
Nadia menanggis haru di dalam kamar mandi saat hasil tes packnya menunjukkan dua garis. Akhirnya dia bisa memberikan keturunan yang sangat di nantikan keluarga Bintang. Nadia memberisihkan dirinya dan membuang semua alat tes pack yang di beli kemarin. Dia belum ingin memberitahukan kepada Bintang. Nanti, dia akan memberi kejutan pada suaminya itu.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Nadia keluar dari kamar mandi. Dia melihat Bintang masih tertidur lelap di atas tempat tidur. Nadia lalu kembali naik ke atas tempat tidur dan memeluk suaminya di bawah selimut karena Bintang tidak suka saat bangun dia tidak melihat istrinya berada di sampingnya.
Wajah merona bahagianya tidak bisa Nadia sembunyikan. Rasa takut bila harus merasakan sakit dan mual seperti yang di katakan anyak orang tidak membuat sedikitpun mengurangi rasa bahagianya. Akhirnya setelah penantian yang sangat lama untuk Bintang, dia akan segera menggendong anak pertamanya.
“Kau sudah bangun” Bintang yang merasakan tagan kecil Nadia mengelus lembut pungungnya akhirnya terbangun. Dia memeluk Nadia dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
“Kau sudah mandi?” tanya Bintang yang mencium bau wangi sabun dari tubuh istrinya.
“Iya, aku sudah bangun dari tadi,” jawab Nadia. Bintang kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nadia dan menggoyangkan hidunnya membuat Nadia tertawa geli.
“Sayang, ayo bangun. Ajak aku jalan-jalan. Kamu janjikan mengajakku jalan-jalan kalau hari libur,” mendengar permintaan istrinya membuat Bintang langsung bangun walaupun sebenarnya dia masih ingin berlama-lama memeluk istrinya dan mencium wangi tubuhnya.
“Tentu saja, aku akan membawa Tuan putri kemanapun yang tuan putri inginkan,” Nadia terkekeh mendengar Bintang memanggilnya Tuan putri.
Nadia menyiapkan pakaian yang akan Bintang pakai hari ini. Dia mengambil kemeja lengan pendek dan jaket denim juga celana jeans. Jika memakainya, Bintang akan nampak jauh berbeda dari usianya.
Lalu Nadia menyimpan hasil tes pack dengan dua garis di dalam kantong jacket yang akan Bintang pakai. Setelah Bintang sudah rapi dengan mereka berdua lalu turun untuk sarapan. Nadia yang sudah mengetahui ada nyawa kecil yang hidup di dalam perutnya berjalan lebih hati-hati.
“Kenapa? Kau sakit?” tanya Bintang saat menoleh melihat istrinya jalan sambil memegangi perutnya. Nadia menggeleng dengan cepat.
“Tidak apa-apa”
Di meja makan, Bintang terkejut melihat porsi makan Nadia yang tidak seperti biasanya. Dia bahkan minta di buatkan ayam goreng padahal Nadia dan Bintang biasanya hanya sarapan roti isi. Bintang mulai melihat keanehan tapi dia tidak terlalu memperhatikannya.
Bintang dan Nadia lalu meninggalkan rumah setelah mereka selesai sarapan.
__ADS_1
“Kita mau kemana?” tanya Nadia melihat arah mobil Bintang menuju ke luar kota.
“Ke suatu tempat, aku yakin kau akan suka,” Nadia lalu diam dan menikmati pemnadangan laut indah yang mereka lewati saat melewati batas kotta.
Entah kemana Bintang membawa Nadia, gadis itu bahkan sudah tertidur karena mengantuk. Dia tadi bangun pagi sekali dan jangan lupa kalau sekarang dia sedang hamil. Tentu rasa lelah akan cepat menghampirinya.
“Kita sudah sampai?” Nadia terbangun saat mobil Bintang berhenti. Dia melihat keluar dan ternyata di depannya adalah sebuah rumah makan.
“Belum, kita makan siang dulu,” Nadia memegangi perutnya. Dia memang sudah lapar meskipun tadi pagi dia makan banyak sekali.
Bintang memesan ayam goreng dan sop daging juga ada udang saos asam manis dan cumi goreng. Nadia serasa ingin menjatuhkan liurnya melihat makanan itu tersaji di depannya. Tanpa menunggu lagi Nadia segera melahap makanan itu satu demi satu.
