
Ketika berlari dengan tak karuan ia bertemu dengan ayahnya yang tadinya tiba-tiba menghilang.
Dengan kaget melihat ayahnya yang sudah mengkerutkan dahi.
" Darimana saja kamu?" tanyanya dengan tegas.
" eee itu habis dari toilet pahh" jawabnya mengelak.
" Dari tadi papah tungguin sampai papah yang harus turun tangan sendiri buat ngurus pendaftaran kamu" ucapnya dengan kesal.
" maaf pahh..... terus sekarang gimana? " tanyanya balik.
" udah papah urus semuanya kamu tinggal sekolah yang bener jangan kecewain papah" tegasnya lagi.
" sekarang kita pulang" ucap papahnya dengan masih sedikit kesal.
" eeee papah pulang aja dulu aku masih mau lihat-lihat kampus dulu pah" ucap Dara dengan memikirnya rencananya.
" yaa udahh jangan pulang malam-malam" jawab ayahnya yang kemudian meninggalkannya sendiri di kampus.
sembari melihat ayahnya yang telah pergi Dara dengan segera menjalankan rencananya untuk mengubah fakultas yang diinginkannya.
Mencari ruang panitia pendaftaran untuk melakukan perubahan, melihat kesana kemari dan akhirnya menemukannya.
Begitu ramai di ruang panitia dan semua orang juga sibuk, memberanikan diri menghampiri salah satu panitianya.
"permisi pak saya Dara yang mendaftar di fakultas kedokteran.." ucapnya dengan sopan.
Siapa sangka ketika memperlihatkan wajahnya dia adalah sosok pria yang ditabraknya tadi, begitu terkejut melihatnya sehingga membuatnya melotot.
" ka...ka mu kan yang tadi" ucapnya gugup.
" jadi kamu Dara" jawabnya sambil melihat formulir yang sudah di isi oleh ayahnya.
" semua formulirnya sudah lengkap, jadi untuk apa lagi kamu kesini" tanyanya dengan tatapan yang mencurigakan.'
" ee aku mau ganti fakultas pak" jawabnya pelan.
"Bapak? kamu panggil saya bapak? memangnya saya setua itu yaa? tanyanya dengan sedikit kesal dan mengkerutkan alisnya yang tebal dan pekat itu
" iyaa.. eehh .. enggak maksudnya kak" jawabnya dengan gugup.
" jadi kamu kesini ingin mengubah fakultas? tapi sayangnya sudah tidak bisa semua laporan sudah dikirim ke pihak administrasi dan pembayarannya juga sudah di lunasi jadi gak bisa di ubah lagi" ucap pria itu dengan wajah angkuhnya yang sengaja mempermainkan dan mempersulit Dara.
" jadi kamu sekarang bisa pergi" ucapnya lagi dengan tingkah yang sok berkuasa itu.
Dara dengan kesal pergi meninggalkan ruangan itu, tetapi juga sedih karena rencananya gagal.
Tidak ada jalan lain lagi dia terpaksa harus menuruti keinginan ayahnya untuk kuliah difakultas kedokteran.
__ADS_1
pria itu tersenyum tipis sambil melihat formilir Dara yang di pegangnya, merasa senang bisa bertemu lagi dengannya dan bisa satu fakultas dengannya mekipun beda angkatan tetapi masih bisa melihatnya setiap hari adalah hal yang menguntungkan.
sudah sejak lama ia memperhatikan Dara dari saat di bertemu di sekolah menengah hingga sekarang masih terus mengawasinya dari kejauhan.
Diam-diam memperhatikannya tanpa dirinya tau,tetapi begitu bertemu dengannya malah tidak ingin bersikap baik dan lembut kepadannya melainkan hanya ingin mempersulinya.
Begitu senang ketika melihatnya kesal dan wajah yang memerah ketika merasa malu hal itu membuatnya terlihat imut dan menggemaskan.
Dara yang bejalan menuju arah pulang dengan murung dan juga bersedih duduk sebentar di sebuah warung kecil.
"semua ini gara-gara cowok ituu...." ucapnya dengan kesal dan menggeram.
"gak ada pilihan lain lagi mau gak mau aku sekolah kedokteran" ucapnya dengan menghela nafas dalam.
karena merasa sangat jenuh Dara pun menghubingin sahabatnya itu untuk menemaninya mencurahkan semua kegelisahan hatinya.
Tak lama kemudian mereka bertemu di sebuah cafe di dekat kampus.
" aku udahh gagal Sya..." ucap Dara dengan wajah yang sedih.
"kenapa bisa gagal " tanyanya kaget
"semua ini gara-gara cowok itu" jawabnya dengan menggeram.
"cowok siapa?" tanyanya penasaran.
" itu cowok yang pernah aku temuin waktu kita di persus ternyata dia mahasiswa disini, dia juga panitia yang mengurus mendaftaran" jawabnya dengan kesal.
