
Polisi datang menjemput Sarah di butiknya dan berhasil membuat keheboan di sana. Sarah yang tidak terima dengan kegaduhan yang di buat polisi pun mengancam akan menuntu mereka. Tapi Sarah seperti kehilangan tajinya saat polisi menunjukkan surat penangkapannya.
“Memangnya apa yang sudah aku lakukan,” tanyanya. Degup jantung Sarah semakin kencang saat polisi mengatakan bahwa dia terlibat dalam kasus pemalsuan hasil kesehatan dan juga percobaan pembunuhan. Kenapa percobaan pembunuhan, karena yang di lakukan Sarah bisa saja membunuh Nadia seandainya obat itu di komsumsi terus menerus dalam dosis tinggi.
“Sarah tidak banyak berontak lagi, dia ikut polisi ke kantor polisi dengan wajah tenang walalu di dalam dadanya janntungnya serasa mau melompat keluar.
Saat sampai di kantor polisi, Sarah merasa dunianya sudah hancur saat dia melihat dokter yang dulu dia bayar dan juga Sita sudah ada di dalam tahanan lebih dulu.
Dulu, Bintang tidak melanjutkan proses hukumnya mengenai pemalsuan kesehatan yang sudah Sarah lakukan. Itu dia lakukan mengingat Sarah yang sudah pernah melayaninya selama beberapa tahun sebagai istri. Bintang juga tahu kalau Sarah sangat menjaga image nya di depan umum, kariernya pasti akan hancur jika saat itu Bintang tetap melanjutkan proses hukum atan pemalsuan kesehatan yang di lakukakn Sarah.
Bintang meminta pengacaranya untuk mencabut laporannya saat itu juga setelah dia fikirkan dengan baik. Walau bagaimanapun, Sarah pernah menjadi bagian yang sangat berarti dalam hidupnya.
Tapi sekarang sepertinya Bintang sudah tidak mau lagi memberi toleransi kepada mantan istrinya itu. Semua tentang Sarah benar-benar sudah selesai, Bintang sudah tidak mau lagi menginat bahwa wanita itu pernah menghangatkan malam-malamnya.
“Mas...kenapa kamu lakuin ini sama aku. Aku minta maaf untuk semuanya. Aku benar-benar minta maaf.” Bintang memenuhi panggilan dari polisi untuk di mintai keterangan, saat itulag dia bertemu dengan Sarah.
“Aku sudah memperingatkanmu, Sarah. Jangan menyentuh Nadia atau kau benar-benar akan melihat sisi lainku yang tidak pernah ku pelihatkan padamu. Aku mengatakannya dengan jelas tapi kau mengabaikannya. Sekarang, nikmatilah apa yang sudah kau tanam.”
Bintang meninggalkan Sarah tidak perduli wanita itu yang terus memanggilnya dan meminta maaf padanya. Sarah benar-benar sudah selesai, ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga untuknya.
Sementara Nadia sudah benar-benar pulih, dia juga sudah mulai melanjutkan kuliah seperti biasa. Nadia juga sudah membawa mobil sendiri setelah mendapatkan simnya. Sekarang, dia menggantkan Vanesa yang selalu mengantar dan menjemput Angel. Setelah mengantarAngel, Nadia pun kembali ke rumah untyk menyiapkan makan malam.
Rasa trauman Nadia akan Sita yang pernah mencekokinya dengan obat di dalam makanan dan juga minumannya perlahan-lahan mulai menghilang. Rasa percaya nya pada orang lain juga kembali seperti dulu. Nadia pun sempat minta maaf pada Tuti akan sikapnya beberapa waktu lalu.
Saat itu Tuti juga tersinggung akan sikap Nadia yang tidak mempercayainya. “Kita sudah kenal lama, Nad. Masak kamu nggak percaya sama aku. Apa selama ini persaudaraan kita tidak ada artinya di mata kamu. Apa kamu pikir aku akan tega melakukan itu sama kamu hanya demi uang.”
Ucapan Tuti waktu itu seakan menampar Nadia, begitu teganya dia tidak percaya pada Tuti yang jelas-jelas sangat menyayanginya.
__ADS_1
Hubungan mereka sekarang juga sudah membaik dan kembali seperti semula.
“Kita masak apa, Mbak?” tanya Nadia.
