
Lima bulan telah berlalu, hari ini nesya sedang berjalan pagi seperti biasa di taman di temani oleh joe karena kebetulan hari ini dia sedang libur.
Perut nya yang semakin membesar karena bulan ini usia kandungan nya sudah memasuki bulan ke sembilan tentu saja karena itu nesya merasa kesulitan melakukan aktifitas seperti biasa.
Dan juga menurut perkiraan dokter nesya akan melahirkan dalam minggu ini, maka dari itu joe mengambil cuti lebih awal untuk berjaga-jaga andai Nesya melahirkan lebih cepat dari perkiraan.
Saat sedang berjalan ke sana ke mari tiba-tiba saja perut nesya terasa sedikit mulas, “Apa aku salah makan tadi pagi? Tapi apa perasaanku saja atau memang celana ku sedikit basah?” gumam nya.
Nesya menghampiri joe, “Joe kita pulang yuk, sepertinya aku ingin buang air besar.”
Mendengar itu joe mengajak nesya kembali ke mobil, setiba nya di rumah nesya langsung pergi ke kamar mandi tidak lama dia keluar dari sana, Aneh apa aku sembelit?
Nesya mengganti celana nya karena yang dia kenakan tadi sudah basah, “Apa memang seperti ini kalau sudah bulan nya? Aku bahkan tidak tau kalau buang air kecil,” gerutu nya.
Tapi baru saja dia mengganti nya tidak lama celana nya basah kembali, “Joe apa aku bisa minta tolong belikan aku pembalut? Aku tidak tau kenapa aku tidak merasakan ingin buang air kecil tapi tiba-tiba saja celana ku basah.”
“Baiklah tunggu di sini aku akan segera kembali, apa ada yang kamu inginkan lagi?”
“Tidak, itu saja.”
“Oke.”
Setelah joe pergi perut nesya terasa mulas kembali tapi ini terasa lebih sakit dari pada sebelum nya, karena tidak tahan dengan rasa sakitnya nesya pun memilih duduk di lantai sambil mencengkram kuat kaki meja.
Tidak lama terdengar suara pintu terbuka terlihat mami gretta masuk membawa beberapa kantong berisi buah-buahan, “Kebetulan saya lewat sini jadi saya mampir sebentar untuk membelikan kedua cucu saya buah-buahan segar.”
“Kenapa kamu duduk di lantai? Apa kamu tidak bisa duduk di sofa,” marah mami gretta seraya menghampiri nya, tapi betapa terkejutnya dia melihat wajah menantunya yang begitu pucat.
“Astaga, di mana joe?” mami gretta menghubungi joe tapi ternyata dia sudah berada di belakang dengan membawa pembalut pesanan nesya.
“Mami,” panggil joe.
“Kemana saja kamu, cepat bawa istrimu ke rumah sakit!” ucap mami gretta panik.
Joe hanya diam terpaku, “Kenapa diam saja, ketuban istrimu sudah pecah cepat bawa dia ke rumah sakit!”
Mendengar itu joe langsung memapah tubuh nesya, melihat menantunya sudah lemas akhirnya dia segera menghubungi ambulance, tidak butuh waktu lama nesya kini sudah di bawa ke rumah sakit.
Joe duduk di dekat ruang operasi bersama dengan mami gretta, dia begitu khawatir sampai beberapa kali dia terlihat mondar-mandir.
“Lihat, bahkan kalian tidak tau kan kalau dia akan melahirkan lebih cepat dari jadwal operasi, bahkan tanda-tanda nya saja kalian berdua tidak paham bagaimana kalau mami tidak ke sana tepat waktu? Apalagi kamu hanya panik melihat istrimu seperti itu.”
Joe tidak menjawab tapi tidak lama terdengar ponselnya bergetar terus menerus, mami joe langsung mengambil ponsel anak nya itu sebab dari tadi joe mengabaikan nya.
“Lihat bagaimana pun perasaan seorang ibu begitu kuat,” ucap mami joe saat melihat nama mertua anak nya yang menelepon.
“Halo selamat pagi,” jawab mami gretta.
Mami gretta menjelaskan apa yang terjadi hari ini ke ibu hanum, “Ibu tidak perlu khawatir dan do’akan saja dari sana, nanti akan saya berikan kabar lagi.”
Mami gretta mengembalikan ponsel itu ke joe dan terus menenangkan putra nya.
...°°°°°°...
Berjam-jam telah berlalu nesya pun sudah di letakan di ruang perawatan, joe mengecup kening nesya terlihat laki-laki itu menangis sambil tersenyum.
“Kamu tau, mereka berdua begitu cantik dan tampan terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa nesya,” joe menunduk seraya menggenggam tangan istri nya.
