
Mereka harus ikut melakukan hal tersebut. Kurnia dan Landing Chen hanya bisa pasrah saja dengan apa yang terjadi sekarang dan hanya mengikuti alurnya saja. Acara rapat itu sungguh melelahkan bagi semua orang yang hadir di sana. Sebab waktu yang di perlukan untuk rapat tersebut sangat lama dan sampai seharian penuh baru rapat tersebut selesai.
Karena sudah malam dan rapat sudah selesai, Kurnia dan ayahnya langsung mengundurkan diri dari sana.
" Semuanya terima kasih untuk bantuan yang telah kalian semua lakukan kepada saya dan Kurnia. Saya benar benar berterima kasih, karena sudah malam saya mohon pamit untuk beristirahat." Kata Landing Chen kepada semua anggota keluarga Yun.
" Tuan Landing Chen tidak perlu sungkan kepada kami. Silakan Tuan Landing Chen dan tuan muda Kurnia beristirahat, kami tidak akan mengganggu kalian lagi." Kata salah satu tetua keluarga Yun yang ada di sana.
Lalu saat sebelum Landing Chen dan Kurnia pergi dari sana. Mereka berdua mengucapkan Selamat Malam kepada semuanya.
" Selamat Malam." Kata Kurnia dan Landing Chen bersama.
" Yha. Selamat Malam juga." Kata semua orang keluarga Yun serempak.
Setelah itu Kurnia dan Landing Chen berpisah pergi ke kamar mereka masing masing.
Di dalam kamar Kurnia bertanya kepada Zaza apakah ada sebuah obat atau cara untuk mengembalikan Meridian. Sebab Kurnia ingin membantu ayahnya agar meridian ayahnya bisa pulih lagi dan bisa berkultivasi seperti dahulu kala.
" Sebenarnya ada cara tuan. Yaitu dengan meminum Pil Eliksir Sintai." Kata Zaza.
" Pil Sintai?" Kata Kurnia.
__ADS_1
" Yha tuan. Pil Sintai adalah pil eliksir tingkat Langit. Akan tetapi karena pil Sintai adalah pil khusus untuk membantu memulihkan meridian seseorang, Maka dari itu sangatlah sulit membuat pil tersebut tuan. Bisa di katakan walau pil Sintai adalah pil tingkat langit, namun kesulitan untuk membuat pil tersebut setara dengan membuat pil tingkat dewa." Kata Zaza.
Kurnia sangat terkejut setelah mendengar apa yang di katakan oleh Zaza. walau pun terkejut namun Kurnia juga lega, sebab masih ada harapan untuk Kurnia agar dia bisa membatu ayahnya memulihkan meridian.
" Apa? apakah sesulit itu Zaza? Yang aku tau seseorang pembuat pil di tingkat langit saja sekarang hanya sebuah legenda belakang. Kalau pun ada mereka pasti belum tentu bisa membuat pil Sintai bukan?" Kata Kurnia sedikit dengan suara yang lemas.
" Bukan hanya dalam membuat pil nya saja yang sangat sulit tuan, namun juga ada kesulitan yang lainnya seperti harus bisa mengumpulkan bahan bahan obat yang cukup langka. Bahkan bahan bahan obat tersebut kemungkinan besar belum pernah anda dengar tuan." Kata Zaza.
Hal itu membuat Kurnia semakin frustrasi dan kekuatanbya seakan akan langsung hilang dan menjadi lemas tak berdaya.
" Yha mungkin aku akan sangat kesulitan untuk cara tersebut, Namun setidaknya ada setitik cahaya harapan yang ada. Walau pun itu hanya legenda atau apa pun itu. Kalau bisa untuk membantu ayahku memulihkan meridian, aku akan selalu mencobanya." Kata kurnia dengan tekat yang membara di dalam suaranya.
