Kebangkitan Pecundang Keturunan Sang Penguasa Dunia

Kebangkitan Pecundang Keturunan Sang Penguasa Dunia
Bab 83


__ADS_3

Kurnia turun dari pohon tersebut dengan hati hati dan berjalan pelan pelan ke kamar tetua tersebut. Saat sampai di depan pintu kamar tetua itu, Kurnia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Sebab Kurnia tidak terpikirkan cara lain agar bisa masuk ke dalam kamar.


Kalau pun Kurnia ingin masuk ke dalam kamar tetua itu, Kurnia hanya terpikirkan cara yaitu dengan mendobrak pintunya dan masuk. Namun kalau Kurnia melakukan hal itu, kemungkinan akan banyak orang yang akan datang kemari karena mendengar suara kegaduhan tersebut.


Karena itulah Kurnia memilih cara yang simpel saja dengan mengetuk pintu seperti seorang tamu dan menunggu agar tetua itu membuka pintunya.


Selang beberapa saat kemudian bebar saja tetua tersebut membuka pintunya. Tetua itu membuka pintu sambil salah satu tangannya mengucek matanya karena masih mengantuk sambil berkata.


" Siapa? kenapa malam malam begini datang kemari!! apakah menurutmu besok sudah tidak ada hari lagi!!" Kata tetua tersebut dengan nada tinggi karena marah.


Namun tetua itu belum sadar bahwa orang yang ada di depannya adalah orang yang ingin membantu menganatarnya ke dunia lain saat ini juga.


Saat tetua tersebut selesai mengucek matanya, dia menoleh ke arah Kurnia sambil berkata.


" Apakah kamu bisu!! kenapa tidak menjawab pertanyaanku!! Apakah menurutmu aku hanya seorang tetua yang bisanya mengoceh saja!!" Kata tetua tersebut.


Masih belum sadar siapa yang ada di depannya, tetua itu terus menerus memaki dan memarahi Kurnia. Kurnia dengan tenang hanya tersenyum saja kepada tetua tersebut.


Lalu saat tetua itu sudah bosan dan berhenti mengoceh tidak karuan. Sekarang giliran Kurnia untuk berbicara, Kurnia hanya berbicara dengan singkat saja. Dan bukannya marah Kurnia malah menyapa tetua tersebut dan menanyakan keadaan tetua tersebut.


" Selamat malam tetua. Apa kabar? Apakah anda baik baik saja?" Tanya Kurnia kepada tetua tersebut.


Tetua itu bingung dengan apa yang di katakan oleh Kurnia, dan tetua itu hanya menganggukan kepalanya dan menjawab pertanyaan Kurnia seperti orang orang bisa yang saling menyapa dan menjawab dengan biasanya.


" Yha selamat malam. Aku baik baik saja. Bagaimana denganmu? apakah kamu juga baik kok baik saja?" Kata tetua tersebut.

__ADS_1


Malahan tetua tersebut berbalik bertanya tentang bagaimana kabar Kurnia juga. Tentu saja Kurnia menanggapinya dengan senyum seperti biasa.


" Aku baik baik saja." Kata Kurnia.


Lalu Kurnia melanjutkan perkataannya lagi.


" Aku pikir anda tidak baik dari baik saja tetua. Yha memang sekarang anda baik baik saja, akan tetapi sebentar lagi mungkin anda sudah tidak baik baik saja." Kata Kurnia.


Perkataan Kurnia membuat tetua tersebut berpikir dan mengingat apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Kurnia tau bahwa tetua itu akan kembali sadar, saat dia sadar dan tau kalau seseorang yang ada di depannya saat ini adalah Kurnia.


Pasti tetua itu langsung kabur melarikan diri dari sana untuk menghindari Kurnia, akan tetapi tepat pada saat tetua itu baru sadar dengan apa yang terjadi dan tau siapa sebenarnya orang yang ada di depannya, seperti apa yang di pikirkan oleh Kurnia tadi. Kurnia langsung memukul dengan keras perut tetua tersebut.


" Bukk.." (suara pukulan Kurnia)


Seketika tetua tersebut tidak bisa bergerak dan tidak sanggup mengucapkan satu kata pun. Tetua itu hanya memegang perutnya dan satu tangan menunjuk nunjuk ke arah Kurnia.


Tertua hanya bisa berjalan mundur saja sambil sempoyongan, Kurnia melangkahkan kakinya maju untuk mendekati tetua tersebut.


