
Di kediaman aldrich, setelah nesya meninggalkan kanaya di rumah ini dia duduk melamun di pinggiran tempat tidur hingga ketukan pintu membuatnya tersadar.
Tok.. Tok..
Kanaya bangun dari duduk nya untuk membuka pintu, “Hai kanaya,” sapa mama elva.
“Halo tante, silakan masuk.”
Mama elva masuk ke dalam kamar, setelah menutup pintu kanaya menyusul mama elva yang sudah duduk manis di pinggir tempat tidur.
“Kamu kenapa? Apa tempat tidurnya kurang nyaman atau pendingin ruangan nya kurang dingin?”
“Tidak tante, tempat tidur dan juga pendingin udara nya sudah sangat pas tetapi kanaya jadi merasa tidak enak kepada tante sebab kita kan baru saja mengenal tetapi aku sudah merepotkan tante seperti ini.”
“Bukankah sudah tante bilang kalau kamu itu tidak merepotkan siapa-siapa, justru tante merasa senang karena kamu mau tinggal di sini jadi tante ada teman untuk mengobrol, sebab anak tante juga terlalu sibuk dengan pekerjaan nya tidak pernah ada waktu untuk tante.”
“Sekali lagi terima kasih banyak ya tante.”
“Tidak perlu sungkan, oh ya apa tante boleh bertanya sesuatu?” tanya mama elva.
“Iya tante silakan.”
“Kenapa tadi kamu panggil anak tante juliyant?”
“Bukankah anak tante bernama juliyant? Sebab saat aku ingin mencuci jas nya yang kotor sebab tersiram minuman olehku, aku melihat ada secarik kartu atas nama juliyant joevandra di dalam saku nya.”
“Ooh pantas saja,” mama elva terkekeh.
“Nama anak tante itu zayn aldrich, sedangkan juliyant joevandra itu nama sekretarisnya dan juga sahabat zayn sejak SMA,” jelas tante elva.
“Oh apa laki-laki yang bernama juliyant itu selalu berada di samping zayn? Sebab saat aku bertemu anak tante dia selalu ada di sana.”
“Memang kapan kamu melihat juliyant?”
“Saat pertama kali kanaya bertemu anak tante.”
“Iya itu pasti joe.”
“Joe?”
“Iya juliyant jovandra itu nama panggilan nya joe.”
“Begitu ya, maaf ya tante aku salah panggil tadi.”
“Tidak apa-apa kalau begitu kita makan malam yuk, zayn pasti sudah menunggu dari tadi,” mama elva menarik tangan kanaya menuju meja makan dan benar saja zayn sudah duduk manis dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan.
...°°°°°°°...
Mereka bertiga duduk diam seraya menikmati makan malam, suara denting sendok yang beradu terdengar di tengah keheningan.
“Kenapa kamu makan hanya sedikit? makan lah lebih banyak,” mama elva hendak menuangkan lagi nasi ke dalam piring kanaya namun gadis itu menolak dengan lembut.
“Tidak tante terima kasih, porsi makan ku memang hanya segini jika lebih aku akan kekenyangan.”
Zayn menatap dingin ke arah kanaya seraya menyuapkan nasi ke dalam mulut nya, tidak lama zayn bangun terlebih dahulu dari duduk nya kemudian pergi ke dapur untuk mencuci piring kotornya setelah itu dia memilih masuk ke dalam kamar nya.
__ADS_1
Kanaya menatap canggung punggung laki-laki yang menjauh dari meja makan, “Tidak perlu dipikirkan, zayn memang seperti itu anak nya.”
“Iya tante.”
Pagi hari nya selepas sarapan kanaya membantu art nya mencuci piring karena dia merasa tidak enak tinggal disini tanpa melakukan apa-apa, setelah selesai kanaya masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuh nya kemudian dia bersiap untuk pergi bekerja.
“Loh kamu sudah rapi?” tanya mama elva.
“Iya tante, hari ini aku ada pemotretan salah satu brand pakaian,” sahut kanaya.
“Bagaimana kalau sekalian zayn mengantar mu?” saran mama elva saat melihat zayn hendak berangkat kerja.
“Zayn sudah telat ma,” jawab zayn datar.
“Ti-tidak perlu tante sebentar lagi kak nesya datang menjemput ku,” tolak kanaya.
“Oh begitu,” tidak lama nesya datang setelah berpamitan mereka berdua pergi meninggalkan kediaman mama elva.
Di dalam mobil kanaya merasa begitu gelisah, “Kak bagaimana?”
“Kamu tidak perlu cemas.”
“Aku hanya sedikit takut kak,” kanaya menunduk.
Nesya tersenyum agar kanaya sedikit tenang, sebenarnya nesya juga takut karena bertemu justin kemarin, untung saja joe datang tepat waktu kalau tidak entah bagaimana nasib nya sekarang.
“Kak,” panggil nesya.
“Kak, kakak kenapa melamun? Kita lagi di jalan loh,” ucap kanaya.
“Apa yang kakak sedang pikirkan?”
“Sebenarnya kemarin sepulang dari rumah tante elva, aku bertemu justin di rumah.”
“Lalu?”
“Dia bertanya di mana kamu tinggal sekarang, tapi aku tidak memberitahunya jadi dia langsung pergi,” jelas nya.
“Apa dia menyakiti kakak?” tanya kanaya khawatir.
“Tidak, dia tidak menyakitiku, kamu tenang saja ya,” jawab nesya berbohong sebab dia tidak ingin kanaya cemas.
