
Dua bulan berlalu pagi ini zayn tengah bersiap pergi keluar kota untuk urusan bisnis, “Kenapa mendadak sekali sih?” tanya kanaya sambil memasangkan dasi.
“Maaf ya.”
“Berarti kamu tidak jadi mengantarku ke rumah bianca dan vero dong?”
“Ya mau bagaimana lagi? Tapi kamu tenang saja ya aku sudah meminta tolong ke mama untuk menemani mu hari ini.”
“Hmm, oh ya berapa lama kamu di sana?”
“Kurang lebih empat sampai lima hari.”
Mereka berdua bergegas keluar kamar, kanaya mengantar suami nya sampai depan pintu, “Apa kamu masih merasa mual?” tanya zayn khawatir.
“Sudah tidak terlalu, mungkin karena sudah memasuki bulan ke empat.”
“Ya sudah aku berangkat ya,” zayn mengecup kening kanaya kemudian dia berjongkok, “Kamu baik-baik ya, papa mau berangkat kerja dulu jangan meminta makanan yang aneh-aneh ya selama papa kerja.”
Zayn mencium perut kanaya yang sudah terlihat membuncit, “Ya sudah kalau ada apa-apa langsung hubungin aku ya, lalu jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bilang saja sama bi lena atau pak rudi ya.”
“Iya kamu tidak perlu khawatir,” sahut kanaya.
“Ma aku titip mereka ya, kalau begitu aku berangkat dulu,” zayn mencium pipi mama elva.
“Hati-hati!” ucap mama elva di balas anggukan oleh zayn.
Selepas zayn berangkat kanaya bersiap untuk pergi ke rumah bianca dan vero, “Kenapa mendadak sekali?” tanya mama elva.
“Iya, semalam setelah mendapat telepon zayn langsung memasukan pakaian nya ke dalam koper, dia juga bilang kalau tiket pesawat nya sudah di pesan jadi mau tidak mau dia berangkat hari ini.”
“Oh begitu, ayo jadi tidak? Katanya mau melihat anak nya bianca sama vero?”
“Jadi dong ma, kalau begitu aku ambil kado nya dulu ya,” kanaya hendak pergi ke kamar tetapi mama elva menghentikan nya.
“Bukankah hadiah nya sudah kamu masukan ke dalam mobil?”
“Eh iya, aku lupa ma.”
Kanaya terkekeh, “Ya sudah, yuk kita berangkat,” ajak mama elva.
...°°°°°°...
Setibanya di kediaman bianca kanaya bergegas turun bersama mama elva dengan membawa hadiah untuk anak nya.
Ting... Nong...
Kanaya memencet bel, tidak lama terlihat bianca yang membukakan pintu, “Silakan masuk,” ajak bianca tersenyum.
“Selamat pagi tante,” sapa nya.
“Pagi, bagaimana kabar mu bianca?” tanya mama elva.
“Baik tante, silakan duduk.”
“Bi, tolong buatkan minum ya sekalian bawakan makanan ringan juga.”
“Tidak usah repot-repot,” ujar mama elva.
“Tidak repot kok tante.”
“Oh ya bianca, kapan kamu kembali dari rumah orang tua frans?” tanya kanaya.
“Sudah dari seminggu yang lalu.”
Tidak lama frans menghampiri mereka sambil menggendong anak mereka yang baru berusia dua bulan itu, “Eh ada tamu ternyata,” tuturnya.
“Cantik sekali, boleh tante gendong?” tanya mama elva.
Bianca mengangguk, frans memberikan anak nya ke mama elva setelah itu frans memilih duduk di sebelah istrinya, “Lucu sekali, siapa nama nya?” tanya mama elva lagi.
“Nama nya grace tante,” sahut bianca.
“Nama yang cantik seperti dia,” mama elva nampak begitu senang mengajak bercanda grace.
“Loh zayn nya di mana? Kamu bilang ke sini nya bersama zayn?” tanya frans.
__ADS_1
“Tadi pagi dia sudah berangkat ke luar kota, jadi aku diantar mama saja.”
“Oh seperti itu.”
“Sudah berapa bulan?” kini giliran bianca yang bertanya sembari mengusap perut kanaya.
“Empat bulan.”
Saat sedang mengobrol ringan tidak lama datang lah seseorang yang membuat kanaya begitu terkejut, “Ternyata sedang ada tamu,” tuturnya.
“Kak justin,” bianca berlari kecil untuk memeluk kakak nya itu.
“Apa kabar?” tanya nya.
“Aku baik kak, aku sangka kakak akan langsung berangkat?”