“Di mana mami?”
“Setelah melihat anak kita, mami kembali ke rumah dia bilang besok dia akan ke sini lagi.”
Nesya mengangguk, hari-hari dia lalui di rumah sakit dari belajar berbalik, duduk sampai berjalan hingga akhirnya dia di perbolehkan kembali ke apartemen.
Saat mengetahui jika cucu nya sudah ada di apartemen, mami gretta datang bersama supir nya sambil membawakan sebuah stroller khusus untuk bayi kembar mereka, walaupun mami gretta belum begitu akur dengan nesya tetapi dia begitu menyayangi kedua cucu nya.
Bahkan semua perabotan untuk bayi nya semua mami gretta yang membelikan, setelah puas bermain dengan cucu nya mami gretta berpamitan untuk pulang.
Tidak lama setelah mami nya pergi kanaya dan zayn tiba di sana, “Selamat ya kak atas kelahiran putra dan putri nya.”
“Terima kasih sayang,” sahut nesya.
“Selamat ya joe,” zayn menjabat tangan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Nama nya siapa kak?” tanya kanaya.
“Samuel jovandra dan shopia auristella jovandra.”
“Kenapa hanya shopia saja yang pakai nama belakang kakak? Kenapa samuel tidak?”
“Itu permintaan dari papa nya.”
“Oh begitu.”
“Semoga kalian cepat menyusul.”
Kanaya tersenyum sambil menatap kedua bayi yang sedang tertidur pulas itu, “Apa ibu kakak sudah datang?” tanya nesya.
“Belum, tapi kita sudah melakukan video call.”
“Oh begitu.”
“Oh ya sebenarnya aku juga mau pindah dari sini, beberapa hari yang lalu joe membeli rumah tidak jauh dari sini dan sekarang sedang di renovasi untuk kamar mereka.”
“Syukurlah, aku turut senang mendengarnya.”
“Bagaimana kabar mertua mu?”
“Mama baik, apalagi sekarang dia sedang sibuk dengan bisnis nya jadi dia jarang ada di rumah sekarang.”
“Bagus dong, dia jadi semakin aktif.”
“Kita pulang yuk, nesya juga pasti masih harus banyak istirahat,” ajak zayn.
“Ya sudah aku pulang dulu ya kak, dah samuel dah shopia,” pamit kanaya.
“Dadah tante,” sahut nesya.
...°°°°°°...
Setibanya di rumah kanaya langsung masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuh nya di kasur, entah kenapa akhir-akhir ini tubuh nya terasa mudah lelah mungkin karena dia sudah tidak bekerja dan selalu menghabiskan waktu dengan menonton drama saja.
“Entahlah aku merasa tidak bertenaga.”
“Ya sudah kamu istirahat saja, aku kembali ke kantor dulu ya kalau kamu butuh sesuatu bilang saja ke bi lena,” zayn mengecup kening kanaya sebelum pergi.
Selepas zayn pergi kanaya merasa sedikit mual, “Sepertinya asam lambungku naik lagi,” gumam kanaya.
Kanaya merebahkan tubuh nya, “Kenapa tiap kali aku mencium bau masakan aku langsung merasa mual?”
“Perut ku juga terasa tidak enak, Tunggu sepertinya bulan kemarin aku belum datang bulan,” kanaya mengambil ponselnya untuk memeriksa kalender.
Setelah memastikan sesuatu kanaya langsung menghubungi zayn, tidak menunggu lama sampai dia menjawab telepon nya, “Halo zayn, apa aku boleh keluar sebentar?”
“Mau kemana?”
“Aku mau ke apotik sebentar.”
“Ke apotik? Apa kamu sakit? Aku pulang sekarang ya kita ke rumah sakit.”
“Tidak aku baik-baik saja, aku ingin membeli vitamin saja boleh ya?”
“Sungguh kamu tidak sakit?”
“Tidak zayn, jadi boleh ya aku ke apotik?”
“Kamu minta tolong pak rudi saja untuk membelikan kamu vitamin itu.”
“Tidak zayn biar aku saja yang beli.”
“Ya sudah, tapi kamu harus di antar oleh pak rudi.”
“Tapi zayn.”
“Jangan membantahku, kalau tidak mau pergi dengan pak rudi biar aku saja yang membelikan nya sepulang kerja nanti.”
“Baiklah-baiklah aku pergi dengan pak rudi,” pasrah nya.
__ADS_1
“Bagus.”
Kanaya mengakhiri pembicaraan mereka dengan kesal, kanaya berjalan keluar untuk mencari pak rudi tapi ternyata supir pribadi zayn sudah siap beserta dengan mobil nya.
