KANAYA

KANAYA
Episode 5


__ADS_3

Faridh adalah laki-laki yang baik. Dia pandai berbicara dan sangat sopan terhadap wanita. Dari yang aku tangkap ketika berbicara dengannya, ia termasuk orang yang taat pada agamanya. Aku cukup beruntung bertemu dengannya. Lagi pula kami obrolan kami cukup nyambung dan aku nyaman bersamanya.


 


 


“Aku dengar kamu bekerja di kota ini. Kamu kerja di mana?” Tanyanya.


 


 


“Aku kerja di perusahaan penerbitan buku. Bukan perusahaan besar tapi lumayan gajinya.” Candaku.


 


 


Kami berdua tertawa.


 


 


“Kelihatannya kamu perempuan mandiri.” Puji Faridh.


 


 


“Makasih. Ngomong-ngomong, kamu dapet nomer aku dari siapa?” tanyaku.


 


 


“Ibuku yang kasih. Beliau bilang dapet dari bibi kamu.”


 


 


“Kamu kerja di mana, Faridh?”


 


 


“Di Bandung. Aku bekerja di perusahaan kecil. Eh, Nay, aku permisi ke toilet sebentar, ya.”


 


 


Faridh bangkit dari kursinya dan bergegas ke toilet. Aku pun menikmati hidangan restoran itu karena kebetulan aku sudah lapar. Aku terkejut ketika meja bergetar yang ternyata getaran itu berasal dari ponsel Faridh. Beberapa kali ponselnya bergetar lalu mati. Aku tidak berani menyentuhnya karena bagiku ponsel termasuk hal yang pribadi. Tak lama kemudian Faridh kembali dan duduk di kursinya lagi.


 


 


“Faridh, tadi ponsel kamu nyala terus. Mungkin ada panggilan telepon.” Ujarku.


 


 


Faridh pun bergegas mengecek ponselnya. Wajahnya tampak serius. Ia pamit padaku sebentar sambil menelepon. Aku melihatnya dari kejauhan raut wajahnya yang tampak serius. Mungkin pekerjaan, pikirku. Aku pun melanjutkan kegiatan makanku hingga Faridh kembali. Raut wajahnya yang serius berubah santai ketika menemuiku. Kupikir Faridh juga merasa nyaman padaku. Aku tidak tahu tapi kemungkinan besar hubungan kami akan berlanjut ke arah yang lebih serius. Aku harap begitu.


Kulihat jam tanganku, waktu sudah mulai larut. Kami menyelesaikan makan malam kami lalu bergegas untuk pulang. Faridh bangkit dari duduknya dan memintaku untuk menunggunya di depan restoran ketika ia mengambil mobilnya. Aku menghentikan langkah Faridh saat melihat ponselnya masih tergeletak di atas meja.


 


 


“Ini. Ponselmu ketinggalan.” Ujarku.


 


 


Faridh tampak panik lalu merampas dengan cepat ponsel yang masih ada di genggamanku. Baiklah, itu cukup mencurigakan. Aku berusaha tidak memikirkan lagi soal itu tapi rupanya Faridh merasa tidak enak hati padaku sehingga kami pun hanya saling diam selama perjalanan pulang. Faridh mengantarkanku pulang. Tak butuh waktu lama, mobilnya mulai berhenti di depan rumahku. Aku berterima kasih padanya karena mengantarkanku pulang dan berpura-pura baik-baik saja. Faridh tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku berdiri di teras rumahku sambil melihat kepergiannya. Aku segera masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian.


 


 


“Menurut kamu Faridh aneh enggak sih, Un?” tanyaku via telepon.


 


 


Aku langsung menelepon Uni setelah mandi dan berpakaian. Kuceritakan pertemuan dengan Faridh dan bagaimana sikapnya saat ia mengambil ponselnya dari tanganku.


 


 


“Hmm...aneh juga sih.” Ujarnya singkat.


 


 


“Dia kelihatan panik gitu waktu aku pegang ponselnya.”


 


 


“Ada tiga kemungkinan kenapa laki-laki enggak suka ponselnya dipegang perempuan. Pertama, dia merasa ponsel adalah hal yang sangat pribadi buat dia. Kedua, jangan-jangan dia udah punya pacar.”


