
Kanaya berlari menembus malam, menjauh dari orang-orang yang terus menyalahkan diamnya. Kanaya tidak menyangka, Rafan kakak terbaiknya malah menyalahkannya. Tanpa bertanya atau mencari alasan dibalik sikap Kanaya. Seandainya bukan Rafan yang meragukannya. Mungkin hati Kanaya tak sesaki ini. Kanaya bisa memahami, jika orang lain tak pernah mengenalnya. Namun Rafan bukan orang lain. Dia kakak kandung Kanaya, darah yang sama mengalir dalam nadi Kanaya. Kekentalan darah yang kini kalah oleh air. Tatkala Rafan lebih memihak Galuh, membenarkan sikap Galuh yang mengacuhkan Kanaya. Meski ada alasan di balik sikap Galuh, apapun itu tak seharusnya Galuh membuat celah diantara Kanaya dan Rafan.
Kanaya mengenal Rafan dengan sangat baik. Dia kakak yang akan melindunginya dengan sepenuh hati. Rafan orang pertama yang akan membela Kanaya. Sama seperti hari ini, Rafan orang pertama yang menegur Kanaya. Bukan karena Rafan marah atau menyalahkan Kanaya. Rafan tidak ingin melihat Kanaya melakukan hal yang salah. Terlebih pada suami yang seharusnya dihargai. Sikap pergi tanpa pamit itu salah. Namun berdiri dekat dengan wanita yang bukan mukhrimnya. Galuh melakukan hal yang sama seperti Kanaya. Kesalahan saat melupakan hubungan pernikahan diantara mereka. Sikap egois yang membuat mereka semakin menjauh satu dengan yang lain.
"Mbak Kanaya, sudah pulang!" Ujar Siti, sesaat setelah membuka pintu. Kanaya mengangguk tanpa bersuara. Kanaya melangkah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Siti yang termenung, ada cemas di wajah Siti. Melihat Kanaya pulang sendirian, tanpa Galuh menemani.
Kecemasan Siti berbanding terbalik dengan sikap santai Kanaya. Langkah lebar Kanaya terus masuk ke dalam rumah megah Galuh. Kanaya terus berjalan, tapi bukan ke arah kamarnya. Kanaya masuk ke dalam dapur, gamis nan indah masih melekat di tubuhnya. Kanaya meletakkan tasnya begitu saja. Siti termenung, menatap Kanaya yang bersikap tak biasa. Kecemasan Siti semakin besar, takut Kanaya melakukan sesuatu yang tidak baik. Siti mengikuti langkah Kanaya masuk ke dapur.
"Bik, dimana pegawai laki-laki?" Ujar Kanaya, Siti menatap heran. Pertanyaan yang tak biasa, seolah ada sesuatu yang tengah mengganjal di hati Kanaya.
"Kenapa diam?" Ujar Kanaya kedua kalinya, membuyarkan lamunan Siti. Seketika Siti mendongak, menatap lekat dua mata indah Kanaya. Siti menggelengkan kepalanya pelan, merasa malu dengan sikap tak pantasnya. Kecemasan yang tak seharusnya diperlihatkan pada Kanaya. Meski Siti sangat menyayangi Kanaya, tapi ingin mengetahui permasalahan majikannya itu salah dan tak pantas. Siti merasa bersalah, telah meragukan ketegaran Kanaya.
"Maaf mbak Kanaya!" Ujar Siti, Kanaya menggelengkan kepalanya pelan.
"Jawab saja, dimana para laki-laki? Termasuk suami bik Siti!" Ujar Kanaya santai dan datar.
"Mereka ada di luar menjaga gerbang. Sedangkan suami saya sedang istirahat di kamar belakang!" Ujar Siti, Kanaya mengangguk pelan. Kanaya tersenyum di balik cadarnya.
__ADS_1
Perlahan Kanaya melepas tali yang mengikat cadar. Kanaya melepas cadar tepat di depan Siti. Setelah meminta Siti mengunci pintu yang mengarah ke arah dapur. Kanaya tidak ingin, seseorang masuk dan melihat Kanaya tanpa cadar. Siti terperangah, dia melihat wajah cantik Kanaya tanpa cadar. Sejenak Siti terdiam, keteduhan mata Kanaya menyimpan kecantikan alami. Pertama kalinya Siti melihat wajah kanaya. Bahkan setelah empat tahun tinggal di bawah atap yang sama. Siti terlihat tak percaya, takjub akan kecantikan Kanaya yang begitu alami dan menenangkan. Alasan Haykal dan Galuh tak mampu berpaling dari Kanaya.
