Kau Mengubah Hidupku

Kau Mengubah Hidupku
Episode 6


__ADS_3

Sebagian murid sudah memutuskan kemana akan melangkah selanjutnya, sementara itu Dara dan Masya masih belum memutuskan apa- apa.


Dara yang masih bingung untuk mengambil keputusan manakah yang harus di ambil haruskah ia melanjutkan sekolah kedokteran sesuai dengan keinginan ayahnya ataukah harus melanjutkan sekolah seni sesuai dengan yang ia inginkan.


Sementara itu Masya yang juga bimbang menentukan apakah bisa melanjutkan ke universitas ataukah harus berhenti sampai disini.


Keduanya memiliki masalah yang hampir sama yaitu sama- sama sulit memutuskan langkah yang akan di ambil selanjutnya.


Berjalan bergandengan tangan menuju pulang mereka berdua berincang- bincang tentang kesulitan masing - masing.


Disaat sengan asyik berbincang - bincang tiba- tiba seseorang memberikan sebuah brosur pareman kesenian yang sedang di selenggarakan di taman kota.


Dengan segera mereka bergegas pergi dengan semangat berlari menuju taman kota yang jaraknya tidak jauh dari tempat sekarang ia berada.


Melihat pemandangan yang begitu indah dan penuh dengan kenikmatan yang tidak bisa diutarakan dengan kata- kata, merasa takjub dengan apa yang di lihatnya.


Menelusuri sepanjang jalan dengan takjub membuatnya ingin berada disana sepanjang hari, dengan melihat semua karya-karya yang luar biasa itu membuatnya mereka menyadari apa yang di inginkannya.


Rasanya seperti jiwanya yang menyatu dengan karya- karya itu dengan damai dan tenang seperti tak ada beban yang ada hanya keindahan.


" wahhhhh" ucap mereka


" Syaaa kamu tau apa yang sedang aku pikirkan" ucap Dara dengan menikamati pamandangan yang indah


" Apa yang lo pikirin" jawabnya


" kenikmatan dunia" ucap Dara


" memang benar-benar kenikmatan dunia" balas Masya dengan kagum.


" kayaknya aku tau apa yang aku inginkan dehh" ucap Dara dengan tersenyum kagum.


" iyaa guee juga Darr" sahutnya


Saling menatap satu sama lain.


" sekolah seni!" ucap mereka dengan kompak


Tertawa bahagia dan saling berpelukan setelah menemukan titik terang setelah menempuh kegelapan yang suram dan dalam.


Perlahan pergi meninggalkan tempat itu dengan meninggalkan bekas kekaguman yang mendalam.


" lo udah yakin mau sekolah kesenian Darr" tanya Masya yang masih ragu


"iyaa Sya aku yakin kok aku udah tau apa yang benar- benar aku inginkan" jawabnya dengan tegas


" aku juga bakalan ngomong ke papah kalo aku mau sekolah seni, keputusan aku udah bulat " jawbanya lagi.

__ADS_1


"Kalo kamu gimana Syaa.." tanyanya balik


"gue juga mau sekolah kesenian Darr, lo kan tau daru dulu gue paling suka kesenian" jawabnya dengan harapan.


" Tapi masalahnya biaya kuliah itu gak murah" jawbanya lagi dengan sedih.


" Tapi gue akan berusaha sebaik mungkin untuk cita-cita gue Darr gue mau ngajuin beasiswa dan bekerja keras " ucapnya lagi


" nahhh gitu dong semangatttt" balas Dara


" kalo kamu butuh apa-apa kasi tau aja Syaa ... nanti pasti aku bantu .." ucap Dara


Membalas dengan senyuman.


" Semangatttt.." ucapnya dengan kompak


*****


Ketika sampai di rumah Dara memnukirkan cara untuk memberi tau orang tunya terutama ayahnya bahwa ia ingin melanjutkan ke sekolah kesenian


Disaat makan malam suasana yang nyaman dan hati yang tenang Dara merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk memberitahukan hal penting ini kepada ayahnya.


