
Kehidupan Nadia di desa semakin hari semakin menyenangkan, bukan hanya menanam di kebun atau di sawah, dia juga sudah mulai mencari ikan di sungai bersama dengan gadis-gadis desa seusianya. Nadia di terima dengan baik oleh warga di sana karena perilakunya yang ramah dan sopan meskipun dia berasala dari kota besar.
Hari ini ikan yang mereka dapatkan langsung di panggang di pinggir sungai dan di makan bersama-sama.
“Hai...” semua gadis itu berbalik dan melihat Anton dan dua temannya.
“Ayo gabung, Kak,” kata Nadia. Dan tanpa di ajak dua kali mereka lalu ikut makan bersama gadis-gadis itu.
“Nad, nanti malam kita ke desa sebelah yuk. Ada pertunjukan wayang, kamu belum pernah liatkan,” ajak Anton. Kalau di kota mungkin ini semacam ajakan untuk nonton bioskop.
“Boleh, seru kayaknya,” kata Nadia yang langsung mengiyakan ajakan Anton.
“Kalian juga ikut kan?” kata Nadia mengajak teman yang lain.
“Boleh...” jawab mereka bersamaan.
Malam harinya, Anton sudah rapi dengan kemejanya. Dia datang menjemput Nadia di rumah Nenek Mina.
“Anton itu anak yang baik, Nad. Keluarganya juga cukup terpandang di desa ini,” kata Nenek Mina tiba-tiba saat melihat Nadia sudah rapi.
“Apa maksud Nenek?” Nadia tentu tidka mengerti kenapa Nenek Mina tiba-tiba berkata seperti itu.
“Tidak ada maksud apa-apa, Nenek hanya mau bilang kalau Anton itu anak yang baik. Dia mungkin bisa menjaga kamu di kemudian hari kalau Nenek sudah tidak ada,” kata Nenek Mina lagi.
“Nenek bicara apa sih. Nenek akan selalu bersama Nadia selamanya, jadi jangan bicara yang nggak-nggak,” kata Nadia sedikit kesal mendengar Nenek Mina bicara ngawur.
“Nenek hanya berharap kamu membuka mata dan hati kamu selebar-lebarnya, Nad. Perhatikan sekeliling kamu, sebaiknya kamu memberi kesempatan jika ada orang yang benar-benar tulus menyayangi kamu.”
Nadia semakin tidak mengerti arah pembicaraan Neneknya. Dia lallu mencium tangan Nenek Mina dan pamit pergi karena Anton dan yang lainnya sudah menunggunya di luar.
“Pulangnya jangan terlalu malam, ya,” kata Nenek Mina saat mengantar Nadia sampai di depna pintu.
__ADS_1
“Iya, Nek,” jawab Anton.
Nadia, Anton dan yang lainnya lalu menuju desa tetangga untuk menyaksikan pertunjunkan wayang yang katanya sangat terkenal di desa itu. Mereka naik motor dan saling berboncengan. Nadia bersama Anton tetntu saja.
Nadia tidak terlihat menikmati pertujukannya dan Anton menyadarinya.
“Kamu mau pulang?” tanya Anton melihat Nadia yang ternyata tidak seantusias yang dia bayangkan.
“Iya deh, nggak seru,” katanya.
Anton lalu pamit pada yang lainnya dan mengantar Nadia pulang. Saat sampai di rumah, Anton terlihat ingin tinggal dan duduk berbincang bersama Nadia, tapi gadis itu sama sekali tidak peka sehingga Anton harus pulang dengan wajah yang kecewa.
Hari ini Anton sengaja menunggu Nadia di jalan karena Nenek Mina bilang padanya tadi pai kalau hari ini Nadia dan Sari akan ke kebun untuk membersihkan daun-daun kering yang mengotori kebun. Setelah menunggu cukup lama, Nadia dan Sari sudah terlihat dari kejauhan.
“Nad...” sapa Anton yang seolah-olah tidak sengaja bertemu Nadia di jalan. Nadia hanya tersenyum membalas sapaan Anton. Sementara Sari juga tersenyum melihat Anton yang salah tingkah di depan Nadia walaupun mereka sudah hampir tiap hari bertemu.
“Mau ke kebun yah?” tanya Anton basa basi.
“Mmm, boleh saya pinjam Nadia sebentar?” tanya Anton pada Sari sementara Nadia mengkerutkan keningnya.
