Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 71


__ADS_3

Hari sudah malam saat Nadia pulang ke rumah. Nadia dan Angel tadi kembali lagi ke rumah Vanesa dan menceritakan tentang Bryan yang ternyata adalah pemilik restoran tempat mereka bekerja. Vanesa cukup terkejut karena setahunya, Bryan tidak memiliki restoran di kota itu dan bisnis Bryan bukan bisnis restoran.


Tapi Vanesa cukup merasa iri pada Angel karena Angel mendapatkan orang yang benar-benar tulus menyayanginya. Tidak seperti dirinya yang bertemu dengan Alex yang ternyata hanya memanfaatkan dirinya sebagai sumber uang.


Bintang sudah menunggu Nadia di ruang tengah, saat Nadia melihat Bintang dia langsung teringat pada janji yang dia buat demi untuk menolong Vanesa kemari.


“Selamat malam, Tuan,” sapa Nadia. Dia menunduk sopan dan memperlihatkan wajah imutnya agar Bintan tidak memarahinya karena pulang malam lagi.


Bintang menggeleng, dia menyadari bahwa dia menyukai seorang remaja yang masih ingin bebas bermain bersama teman-temannya.


“kenapa pulang malam? Apa saja yang kalian cerita sampai lupa waktu,” kata Bintang. Tadi Nadia hanya izin padanya bahwa dia akan pulang sebelum sore, tapi ternyata gadis itu baru pulang ke rumah saat langit sudah gelap di luar sana.


“Tadi aku cari kampus Tuan, kami rencananya mau pindah,” jawab Nadia. Mereka kan emmang berencana untuk pindah walau belum mencari kampus mana yang baik dan bisa menerima mereka bertiga bersama-sama.


“Kampusmu yang sekarang memang kenapa?”


Nadia menghela nafas lalu menceritakan pada Bintang bagaimana mereka bisa masuk ke kampus itu bersama-sama. Semua karena bantuan Alex, jadi mereka tidak mau kuliah lagi di kampus itu karena mereka akan selamanya mengingat bahwa Alex yang sudah membantu mereka. Apalagi mengetahui bahwa Nadia dan Angel bisa dapat beasiswa juga karena bantuan dari Alex.


“Benarkah?” Bintang terkejut karena kampus itu milik teman Papanya yang sekarang di wariskan pada anaknya yang adalah teman baik Bintang. Kampus itu memang sering memberikan beasiswa pada mahasiswa yang berprestasi.


“Aku akan tanyakan pada temanku nanti tentang kampusmu, sayang kalau kalian pindah,” kata Bintang. Nadia yang tidak mengerti maksud Bintang hanya menganggi dan tersenyum.


“Mandilah, lalu makan kalau kau belum makan,” kata Bintang lalu meninggalkan Nadia dan masuk kembali ke ruang kerjanya.


“Tuan Bintang baik banget sih, Om Bryan juga baik. Hanya Om Alex aja yang jahat. Aku sama Angel beruntung ketemu orang baik, tapi kasihan Vanesa ketemu sama orag jahat.” Nadia lalu masukke kamarnya dan membersihkan dirinya.

__ADS_1


Saat malam ketika Nadia tidur, Bintang menyelinap masuk ke dalam kamarnya yang tidak terkunci itu. Bintang naik ke tempat tidur Nadia dan tidur di smaping gadis itu. Nadia terbangun saat merasa ada seseuatu yang berat di atas perutnya. Nadia terkejut saat melihat Bintang sedang memeluknya.


“Tuan...” kata Nadia setengah teriak karena sadar kalau sekarang sudah tengah malam.


“Aku datang menagih janjimu,” Nadia mengkerutkan keningnya lalu menunduk malu saat mengingat janji apa yang Bintang maksud.


Bintang lalu menarik Nadia agar gadis itu kembali berbaring di sampingnya. Setelahnya, Bintang menyatukan bibir mereka. Bintang mencecap lembut bibir manis Nadia, Nadia yang merasa ada getaran di sekitar perutnya pun memejamkan mata dan menikmati permainan Bintang di bibirnya.


Saat merasa ada gejolak luar bisa dari dalam dirinya, Bintang melepaskan bibirnya. Dia menatap Nadia yang wajahnya ternyata sudah merah. Entahlah, gadis itu mungkin juga merasakan sesuatu sama seperti yang Bintang rasakan.