“Aku berniat untuk menemui adikku dan keponakan ku, tapi aku tidak menyangka akan bertemu dengan nya,” justin menatap kanaya lalu beralih ke perut kanaya yang sedikit membuncit.
“Ada apa? Kamu terkejut melihat ku?” tanya justin.
“Kakak,” bianca langsung menarik tangan justin agar menjauh dari kanaya.
“Kenapa sih? Kamu takut aku akan mengganggu nya? Kamu tenang saja aku tidak tertarik dengan wanita hamil.”
Justin mengambil grace dari gendongan mama elva, “Anak ayah, akhirnya kita dapat bertemu juga.”
Mereka semua menatap justin heran dengan sikap nya, “Kenapa kalian melihatku seperti itu?”
“Sejak kapan kakak jadi ayah nya grace?” tanya bianca.
“Sejak dia lahir.”
“Tapi kan kak.”
“Bukan kah aku memanggil ayah mu dengan sebutan papa? Padahal papa mu kan adik nya ayahku, jadi tidak masalahkan kalau grace memanggil ku ayah? Lihat grace saja tersenyum berarti dia juga setuju.”
“Bi, bawakan tas ku ke dalam ya aku ingin bermain dengan grace di dalam saja,” justin pergi membawa naura meninggalkan mereka yang masih bingung dengan sikap justin.
“Maaf bianca, bukan kah kakak mu seharusnya masih menjalani hukuman nya?” tanya kanaya.
“O-oh seperti itu, kalau begitu aku pamit dulu ya.”
“Loh kok cepat banget?” tanya bianca.
“I-iya aku mau ke tempat sepupuku.”
“Baiklah kalian hati-hati ya, lain kali kamu main ke sini ya ajak suami mu juga,” ucap frans.
“Iya.”
Mama elva mengajak kanaya masuk ke dalam mobil, dia tau sekali kalau menantunya itu merasa gelisah dan takut karena melihat justin tadi.
“Kamu tenang saja ya sayang, mama yakin dia tidak akan macam-macam lagi dengan mu lagi pula kita semua akan melindungi kamu,” mama elva menenangkan kanaya.
“I-iya ma.”
“Sudah tidak perlu khawatir seperti itu ya, nanti perut mu kram lagi bagaimana?”
“Iya ma.”
...°°°°°°°°...
Setibanya di kediaman zelvin kedatangan nya sudah di sambut baik oleh keluarga mackenzie yang kebetulan sedang menginap di sana.
Kanaya melihat seorang bayi berjenis kelamin laki-laki itu, wajah nya yang begitu mirip dengan vero sedangkan bentuk bibir saja yang sama dengan zelvin.
“Aku kira kamu ke sini bersama suami mu?” ujar zelvin.
“Niat nya sih seperti itu, tapi mendadak dia harus keluar kota,” sahut kanaya.
“Apa kamu sudah tau jenis kelamin nya?”
“Belum, niat nya sih nanti jika sudah tujuh bulan baru aku tanyakan apa jenis kelamin nya atau mungkin aku tidak tanyakan sampai lahiran biar menjadi kejutan.”
Saat kanaya sedang di kamar bersama vero dan zelvin, mama elva memilih mengobrol dengan oma, tante jia dan om denilson di ruang tamu.
__ADS_1
Mereka mengobrol begitu seru, sesekali terdengar suara tawa dari mereka, hingga tidak terasa sudah cukup lama mereka di sana akhirnya mama elva dan kanaya pun berpamitan.
...°°°°°°...
Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai di rumah, pak burhan dengan sigap membukakan pintu gerbang dengan wajah yang sedikit khawatir, “Itu mobil siapa pak?” tanya mama elva saat melihat sebuah mobil terparkir manis di halaman rumah.
“Sa-saya tidak tau nyonya, ta-tapi wanita itu bilang dia kenalan nyonya dan tuan zayn.”
“Kenalan saya? Kenapa kamu membiarkan dia menunggu di dalam?”
“Ma-maaf nyonya, tapi wanita itu terus memaksa sampai membuat keributan di luar.”
Mama elva menghela nafas, “Lain kali jika ada yang mengaku kenalan saya, zayn ataupun kanaya tolong hubungi kita dulu baru izinkan masuk setelah diizinkan, kalau belum ada izin biarkan saja orang itu mengamuk sekalipun.”
“Ba-baik nyonya.”
Mama elva mengajak kanaya masuk ke dalam rumah namun baru saja tiba di dalam langkah mama elva terhenti saat melihat seorang wanita terduduk manis di sofa sambil bermain dengan ponsel nya.
Merasa ada orang lain gadis itu menengok ke arah mama elva lalu tersenyum dia bahkan menghampiri dan langsung memeluk mama elva begitu erat, tentu saja tindakan nya membuat mama elva dan juga kanaya terkejut.
