
Hari sudah cerah matahari terbit dari ufuk timur menyinari kamar Dara dari sudut jendela, perlahan membuka korden dengan mulut yang masih menguap dan mata yang bengkak karena kebanyakan menangis.
suasana hati yang masih kalut berjalan tak beraturan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.
Tiba di sekolah...
Menceritakan apa yang terjadi kepada sahabatnya dengan sedih dan tau harus berbuat apa.
" yang tenang yaa Darrr... semua pasti ada jalan keluarnya" ucap Masya sambil mengelus pundaknya
" Tapi Syaa keputusan papah udah gak bisa di ganggu gugat, papah juga udah daftarin aku di universitas kedokteran... aku harus gimana" jawabnya sambil bersedih.
" Aku juga bingung sii...." ucapnya Masya sambil berpikir.
hhmmmm...
" gimana kalau lo turutin dulu kemauan bokap lo nanti diam-diam lo ganti fakultas aja" ucapnya dengan ide gilanya itu
" gimana yaaa..." jawabnya bingung
setelah berpikir sejenak akhirnya memutuskan.
" boleh dehh di coba nanti hal selanjutkan aku pikirin kalo rencananya udah jalan" jawabnya lagi
Tertawa bersama setelah menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapinya dengan ide gila yang diberikan sahabatnya itu.
Untuk pertama kalinya melakukan hal yang sedikit menantang dan keluar dari zona nyamannya, sedikit takut tetapi juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Melakuakan sesuatu yang diri sendiri inginkan tak ingin menyesal karena kehilangan kesempatan untuk menjadi diri sendiri.
****
Beberapa hari kemudian hari-hari yang di tunggu para murid telah tiba dimana kelulusan akan di umumkan di mading sekolah.
Serentak semua murid menghampiri mading dengan antusias yang luar biasa, saling berdesakan memastikan dirinya telah lulus.
Begitu melihatnya mereka semua serontak bersorak mengetahui bahwa dirinya telah lulus.
__ADS_1
Setelahnya sekarang giliran Dara dan Masya yang melihat nilai ujian hasil kerja kerasnya selama ini, apakah Dara berhasil mendapat nilai terbaik sesuai dengan janjinya kepada ayahnya dan apakah Masya berhasil mendapat peringkat sepuluh besar agar bisa mendapat beasiswa, semua itu akan diketahui ketika mereka melihatnya sendiri.
serentak suara teriak bahagia keluar dari mulut mereka
Aaaaaaa....
saling berpelukan karena berhasil meraihnya, Dara yang mendapat peringkat pertama sedangkan Masya yang mendapa peringkat lima besar merasa sangat senang dan bahagia.
Semua murid bersuka cita merayakan kelulusan dengan sangat bahagia saling memberi selamat satu sama lain, suasana gembira sekolahan dipenuhi dengan suara teriak para murid yang bersemangat perasaan bahagia terpancar di wajah mereka.
Setelahnya Dara dan Masya segera pulang memberitahukan kabar gembira kepada keluarganya masing-masing.
karena ayahnya belum pulang Dara pun menunda memberitahukan kabar gembira itu dan menunggu memberitahunya di saat makan malam.
Sembari menunggu ayahnya pulang ia mempersiapkan diri ingin membujuk ayahnya sekali lagi agar ia diberikan kebebasan atas keinginannya sendiri.
Mondar- mandir kesana kemari berlatih mempersiapkan kata- kata yang tepat untuk di utarakan kepada ayahnya agar tidak menyinggung perasaanya dan membuatnya emosi lagi.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil dari luar rumahnya, ayahnya yang sudah tiba dirumah sedikit membuatnya gugup, Dara yang menunggu di meja makan dengan tatapan yang siap mengeluarkan kata-kata manisnya.
" makan dulu pahhh.. papah pasti laper aku udah siapin nih makanan kesukaan papah" ucapnya dengan penuh tipu muslihat.
Ayahnya menghampiri dengan tatapan kecurigaan.