“Sepertinya nafsu makanmu bertambah, aku perhatikan sejak pagi kau makan banyak sekali,” Nadia hanya mengendikkan bahunya. Dari buku yang pernah dia baca tentang kehamilan, salah satu ciri wanita yang sedang hamil adalah nafsu makannya yang bertambah. Mungkin karena sekarang Nadia juga harus memberi makan janin yang ada di dalam perutnya.
“Masih jauh?” sudah hampir sore tapi belum ada tanda-tanda tempat yang akan di tuju Bintang.
“Tidurlah, aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai. Aku yakin kau pasti akan suka tempatnya.”
Nadia lalu kembali memejamkan matanya dan sebentar saja dia sudah langsung tertidur. Kekenyangan dan cuaca yang panas mengundang ngantuk hingga membuatnya tertidur dengan sangat pulas. Dia bahkan tidak menyadari kemana Bintang telah membawanya hingga saat Bintang membangunkannya saat hari sudah hampir malam.
“Bangunlah, kita sudah sampai” Nadia membuka matanya, dia menguao dan meluruskan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk di dalam mobil.
“Ini di mana?” mereka sampai di sebuah penginapan sederhana. Nadia bisa tebak kalau tempat ini adalah tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian.
“Ayo masuk, kita istirahat dulu. Besok pagi kita akan melanjutkan perjalanannya” Bintang membuka bagasi mobilnya dan mengambil koper.
__ADS_1
“Kita bermalam?” tanya Nadia. Melihat Bintang menarik koper.
“Iya”
“Kamu curang, kamu bawa baju ganti sementara aku tidak,” katanya protes karena Bintang tidak bilang padanya kalau mereka akan bepergian sejauh ini bahkan sampai menginap.
“Semua barangmu ada disini, kalau ada yang kau butuhkan aku akan pergi membelinya. Ada toko di sana,”
Mereka lalu masuk ke dalam kamar yang sudah Bintang pesan sebelumnya.
Nadia terus bertanya-tanya kemana mereka akan pergi tapi Bintang masih merahasiakan kemana dia akan membawa istrinya. Saat malam menjelang, Bintang keluar mencari makan malam untuk mereka.
“kita mau ke mana sih, kenapa tempatnya rahasia. Tapi kayaknya jalanan ini tidak terlalu asing, aku mungkin pernah kesini sebelumnya. Tapi ke mana?” Nadia hanya bisa bertanya-tanya kemana mereka akan pergi sebenarnya.
Pagi telah datang, Nadia merasa sangat akrab dengan situasi pagi di tempat itu. Nadia buru-buru keluar dan melihat benarkah itu adalah jalan menuju desa tempat dia dan Neneknya pernah tinggal. Nadia pun menangis haru ketika baru menyadari bahwa tempat itu memang adalah jalan menuju desa Nenek Mina.
“Sayang, kenapa kamu tahu kalau aku kangen Nenek,” Nadia memeluk Bintang. Dia menangis haru karena sekarang dia berada di kampung halaman Neneknya, tempat di mana Nenek Mina di makamkan.
“Kau adalah istriku dan aku mencintaimu, tentu saja aku tahu apa yang kau pikirkan.”
Bintang dan Nadia lalu melanjutkan perjalanan menuju desa, saat sampai mereka langsung menuju makam Nenek Mina.
Nadia memeluk nisan Neneknya , dia sangat merindukan wanita itu. Setelah menikah, Nadia merasa sangat bahagia. Tapi kebahagiannya terasa kurang karena dia sudah tidak lagi bersama wanita yang telah membesarkannya.
“Nek, Nadia hamil” bisik Nadia di batu nisan Nenek Mina. Bintang tidak mendengarnya karena dia sedang menerima panggilan telepon.
Saat sedang beribicara dengan sekertarisnya di telepon, Bintang tidak sengaja memegang dadanya. Dia merasa ada benda di dalam kantongnya padahal dia tidak pernah menyimpan apapun di kantong jaketnya. Bintang lalu mengambil benda itu. Dan betapa terkejutnya dia melihat apa yang dia temukan dalam kantong jaketnya.
__ADS_1