
Tidak terasa sudah tiga minggu kanaya terbaring di rumah sakit, pagi itu mama elva masuk ke dalam ruangan melihat putra nya tengah tertidur di sofa karena semalaman dia terjaga, mama elva mengelap tubuh kanaya dengan kain basah agar menantu nya tetap bersih.
Namun mama elva begitu terkejut saat melihat kanaya menggerakan jari-jari nya bukan hanya itu kanaya juga perlahan membuka mata nya.
Mama elva bergegas membangunkan zayn dan juga memanggil dokter, tidak berapa lama dokter dan juga beberapa perawat memeriksa keadaan kanaya sedangkan mama elva dan zayn menunggu dengan cemas di luar.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan itu dan memberikan kabar bahagia untuk mereka, zayn langsung memeluk mama nya, “Syukurlah, mama sangat senang mendengar kabar ini, terima kasih banyak dok.”
“Walaupun begitu pasien masih harus beristirahat untuk memulihkan kondisinya, jadi jangan buat pasien merasa sedih atau pun stres.”
“Baik dok, apa boleh saya melihat istri saya?” tanya zayn.
“Silakan tuan.”
“Terima kasih dok, ma zayn ke dalam dulu ya,” mama elva menganggukkan kepala nya.
Zayn membuka pintu ruangan itu dengan perlahan lalu mendekati kanaya yang sedang memejamkan matanya.
Merasa ada seseorang yang datang kanaya melihat ke arah zayn lalu tersenyum, zayn tidak kuasa menahan tangis nya, “Aku merindukan mu,” zayn mencium tangan kanaya.
Kanaya hanya diam menatap ke arah zayn, “Apa kepala mu pusing?” kanaya menggeleng.
“Baiklah aku keluar dulu, selamat istirahat sayang,” zayn mengecup kening kanaya kemudian dia keluar dari ruangan itu dengan sedih.
Melihat raut wajah putra nya mama elva pun ikut merasa sedih, “Beri dia waktu, bagaimana pun istri mu baru saja terbangun.”
Setelah lewat tiga hari kanaya sudah berada di kamar inap, sejak dia tersadar kanaya memang lebih banyak melamun sambil menatap kosong ke dinding, dia begitu sedih saat mengetahui kenyataan kalau bayi nya tidak bisa di selamatkan.
Tok... Tok...
Mendengar suara ketukan kanaya langsung menghapus air mata nya, zayn menghampiri istri nya sambil tersenyum bersama nesya.
“Hay, bagaimana kabar mu?” tanya nesya.
“Jauh lebih baik dari kemarin,” kanaya memaksakan senyuman nya.
Bahkan kehadiran nesya tidak dapat membuat kanaya ceria, “Syukurlah, kakak ke sini hanya ingin tau kabar mu saja dan kakak sangat bahagia saat mendengar kalau kamu sudah siuman, kalau begitu kakak pamit ya.”
Kanaya tersenyum lalu mengangguk, tentu saja melihat kanaya yang seperti itu membuat mereka sangat sedih sejak siuman tiga hari yang lalu senyuman di wajah kanaya seakan sirna.
°°°°°
Hari-hari berlalu selepas kanaya di periksa akhirnya dia di izinkan untuk pulang, zayn memasukan pakaian kotor ke dalam tas, “Zayn,” panggil kanaya.
“Ya,” sahutnya.
“Apa aku boleh menginap di panti untuk beberapa hari?” zayn menghentikan aktifitasnya lalu melihat ke arah istrinya itu.
“Kamu belum begitu pulih, nanti saja ya.”
“Tapi zayn.”
Mama elva memegang pundak zayn lalu mengangguk, nampak zayn tidak setuju tapi akhirnya dia mengizinkan nya, “Baiklah, tapi aku akan menemani mu.”
“Kalau begitu mama pulang dulu ya sayang,” mama elva memeluk menantu nya itu.
“Mama hati-hati ya,” ucap kanaya.
“Ya, kalian juga hati-hati jika sudah sampai hubungin mama ya,” kanaya mengangguk.
Zayn mendorong kursi roda keluar rumah sakit, “Kamu tunggu di sini aku ambil mobil dulu.”
Tidak lama zayn datang dengan mobil nya, zayn menghampiri kanaya lalu menggendong nya untuk di dudukan di kursi.
