
Malam ini Nadia sudah menunggu Bintang dengan baju dinasnya di atas tempat tidur. Dia juga sudah berdandan cantik dan memakai minyak wangi yang dia beli di mall tadi. Sambil menunggu Bintang yang masih berada di ruang kerjanya, Nadia melihat-lihat video pernikahannya di layar televisi. Nadia baru sadar bahwa mungkin ada ribuan orang yang datang di acara pernikahannya kemarin.
Suara pintu terbuka, Nadia menoleh dan melihat Bintang masuk ke kamar.
“Kau melihat videonya?” tanya Bintang sambil berlalu ke kamar mandi. Tidak lama Bintang keluar lalu naik ke tempat tidur. Dia menelan ludahnya melihat baju yang Nadia pakai di balik selimutnya. Entah kenapa Bintang selalu di buat terpana jika Nadia sudah memakai lingerinya, padahal Sarah dulu juga suka memakai baju seperti itu.
“Kau sudah siap rupanya” kata Bintang. Dia menganbil remota dan mematyikan televisi, kemudian mulai mengerayangi tubuh indah dan menggoda istrinya. Nadia sudah mulai bisa mengimbangi permainan Bintang di atas tempat tidur, perlahan dia mulai mengusai permainan dan memberikan Bintang kepuasan yang luar biasa.
Hari ini seperti biasa, Bintang menantar Nadia ke kampus sebelum ke kantor.
“Kau tidak kemana-mana hari ini kan?” tanya Bintang.
“Vanesa mengajak kami makan siang,” Bintang terlihat kecewa. Dia ingin mengajak Nadia makan siang bersama sebenarnya.
“Aku akan pulang sebelum Tuan ada di rumah,” kata Nadia lalu keluar dari mobil tentu setelah memberi ciuaman yang sangat manis pada suaminya.
Dia melihat Vanesa tidak seceria biasanya, bakhan gadis itu hanya diam saja sejak tadi. Angel yang sudah datang lebih dulu dari Nadia juga tidak tahu ada apa dengan sahabat mereka yang satu itu.
Mata kuliah hari ini selesai, Vanesa mengajak mereka semua ke rumahnya. Saat sampai, orang tua Vanesa sedang ada di ruang keluarga dengan laptop mereka masing masing. Nadia dan Angel menyapa sopan pada orang tua Vanesa lalu mengikuti Vanesa ke kamarnya.
Vanesa meminta pada pelayan agar makan siang mereka di bawa naik ke kamarnya saja karena dia ingin menikmati waktu bersama teman-temannya.
“Kenapa? Kamu ada masalah?” tanya Angel. Dari tadi Vanesa sangat irit bicara dan tidak seperti biasanya.
Tiba-tiba Vanesa memeluk kedua temannya sambil menangis membuat Nadia dan Angel panik.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Nadia melepaskan pelukan Vanesa. Gadis itu masih terisak, sejak tadi dia sudah berusaha menahan air matanya.
“Aku mau pergi, kita nggak akan ketemu lagi” kata Vanesa dengan suara serak. Dia benar-benar merasa sedih harus berpisah dari teman-temannya itu. Mereka sudah melalui banyak waktu sedih dan senang bersama-sama. Persahabatan yang terjalin di antara mereka benar-benar sangat erat hingga membuat siapapun yang melihatnya menjadi iri.
“Apa maksud kamu?” tanya Angel dengan bingung. Vanesa mengusap air matanya dan mengatur nafasnya terlebih dahulu.
Teramat sangat berat keputusan yang harus dia ambil, tapi setelah berfikir dengan baik dan hati-hati Vanesa memilih ikut orang tuanya ke luar negeri. Dia takut jika harus menghadapi situasi seperti yang dia alami kemarin. Bagaimana jika orang tuanya tidak segera datang waktu itu, bagaimana jika tidak ada lagi teman yang membantunya jika hal yang serupa terjadi. Walau kali ini Vanesa sudah sangat berhati-hati dalam memilih teman, tapi bukan berarti kejadian yang sama tidak bisa terulang. Apalagi dengan latar belakangnya keluarganya. Pasti orang yang dekat dan baik padanya memliki tujuan tertentu.
