Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 75


__ADS_3

Nadia berusaha melupakan kejadian semalam, dia bangun pagi sekali menyiapkan sarapan untuk semua orang. Bintang turun lebih dulu dengan pakain santainya. Dia melihat Nadia sednag di dapur bersama Tuti menyiapkan sarapan.


“Apa kau tidur nyenyak semalam?” Bintang sengaja mengejeknya. Dia tahu kalau Nadia pasti memikirkan percakapan semalam dengan ornag tuanya. Nadia hanya memanyunkan bibirnya mendengar pertayaan Bintang, Tuti yang melihat interksi keduanya hanya bisa tersenyum.


Aisyah dan Hidayat sudah keluar dari kamarnya. Aisyah nampak sudah rapi,sepertinya dia akan pergi. Sedangkan Hidayat hanay mengenakan baju santai.


“Mama mau kemana?” tanya Bintang. Seingatnya pesta yang akan di hadiri orang tuanya masih siang.


“Mama mau ke salon dulu,” kata Asiyah. Dia melihat Nadia yang tidak berani menatapnya. Aisyah tersenyum melihatnya.


“Kamu antar Mama, yah. Katanya Papa sedang tidak enak badan,” kata Asiyah.


“Tentu,” jawab Bintang.


“Kamu juga temani Mama, yah. Papa ngak bisa temani Mama ke pesta. Jadi nanti siang kamu ajan yang temani Mama.”


“Nadia, Mama bicara padamu,” masih pagi sekali, tapi Aisyah sudah memberinya serangan dadakan.


Mama... jadi tadi itu Aisyah bicara padanya?


“Temani Mama ke acara pernikahan teman Mama, Papa nggak bisa,” ulang Asiyah sekali lagi sekaligus membuat Nadia mendengar dan melihat dengan jelas bahwa pertanyaan itu di tujukan padanya.


“Taa taapi, Nyonya...”


“Kok masih Nyonya, Mama Nadia, Mama. Sebentar lagi kan kamu dan Bintang akan menikah, jadi sudah sewajarnya kan kamu memanggi Mama,” Aisyah ini sepertinya sangat suka membuat Nadia shock. Untung saja dia masih muda jadi jantungnya masih kuat.


“Sudahlah, letakkan kain itu dan duduk makan bersama kami,”


Nadia yang melihat Bintang tertawa memberinya tatapan maut. Sepertinya Bintang juga menikmati setiap reaksi Nadia setiap kali Asiyah mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.


Tentu bukan hanya Nadia yang di buat hampir terkena serangan Jantung, Tuti yan mendengarnya pun hampir menjatuhan piring yang dia pegang. Tapi Tuti bersyukurakhirnya dia mendapat restu dari orang tua Bintang meski pada awalnya dia pun tidak yakin kalau Nadia bisa di terima oleh Asiyah dan Hidayat.

__ADS_1


Nadia sudah rapi, dia menggunakan atasan berbahan kain yang di padukan dengan rok di bawah lutut. Tidak lupa dengan flat shoes dan tas selempangnya. Nadia melihat dirinya sekali lagi di cermin.


“Kamu cantik kok, Nadia. Kamu pantas untuk menjadi menantu Nyonya Asiyah,” kata Nadia pada dirinya yang berada di balik pantulan cermin. Berkali-kali dia menyemangati dirinya sendiri dan mengatakan kalau dia pantas menjadi bagian dari keluarga Bintang meskipun dirinya sendiri merasa sanagt tidak pantas. Nadia terus memberi semangat pada dirinya. Setelah merasa penampilannya tidak akan membuat Aisyah malu, dia lalu keluar dari kamar.


Aisyah melihat Nadia, dia tersenyum lalu berdiir dari duduknya.”Ayok” katanya.


Bintang duduk di depan bersama Nadia, sedangkan Aisyah duduk di belakang seorang diri. Bintang tidak mau duduk sendiri di depan.


“Kamu pergi aja, nanti Mama telepon kamu kalau sudah selesai,” Bintang dengan berat hati meninggalkan Nadia dan Asiyah di salon.


Mereka di dandani langsung oleh pemilik salon yang cukup terkenal itu. Cukup lama mereka duduk di depan cermin hingga akhirnya selesai juga. Nadia melihat dirinya di cermian hingga tidak berkedip. Cantik, sangat cantik hingga dia tidak bisa mengenali dirinya sendiri.


“Kenapa, kamu nggak suka sama dandanannya?” tanya Aisyah melihat Nadia yang hanya diam saja. Nadia buru-buru menggeleng.