“Mari nona saya antar kan.” Ujar pak rudi dengan ramah.
“Zayn sudah menghubungi bapak tadi ya?”
“Iya nona,” pak rudi melajukan mobil nya ke apotik yang berada tidak jauh dari kediaman nya.
“Padahal jarak apotik nya tidak jauh dari rumah,” gerutu kanaya.
“Iya nona, tapi tuan meminta saya untuk mengajak nona berkeliling juga supaya tidak bosan.”
Setibanya di apotik kanaya bergegas masuk ke dalam apotik, dia membeli beberapa alat tes kehamilan bermacam merk, setelah membayar nya kanaya kembali ke mobil.
Pak rudi menjalankan mobil nya berkeliling, saat menatap ke luar jendela kanaya melihat seorang pedagang rujak buah jadi dia meminta pak rudi untuk membelikan nya.
Entah sudah berapa kali mobil yang di kendarai pak rudi berhenti sebab kanaya selalu ingin membeli banyak makanan yang dia lihat, walaupun pak rudi sempat melarang nya karena dia tau betul kalau zayn sangat tidak suka dengan makanan pinggir jalan tapi pak rudi tidak dapat menolak tiap kali kanaya memasang wajah melas nya.
“Nona saya takut tuan akan marah,” ucap pak rudi.
“Tidak apa-apa pak, andai dia marah kepada bapak biar aku yang memarahinya balik.”
“Tapi nona.”
“Bapak tenang saja, tidak akan apa-apa,” kanaya meyakinkan pak rudi.
Cukup lama mereka berkeliling akhirnya mereka sampai juga di rumah, kanaya bergegas ke kamar setelah memberikan semua bungkusan berisikan makanan ke bi lena kecuali rujak buah dan juga alat tes kehamilan nya.
Kanaya begitu menikmati rujak buah itu dengan lahap sampai bersih tidak tersisa, setelah itu dia menyimpan alat tes kehamilan itu ke dalam laci.
...°°°°°°...
Malam nya zayn baru saja kembali dari kantor dengan sangat lelah, zayn berjalan menuju kamar nya dan saat dia membuka pintu dia melihat istrinya tengah menonton drama sampai tidak sadar kalau zayn sudah duduk di sebelah nya.
“Serius sekali sampai aku pulang di abaikan oleh mu,” bisik zayn.
Nampak kanaya terkejut mendengar suara zayn, “Astaga kamu membuatku terkejut.”
Zayn terkekeh, “Sedang menonton apa sih?” tanya nya lagi.
“Ini drama yang biasa aku lihat, lagi seru-seru nya.”
“Hhmm, oh ya mana vitamin yang kamu beli?” Tanya zayn.
“Vitamin yang aku mau tidak ada di apotik itu,” sahut kanaya.
“Masa sih? biasa apotik itu sangat lengkap, lalu aku dengar dari pak rudi kamu tadi membeli banyak makanan hari ini?” Tanya zayn lagi.
“Iya, lalu aku berikan ke bi lena dan art yang lain.”
“Oh, aku kira kamu yang memakannya semua,” ujar zayn.
“Tidak, mana muat perut ku memakan itu semua sendiri,” kanaya menyandarkan tubuh nya ke zayn.
Awalnya memang hanya bersandar tapi lama kelamaan kanaya berpindah kepangkuan zayn untuk menciumi leher zayn, entah kenapa dia sangat menyukai bau keringat zayn akhir-akhir ini.
Zayn menghela nafas, “Jangan menggodaku lagi ya kanaya, memang kamu mau tanggung jawab?” tanya zayn tapi kanaya masih saja bermain di leher zayn.
“Aku mau mandi dulu.”
“Jangan, nanti bau keringat mu hilang,” kanaya melarang nya.
“Sayang aku sangat gerah.”
“Sebentar lagi zayn, aku masih mau mencium mu,” rengek kanaya.
“Baiklah, lakukan sesuka mu kanaya,” sahut zayn parah.
Sebenarnya akhir-akhir ini zayn begitu bingung dengan tingkah kanaya yang semakin manja kepadanya, bahkan istrinya itu akan bersikap seperti ini setiap kali zayn pulang dari kantor atau sehabis berolahraga.
Bahkan saat itu kanaya pernah menghubunginya sambil menangis meminta dia untuk segera pulang, dengan panik zayn bergegas kembali tapi setibanya di rumah kanaya hanya ingin bergelayut manja sambil mencium nya seperti ini dan setelah puas dia langsung mengusirnya, padahal karena telepon itu zayn sampai menunda rapat yang begitu penting dengan client.
__ADS_1