Sebelum berangkat zayn menghubungi bunda renatha terlebih dahulu, selepas itu zayn melajukan mobil nya menuju panti.
...°°°°°°
__ADS_1
...
Bunda renatha menyambut kedatangan mereka berdua lalu mengajak nya masuk ke dalam, “Kamar kalian sudah bunda bereskan, kalian istirahat lah.”
“Iya terima kasih.”
“Oh ya bunda bisa kah bunda menemani kanaya dulu, aku mau mengambil ponsel ku di mobil,” bunda renatha mengangguk.
Zayn memilih duduk di teras melihat anak-anak bermain di sana, sebenarnya mengambil ponsel adalah alasan nya saja agar kanaya dapat mengobrol dengan bunda renatha.
Di dalam kamar bunda renatha menatap kanaya, “Apa yang sedang kamu pikirkan?” bunda renatha menggenggam tangan kanaya.
“Tidak ada bunda.”
Bunda renatha tersenyum, “Aku mengenalmu sejak kamu kecil dan aku juga yang mengurus mu sampai dewasa, kamu sangka kamu dapat membohongi bunda?”
Kanaya langsung memeluk bunda renatha kemudian dia menangis, “Jika dengan menangis kamu dapat melegakan hati mu, maka dari itu menangislah tapi ingat akan kondisi mu juga.”
“Bunda, aku sangat sedih mengapa di saat aku membuka mata anak ku sudah tidak bersamaku lagi, kenapa dokter tidak bisa menyelamatkan anak ku?”
“Tuhan tau apa yang terbaik untuk anak mu kanaya, ikhlaskan dia sayang jangan biarkan kesedihan mu membuat dia juga bersedih.”
Kanaya tidak menyahut akan tetapi tangisan nya sedikit mereda, “Jika kamu seperti ini terus yang sedih bukan hanya anak mu, tapi suami dan keluargamu juga.”
“Suami mu pasti terluka sama seperti mu tetapi dia menyembunyikan semua nya agar kamu tidak merasa sedih, kamu tau semenjak kamu tidak sadarkan diri suami mu bahkan tidak pernah pulang ke rumah nya dia menemanimu terus bahkan bangku kecil yang ada di samping mu adalah tempat tidur nya setiap hari.”
“Walaupun semua orang tau kalau dia sangat lelah tapi dia tetap bekerja sambil menjaga mu terus, apa kamu tau dia bahkan tidak makan dengan teratur setiap kali bunda ke sana ibu mertua mu tengah memarahi zayn yang belum makan.”
Bunda renatha melepaskan pelukan kanaya dan menghapus air mata anak asuh nya itu, “Jangan membuat semua orang menjadi khawatir, bunda tau ini sangat berat untuk mu tapi bunda percaya kalau kamu akan mendapatkan ganti nya suatu saat nanti.”
“Tapi bunda,” terlihat kanaya begitu ragu untuk mengatakan nya.
“Ada apa?”
“Tidak bunda.”
“Baiklah, kamu istirahat saja kamu pasti lelah,” bunda renatha membantu kanaya merebahkan tubuh nya dan menyelimuti kanaya.
Zayn menghapus air mata nya lalu mengangkat kepala nya dan tersenyum, “Apa kanaya sudah tidur bunda?” tanya nya.
“Ya, kamu juga istirahatlah pasti kamu juga lelah kan? Bunda melihat anak-anak dulu ya,” pamit bunda renatha.
Zayn mengangguk lalu dia memilih merebahkan tubuh nya di sofa ruang tamu tidak lama dia pun terlelap.
...°°°°°°...
“Zayn,” kanaya menyentuh wajah zayn membuat laki-laki itu terbangun dari tidur nya.
“Apa kamu membutuhkan sesuatu?” tanya zayn seraya bangun dari tidur nya.
Kanaya langsung memeluk zayn dan menangis, “Maafkan aku zayn.”
“Tidak apa-apa, kamu tidak perlu meminta maaf kepada ku.”
“Kanaya, aku juga sedih karena Tuhan mengambil anak kita tetapi aku juga bersyukur karena Dia mengembalikan mu padaku.”
Kanaya semakin mempererat pelukan nya sambil terus meminta maaf, “Aku sangat mencintaimu kanaya,” zayn mencium kening kanaya seraya menenangkan nya.
