KANAYA

KANAYA
Episode 2


__ADS_3

Mereka semua terdiam dan hanya menatapku, kecuali Erni. Sekilas aku melihat senyuman di wajahnya yang membuatku bertambah muak dengan keadaan ini.


 


 


“Neng, kenapa kamu ngomong gitu? Ada masalah apa?” ujar Ibu Tini.


 


 


“Iya, kamu kan bisa ngomong baik-baik kalo ada masalah. Jangan bikin keputusan kayak ginih. Kalian kan udah lima tahun pacaran.” Timpal ibuku.


 


 


“Bukan aku yang harusnya jelasin masalah ini ke kalian, tapi Rian.” Ujarku.


 


 


Sekarang semua orang mengalihkan pandangannya pada Rian. Dia hanya menundukkan wajahnya. Berkali-kali Ibu Tini menanyakan apa permasalahan kami tapi Rian tak berani mengatakan apa-apa. Erni berdiri dari kursinya. Dia menatapku dan menghampiriku. Tangannya dengan kasar menarik tanganku.


 


 


“Kamu itu mau ngapain? Mau bikin malu aku sama Rian?” bisik Erni.


 


 


Aku menarik tanganku kembali dan menatapnya tajam. Aku tidak habis pikir dia berani memperlakukan seperti ini setelah apa yang diperbuatnya.


 


 


“Aku enggak ada niat mempermalukan kamu, justru aku akan mempermudah jalan kamu. Jadi lebih baik kamu diam, mengerti?” gertakku.


 


 


Dia terdiam. Kulihat dia semakin gelisah. Kurasa dia sangat ingin menghentikan tindakanku tapi dia tak berani melakukannya. Aku pun melanjutkan ucapanku.


 


 


“Rian, bukan aku yang harus jelasin ini semua, tapi kamu. Apa kamu perlu aku yang bilang masalah ini semua?” tanyaku.


 


 


Rian menatapku dengan raut wajah memelas. Seakan-akan dia tidak ingin aku mengungkapkan hal yang sebenarnya. Tapi aku tidak peduli. Apa yang dia lakukan padaku lebih menyakitkan dari pada yang aku lakukan saat ini.


 


 


“Kalian mau tahu kenapa aku ingin pernikahan ini dibatalkan? Karena Erni hamil anak Rian.”


 


 


Terdengar pekikan dari suara para ibu yang duduk di ruang tamu, termasuk ibuku. Ibu Tini seakan tak percaya dengan ucapanku dan berusaha mencari jawaban langsung dari bibir anaknya. Rian tak mampu berkata-kata tapi ia mengangguk lalu menunduk semakin dalam.  Ibu Tini menangis dan meronta-ronta setelah mengetahui kebenarannya. Ia berulang kali memukul-mukul tubuh Rian yang hanya terduduk lemas. Suara tangisan itu pun tak luput keluar dari ibunda Erni yang mengetahui bahwa anaknya telah hamil sebelum menikah.


 


 


“Ya Allah gusti, salah apa ibu sampai-sampai kamu bikin ibumu ini malu, Nak.” Ujar ibu Tini sambil menangis tersedu-sedu.


 


 


Aku merasa kasihan pada kedua orang tua Rian. Aku sangat dekat dengan mereka sehingga aku merasa tak tega melihat mereka yang sangat sedih dan terpukul. Tapi aku sadar bukan saatnya aku mengasihani mereka. Aku seharusnya mengasihani diriku sendiri. Pernikahan yang aku impikan dan aku idam-idamkan selama ini harus kandas di tengah jalan. Rian bangkit dari kursinya dan menghampiriku. Ia menggenggam kedua tanganku sambil menciuminya. Aku langsung menarik kedua tanganku dan menjauh darinya tapi ia terus mendekatiku.


 


 


“Nay, aku minta maaf soal ini. Tapi kita enggak harus batalkan pernikahan yang udah kita tunggu-tunggu. Kita udah pacaran selama lima tahun dan kamu mau membatalkan pernikahan kita?” ujar Rian.

__ADS_1


 


 


“Kamu pikir aku masih mau melanjutkan pernikahan ini? Kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatan kamu sama Erni. Kalian berdua harus bertanggung jawab!” ujarku marah.


 


 


“Iya, iya, aku tahu. Kamu enggak perlu khawatir, aku bakalan tanggung jawab. Tapi kita harus tetap nikah, oke?”


 


 


“Apa?”


 


 


“Nay, aku akan tetap menikahimu. Aku bisa menikahi kamu dan Erni sekaligus. Ide yang bagus bukan?”


