Kau Mengubah Hidupku

Kau Mengubah Hidupku
Episode 22


__ADS_3

Setelah melihat acara pemeran tersebut mereka bertiga pun memutuskan untuk mekan malam bersama


karena kebetulan hari sudah malam dan mereka pun sedikit merasa lapas dan memutuskan untuk makan di salah satu cafe yang ada di dekat sana.


Sesampainya di cafe itu mereka pun duduk di meja yang kosonh dekat jendela dan langsung memesan makanan dan juga minuman.


Sembari menunggu makanannya datang mereka pun mengobrol dan menanyakan beberapa hal satu sama lain.


" yon lo tau gakk Dara sering cerita tentang lo tau..." ucap Masya dengan gaya yang sok akrabnya dan sok asiknya itu. akan tetapi hal itu lah yang membuat dia mudah bergaul dan akrab dengan orang lain.


" oohh yaaa dia ceritain apa aja? " tanya Deyon yang sedikit kaget dan juga penasaran.


" banyakk dia ceritaiin...." jawab Masya yang ingin memberitahu Deyon akan tetapi juga melirik kepada si Dara.


" iihh apaan siii" sela Dara di tengah pembicaraan mereka dengan wajah yang sudah memerah dan juga sedikit gugup dan langsung membantah apa yang di katakan sahabatnya itu.


" yeeee malu yaaa " balas Masya yang menggodanya.


"enggak...enggak kok" bantah Dara lagi yang sudah semakin gugup dan salah tingkah.


" emang dia ceritaan apa? " tanya Deyon lagi yang masih penasaran.


" enggakk gak ada apa" dia cuma bercanda" jawab Dara yang langsung ngebantah si Deyon.


" iyaaa dehhh enggakkk.." ucap Masya dengan sedikit tersenyum usil.


Deyon tersenyum melihat Dara yang sudah salah tingkah sejak tadi.


Di samping itu Dara masih saja gugup dan salah tingkah karena di goda oleh kedua temannya itu.


Setelah beberapa saat mereka saling menggoda


makanan yang di pesannya pun datang di antar oleh pelayan cafe yang ada disana.


mereka pun berhenti becanda dan langsung makan makanan yang telah di pesannya.


tidak lama kemudian mereka telah usai makan dan langsung keluar dari cafe itu.

__ADS_1


" kalian pulang naik apa nii" tanya Deyon yang berhenti tepat di depan pintu cafe itu.


" guee mah gampang bisa naik taxi " jawab Masya dengan gayanya yang santai.


" yaa udahh kalian bareng aku aja" balas Deyon dengan ajakannya.


" gakk usahh lo anterin Dara aja gue balik sendiri aja soalnya gue masih ada urusan di kampus nih" jawab Dara yang sengaja ingin meninggalkan mereka berdua.


" itu sii pasti karena aku yang nganterin dia kesini jadi aku harus bertanggung jawab untuknya" balas Deyon dengan wajah tersenyum dan melirik ke arah Dara.


Dara pun yang mendengarnya hanya diam malu- malu tanpa mengeluarkan kata apapun.


" yaa udahh kalian balik aja dulu,,,, sorry yaa Darr gue gak bisa nganterin masih ada urusannn" ucap Masya lagi


" iyaaa gak papa kok" jawab Dara dengan nada kecilnya.


" yaa udahh kalo gitu kita balik dulu yaa" ucap Deyon yang akan segera pergi.


" aku duluan yaa kamu hati- hati pulangnya" ucap Dara yang berpamitan pada sahabatnya itu seperti tidak ingin berpisah dengannya.


" iyaa lo juga hati- hati " balas Masya dengan melambaikan tangannya.


tiba- tiba saja pintu mobil itu sudah terbuka dan di bukakan oleh si Deyon yang tersenyum tipis dengan masih memegang pintu mobilnya.


Dara pun sedikit terkejut dan menjadi tersenyum malu saat di bukakan pintu oleh Deyon.