Setelah beberapa hari di panti kanaya terlihat sudah membaik bahkan senyuman nya sudah kembali menghiasi bibir nya walaupun terkadang di saat dia sedang sendiri kanaya masih saja menangis begitu teringat akan anak nya.
“Kamu sedang apa?” tanya zayn duduk di sebelah istri nya.
“Sedang melihat mereka bermain.”
Zayn tersenyum, “Mama sudah kangen dengan mu, kapan kita pulang ke rumah?” tanya zayn lagi.
“Terserah kamu saja.”
__ADS_1
“Apa kamu masih ingin di sini?”
“Ya, tapi kita juga harus kembali kan?”
Zayn mengangguk, “Bagaimana kalau besok saja, lagi pula aku sudah merasa baik sekarang,” saran kanaya.
“Kamu yakin?” kanaya mengangguk dan tersenyum.
Keesokannya mereka berdua telah kembali ke rumah, mama elva memeluk kanaya dan mengusap punggung menantu nya, “Bagaimana kabar mu sayang?”
“Aku baik ma,” sahut kanaya tersenyum.
“Syukurlah, ya sudah kalian istirahat lah dulu.”
Zayn mengajak kanaya ke dalam kamar, mama elva hanya diam melihat punggung anak dan menantu nya yang menjauh, dia tau betul jika kanaya tidak baik-baik saja seperti yang dia katakan barusan, sebab mama elva juga pernah kehilangan putra pertama nya.
...°°°°°...
Di balkon kamar kanaya duduk sambil melamun, zayn menghampiri istri nya sambil membawakan makanan dan segelas air beserta obat nya lalu dia duduk di sebelah nya.
“Makan dulu,” kanaya membuka mulut nya membiarkan zayn menyuapi nya.
Setelah makanan nya habis zayn meletakan piring lalu memberikan beberapa butir obat untuk di minum nya nanti, “Apa luka mu masih sakit?” tanya zayn.
“Hanya sedikit nyeri.”
“Minum obat mu setelah itu istirahat.”
Kanaya memasukan beberapa obat ke dalam mulut dan meminum nya, “Kalau perlu sesuatu kamu bisa bilang kepadaku.”
Saat zayn hendak keluar kanaya memanggil nya, “Zayn.”
“Ya, ada apa?”
“Zayn, apakah aku boleh meminta sesuatu padamu?” tanya kanaya ragu.
“Ya tentu saja, katakan kamu ingin apa?”
“A-aku.”
“Ada apa? Kenapa kamu ragu seperti itu?”
“Aku ingin kamu menikah lagi zayn,” pinta nya.
Tentu saja permintaan aneh kanaya membuat zayn terkejut, “A-apa maksudmu? Jangan bercanda kanaya.”
Kanaya terisak, “Aku sudah tidak bisa memberikan mu keturunan zayn, ma-maka dari itu aku mohon menikah lah dengan wanita lain!”
Zayn begitu kesal, “Lebih baik kamu istirahat, sepertinya kamu jadi melantur akibat benturan itu.”
“Zayn aku mohon!”
“Nanti kita bicara lagi kalau kamu sudah merasa tenang.”
Zayn bergegas keluar dari kamar, “Zayn,” panggil kanaya namun zayn tidak menghiraukan nya.
Zayn menutup pintu dengan keras hingga membuat mama elva terkejut, “Ada apa zayn?” tanya mama elva khawatir.
“Entahlah ma, seperti nya akibat benturan di kepala nya membuat kanaya menjadi aneh aku akan mengajaknya konsultasi besok.”
“Memang apa yang dia lakukan?”
“Dia bicara kepadaku sambil menangis dan memintaku untuk menikah lagi, aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan sampai dia meminta hal yang tidak mungkin aku lakukan, atau jangan-jangan dokter keliru saat mengobati kepalanya maka nya dia menjadi aneh seperti itu,” kesal zayn.
“Mungkin dia masih terpukul karena kehilangan bayi kalian sayang, tolong jangan marah seperti ini.”
“Entahlah, lebih baik aku keluar sebentar.”
__ADS_1
Mama elva menghela nafas, “Ada apa lagi ini?” gumam nya.
Zayn mengendarai mobil nya keluar dari halaman rumah dengan kesal, sedangkan di dalam kamar kanaya merebahkan tubuh nya di tempat tidur sambil menangis.