“Siapa kamu?” mama elva berusaha melepaskan pelukan wanita itu.
“Aku merindukan tante,” gumam nya.
Mama elva yang risih langsung mendorong tubuh wanita itu dengan pelan, “Siapa kamu? Kenapa kamu memaksa masuk ke dalam dan memeluk saya seperti ini?”
“Tante aku stevany, dulu kita bertetangga dan aku juga sering bermain dengan zayn saat kita masih anak-anak.”
Kanaya nampak tidak suka dengan wanita itu, “Maaf ya tante lupa sebab kejadian itu sudah sangat lama sekali.”
Mama elva sebenarnya tau siapa dia, stevany adalah gadis kecil yang selalu di titipkan orang tua nya ke rumah dengan alasan jika stevany nya sendiri yang ingin bermain dengan zayn, awalnya mama elva senang-senang saja apalagi di rumah ini tidak ada anak perempuan tetapi semakin hari gadis kecil itu semakin tidak sopan kepada pekerja di rumah, bahkan dia sering memerintah seenak nya dan mengadu yang tidak-tidak ke ibu nya hingga membuat para asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mama elva di hina oleh ibu nya stevany.
“Tidak apa-apa tante, oh ya dia siapa tante?” tanya stevany.
“Oh iya perkenalkan dia istrinya zayn.”
Stevany melihat ke arah kanaya tidak suka, Cih apa bagusnya wanita ini di bandingkan dengan ku?
“Ada apa nona stevany memperhatikanku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ku?” tanya kanaya tidak suka apalagi saat dia melihat kearah perutnya dengan begitu tajam.
“Oh ya tante zayn kemana ya? Aku sangat merindukan nya sudah lama aku tidak mengobrol dengan nya,” stevany benar-benar tidak menghiraukan kanaya walaupun dia tau kalau kanaya adalah istri zayn bahkan dia sedang mengandung anak nya.
“Dia tidak ada di rumah,” sahut mama elva datar.
“Kemana dia tante?” stevany begitu penasaran.
“Tante rasa pertanyaan mu itu tidak harus tante jawab, lagi pula kamu tidak memiliki hubungan apapun dengan anak tante.”
“Kanaya sayang naik lah ke kamar kamu harus istirahat, mama juga mau ke kamar “ Ucap mama elva lembut, Kanaya menganggukkan kepalanya dan langsung masuk ke dalam kamar.
“Sebenarnya tante masih mau menemani mu sebentar tapi tante juga sangat lelah mungkin lain kali saja kita bicara lagi ya, kalau begitu tante masuk ke kamar dulu tapi jika kamu masih mau di sini biar tante minta bi lena dan pak burhan menemani mu.”
“Tidak perlu tante stevany pulang saja.”
“Baiklah, hati-hati ya,” tante elva meninggalkan stevany sendirian di ruang tamu.
Lihat saja aku pasti akan membuat kalian berpisah dan menjadikan zayn hanya milik ku seorang dan tidak akan aku biarkan zayn menjadi ayah dari anak yang terlahir dari wanita seperti mu, sebab hanya aku saja yang berhak melahirkan darah daging nya.
Stevany keluar dari rumah itu sambil menghubungi seseorang, “Papa bohong dengan stevany, kata nya papa akan memberikan apapun yang aku inginkan tapi nyata nya sampai sekarang papa tidak memberikan itu kepada ku!” omelnya.
“Ada apa? Kenapa kamu terdengar sangat kesal?”
“Ya aku kesal karena papa tidak bisa menuruti keinginan aku!”
“Kenapa sikap mu masih saja seperti anak-anak sih? Kamu itu sudah dewasa stevany, oh ya apa kamu sudah siap sayang?”
“Siap untuk apa?”
“Papa sudah bilang kan kalau nanti keluarga chandra akan datang untuk makan malam bersama.”
“Vany kan sudah bilang kalau vany tidak mau di jodohkan dengan anak nya om chandra, lagi pula papa kan sudah tau kalau yang vany sukai adalah zayn saja tidak ada yang lain,” rengek nya.
“Ini hanya sekedar makan malam saja sayang, dan papa juga tidak setuju kalau kamu hanya mau menikah dengan laki-laki itu! Lagi pula dia sudah menikah dan istrinya juga sedang hamil sekarang, papa sudah mencari tau segalanya tentang laki-laki penerus earthshine grup itu pokok nya papa tidak setuju!”
“Kalau begitu jangan harap stevany kembali ke rumah! Papa sudah tidak sayang lagi dengan ku,” stevany mematikan sambungan telepon nya lalu melajukan mobil nya dengan marah.
__ADS_1