelah percakapanku dengan bibi, ada seseorang yang mengirim pesan padaku. Ia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Namanya Faridh. Usianya tiga tahun lebih tua dariku. Dia bekerja di perusahaan swasta di Bandung. Faridh juga bilang ingin bertemu denganku agar bisa memperkenalkan dirinya langsung. Aku menyanggupinya dan aku bilang padanya aku libur di akhir pekan. Sebelum bertemu, dia sering mengirimiku pesan setelah aku bekerja. Aku rasa Faridh adalah lelaki yang baik dan menyenangkan. Banyak hal yang kami bicarakan meski lewat pesan. Kurasa dia adalah lelaki yang cocok denganku.


Akhir pekan pun tiba dan akhirnya aku dapat bertemu langsung dengannya. Ia memintaku untuk bertemu di restoran yang tak jauh dari rumahku. Dia bilang agar aku tidak terlalu jauh berpergian. Aku sudah menunggunya di dalam restoran selama lima menit tapi aku tidak tahu di mana Faridh. Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya. Uni menakut-nakutiku ketika aku membicarakan soal ini padanya. Dia bilang mungkin saja Faridh memiliki wajah yang jelek. Kupikir tidak masalah dia berwajah jelek atau tampan karena aku merasa Faridh adalah lelaki yang tepat untukku. Aku melirik ke arah ponselku yang kuletakkan di atas meja. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku. Aku menoleh ke belakang dan kulihat seorang lelaki dengan postur tubuh tinggi berdiri menatapku. Kulitnya putih. Wajahnya begitu tampan dengan jenggot tipisnya.


 


 


“Kamu Kanaya?” tanya lelaki itu.


 


 


“Iya.” Ujarku masih menatap wajahnya yang tampan.


 


 


“Assalamualaikum, Naya. Aku Faridh.” Ujarnya dengan suara lembut.


 


 


Aku hanya terdiam sambil tersenyum melihat wajahnya yang tampak teduh. Aku mencubit tanganku sendiri berharap ini tidak mimpi karena lelaki bernama Faridh ini ternyata sangat tampan. Kuharap dia menyukaiku.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2