KANAYA

KANAYA
62. Akhir bahagia.


__ADS_3

Rainer duduk menunduk dengan wajah sembab sehabis menangis karena tiba-tiba saja keluarga mama elva ada yang masuk rumah sakit jadi mama elva harus pergi untuk menengok nya.


“Sayang, oma kan hanya sebentar saja keluar kota nya.”


“Tapi kan oma sudah janji sama rain untuk bermain di taman nanti sore,” rainer terus saja merengek.


“Iya tapi kan waktu itu oma tidak tau kalau saudara nya ada yang sakit dan di bawa ke rumah sakit, kalau oma tidak datang kan kasihan saudara nya sendirian.”


Tapi rainer tetap saja menangis, “Sayang, coba deh rainer bayangin kalau rainer sakit tapi mama, papa dan oma tidak ada di dekat rainer, kira-kira kamu sedih tidak?”


“Sedih,” sahut nya sambil mengusap air mata.


“Maka dari itu kamu harus mengerti ya, jangan menangis seperti ini nanti oma khawatir,” kanaya memeluk rainer sambil menepuk punggung nya pelan.


“Apa kamu masih sedih?” rainer mengangguk.


“Bagaimana kalau nanti sore kita ke taman berdua sama mama?” rainer mengangguk lagi.


Tidak lama terdengar suara dering ponsel, kanaya melihat siapa yang menghubungi nya lalu dia menggeser tombol hijau pada layar nya.


“Halo zayn.”


“Apa rainer masih menangis?” tanya zayn.


“Baru saja diam, tapi masih terdengar rengekan nya sedikit.”


“Oh begitu, bagaimana kalau kamu ajak saja dia ke kantor ku? Kebetulan hari ini pekerjaan ku juga tidak terlalu banyak.”


“Baik lah, kalau begitu aku dan rainer bersiap dulu ya.”


“Mama, rain ingin telepon papa,” rainer begitu bersemangat.


Kanaya memberikan ponsel kepada putra nya, entah apa yang mereka bicarakan hingga raut wajah rainer berubah menjadi ceria seperti itu, setelah bertelepon ria dengan papa nya rainer mengembalikan telepon nya kepada kanaya.


“Kalian mengobrol apa?” tanya kanaya.


“Papa bilang jangan beritahu mama karena kata papa ini adalah rahasia.”


“Hmm, ya sudah kamu mandi dulu, habis itu baru kita ke kantor nya papa.”


Kanaya mengajak rainer ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya, setelah mereka berdua siap mereka bergegas ke kantor zayn dengan di antar oleh pak rudi.


Sesampainya di kantor kanaya menggandeng tangan rainer lalu mengajak dia ke ruangan zayn, setibanya di ruangan zayn rainer begitu tidak sabar hingga dia masuk ke dalam ruangan itu langsung tanpa mengetuk nya.


“Rainer, kenapa kamu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu nya dulu?” tanya zayn.


“Maaf zayn, aku tidak memegang tangan rainer dengan benar tadi.”

__ADS_1


“Papa maafin rain ya, papa jangan marah mama,” rainer menunduk.


Zayn menatap ke arah rainer dan tersenyum, “Baiklah, kamu duduk manis di sofa ya, setelah papa menyelesaikan pekerjaan papa baru kita berangkat, ingat jangan membuat keributan,” ucap zayn di jawab anggukan oleh rainer.


...°°°°°°°...


Tok... Tok...


“Masuk!” Sahut zayn.


Joe membuka pintu dan masuk ke dalam sambil membawa beberapa berkas, “Om joe,” panggil rainer.


“Oh hay rainer, sedang apa?”


“Aku sedang mewarnai, ayo om kita main sama-sama.”


“Rainer, om joe sedang bekerja nanti saja main nya ya,” ujar joe.


“Jadi lu ke sini mau ngobrol sama rainer joe?” tanya zayn.


“Eh sorry, ini ada beberapa berkas yang harus lu tanda tangani,” joe memberikan berkas yang dia pegang.


Rainer memperhatikan zayn yang tengah bekerja dengan begitu kagum, “Ma,” bisik rainer.


“Iya,” jawab kanaya ikut berbisik.


“Jika aku besar aku ingin seperti papa saja ma,” ucap nya.


“Dan minum susu lalu tidak boleh pilih-pilih makanan juga ya?” tanya rainer.