“Benarkah?” tanya kanaya tidak percaya.
“Iya benar, jadi kamu tidak perlu memikirkan masalah justin fokus saja dengan pekerjaan mu.”
“Iya kak.”
Kanaya memalingkan wajahnya melihat keluar jendela, Setelah sekian lama sejak aku memutuskan kontrak dengan kak justin kenapa dia baru mengusik ku sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja? Belum lagi masalah yang lain berdatangan.
Kanaya menghembuskan nafas kasar, “Jangan terlalu dipikirkan, semua pasti baik-baik saja,” nesya menenangkan kanaya.
Setibanya di studio kanaya bergegas masuk ke dalam dan memulai pekerjaan nya, tapi di karenakan pikiran kanaya yang sedang kacau dia sampai tidak fokus bekerja, bahkan sudah beberapa kali david menegurnya lalu meminta nya istirahat saja.
Kanaya merutuki dirinya sendiri seraya duduk di sofa, baru saja dia duduk rekan nya datang menghampiri, “Kalau sudah tidak niat bekerja lebih baik kamu berhenti saja,” ujar sheyna dengan sinis.
__ADS_1
“Sebelumnya aku minta maaf ya nona sheyna, tetapi alangkah baiknya dari pada kamu mengurus masalah ku lebih baik kamu urus saja lemak di perut mu itu, apa kamu tidak sadar kalau sekarang perutmu sedikit membuncit?”
Mendengar itu sheyna langsung pergi sambil menutupi perut nya, walaupun tidak begitu jelas kanaya tau jika sheyna sedang memaki nya saat ini.
Kanaya terkekeh tetapi tidak lama kepalanya terasa sakit, kanaya memukul pelan kepalanya itu sampai seseorang menggenggam tangan kanaya menghentikannya.
“Jika di pukul akan bertambah sakit nanti, kalau terasa sangat sakit sekali lebih baik minum obat atau pergi ke dokter.”
“Loh kak david bukan nya sedang mengambil gambar di dalam, kenapa ada di sini?” tanya kanaya.
“Sekarang sudah jam dua belas, sudah waktu nya makan siang kan?”
Kanaya melihat ponsel nya lalu tersenyum, “Iya ya kak tidak terasa sudah jam dua belas saja, lalu kenapa kakak tidak makan siang?”
“Aku mau ke restoran yang berada di seberang sana, kamu mau ikut?”
“Tidak kak terima kasih sudah mengajakku, tapi aku ingin di sini saja beristirahat sebab aku merasa kurang enak badan,” tolak kanaya.
“Baiklah, tapi jika memang sakit lebih baik kamu pulang saja.”
“Iya kak,” sahut Kanaya tersenyum ramah.
Setelah david dan rekan lain nya keluar dari studio, kanaya memilih merebahkan tubuh nya untuk beristirahat sejenak siapa tau sakit kepala nya akan membaik.
Namun lagi-lagi dia terganggu akan kehadiran seorang wanita yang datang untuk menemuinya, andai dia tau wanita ini akan datang mungkin dia memilih untuk ikut david ke restoran sebab di malas sekali berurusan dengan nya.
“Mau apa kamu kesini?” tanya kanaya kesal.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu, tapi tidak di sini bagaimana kalau kita pergi ke kafe atau restoran sekalian makan siang? “ ajak bianca.
Nama wanita ini adalah bianca dia itu istri frans dan juga adik nya justin, “Kalau ada yang mau dibicarakan, katakan saja disini tidak perlu mengajakku ke tempat lain,” sahut kanaya.
“Baiklah,” Bianca duduk di sofa sebelah kanaya.
“Aku tau kamu pasti membenciku sebab aku adik dari laki-laki bernama justin itu dan juga karena aku kamu dan frans berpisah.”
“Katakan saja langsung ke intinya jangan membuang waktu ku!”
“Sebenarnya aku ingin kamu tau kalau kakak ku itu sangat mencintai mu, apa tidak bisa kah kamu memberikan nya kesempatan?”
“Kakak mu mencintaiku? Itu tidak mungkin, kakak mu hanya terobsesi dengan ku sebab dia belum dapat meluluhkan ku."
“Tidak kanaya, aku sangat tau bagaimana kakak dari mata nya terlihat sekali kalau dia sangat mencintaimu.”
“Kalau dia mencintaiku dia tidak akan pernah mencelakai orang yang aku sayangi, apa kamu tau bianca dia telah melukai seseorang yang sangat berharga dalam hidupku, apa itu yang kamu bilang cinta? tau apa kamu?” sahut kanaya tersulut emosi.
“Tapi kanaya.”
“Sudah cukup bianca kamu dan kakak mu sama saja, jika tidak ada lagi yang mau kamu sampaikan lebih baik kamu pergi dari sini, sebab sebentar lagi akan ada yang datang.”
“Baiklah,” bianca bangun dari duduknya, tetapi sebelum dia pergi bianca mengatakan sesuatu.
“Lebih baik kamu pergi jauh yang tidak ada seorang pun tau kamu ada di mana untuk sementara waktu, karena aku yakin dalam waktu dekat ini dia pasti akan datang lagi,” setelah mengatakan itu bianca langsung pergi.
“Aku pun tau jika laki-laki itu tidak akan melepaskan ku begitu saja dan cepat atau lambat aku pasti akan bertemu dengan nya lagi, walaupun aku pergi jauh sekali pun dia pasti dapat menemukan ku,” gumam nya.
__ADS_1