" Ohh.. iya aku hampir melupakan sesuatu. Karena aku sudah menyelamatkan ayahku dari Shuji Yun dan membunuh Shuji Yun dan Sedir Yun. Lalu kabar ini tidak tersebar keluar bukankah ini adalah kesempatan yang bagus untuk sekalian memberikan perhitungan kepada Shon Chen dan yang lainnya?" Kurnia berbicara sendiri.
Karena hal itu rencananya berubah drastis, Kurnia sebelumnya berencana membalas dendam kepada Shon Chen 1 (satu) minggu setelah Kurnia berhasil menghancurkan keluarga besar Yun. Namun rencana itu tidak dia lanjutkan karena kejadian kejadian ini tidak sesuai dengan yang dia pikirkan sebelumnya.
Lalu sekarang Kurnia memiliki lebih banyak waktu luang dan bisa kapan saja membalas dendam kepada Shon Chen dan yang lainnya.
Setelah itu Kurnia memutuskan untuk menyerang Shon Chen sekarang dan Kurnia pergi dari kediaman Yun sendirian menuju kediaman keluarga besar Chen.
Kurnia berjalan pelan pelan saat akan keluar dari kediaman keluarga Yun agar tidak ada seseorang pun yang tau kalau di akan keluar dari sana.
__ADS_1
Cukup lama Kurnia mengendap ngendap. Akhirnya Kurnia berhasil keluar dari kediaman Yun tanpa ada yang tau sama sekali.
" Huh... akhirnya aku bisa keluar dan tidak ada yang melihatku. Aku harus segar ke kediaman keluarga Chen dengan cepat dan menyelesaikan ini segera. Lebih cepat lebih baik." Kata Kurnia.
Lalu Kurnia dengan menggunakan beberapa kali jurus miliknya Langkah Shadow agar perjalanan ke kediaman keluarga Chen lebih cepat.
Namun hal itu juga membuat tenaga Kurnia berkurang, akan tetapi Kurnia tidak terlalu memikirkan hal itu Sebab Kurnia yakin bahwa di bisa mengalahkan Shon Chen.
Tidak butuh waktu lama untuk Kurnia sampai di kediaman keluarga besar Chen. Kurnia hanya memerlukan waktu sekitar 7 (tujuh) menit saja agar bisa sampai di kediaman Chen.
Karena Kurnia menggunakan jurus Langkah Shadow miliknya, jadi Kurnia lebih cepat dari biasanya. Biasanya seseorang dari kediaman keluarga besar Yun menuju ke kediaman keluarga besar Chen memerlukan paling tidak sekitar 15 (lima belas) menit.
Akan tetapi Kurnia hanya membutuhkan waktu sekitar 7 (tujuh) menit saja. Sekarang Kurnia telah tiba di kediaman keluarga besar Chen. Karena Kurnia sudah hafal dengan area area sekitar kediaman keluarga Chen.
Kurnia dengan mudah masuk ke dalam kediaman tanpa ada satu pun orang keluar Chen yang tau. Seperti saat di kediaman keluarga Yun, Kurnia juga berhati hati dan menyelinap menyelinap agar tidak ada orang yang curiga.
Kurnia langsung menuju ke arah para tetua keluarga Chen yang dulu menyerangnya dan memburunya sampai ke dalam dalam hutan. Kurnia ingat jelas kedua tetua yang telah membuatnya sengsara waktu itu.
Dengan cepat Kurnia tiba di sekitar kamar salah satu tetua yang dia cari. Kurnia bersembunyi di atas pohon dan menutupi tubuhnya dengan daun daun pohon tersebut. Lalu Kurnia meminta bantuan kepada Zaza untuk menditeksi apakah ada seseorang di sekitar sana.
" Tidak ada seseorang pun di sekitar sini tuan. Juga tetua yang waktu itu ada di dalam kamarnya dan dia sedang tertidur." Kata Zaza.
__ADS_1
" Baiklah ini kesempatan yang bagus." kata Kurnia.
Kurnia pun turun dari pohon tersebut dengan hati hati dan berjalan pelan pelan ke kamar tetua tersebut. Saat sampai di depan pintu kamar tetua itu, Kurnia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar tersebut.