“Masak semur daging aja, Nad. Kamu kan paling suka makan daging.” Meskipun Nadia sekarang sudah menjadi Nyonya, istri dari pemilik rumah tapi Nadia tidak keberatan jika Tuti masih menganggap dirinya seperti dulu. Nadia justru akan marah kalau Tuti memperlakukannya seperti Nyonya.
Sementara ini Nadia masih tidal mau mencari pengganti Sita. Dia masih memperkerjakan orang paruh waktu. Mereka datangsaat pagi dan pulang saat sore.
Waktu terus berlalu, rumah tangga Nadai dan Bintangsemakin hari semakin harmonis, sementara Sarah harus berada di penjara selama satu tahun untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia berulang kali memohon agar di pertemukan dengan Nadia tapi gadis itu tidakmau bertemu dengannya dan menyerahkan semua pada suamminya.
“Kamu nggak kuliah?” tanya Bintangmelihat Nadia yang masih membalut tubuhnya dengan selimut di atas tempat tidur.
“Kepalaku sakit banget” Bintang naik ke atas tempat tidur dan melihat istrinya.
“Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat, semalam kau baik-baik saja”
“Maafkan aku sayang, siapa suruh tubuhmu senikmat itu. Aku merasa ingin lagi dan ingin lagi,” Nadia memukul dada Bintang dengan lemah dan dengan wajah yang cemberut.
“Mau ke dokter?” Nadia menggeleng.
“Palingan sebentarjuga sembuh,”
Jawabnya.
“Apa tidak apa-apa aku meninggalkamu sendirian?” Nadia mengangguk. Bintang mencium keningnya lalu meninggalkannya.
Tidak lama saat Bintang keluar, Tuti membawakan sarapan untuk Nadia. Gadis itu makan dengan lahap. Setelah sarapannya habis, Nadia membawa turun piring kotornya dan mencari makanan lagi.
__ADS_1
“Mbak, minta tolong di beliin pecel dong. Aku mau makan pecel,” Tuti melihat piring Nadia sudah bersih. Semangkuk bubur ayam dan sepiring roti isi yang tadi Tuti bawa sudah habis tidak tersisa. Dan sekarang gadis itu malah minta di belikan pecel.
“Kamu masih lapar?” tanya Tuti, Nadia mengangguk. Tuti hanya garuk-garuk kepala dan pergi membeli pecel sesuai pesanan Nadia.
Angel datang mengunjungi Nadia di rumah dengan membawa somay dan juga es teh seperti pesanannya. Bayangkan, dia minta di bawakan es teh padahal dia bisa meminta di buatkan di rumah yang pasti lebih enak dan lebih higienis.
“Itu apa?” tanya Tuti saat Angel meminta mangkok sebelum naik ke kamar Nadia.
“Somay, Mbak. Tadi Nadia minta di bawakan somay,” Tuti mengkerutkan keningnya. Pagi tadi Nadia sudah makan banyak, siang juga dia makan lebih banyak dari biasanya dan sekarang malah minbta siomay lagi.
“Kenapa, Mbak?” Tuti mencritakan keanehan Nadia pada Angel. Dan mereka berdua mempunyai pikiran yang sama.
“Wah, mudah-mudahan kali ini benar, yah Mbak,” Angel lalu naik ke kamar Nadia dan membawakan pesanan gadis itu.
Nadia makan dengan lahap siomay yang Angel bawa, dia bahkan tidak membaginya pada Angel sebiji pun. Angel hanya senyum-senyum saja melihat Nadia makan.
“Kenapa?” tanya Nadia dengan wajah polosnya saat Angel melihatnya makan sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa, kamu lucu” Angel masih tersenyum membuat Nadia memanyunkan bibirnya.
“Lucu kenapa?”
“Masak beli es teh, padahalkan tingga minta tolong Mbak Tuti yang buatkan”
“Lagi pengen minum es teh nya Mamang” jawab Nadia.
“Jangan-jangan kamu hamil,” celetuk Angel yang membuat Nadia tersedak saat dia sedang minum es teh.
__ADS_1
Nadia ingat kalau bulan ini memang dia belum datang bulan. Nadia lalu meminta tolong Angel untuk menemaninya ke apotik untuk membeli tespack.