 

__ADS_1


 


“Itu sih yang aku khawatirkan. Apa aku harus cari tahu dulu, ya, soal Faridh?”


 


 


“Haruslah. Sebelum kamu jatuh cinta sama dia. Kamu pasti enggak mau kan kecewa lagi?”


 


 


“Iya, kamu bener, Un. Ngomong-ngomong, kemungkinan ketiganya apa?”


 


 


“Oh. Kemungkinan ketiganya adalah Faridh nyimpen video porno di ponselnya ahahaha....”


 


 


“Ah, dasar gila kamu!”


 


 


Uni menutup teleponnya sambil tertawa. Tapi yang dikatakan Uni benar soal kemungkinan yang kedua. Aku memutuskan untuk mencari tahu soal Faridh melalui orang yang aku percaya, yaitu Tony. Aku segera meneleponnya dan memintanya untuk membantuku. Kebetulan Faridh berasal dari kampung sebelah dan Tony bilang itu bukan hal yang susah karena ibunya Faridh, Bu Endah, cukup terkenal di kampungnya. Tony pun mau membantuku dengan imbalan PS 4 terbaru yang dia inginkan dan aku pun menyanggupinya. Bagaimana pun juga Tony sangat handal dalam hal mencari tahu dan ia orang yang sangat aku percaya meskipun kadang sikapnya agak menyebalkan. Aku meletakkan ponselku di meja samping tempat tidurku. Aku baru saja memejamkan mataku dan berusaha untuk tidur ketika ponselku berbunyi lagi. Kulihat pesan whatsapp dari Faridh. Dia bertanya padaku pukul berapa aku berangkat kerja dan menawarkan diri untuk mengantarku kerja. Dengan senang hati aku menerima tawarannya. Dan dengan cara itulah aku akan tahu seperti apa Faridh sebenarnya.


 


 


Aku mengemas peralatan kerjaku saat kudengar suara klakson mobil berbunyi. Kubuka pintu rumahku dan kulihat Faridh sudah berdiri di depan rumahku. Aku pun bergegas menghampirinya.


 


 


“Sudah siap?” tanyanya sambil tersenyum.


 


 


Aku mengangguk. Faridh membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk dan duduk di sampingnya. Mobil berjalan perlahan menuju arah kantor sesuai dengan petunjukku. Faridh sangat lihai dalam mengemudi. Ia menanyakan padaku apa aku akan sarapan atau tidak tapi aku memutuskan untuk langsung ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu. Sesampainya di kantor, Faridh berpamitan padaku. Dia harus kembali ke Bandung untuk bekerja karena masa cutinya sudah habis.


 


 


“Aku akan menemuimu lagi minggu depan. Jangan khawatir.”  Hiburnya.


 


 


 


 


“Ide yang bagus. Kalau begitu aku pamit, ya.” Ujarnya lalu masuk ke dalam mobil.


 


 


Aku melambaikan tanganku padanya dan mengucapkan salam perpisahan. Tanpa sadar Uni sudah berdiri di sampingku.


 


 


“Itu Faridh?” tanyanya.


 


 


Aku mengangguk, masih menatap mobil Faridh yang melaju pergi.


 


 


“Ganteng juga, ya? Ati-ati nanti malah jatuh cinta beneran.” Tegurnya.


 


 


“Kalau iya kenapa?” tanyaku.


 


 


“Kita kan enggak tahu dia itu udah punya pacar apa belum. Iya, kan?” ujarnya lagi.


 


 


Senyumanku pun langsung memudar ketika mengingat hal itu. Aku memang tinggal menunggu kabar dari Tony tapi selama itu tidak ada salahnya bila aku membangun chemistry  di antara aku dengan Faridh. Uni menarik tanganku dan masuk ke dalam kantor. Pekerjaanku tak terlalu banyak saat ini sehingga aku lebih banyak bersantai di meja kerjaku. Entah apa yang harus aku rasakan, senang atau malah khawatir. Kantor penerbitan buku akan bermasalah ketika editor tidak menyunting naskah apa pun. Aku pun menghampiri ruangan pak Dody. Kulihat dari jendela ia tengah sibuk dengan teleponnya. Kuketuk pintunya dengan pelan lalu aku membukanya ketika pak Dody mempersilahkan aku untuk masuk. Tanpa basa-basi, aku duduk di kursi depan meja kerjanya dan mengajukan pertanyaan.