“Boleh, lama juga boleh,” kata Sari.
“Ih, Tante. Memangnya Nadia barang di pinjam-pinjam,” kata Nadia protes pada Sari.
“Memangnya mau ke mana?” tanya Nadia pada Anton.
“Ada, ayok...” Nadia menyerahkan bekal makan siang yang dia bawa pada Sari lalu memgikuti Anton.
Anton membawa Nadia ke kebun buah milik keluarganya, buah-buah yang ada di taman itu sedang berbuah dengan lebat jadi terlihat sangat cantik. Nadia mengambil ponselnya dan merekamnya lalu mengirimkannya pada Vanesa dan Angel. Karena signal sangt susah, Nadia tidak bisa sering berhubungan dengan teman-temannya di kota.
“Kamu bisa petik kalau mau?” kata Anto menawarkan. Nadia tentu denagn senang hati memetik buah dan langsung memakannya.
__ADS_1
“Enak banget,” katanya. “ini semua punya keluarga kamu?” tanya Nadia.
“Iya, ini punya Nenek yang di wariskan untuk orang tuaku. Sekarang aku dan kakakku yang mengurus semuanya,” jelas Anton.
“Selain kebun ini, kami juga punya sawah dan peternakan sapi. Kamu pernah ke peternakan sapi aku kan?” Nadia mengangguk. Anton memang pernah mengajaknya ke sana.
“Nad...”
“Iya...”
“Aku...” Nadia mengalihkan fokusnya dari pohon-pohon yan buahnya bergelantungan bahan ada yang sampai menyentuh tanah itu pada Anton. Laki-laki itu memasan mode serius yang jaran Nadia lihat.
“Kalau aku melamar kamu, apa kamu mau menjadi istriku...?” Nadia membulatkan matanya, wajahnya bingung.
“Aku sudah suka sama kamu sejak aku pertama lihat kamu, Nad. Kamu baik, sopan dan ramah walaupun kamu berasal dari kota. Dan, kamu cantik. Aku jatuh cinta pada pandangan pertaman,” Anton akhirna mengakui perasaannya pada Nadia yang sudah dia pendam sejak lama. Tidak tanggung-tanggung, Anton bukan memintanya menjadi kekasih tapi malah memintanya menjadi istri.
Di desa banyak gadis yang menikah muda, Nadia melihat ada beberapa gadis seusianya yang bahkan sudah punya anak. Jadi tidak terlalu heran jika Anton meminta Nadia menjadi istrina padahal umurnya masih sangat muda.
Nadia terperangah mendengar pengakuan Anton yang tidak dia sangka sebelumnya, dia mengira Anton benar-benar hanya menganggapnya teman sama seperti yang lainnya. Padahal jelas-jelas Anton memperlakukannya sedikit berbeda dari gadis lain.
“Menikah...?” tanya Nadia mengulang pertanyaan Anton.
“Kamu tidak perlu jawab sekarang, Nad. Kamu pertimbangkan saja dulu. Sebagai bahan pertimbangan kamu, kamu bisa melihat semua ini dan yang pernah aku perlihatkan sama kamu. Aku bukan mau pamer, aku hanya mau kamu lihat kalau kamu tidak akan kekurangan apapun. Dan paling penting dari semua itu, aku benar-benar tulus sayang sama kamu, Nad.”
Nadia terkejut luar biasa, dalam hatinya berfikir begini rasanya ternyata di ajak menikah oleh seseorang. Sayangnya seseorang itu bukan orang yang dia cintai, bukan dari orang yan dia inginkan untuk hidup bersama.
Nadia diam seribu bahasa, dia tidak mau melukai hati Anton yan sangat baik padanya walaupun di balik kebaikannya itu ada rasa yang tersembunyi.
Nadia datang ke desa ini untuk menjauhi segala kerumitan hidup di kota, untuk menghindari perasaan yang terus berkembang untuk orang yang salah. Tapi ternyata dia malah mendapatkan kerumitan yang lainnya. Nadia benar-benar hanya ingin hidup tenang saat ini tanpa harus menjaga perasaan orang lain.
Lalu tiba-tiba Anton mengajak menikah tanpa pengenalan yang lebih jauh. Nadia sunguh tidak siap. Bukan hanya tidak siap menikah, juga tidak siap menghadapi perasaan Anton jika di dalam hatinya masih ada seseorang yang belum bisa dia lupakan sepenuhnya.
__ADS_1