" kalau ada sesuatu katakan aja" ucap ayahnya yang tiba-tiba seakan mengetahui maksud Dara
" gakk kok pahh cuma mau ngasi tau aja kalo hasil ujian aku udah keluar .. aku lulus pahhh dan dapet nilai terbaik" jawabnya dengan riang.
" Bagus dong nanti bisa dengan mudah daftar di universitas,, besok kamu ikut papah ke kampus yang udah papah pilihan yaa" ucap ayahnya yang ikut senang.
" Tapi pahhh boleh gakk kali ini aku pilih keputusan aku sendiri pahhh, aku pengen kuliah seni pahh" jawabnya dengan suara sedikit pelan.
" gakk bisa kamu harus jadi dokter, ini buat masa depan kamu" bentaknya dengan mata yang melotot.
"iyaa pahh" jawabnya dengan lembut dan menurut karena tidak mau suasana yang bagagia ini menjadi rusak, tetapi masih ada rencara lain di benaknya.
Keesokan harinya Dara dan sang ayah pergi ke kampus yang akan di tuju,disana begitu banyak orang yang akan mendaftar juga dengan segera ayahnya membawa dara masuk ke kampus itu, tidak ada pilihan lain Dara terpaksa mengikuti ayahnya .
__ADS_1
Berjalan sambil melihat-lihat kampus yang begitu besar dan luas membuat matanya tidak bisa fokus untuk jalan ke depannya sehingga tanpa sadar ayahnya telah menghilang dari hadapannya.
Beputar-putar merentangkan tangan menikmati suasana kampus tanpa sengaja menabrak seorang pria dengan tubuh yang tinggi, pria yang sedikit familiar di lihat dari bentuk tubuhnya.
tentu saja familiar karena dia adalah pria yang sama yang ditemuinya di perpustakaan saat sekolah menengah dulu ternyata dia adalah mahasiswa di kampus ini.
Terjatuh dengan posisi menimpa tubuh sang pria membuatnya hampir berciuman dengan jarak yang begitu dekat membuatnya tak bisa bernafas rasa gugup dan jantung berdetak kencang seperti mau keluar, dilihat dari dekat ternyata pria itu jauh lebih tampan dengan bulu mata yang panjang dan lentik, hindung yang macung kan kulit yang putih dan bersih.
Setelah terpana beberapa saat Dara segera bangkit dari tubuh sang pria yang ditimpanya.
"ma..ma- af kak gak sengaja.." ucapnya dengan gugup dan merundukan kepalanya.
" iyaa gak papa" jawabnya datar..
" sepertinya saya pernah lihat kamu tapi dimana yaa..." ucap pria itu sambil melihat wajah Dara untuk memastikan.
" mungkin salah orang" bantahnya dan langsung memalingkan wajahnya karena gugup.
" kenapa kamu terus menunduk apa aku akan memakan kamu" tanyanya dengan melihatnya dengan jarak yang semakin dekat.
Jantung Dara semakin berdetak kencang hingga membuatnya merasa sesak.
" kenapa wajahmu memerah.." tanyanya lagi sambil menatapnya dengan tatapan penuh perasaan.
Dara yang tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan tidak pernah berhadapan dengan lawan jenis selain dengan ayahnya itu membuatnya panik, nafasnya sudah semakin tak karuan.
perlahan berjalan mundur dengan tangan yang sudah berkeringat dingin karena baru pertama kalinya merasakan perasaan yang begitu aneh membuatnya sangat tidak nyaman.
Dengan segera ia berbalik arah dan langsung pergi dari hadapan pria itu, berjalan seperti tidak melihat arah dan menabrak sana sini bagaikan orang yang tengah dikejar setan saja.
Disisi lain pria itu yang melihatnya dari kejauhan tersenyum tipis melihat tingkahnya yang aneh namun juga membuatnya tertarik dan juga penasaran.
Kesan pertemuan yang cukup unik membuat pria itu tergerak hatinya untuk mengenalnya lebih dalam lagi.
Tetapi senyuman dari sosok pria itu bukanlah senyuman bisa seperti ada hal lain didalamnya.
****
__ADS_1