Bintang mengecup kening Nadia lalu bangun dari tempat tidur. Dia mungkin tidak akan bisa menahan dirinya lebih lama melihat Nadia, apalagi wajah adis itu sangat berantakan karena ciuamn panas mereka barusan.


“Tidurlah,” kata Bintang lalu meinggalkan kamar Nadia dan kembali ke kamarnya. Nadia hanya menatapa nanar ke arah Bintang yang sudah tidak terlihat lagi setelah pintu tertutup.


Nadia menghelas nafas, dia memegang bibirnya yang terasa membesar lalu tersenyum. Sepertinya Nadia suka dengan ciuman itu.


Sudah lebih dari sebulan sejak Bintang dan Sarah secara resmi berpisah, sejak saat itu Bintang tidak lagi memiliki wanita untuk menyalurkan hasratnya. Bintang menahan diri untuk tidak mencari wanita malam agar bisa terpuaskan, dia tidak mau melakukannya dan hanya akan menunggu sampai dai benar-benar siap untuk meminta Nadia menjadi pengganti Sarah dalam hidupnya.


Sementara ini, Bintang akan membiarkan hubungannya dengan Nadia mengalir seperti air meski tidak menutup kemingkinan dia akan menikahi Nadia dengan segera.


Pagi hari kembali datang, Nadia sudah bangun sejak pagi menyiapkan sarapan seorang diri karena Tuti sedang tidak enak badan. Salah satu pelayan yang bekerja part time di rumah Bintang juga sudah tidak bekerja, jadi tinggallah Nadia bersama seorang lagi yang bekerja.


Nadia teringat masa-masa dia masih kecil berada di rumah ini bersama Neneknya. Dia sudah membantu Nenek Mina walau saat itu usianya masih sepuluh tahun. Nadia memang sangat rajin sejak kecil. Dia membantu apa saja yang bisa dia lakukan untuk membantu Neneknya.


“Aku jadi kangen sama Nenek,” Nadia melihat sekeliling rumah dan merasa Neneknya masih ada bersamanya sekarang.

__ADS_1


“Tuti mana?” tanya Bintang saat tidak melihat gadis itu.


“Mbak Tuti lagi sakit, Tuan,” jawab Nadia.


“Jadi kamu yang menyiapkan semua ini?” tanya Bintang.


“Iya, Tuan,” jawab Nadia. Bintan melihat sekeliling rumahnya yang besar. Dia berfikir untuk menambah pembantu yang bisa tinggal di rumah agar bisa membantu Tuti.


“Mulai malam ini pindahkan semua barang-barangmu ke kamar tamu di atas, Nadia,” Nadia memicingkan matanya.


“Kenapa?” tanya Nadia heran. Kenapa Bintang tiba-tiba menyuruhnya pindah kamar, dia sudah nyaman berada di kamar yang dia tempati selama ini. Apalagi di kamar itu banyak kenangannya bersama Nenek Mina.


“Nanti ada pembantu baru yang akan menempati kamar itu, aku akan menambah dua lagi da mereka akan tinggal di sini. Jadi kau tidak perlu melakukan apapun. Pekerjaan tuti juga akan semakin ringan,” kata Bintang. Nadia ingin membantah tapi Bintang sudah mengatakan dengan jelas sehingga Nadia hanya bisa mematuhinya saja.


Saat Bintang berangkat ke kantor, Nadia masuk ke kamar Tuti membawa sarapan dan obat untyk gadis itu.


“Mbak... Tuan Bintang mau tambah orang, katanya biar Mbak nggak terlalu capek,” kata Nadia seperti apa yang Bintang katakan.


“Mbak sakit bukan karena capek, Nad. Mbak kemarin telat makan karena keasiksan nonton drama korea, makanya asam lambung Mbak naik,” kata Tuti.


“Biarin aja, Mbak. Toh yang di pakai bayar gaji mereka juga bukan uang kita,” kata Nadia. Dia juga menceritakan pada Tuti bahwa Bintang menyuruhnya pindah ke kamar tamu di lantai atas. Tuti justru mendukung Bintang karena Nadia bukan lagi pembantu tapi dia adalah kekasih Bintang.


“Mbak nggak keberatan?” Tuti mengkerutkan alisnya.


“Itu kan rejeki kamu, Nad. Bisa di cintai oleh Tuan Bintang adalah rejeki kamu, kenapa Mbak keberatan.”

__ADS_1


Sekali lagi Nadia merasa bersyukur memiliki orang-orang baik yang selalu mendukungnya.


__ADS_2