“Berat banget meninggalkan kalian disini, tapi aku juga takut sendirian. Aku masih trauma dengan kejadian kemarin. Jadi aku rasa berada di dekat orang tuaku mungkin adalah pilihan terbaik,” kata Vanesa menjelanskan kenapa dia lebih memilih ikut orang tuanya saja. Pilihan yang dia ambil setelah berpikir dari segala sisi.
Nadia dan Angel tentu tidak bisa menahan tangisnya melihat Vanesa yang kembali menangis. Mereka mengingat masa-masa mereka bertemu yang pertama kali, bagaimana mereka menjadi sugar baby dan bersenang-senang bersama.
“Kamu pasti baliknya lama banget, iya kan?” tanya Angel. Vanesa mengangguk.
“Iya, kata Mama kita mungkin nggak bisa balik dalam waktu dekat,” mereka lalu berpelukan dan menangis bersama.
“Kamu orang yang baik banget, kamu mau berteman sama aku meskipun aku hanya pembantu. Aku pasti akan sanat kehilangan kamu,” kata Nadia.
“Kamu juga selalu antar jemput aku waktu masih kerja, kamu baik banget sama aku, Vanesa,” Angel tidak bisa menahan rasa sedihnya sehingga dia kembali menangis dan membuat kedua temannya ikut menangis.
Siang itu mereka saling menguatkan, Vanesa berjanji tidak akan pernah melupakan teman-temannya itu. Teman spesial yang seperti saudara kandung baginya.
Supir Vanesa mengantar kedua gadis itu pulang, Nadia meminta di antar ke kantor Bintang karena dia membutuhkan pelukan suaminya sedangkan Angel langsung pulang ke rumahnya.
Karyawan Bintang tentu sudah mengenal Nadia karena mereka semua menghadiri acara pernikahannya. Mereka dengan sopan dan ramah menyapa istri dari bos mereka.
__ADS_1
“Sayang” Nadia langsung memeluk Bintang saat laki-laki itu berdiri dari kursinya dan menjemput istrinya di depan pintu kantornya.
“Ada apa?” tanya Bintang oanik melihat pipi basah istrinya. Dia membawa Nadia duduk di sofa dan meminta sekertrisnya membawa minuma dingin untuk istrinya.
“Ada apa, siapa yang membuatmu menangis?” tanya Bintang seklai lagi.
“Vanesa” jawab Nadia singkat.
“Vanesa? Apa yang dia lakukan padamu? Bukankah kalian berteman? Ada apa?” tanya Bintang lagi tidak sabaran.
“Vanesa mau pergi, dia mau ikut orang tuanya keluar negeri,” jawaban Nadia membuat Bintang menghela nafas. Dia pikir Nadia dan Vanesa bertengkar seperti kebayakan gadis lain.
“Karen itu kau menangis?” Nadia mengangguk. Bintang mengusao kepalanya dan menyandarkan wajah istrinya di dadanya.
“Sudahlah, aku rasa itu yang terbaik untuknya. Dia seorang gadis yang beranjak dewasa, dia butuh bimbingan dan perlindungan orang tuanya,” kata Bintang dengan bijak.
“Iya, kami tahu. Tapi kan kami tetap sedih harus kehiangan teman yang sudah seperti saudara,” kata Nadia dengan manja.
Bintang tentu mengerti bagaimana persahabatan ketiganya, pasti Nadia kana merasa sangat kehilangan.
“Kau sudah makan?” tanya Bintang. Nadia menggeleng.
“Kami tidak bisa makan,” jawabnya.
Bintang sudah menbeka apa yang tadi terjadi, mereka pasti hanya menangis dan saling berpelukan.
__ADS_1
Bintang lalu meminta sekertarisnya untuk membawakan buah segar seperti yang Nadia minta sambil menunggu Bintang menyelesaikan pekerjaannya. Mereka akan pulang bersama karena hari juga sudah mulai sore.
Nadia tertidur ketika menunggu suaminya itu. Saat Bintang hendak membaringkannya di sofa, Nadia terbangun dan meminta makanan karena perutnya sudah sangat lapar. Bintang lalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat lalu membawa Nadia mencari makan sekaligus juga makan malam.