
Bintang menyempatkan diri mengunjungi Nadia di tengah kesibukannya yang semakin memakan banyak waktu. Seperti hari minggu sebelum dia berangkat ke luar negeri untuk menjalin kerjasama yang lebih luas, Bintang datang menemui Nadia dan Nenek Mina. Dia bahkan masih makan siang bersama mereka.
“Berapa lama Tuan di luar negeri?” tanya Nadia saat mereka sedang duduk santai di depan teleisi.
“Tidak lama, mungkin hanya sekitar seminggu” jawab Bintang. Dia ingin sekali memeluk Nadia tapi ada Nenek Mina yang mondar mandir membuat mereka hanya bisa saling menatap.
“Mau aku belikan sesuatu?” Bintang menawarkan oleh-oleh pada gadis itu, Nadia menggeleng.
“Apa lagi yang bisa aku minta ketika Tuan sudah memberikan begitu banyak” jawabnya di iringi senyumannya. Bintang membalas senyuman Nadia, rasanya dia ingin segera menjadikan gadis itu miliknya sehingga dia tidak perlu sembunyi-sembunyi hanya untuk sekedar memeluknya.
“Bagaimana kuliahmu? Apa pekerjaanmu tidak mengganggu belajarmu?”
“Semuanya baik-baik saja, Tuan. Aku bisa mengatur waktu antara kuliah dan kerja, lagi pula mata kulaih belum terlalu padat,” Bintang mengangguk-angguk. Dia terlihat sangat canggung berhadapan dengan Nadia sementara Nenek Mina ada di sekitar mereka. Nadia yang menyadari sikap Bintang hanya bisa terkikik, sementara Bintang terlihat pasrah harus meninggalkan gadis itu tanpa memberinya pelukan dan ciuman.
Sepeninggal Bintang, Nadia bergegas untuk bersiap-siap karena sebentar lagi Vanesa dan Angel akan menjemputnya. Vanesa menerima ajakan Aaron dan Arka untuk nonton di bioskop dengan syarat kedua temannya juga ikut. Nadia dan Angel yang tidak mau membiarkan Vanesa hanya seorang diri bersama Aaron dan Arka akhirnya mau ikut menemani Vanesa.
Mereka melanjutkan makan-makan setelah menonton, Aaron dan Arka ternyata tidak seperti dugaan Nadia dan Angel. Kedua laki-laki itu benar-benar menjaga mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Membuat Nadia dan Angel merasa bersalah sudah terlalu curiga pada mereka.
“Kalian seru juga yah” kata Aaron. Dia membagikan minuman pada ketiga gadis itu, tapi baru saja mereka akan meminumnya keributan terjadi di dalam restoran itu.
Seorang wanita yang berusia sekitar tiga puluh tahun menghampiri meja sepsang kekasih yang sedang menikmati makan malam mereka. Wanita itu membanting meja yang di tempati sepasang kekasih itu membuat semua pengunjung restoran mengalihkan pandangan pada mereka. Termasuk Nadia dan yang lainnya.
“Kurang ajar kamu, dasar perempuan murahan.. plakk” satu tamparan wanita itu berikan pada wanita yang ternyata adalah selingkuhan suaminya.
“Ma...” laki-laki itu menahan istrinya yang hendak kembali memukul selingkuhan suaminya, tapi.... plakk... satu tamparan juga untuk suaminya.
“Beraninya kamu di belakang aku, sama perempuan rendahan seperti ini... teriak wanita itu di depan suaminya. Wanita itu kembali mendekati selingkuhan suaminya yang mungkin masih berusia dua puluhan. Tanpa ampun dia memukul, menjabak dan menampar selingkuhan suaminya itu, sementara suaminya juga tidak berdaya ketika selingkuhannya di hajar habis-habisan oleh istrinya.
hingga akhirnya suaminya berhasil membawa istrinya pergi dari restoran itu. tinggalah sang pelakor sendiri di teriaki oleh para pengunjung restoran. Hingga ada seorang wanita datang membawanya pergi dari restoran.
__ADS_1
Vanesa dan Angel dan Nadia saling pandang setelah keributan itu mereda, dalam benak mereka timbul pemikiran yang sama. Bagaimana seandainya mereka yang berada di posisi wanita itu, di pukul dan di permalukan di depan umum. Apa yang akan mereka lakukan.
Angel memegangi dadanya karena dia sudha terlepas daro kemungkinan itu, dia lalu melirik Vanesa dan Nadia yang sampai saat ini masih berada dalam hubungan terlarang dengan suami orang. Wajah Vanesa terlihat takut, dia mengigit kukunya membayangkan dia yang sedang di pukulo oleh istri sah Alex. Sedangkan Nadia juga memikirkan hal yang sama, bagaimana Sarah akan menghajarnya tanpa ampun ketika hubungannya dengan Bintang sampai ketahuan.