“Iya sayang,” kanaya mengusap lembut kepala putra nya sedangkan rainer melanjutkan menggambarnya lagi.


Tidak terasa waktu kerja sudah selesai, zayn merapikan meja nya dan melihat kalau istri dan anak nya masih tertidur pulas di sofa.


Zayn pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya lalu dia mengganti pakaian nya dengan kaos dan juga celana jeans yang sudah dia siap kan tadi.


Dia menepuk pelan tangan kanaya untuk membangun kan nya, “Kamu sudah mandi?”


“Iya, ayo kita pergi sekarang,” ajak zayn.


Dia membangunkan putra nya sedangkan kanaya masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan merapikan makeup nya.


Zayn menggendong rainer yang masih mengantuk keluar dari ruangan itu, kemudian mereka berjalan ke tempat parkir dan naik ke dalam mobil.


Rainer yang sudah terbangun pun tak henti bercerita kepada zayn yang hanya diam mendengarkan sesekali dia menanggapi celotehan putra nya.


...°°°°°°...

__ADS_1


Setibanya di taman rainer langsung menarik tangan zayn dan berlari ke sekumpulan anak-anak yang sedang bermain hingga membuat zayn kewalahan.


Zayn mendekati kanaya yang tengah memperhatikan putra nya itu kemudian duduk di sebelah nya, “Pantas saja mama selalu mengeluh dengan ku tiap kali mengajak rainer bermain,” keluh zayn.


Kanaya tersenyum, “Apa kamu tidak mau memperkejakan baby sitter seperti kak nesya saja?” tanya zayn.


“Tidak, lagi pula kak nesya kan anak nya kembar dan dia juga tidak memperkerjakan asisten rumah tangga hanya pengasuh saja jadi wajar, sedangkan aku pekerjaan rumah semua sudah di kerjaan jadi aku punya banyak waktu untuk menjaga rainer.”


Rainer berlari ke arah mereka dengan tubuh yang berkeringat, “Mama minum,” pinta nya dengan nafas terengah-engah.


Kanaya memberikan botol minum nya lalu rainer duduk di sebelah nya dan meminum air nya hingga habis, “Ma tadi rain bertemu dengan adik cantik.”


“Memang kamu tau orang catik seperti apa,” zayn mencubit pelan hidung rainer.


Terlihat dari jauh ada seorang gadis kecil berjalan ke arah mereka, “Kakak, ini pistol mainan nya tertinggal,” gadis itu memberikan mainan itu.


“Ah iya aku lupa, terima kasih,” rainer mengambil pistol mainan itu.


Tidak lama seorang laki-laki mendekat ke arah mereka, “Juliya papa sudah bilang jangan berlari, bagaimana jika kamu hilang?”


“Maaf papa.”


“Andrew?” panggil zayn.


Mendengar nama nya di panggil andrew nampak terkejut, “Oh hay, bagaimana kabar mu?”


“Baik, apa dia putri mu.”


“Ya dia putri ku juliya, pantas saja aku seperti mengenal wajah nya ternyata dia anak kalian.”


“Bagaimana kalau kita mengobrol di sana, biar aku yang traktir,” ajak zayn.


Andrew mengangguk, mereka berlima duduk di kedai dan memesan makanan, “Kamu tinggal di mana sekarang?” Tanya kanaya.


“Selama liburan sekolah aku tinggal di rumah mertua ku, tapi nanti jika sudah masuk sekolah aku dan juliya akan kembali ke negara ku.”


“Oh, lalu di mana istri mu?” tanya kanaya lagi.


“Istriku sudah meninggal dua tahun yang lalu akibat kanker otak yang dia derita,” andrew tersenyum sendu.


“Oh maaf andrew aku tidak tau,” kanaya merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa.”


“Sebelum kamu kembali mampir lah dulu ke rumah ku dan juga joe, dia pasti ingin bertemu dengan mu karena kamu hilang begitu saja,” ujar zayn.


“Baiklah,” andrew oun tersenyum.

__ADS_1


Mereka melanjutkan pembicaraan sambil menjaga anak-anak mereka, mungkin dulu pertemuan mereka kurang mengenakan tetapi kini masalah itu sudah menjadi masa lalu yang tidak perlu di bahas lagi, dan sekarang mereka sudah menemukan kebahagiaan nya masing-masing.


Tamat.


__ADS_2