 


 

__ADS_1


“Pak, kok saya nganggur? Kita mau bangkrut, ya?” tanyaku tanpa tendeng alih-alih.


 


 


“Sembarangan kamu kalo ngomong!” jawabnya.


 


 


“Terus kenapa saya bisa nganggur? Apa enggak ada naskah yang masuk? Kalau begitu kita beneran bakal bangkrut dong.”


 


 


“Enggak bangkrut kok, enggak. Cuma ya emang belum ada naskah masuk. Orderan terakhir itu ya kemarin, belum ada lagi.”


 


 


“Terus kita harus gimana dong, pak?”


 


 


“Ini juga saya lagi mikir, Nay. Kita kalah saing sama penerbit lain. Mending kamu balik ke meja kerja kamu, coba bantu mikir. Udah sana keluar! Aku tambah pusing kalo liat kamu, Nay.”


 


 


Aku mendengus kesal. Aku pun bangkit dan keluar dari ruangan kerja pak Dody. Semua karyawan yang ada di kantor menatapku saat keluar dari ruangan seolah-olah berharap aku mengatakan sesuatu yang membuat mereka tenang. Aku hanya berjalan menghampiri meja kerjaku tanpa berkata apa-apa. Aku bahkan tidak menatap mata mereka karena aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Uni pun melakukan hal sama, ia menatapku yang duduk terdiam di kursi kerjaku.


 


 


“Kita bangkrut, ya?” tanya Uni.


 


 


Aku menggelengkan kepala, “ enggak tahu.”


 


 


Kulihat pak Dody keluar dari ruangannya dan berjalan keluar kantor. Tubuhnya yang tambun tak menghalanginya untuk berjalan cepat menuju pintu keluar. Para karyawan hanya menatap kepergiannya tanpa ada yang berani berkata-kata. Beberapa menit berlalu, aku mendapatkan pesan singkat dari pak Dody.


 


 


Karyawan diperbolehkan pulang lebih awal. Besok kita meeting. Penting. Tolong sampaikan, ya, Nay.


 


 


Oh, tidak. Sepertinya perusahaan ini benar-benar akan bangkrut. Aku pun berdiri dari kursiku sambil menarik nafas panjang.


 


 


“Perhatian semuanya! Tadi pak Dody pulang kalau kita bisa pulang lebih awal hari ini. Besok kita ada meeting penting. Sekian dan terima kasih.” Ujarku.


 


 


“Nay, kita bakalan bangkrut, ya?”


 


 


“Kok pak Dody enggak bilang apa-apa?”


 


 


“Ya, ampun. Aku belum siap buat jadi pengangguran.”


 


 


Itulah beberapa kata yang keluar dari para karyawan. Aku mencoba menenangkan mereka dan meyakinkan mereka bahwa perusahaan akan baik-baik saja. Meskipun aku sendiri tidak yakin akan hal itu tapi ini bukan kali pertama perusahaan kami mengalami hal semacam ini. Perusahaan penerbitan sangatlah ketat persaingan dan membutuhkan kepercayaan dari penulis. Tapi pak Dody biasanya selalu mendapatkan ide dan jalan keluar untuk situasi seperti ini. Aku berharap kali ini ia bisa menyelesaikan masalah ini juga.


Aku dan karyawan lainnya pulang meninggalkan kantor. Kulihat jam tanganku masih menunjukkan pukul 12.00 WIB. Aku tidak memiliki rencana apa pun hari ini apalagi setelah Faridh kembali ke Bandung. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Ponselku berdering ketika aku berada di dalam taksi. Kulihat Faridh mengirimiku pesan singkat yang menanyakan keberadaanku. Aku membalasnya dan kami pun mulai mengirim pesan singkat. Tanpa terasa, taksi sudah berhenti di depan rumahku. Aku keluar dari taksi dan berjalan masuk ke dalam rumah. Aku terkejut begitu aku melihat sesosok lelaki yang aku kenal sedang duduk di kursi teras rumahku. Ia berdiri ketika mendengar kedatanganku lalu menghampiriku sambil tersenyum.


 


 


“Hai, Naya. Apa kabar?”


 


 


“Julian!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2