" pahh..." ucap Dara mengawali pembicaan dengan sedikit gugup


" iyaa... " jawab ayahnya tanpa ada rasa kecurigaan


" eee anu pahhh Dara mau ngomong sesuatu yang penting " ucapnya dengan jantung yang bertedak hebat


" gini pahh...." ucapnya dengan gugup


" akuu... udah mutusin kalo aku mau lanjut ke fakultas kesenian pahhh" tambahnya lagi


" apaaa..." jawab ayahnya dengan syok


melepaskan sendok dan garpu yang dibawanya,


mata yang melotot kaget mendengar perkataan sang anak.


" buat apa kamu sekolah kesenian mau jadi apa kamu kelak, papah ingin kamu masuk kedokteran itu untuk masa depan kamu juga nantinya" jawabnya lagi dengan sedikit kemarahan


" Tapi pahhh aku gak suka kedokteran.. aku gak suka kedokteran aku maunya kesenian pahh" keluhnya


" pokoknya gak bisa kamu harus masuk kedokteran, papah udah daftarin kamu di universitas terbaik" ucap ayahnya dengan sedikit emosi


" Pahh..... kalo aku gak suka tapi dipaksain nanti sekolahnya jadi gak bener.." keluhnya lagi


" itu cuma alasan kamu aja... pokoknya kamu haru nurut apa yang papah katakan semua ini demi kamu juga" jawab ayahnya

__ADS_1


" gak usah ngebantah lagi pokoknya kamu udah papah daftarin di fakultas kedokteran" ucap ayahnya lagi


" Tapi pahh..." berusaha menolak


" gak ada tapi- tapi an lagi semua keputusan papah kamu gak bisa ngebantah lagi" jawab ayahnya dengan bentak


Dara yang sudah tidak bisa berkata- kata lagi hanya bisa menangis dan pergi meninggalkan ruang makan keluarga yang cukup besar itu.


Pergi dengan keadaan bersedih dan kecewa berlari menuju kamar


merasa marah dan kecewa dengan ayahnya dan juga dirinya sendiri karena tak mampu mempertahankan apa yang di inginkannnya.


Disisi lain ayahnya yang juga merasa kecewa dengan anaknya yang tidak mempercayainya dan merasa apa yang dilakukannya hanyalah untuk kepentingannya sindiri.


Meskipun ayahnya suka memaksakan kehendaknya sendiri dan harus mengikuti apa pun yang dikatakannya dan juga sedikit galak dan tegas tetapi dia merupakan ayah yang baik dan bertanggunga jawab atas keluarganya.


Ayahnya juga sangat menyayangin anak semata wayangnya itu meski tidak di tunjukkan secara langsung dia tetaplah ayah yang baik.


Ayahnya yang khawatir dengan anaknya setelah kejadian barusan menyuruh bibinya membawakan makanan pada Dara karena saat perdebatan terjadi dia belum sempat makan.


"nonn......" panggil bibinya


" ini bibi bawain makanan kesukaan non" ucap bibinya yang langsung masuk ke kamar Dara karena pintunya tidak dikunci.


" makan dulu yaa non" ucapnya lagi dan menghampirinya.


" gakk bik.. aku gak laper " jawabnya dengan wajah yang masih sedih


" tapi non... non belum makan sama sekali, tuan khawatir kalo non nanti sakit" ucap bibi itu


" biarin aja aku sakit... papah gak peduli sama aku"


langsung menangis dan menutupi dirinya dengan selimut.


" bibi keluar aja aku gak mau makan" ucapnya dari dalam selimut dengan suara yang masih menangis.


pembantu itu pun pergi dengan perasaan khawtir terhadap majikannya itu.


kembali ke dapur membawa makanan yang di bawanya dan memberitahukan tuannya itu kalau anaknya itu tidak bersedia makan dan terus menangis di dalam kamarnya.


" huuuhhhhh" menghela nafas dalamn


" sudahlahh bik biarin aja dulu dia menenangkan dirinya" ucap sang ayah


" mungkin besok akan membaik" ucapnya lagi


" baik tuan... " jawab pembantu itu

__ADS_1


Sedikit merasa khawtir terhadap putriya itu tetapi juga tidak membiarkan apa yang diinginkan putrinya karean takut dia mengambil langkah yang salah dan merugikannya di masa depan.


***************


__ADS_2