" Bagaimana tetua? Apakah kamu tidak menyangka akan memiliki nasib sial seperti ini? Seharusnya kamu sudah sadar bukan? Ini adalah aku. Orang yang kamu buru waktu itu, bahkan kamu tidak berbelas kasihan kepadaku waktu kalian memburuku sampai di dalam hutan waktu itu." Kata Kurnia.


Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Kurnia, tetua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menggerakkan tubuhnya yang lain yang untuk memohon ampun kepada Kurnia.


Kurnia sudah memprekdiksi situasi ini, Kurnia tau bahwa tetua itu akan memohon kepada dirinya saat dia akan membunuhnya.


Melihat bahwa tebakannya benar, Kurnia pun tertawa keras namun setelah itu Kurnia mengurangi keras suara tawanya. Sebab saat Kurnia tertawa keras, suara tawa itu benar benar cukup keras dan bisa saja membuat gaduh di sana juga bisa membuat keberadaan Kurnia terunggap.

__ADS_1


" Ohh.. apa yang kamu lakukan tetua? Kenapa kamu berperilaku seperti ini? aku jadi tidak enak jika kamu seperti ini." Kata Kurnia sambil mendorong tetua itu saat tetua itu mau mendekati dirinya untuk memohon ampunan.


Karena sekarang Kurnia tau bahwa di dunia ini hanya ada yang kuat dan yang lemah. Yang kuat akan bisa menjaga dirinya dan bisa menindas yang lemah. Dan yang lemah hanya bisa pasrah saat di tindas oleh yang kuat.


Karena itu Kurnia harus bisa merubah sedikit sifatnya yang terlalu lembut dan baik hati sekarang atau saat di masa depan nanti rasa lembut dan baik hatinya kepada lawan akan membuatnya kesulitan.


Saat Kurnia terpikirkan akan hal tersebut, Kurnia lalu mengambil nafas dalam dalam sebelum berkata kepada tetua tersebut.


" Sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal ini tetua, namun karena kamu lah yang memulai hal ini sebelumnya aku juga tidak bisa apa apa lagi. Jadi sebelum aku melakukannya, aku mohon maaf kepadamu terlebih dahulu." Kata Kurnia.


Tetua itu tau apa yang di maksud oleh Kurnia tentang hal tersebut, karena ketakutan dan tidak mau mati di sana. Tetua itu berusaha melarikan diri dari Kurnia, akan tetapi usahanya sia sia.


Saat di membalikkan badan dan akan melarikan diri, Kurnia dengan cepat menyerangnya dan serangan itu tepat di kepala tetua tersebut dab membuat kepalanya hancur.


Darah pun langsung berhamburan di sana. Tangan Kurnia kini telah berubah menjadi merah pekat karena darah tersebut, bahkan baju yang Kurnia pakai juga terkena darah itu walau tidak banyak.


Setelah melakukan hal tersebut Kurnia menghela napasnya beberapa kali untuk menenangkan pikirannya. Lalu Kurnia pergi dari sana, Sebelum pergi Kurnia menutup pintu kamar tersebut agar tidak ada yang tau bahwa tetua itu telah mati.


Sekarang Kurnia pergi ke kamar tetua yang dulu menyerangnya dan membuat dirinya terluka parah saat akan melarikan diri ke hutan.


Tidak jauh dari kamar tetua yang sebelumnya di bunuh olehnya, Kurnia hanya memerlukan tidak lebih dari 3 (tiga) menit untuk mencapai kamar tetua tersebut.


Seperti biasa. Kurnia meminta bantuan Zaza untuk menditeksi apakah ada orang di sekitarnya saat ini. Dan ternyata ini adalah hari yang bagus untuk Kurnia, sebab di sana tidak ada seseorang pun dan hanya ada tetua yang sebentar lagi akan dia bunuh.


Kurnia tidak menyia nyiakan waktunya, dia langsung menuju ke pintu kamar tetua tersebut dan mengetuknya.

__ADS_1


Sebelumnya Zaza memberitahu Kurnia bahwa tetua itu belum tidur, jadi Zaza mengingatkan Kurnia untuk berhati hati ketika menghadapi tetua tersebut.


Lalu saat pintu akan terbuka, Kurnia sudah bersiap siap untuk menyerang tetua tersebut. Akan tetapi hal tak terduga pun terjadi.


__ADS_2