 


 


Tanpa pikir panjang, aku pun memukul Rian dengan keras dengan kekuatan yang aku punya. Rian merintih-rintih kesakitan tapi aku tak menghiraukannya. Erni tiba-tiba menghampiri lalu melindungi Rian dengan tubuhnya. Tanpa sengaja aku memukul punggung Erni lalu ia merintih kesakitan. Aku pun menghentikan pukulanku. Kulihat Rian memperhatikan Erni dan menanyakan keadaannya. Rian menatapku seolah-olah tak percaya aku bisa melakukan hal itu padanya dan Erni. Aku pun melototinya lalu ia menunduk ketakutan. Aku tidak habis pikir apa yang ada di otak Rian sampai-sampai dia berniat untuk menikah denganku dan Erni sekaligus.


 


 


“Dengar semuanya, aku rasa pembicaraan ini sudah cukup. Silahkan kalian keluar dari sini.” Ucapku tak peduli.


 


 


Ibu Tini dan suaminya menarik Rian untuk pulang, begitu pula kedua orang tua Erni. Aku yang biasanya selalu ramah pada orang tua Rian, hanya bisa mengalihkan pandanganku tanpa mengucapkan salam perpisahan. Mataku mulai memanas, rasanya air mataku hampir tumpah tapi aku berusaha untuk menahannya. Tony menggenggam tanganku dan menemaniku untuk masuk ke dalam kamarku. Kudengar suara ibu yang menangis sambil memaki-maki dalam bahasa Sunda. Aku tahu hatinya lebih terluka dibanding aku tapi aku tak punya pilihan lain selain melakukan ini. Aku tidak ingin masalah ini lebih runyam lagi. Aku bersyukur Tuhan masih menyayangiku dan memberikanku petunjuk agar aku tak salah memilih jalan. Aku tahu seharusnya aku menjelaskan banyak hal pada ibu dan ayah tapi saat ini aku hanya ingin sendiri di dalam kamarku. Aku menangis lagi di atas tempat tidur, meratapi kesedihanku dan nasibku saat ini. Entah berapa lama aku menangis sehingga aku tertidur karena merasa lelah.


 


 


Cahaya mentari pagi yang menyusup melalui celah-celah tirai kamarku terasa begitu menyilaukan. Aku pun terbangun lalu duduk di atas kasurku. Mataku masih setengah terpejam karena aku masih merasakan kantuk. Aku baru sadar kalau menangis semalaman membuatku merasa lelah dan sakit kepala. Aku berusaha untuk membuka lebar mataku tapi aku tidak bisa melakukannya. Bukan karena aku mengantuk tapi ada yang salah dengan mataku. Aku berusaha berjalan ke arah cermin yang letaknya tak jauh dari kasurku.  Dengan bersusah payah karena mataku yang hampir tertutup rapat, akhirnya aku berhasil berada di depan cermin. Kulihat di cermin wajahku begitu mengerikan. Mataku tampak bengkak dan agak memerah. Dengan spontan, aku pun menjerit melihat keadaan wajahku saat ini. Kudengar suara langkah kaki setengah berlari masuk ke dalam kamarku yang kebetulan tak terkunci.


 


 


 


 


“Ya Allah, Nay. Mata kamu kenapa?” ujar Ibu.


 


 


Kudengar suara Tony cekikikan melihat kondisiku saat ini. Aku meminta Tony untuk berhenti menertawakanku lalu aku menyuruhnya untuk mengambil es batu dan sendok. Ibuku memapahku keluar dari kamar. Dengan pelan, aku pun keluar dari kamar menuju ruang keluarga.  Kudengar suara dentingan es batu dari arah dapur dan kurasa Tony sudah mengambilkan es batu dan sendok yang aku perintahkan. Tony memberikannya pada ibu dan menempelkan es batu itu langsung pada mataku.


 


 


“Aduh, Ibu, sakit.” Rengekku.


 


 


“Hemm... Kenapa nasibmu jadi begini sih, Nay. Salah dan dosa apa ibu sampai-sampai anak ibu jadi mengalami hal semacam ini.” Ujarnya.


 


 


“Udahlah, Bu. Mau gimana lagi.” Ujarku sendu.


 


 


“Ibu enggak habis pikir, kok bisa Rian setega itu sama kamu. Sama Erni pula. Erni itu dikenal anak yang pendiem, baik, nurut, kok iya bisa dihamili sama Rian. Dia itu juga kan temen kamu.”


 


 

__ADS_1


Aku hanya menggeleng tanpa berkata-kata. Ibu terus menempelkan es batu di mataku. Setelah merasa lebih baik, aku bergegas mengambil ponselku dan menghubungi Event Organizer yang menangani soal pernikahanku. Butuh setengah jam aku harus menjelaskan perkara soal pembatalan pernikahan pada EO dan akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku merebahkan diri di sofa ruang tamu dengan ponsel yang masih ada di genggamanku. Kupejamkan mataku sebentar agar kembali pulih dari serangan bengkak. Tiba-tiba kudengar suara ketukan pintu lalu aku pun membuka mata. Aku sangat terkejut tatkala aku membuka mata, Rian sudah duduk bersimpuh di sampingku. Dengan wajah polosnya dia menatapku seakan-akan kejadian semalam tak ada artinya.