Nadia dan Vanesa saling tatap dengan mata yang ketakutan.
“Ganggu aja...” kata Aaron membuyarkan lamunan Vanesa dan Nadia.
“Ayo, minum dulu. Kalian pasti kaget kan” Aaron kembali menyodorkan minuman itu pada Nadia dan teman-temannya.
Hanya Angel yang meminumnya sementara Vanesa dan Nadia minum air mineral yang tadi belum mereka habiskan.
“Itu pelajar buat cewek-cewk, jangan jadi perusak rumah tangga orang. Kalian bakalan nggaka da harga dirinya kalau ketahuan” kata Arka yang semakin membuat Vanesa dan Nadia gelisah.
“Kami duluan yah, nanti kapan-kapan kita jalan lagi” tanpa menunggu Aaron berbicara, Vanesa langsung meninggilkan mereka di ikuti Nadia dan Angel.
“Aku mau putus sama Om Alex” kata Vanesa saat mereka sudah berada di dalam mobil.
“Lebih baik jangan temui Tuan Bintang dulu sebelum hubungannya dengan Sarah berakhir, kamu mau seperti Mbak yang tadi. Malu banget pasti dia, mana banyak video lagi. Pasti sebentar lagi beritanya sudah ada di semua akun berita gosip” kata Angel menasehati Nadia.
Perkataan Angel membuat Nadia berfikir untuk menghindari Bintang sementara waktu, tapi untung saja saat ini Bintang sedang tidak berada di negeri ini.
“Panas banget sih,” Angel mengipas-ngipas dirinya padahal di dalam mobil Vanesa sangat dingin.
“Kenapa kepanasan sih, ini sudah dingin, Angel” kata Vanesa memeriksa suhu mobilnya yang menurutnya sudah cukup dingin.
“Panas banget, aku nggak tahan” Angel seperti cacing kepanasan di dalam mobil, tubuhnya meliuk liuk membuat Vanesa tidak fokus membawa mobil.
“Ini anak kenapa sih” Vanesa meminggirkan mobilnya dan memindahkan Angel ke kursi penumpang agar idak menganggunya menyetir.
__ADS_1
“Angel, kamu kenapa” Nadia memegangi tubuh Angel yang tidak berhenti meronta. Dia membuka bajunya satu persatu sambil terus teriak kepanasan.
“Angel, kamu sudah hampir telanjang, kamu kenapa...?” Anesa dan Nadia mulai panik melihat kelakuan Angel. Saat sampai di apartemen, Nadia dan Vanesa membopong Angel naik ke unit mereka setelah berhasil memakaikan kembali pakaian gadis itu.
“Aku nggak kuat, kepalaku sakit” teriak Angel.
“Dia nggak mabukkan, tadi tidak ada alkoholkan” Nadia mengingat apa yang mereka minum dan tidak ada minuman beralkohol tadi atas meja.
Tidak tega melihat Angel terus meliuk-liukkan tubuhnya sambil membuka semua pakaiannya, Vanesa dan Nadia lalu membawanya ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air dingin. Setelah itu mereka merendamnya di dalam bathub. Angel mulai tenang. Walaupun dia masih berteriak kepanasan.
Vanesa dan Nadia saling pandang, ada satu hal dipikiran mereka. Tadi Aaron menawarkan mereka jus buah tapi mereka tidak meminumnya, sementara Vanesa melihat Angel meminum jus buah itu setengah gelas.
“Apa mungkin...?”
“Brengsek...”
“Aku sudah duga mereka tidak beres” kata Nadia dengan emosi.
“Aku nggak bisa bayangkan kalau tadi kita juga minum”
“Aku sudah hampir minum juga tadi, kalau nggak ada keributan itu pasti juga sudah habis aku minum.”
Setelah melihat Angel sudah tenang, mereka mengelurkannya dari dalam bathhub dan membersihkan tubuhnya.
Malam ini Nadia meminta izin kepada Nenek Minta untuk menginap di apartemen Vanesa, dia tidak menjelaskan alasannya hanya mengatakan kalau Angel sedang sakit dan ingin tinggal membantu Vanesa menjaganya.
Saat sadar, Vanesa memberikan obat kepada Angel. Tadi dia meminta orang membelikan obat setelah menceritakan ciri-ciri penyakitnya.
“Jadi maksud kalian tadi itu aku habis minum obat perangsang?” tanya Angel setelah Nadia menceritakan apa yang terjadi padanya tadi.
__ADS_1
“Aku takut,” Angel memeluk Vanesa yang berada di sampingnya. Setelah suasana sudah lebih baik dan Angel sudah sepenuhnya sadar, mereka bertiga lalu tidur di kamar Vanesa.