"Mbak Kanaya, cantik!" Ujar Siti dengan wajah yang terkejut. Kanaya tersenyum, Siti semakin takjub. Kanaya menghampiri Siti, memeluk erat ART yang selama ini mendukungnya di rumah ini.
"Kecantikan hanya relatif, tidak perlu dibesar-besarkan. Aku membuka cadar, bukan ingin menunjukkan kecantikanku. Aku hanya ingin menghapus kecemasan di wajah bik Siti. Sekarang, bik Siti bisa melihat dengan jelas. Aku sedang bersedih atau tidak. Aku membiarkan bik Siti menilai sendiri!"
"Mbak Kanaya, maaf jika saya membuat mbka Kanaya tidak nyaman!"
"Bik Siti tidak salah, kasih sayang bik Siti yang membuat bibik peduli pada sakitku. Namun percayalah, aku baik-baik saja. Aku pulang lebih dulu, sebab acara sudah selesai. Lalu, kenapa aku pulang sendirian? Itu karena tuan Galuh masih harus mengantar para tamunya pulang. Meski aku menunggu mereka, aku tidak akan bisa pulang bersama mereka. Tempat dudukku sudah terisi, tidak lagi membutuhkan hadirku!" Tutur Kanaya lirih, Siti menunduk malu. Kebenaran yang ingin diketahui, telah dikatakan oleh Kanaya dengan tegas.
"Maaf!"
"Mbak Kanaya, tidak ada makanan. Nyonya Clara melarang saya memasak malam ini!"
"Kalau begitu, aku akan membuat mie instan!"
"Tapi mbak!" Sahut Siti khawatir.
__ADS_1
Kanaya tak peduli dengan rasa khawatir Siti. Dengan cekatan, Kanaya mulai membuat mie instant kesukaannya. Kanaya membuatnya dengan banyak tambahan. Beberapa cabai merah yang diiris tipis, ditambah beberapa sayur dan timun sebagai pelengkap. Nissa menyiapkan makan malamnya, tanpa siapapun yang menemaninya? Siti setia menemani Kanaya, tapi sekadar ART dan majikannya. Kanaya menyiapkan makan malam spesial, demi menghapus rasa sakitnya. Menyembuhkan luka yang tanpa sengaja tertoreh dihatinya.
Tak berapa lama, lebih tepatnya setengah jam setelah kepulangan Kanaya. Galuh pulang berserta kedua orang tuanya. Awalnya Galuh memaksa pulang sendiri, tapi Adi dan Clara melarang. Mereka cemas akan terjadi sesuatu pada Galuh, bila mengemudikan mobilnya dalam kondisi marah. Mengingat Galuh pulang, sesaat setelah dia dan Rafan berdebat. Apalagi sempat Galuh melihat Kanaya dan Haykal bicara berdua. Alasan Galuh berpura-pura dekat dengan Khanza. Agar Kanaya cemburu, lalu berlari ke arahnya dengan rasa marah. Namun dugaan Galuh salah, bukan menghampirinya. Kanaya memilih pulang dan meninggalkan pest tanpa menyapa Galuh. Sikap keras Kanaya yang membuat Galuh kalut dan akhirnya pulang dengan rasa marah.
"Kanaya!" Sapa Galuh, ketika melihat Kanaya menyantap mie ditemani bik Siti.
"Sudah pulang!" Sahut Kanaya santai, Galuh terdiam membisu. Dingin Kanaya membuat Galuh semakin kalut. Tak ada amarah atau rasa sakit. Kanaya terlihat baik-baik saja, seolah isyarat Kanaya mulai mengiyakan kesalahpahaman yang terjadi.
"Kita harus bicara!"
"Ada apa? Katakan saja!" Sahut Kanaya, lagi dan lagi Kanaya terlihat begitu tenang.
"Kanaya, aku mohon!" Ujar Galuh, Kanaya mengangguk pelan. Kanaya meminta bantuan bik Siti membantunya membersihkan mangkon bekasnya makan. Kanaya mengikuti langkah Galuh menuju kamarnya. Tanpa Kanaya sadari, wajah terlihat begitu jelas. Mengingat, Kanaya telah melepas cadarnya tadi.
"Galuh, ini file yang kamu minta!" Ujar Khanza, seraya memberikan file ke arah Galuh.
"Dia sangat cantik, pantas Galuh tak bisa berpaling darinya!" Batin Khanza, saat melihat wajah Kanaya tanpa Cadar.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu di kamar. Selesaikan urusanmu dengannya. Tunjukkan kamar untuknya, dia tamu spesial rumah ini!" Ujar Kanaya datar