“Nggak kok, Nyonya. Saya hanya kaget aja,”


“Nyonya? Siapa yang kamu panggil Nyonya,” kata Asiyah.


“Maa ma” sungguh Nadia merasa lidahnya berat sekali memanggil Aisyah dengan sebutan itu.


Mereka hanya berjalan kaki karena di sekita salon itu banyak butik-butik terkenal. Mereka masuk di salah satu butik, Aisyah membantu Nadia memilih gaun untuk dia pakai ke pesta.


“Ini kayaknya cantik, Nad. Coba kamu pakai,” Aiysha memberikan sebuah gaun panjang warna merah marron yang tidak terlalu terbuka. Nadia mengambil dan seorang pelayan butik membawanya ke ruang gant untuk mencoba gaun itu.


Nadia menganga melihat label harganya, tapi dia tidak berani menolak dan tetap memasang gaun itu di tubuhnya.


Setelah selasai, Nadia keluar dari ruang ganti. Dia berjalan dengan sangat anggun di hadapan Aisyah. Wanita paruh baya itu sampai pangling melihat Nadia. Gadis itu jika berpenampilan seperti ini terlihat sanat dewasa dan anggun. Asiyah tersenyum puas. Dia lalu membawa Nadia memilih tas dan sepatu. Setelah semuanya sudah lengkap, mereka menelpon Bintang untuk menjemput. Tidak berapa lama karena Bintang berada di cafe sekitar situ sambil menunggu mereka.


Bintang melihat Nadia dari atas ke bawah, dia tersenyum dan membukakan pintu mobil untuknya lalu membuka pintu untuk Asiyah.


“Cantikkan, kamu memang tidak salah memilih. Masih muda, cantik lagi,” kata Asiyah memuji Nadia di depan Bintang. Nadia yang di puji hanya bisa menunduk karena malu.

__ADS_1


Saat sampai, Aisyah langsung masuk ke kamar untuk ganti baju sementara Nadia hanya menunggu di ruang tammu bersama Bintang.


“Kamu cantik,” kata Bintang. Sudah sejak tadi dia ingin memuji Nadia tapi tidak mau Asiyah mendengar karena wanita itu mungkin akan mengejeknya.


“Aku kan memang cantik,” kata Nadia dengan wajah sok imutnya. Bintang tertawa kecil merasa Nadia sangat lucu.


“Kau percaya diri sekali,” kata Bintang.


“Kalau aku tidak cantik, Tuan pasti tidak akan tertarik padaku. Iya kan?” balas Nadia yang membuat Bintang mengangguk setuju.


“Aku melihatmu dari kecil, tapi kenapa aku baru menyadari bahwa lau sudah tumbuh dewasa dan jadi secantik ini,” kata Bintang lagi.


“Itu karena dimata dan di hati Tuan hanya ada Sarah Diandra, jadi Tuan tidak melihat kalau aku semakin cantik dan seksi,” Nadia sengaja menggoda Bintang karena dia tahu Bintang tidak akan melakukan apapun karena ada orang tuanya di rumah. Dan Nadia benar, Bintang sangat ingin ******* bibirnya tapi dia menahannya karena ada Aisyah dan Hidayat di rumahnya saat ini.


“Kau semakin berani yah. Tunggu saja, aku pasti akan membuatmu tidak berdaya suatu hari nanti,”


Nadia gemetar mendengarnya, dia sepertinya sudah salah mmenggoda Bintang.


“Tuan...” Nadia memukul bahu Bintang bersamaan Aisyah dan hidayat yang keluar dari kamar.


“Pa, Papa sudah baikan?” Nadia langsung berdiri begitu juga dengan Bintang.


“Iya, Papa sudah merasa lebih baik,” jawab Hidayat.


“Coba kamu pakai ini, Nad,” Asiyah memberikan kotak perhiasan pada Nadia. Gadis itu terkejut setelah Asiyah menyuruhnya memakai perhiasan itu.


“Sini, biar aku yang pakaikan,” Bintang mengambil perhiasan itu lalu memakaikannya pada Nadia. Mulai dari kalung, cincin hingga gelangnya.


“Kamu semakin cantik,” puju Aiysah. Dia lalu menggandeng tangan Nadia dan pergi ke pesta.


“Angkat kepalamu, jangan perna bberfikir bahwa kau lebih rendah dari siapapun. Kau adalah calon menantuku, jadi bersikaplah seperti kau seorang putri bangsawan.apa kau bisa?” Aisyah memberi petuah sebelum mereka keluar dari mobil.

__ADS_1


Nadia menarik nafas lalu mengangguk.


“Nadia bisa, Ma.”


__ADS_2