Dia pun dengan wajah yang agak gugup masuk ke dalam mobil itu kemudian di susul oleh si Deyon.


Mereka pun akan segera pergi meninggalkan cafe itu dan juga Masya yang masih berdiri disana menunggu meraka menginggalkan tempat itu.


Setelah melihat mereka telah jauh dari tempatnya Masya pun langsung pergi kembali ke kampusnya untuk mengurus beberapa hal.


Beberapa menit kemudian mobil itu pun tepat berhenti di depan rumahnya, Deyon pun keluar dari mobil itu terlebih dahulu dan membukan pintu untuk Dara yang mempersilahkannya keluar.


Dara yang merasa sedikit canggung itu keluar dengan perlahan dari mobil itu.


" thank's yaaa udah anterin aku" ucap Dara yang keluar Dari mobil tersebut.

__ADS_1


" maaf banget jadi ngerepotin nihh" ucap Dara lagi yang merasa tidak enak hati.


" iyaa santai aja lagi, aku malah seneng tau bisa direpotin sama kamu" jawab Deyon dengan senang hati karena bisa terus bersama Dara.


" aku gak tau harus bilang apa selain makasi sama kamu, pokoknya kamu udah banyak banget bantu aku aku benar- benar berterima kasih banget sama kamu" ucap Dara lagi yang mengucapkan terima kasih berulang kali karena merasa berhutang budi.


" yaa balas dengan cara yang lain aja" jawab Deyon dengan nada aneh seperti menginginkan suatu hal.


" hahhh cara apa" tanya Dara yang agak merasa terkejut.


" gimana kalo besok kamu temenin aku ke suatu tempat" jawab Deyon dengan gayanya yang sok cool.


" kemana?" tanya Dara dengan penasaran.


" yaa pokoknya ikut aja nanti aku jemput" ucap Deyon lagi yang sedikit misterius.


wajah Dara pun kebingungan dengan maksud perkaraan Deyon barusan.


" kenapa? kamu gak mau? jadi kamu gak tulus berterima kasihnya" tanya Deyon lagi dengan mendekatkan wajahnya ke hadapan si Dara.


" aku.. aku tulus kok" jawab Dara dengan refleks dan juga gugup ketika didekati oleh Deyon.


" yaa udahh kalo gitu kita sepakat besok pergi yaa" ucap Deyon yang mengambil kesimpulan sendiri bahwa Dara bersedia menemaninya pergi padahal Dara sendiri belum menyetujui ajakannya.


Dara pun terbengong heran dengan perlakuan dan juga sifatnya yang rada- rada narsis itu akan tetapi luar dia terlihat sangat dingin dan juga berwibawa akan tetapi ketika bersamanya dia selalu bertingkah sok asik dan juga narsis.


" yaa udahh kalo gitu aku balik dulu yaa, kamu masuk dulu gihh " ucap Deyon lagi dengan mengelus kepala Dara dan mengacak- acak rambutnya.


Dara semakin kaget dengan perlakuan Deyon terhadapnya yang memeberi perhatian berlebih, dia cupuk senang akan tetapi juga takut.


Takut mengartikan maksud perhatiannya terhadap dirinya apakah itu perhatian suka atau hanya teman atau mungkin hanya sebuah rasa penasaran semua itu membuatnya semakin bingung.


Deyon pun dengan tersenyum kembali masuk kedalam mobilnya dan langsung pergi dari rumah si Dara.


Dara yang masih tercengang dan juga bingung dengan perlahan memutar badannya dan masuk ke dalam rumahnya secara perlahan.


masih memikirkan pria yang baru saja mengantarnya itu, dalam benaknya terus berpikir apakah dia benar- benar tulus padanya atau hanya sebuah candaan saja.

__ADS_1


Dia cukup merasa senang akan dirinya yang sekarang bisa bisa memiliki orang yang sangat perduli padanya akan tetapi semakin besar kebahagiaan yang ia rasakan maka semakin besar pula ketakutan yang ia pikirkan.


*************


__ADS_2