" bagus apanya bukannya mempermudah buat aku pindah fakultas dia malah mempersulit aku tau gak sihh" ucap Dara dengan penuh emosi.
" pokoknya nyebeliiinnnn.." ucapnya lagi dengan menggeramkan tangannya.
" udah-udahh jangan marah lagi " jawab Masya berusaha menenangkannya.
" emngnya gia kayak gimana siihh orangnya gue penasaran, biar gue samperin dia itu" tanyanya dengan sedikit emosi.
Melamun sejenak ketika ditanya, membayangkan kejadian beberapa jam lalu, wajahnya yang tampan sedikit membuatnya terpesona, bengong dengan wajah polosnya dan mata yang berbinar-binar dan mulut yang sedikit tersenyum.
Tanpa sadar mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu.
" wehh..wehh.." usik Masya sambil memukul pundaknya sehingga mengagetkannya.
"ngelamunin apaan sii, senyum-senyum segala lagi" tanyanya dengan sedikit jahil.
" eeee gakk kok" jawabnya mengelak.
" mikirin apa ayoo... jangan-jangan mikirin cowok itu yaa" tanyanya dengan menggodanya.
" enggakkkk" jawabnya dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
" enggkk,,, tapi kok salting sihh" godanya lagi
" apaan siiihhh udahh ahh kok jadi ngomongin dia siihhh kita kan mau bahas masalah yang gagal itu" jawabnya dengan mengalihkan pembicaraan.
" oohh iyaa yaa" balasnya.
" terus keputusan lo gimana kalo udah kayak gini" tanyanya dengan serius .
" kayaknya aku akan tetap disekolah kedokteran sesuai dengan keinginan papah mungkin ini takdir dari tuhan Sya.." jawabnya dengan meyakinkan dirinya yang sebenarnya masih merasa sedih.
" mungkin ini yang terbaik buat aku " jawabnya lagi.
" lo pasti bisa ngelewatin semua ini,,, gue akan selalu dukung lo kok Darr" ucap Masya dengan memberi suport.
" pokoknya lo semangat " ucapnya lagi.
" eehh terus kamu gimana udah dapet beasiswanya, terus berhasil kahh, gimana cerita dong" tanyanya penasaran.
" guee..." jawabnya sedikit murung.
" kenapa? ga papa masih bisa coba lagi kan intinya jangan patah semangat" ucap Dara yang mengira dia gagal karena ekspresinya yang murung.
" gue berhasil. gue diterima difakultas kesenian dan dapet beasiswanya juga " jawabnya dengan bahagia dan tersenyum lebar.
" kamu bohongin aku,,, iiiihhh dasar yaa" balas Dara dengan mengerutkan dahinya dan bibirnya yang manyun tapi juga sangat senang karena sahabatnya.
" gakk dehhh gue bercanda aja kok" jawab Masya sedikit usil.
" Dasar kamu ini" ucap Dara yang semakin manyun.
" udahh dong jangan manyun lagi " ucap Masya sembari menghampirinya dan merangkulnya takut sahabatnya benar- benar marah.
" aku juga bercanda bweeekkk" jawab Dara membalas candaan Masya dengan menjulurkan lidahnya yang mungil.
" iihhh udah mulai gitu yaa sekarang" balasnya sambil mengelitik pinggang Dara.
Saling membalas candaan satu sama lain membuat mereka terlihat sangat bahagia,tertawa lepas seperti tidak ada beban kehidupan.
Dara yang merasa geli dengan gelitikan Masya membuatnya sentak bendiri dan belari kecil, karena terlalu asik bercanda dengan sahabatnya itu tiba-tiba ia menabrak sesuatu dari belakang, ia merasa punggungnya menempel pada sesuatu yang besar dan juga hangat, agak keras namun juga lembut.
sontak ia merasa kaget dan takut sahabantnya yang juga ikut syok melihanya dari hadapannya, Dara yang sudah panik dan jantung yang berdebar kencang perhalan ia memutar wajahnya memastikan apa yang ditabaraknya.
seketika matanya melotot tidak menyangka yang ditabraknya ternyata pria itu lagi, pria yang selalu membuatnya bertingkah aneh.
Menghindari pria itu yang jaraknya terlalu dekat spontan membuatnya mundur dan hampir terjatuh sambil menggigit jarinya.
" Ternyata kamu lagi gadis aneh " ucap pria itu dengan menyodorkan mukaknya kehadapannya dengan tatapan yang dalam.
seketika Dara memalingkan wajahnya yang sudah memerah dan segera mengambil tasnya lalu menarik tangan sahabatnya itu untuk segera meninggalkan tempat itu dengan panik.
__ADS_1
" hati-hati nanti nabrak lagi" teriak pria itu sambil menggodanya dan tersenyum tipis.
****