 


 


“Ngapain kamu ke sini? Pulang sana!” ujarku tanpa basa-basi.


 


 


“Nay, jangan kasar gitu ke aku. Aku mau ngobrol sama kamu sebentar. Ini soal rencana pernikahan kita. Besok, loh.” Ujarnya santai sambil tersenyum.


 


 


Kurasa dia benar-benar gila. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Kuulangi beberapa kali sampai rasa dongkol di hatiku sedikit mereda.


 


 


“Ngomongin apa lagi? Semua udah aku batalin.” Ujarku.


 


 


“Apa? Kenapa kamu batalin?” ujarnya terkejut.


 


 


“Iya, lah. Kita ‘kan enggak jadi nikah, buat apa juga aku lanjutin? Aku batalkan semuanya!”


 


 


“Sayang, kenapa kamu batalin, sih? Kita masih bisa menikah. Lagi pula aku nggak bisa nikahin Erni sekarang. Aku punya rencana, kita tetap menikah. Nanti kalau Erin sudah melahirkan, anaknya kita besarkan sama-sama. Gimana sayang?”


 


 


“Rian, kamu udah gila, ya?”


 


 


Rian terus saja berceloteh tentang ide-idenya yang gila ketika Erin datang. Wajahnya langsung masam ketika melihatku dengan Rian. Aku mulai muak dengan mereka berdua.


 


 


“Rian! Ngapain kamu ke sini?” ujar Erin marah.


 


 


“Aku lagi ngobrol sama calon istri aku. Kamu ngapain di sini?” tanya Rian balik.


 


 


“Rian, aku calon istri kamu, bukan dia. Sekarang aku lagi hamil anak kamu dan kamu masih aja ngarep-ngarep dia!”


 


 


“Dia calon istri aku, Erin. Kamu yang rusak rencana pernikahan kami.”


 


 


“Kalian berdua bisa diam! Ya Tuhan, aku bisa stroke mendadak gara-gara kalian. Sekarang, pergi kalian dari sini! Cepat!” usirku.


 


 


Rian terus memohon-mohon padaku agar aku tak membatalkan pernikahan sedangkan Erin terus menyalahkan diriku karena Rian. Aku sangat frustrasi dengan kebisingan yang mereka buat sehingga aku mendorong-dorong mereka untuk keluar dari rumah. Sepertinya kegaduhan yang mereka buat terdengar oleh Ayah yang berada di belakang rumah sehingga ia menghampiri kami. Aku tidak pernah melihatnya marah tapi kali ini dia marah besar ketika melihat wajah Rian. Diambilnya sapu yang berada tak jauh dari ruang tamu dan memukul Rian berkali-kali hingga Rian dan Erin keluar dari rumah. Rahangnya mengeras seakan menahan seluruh amarahnya. Aku menarik lengan Ayah dan berkali-kali memintanya untuk menahan diri. Aku tahu sepertinya dia ingin memaki-maki Rian namun tak dilakukannya. Erin pun menarik dan membawa Rian pergi dari rumahku. Ayahku berhenti mengamuk dan menatap tajam pada Rian, memastikan ia tak akan kembali lagi kemari. Ayah menoleh padaku dengan tatapan sendu lalu memelukku. Aku tahu hatinya sama terlukanya sepertiku. Aku pun memeluknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Entah mengapa aku merasa bersalah padanya meski aku sadar kejadian ini bukan sepenuhnya kesalahanku.

__ADS_1


Sore harinya aku meminta Tony untuk mengantarkanku pergi ke kota untuk memesan travel perjalanan kembali ke Jakarta. Aku memutuskan untuk kembali meski masa cutiku belum habis. Kupikir sebaiknya aku menenangkan pikiranku di Jakarta dari pada aku harus berada di satu tempat yang sama dengan “sampah” Rian itu. Ayah dan Ibu setuju dengan keputusanku dan besok harinya aku pun kembali ke Jakarta dengan menggunakan travel. Aku mengirim pesan Whatsapp di grup teman kerjaku tentang pembatalan pernikahanku. Selama perjalanan pulang ponselku tak henti-hentinya berdering. Kurasa itu pesan dari teman-teman yang ingin bertanya soal pernikahanku yang batal. Aku tak mempedulikannya. Aku memutuskan untuk memejamkan mataku selama perjalanan.


__ADS_2