
Vanesa tidak bisa berkata apa-apa lagi, seandainya tidak ada teman-temannya dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya.
“Aku takut banget,” katanya sambil menangis. Dia sudah mengadukan semuanya pada orang tuanya dan reaksi orang tuanya sungguh di luar dugaan Vanesa. Gadis itu pikir orang tuanya hanya akan menyuruh orang untuk menjaganya, tapi ternyata orang tuanya akan langsung pulang dan mengurus langsung masalahnya.
“Adrian nggak apa-apa, lukanya juga tidak terlalu besar,” kata Angel agar Vanesa tidak terlalu merasa bersalah.
“Aku nggak tahu harus bilang apa sama kalian,” katanya.
“Sudah kewajiban kita untuk saling menolong,” jawab Nadia.
Nadia menelpon Bintang untuk mengantar mereka pulamg karena takut Alex akan kembali datang. Vanesa tidak ingin kembali ke apartemen dan minta tolong untuk di antar pulang ke rumahnya. Dia akan tinggal di rumahnya mulai sekarang.
Sedangkan Angel akan kembali ke rumah orang tuanya, dia tentu tidak mau tinggal sendiri di apartemen itu. Adrian sudah berjanji akan menjemputnya setiap hari.
“Kau tidak apa-apa? Orang itu tidak melukai mu kan?” tanya Bintang melihat Nadia denan teliti. Nadia menggeleng.
“Tidak, aku tidak apa-apa,” katanya.
Bintang lalu dengan sabar mengantar ke empat orang itu ke rumah mereka satu per satu. Dia dan Nadia pulang paling terakhir pastinya.
“Makan lah dulu, lalu istirahat. Aku ada di ruang kerja kalau kau butuh sesuatu,” kata Bintang. Nadia menuruti perintah Bintang karena dia memang sangat lapar.
“Ada apa, Nad,” tanya Tuti yang melihat wajah Nadia masih pucat karena kejadia siang tadi. Nadia lalu menceritakan pada Tuti apa yang terjadi.
__ADS_1
“Kasian yah teman kamu itu, sudah di manfaatkan eh mau di culik juga,” komentar Tuti setelah mendengar cerita Nadia.
Sementara itu, Sinta, Mama nya Angel sangat senang anaknya itu mau tinggal lagi di rumah. Dia merasa menyesal sudah membeda-bedakan kedua anaknya. Sinta menambahkan banyak lauk di piring Angel saat anak gadis itu makan.
Angel tentu sangat terkejut dengan sikap Sinta yang mendadak baik dan perduli padanya. Tapi Angel hanya mengacukannya dan tetap menikmati makanannya. Saat selesai makan, Sinta mengambil piring Angel dan dia juga melarang Angel untuk membersihkan bekas makannya.
“Kamu langsung ke kamar kamu aja, istirahat. Kamu capekkan,” Angel memcinkan matanya melihat tingkah aneh Sinta. Meski begitu, Angel tetap menuruti perintah Mamanya.
Saat Aris, Papa Angel pulang kantor, hal pertama yang dia lakukan saat masuk kedalam rumah adalah menemui Angel di kamarnya. Dia juga senang setelah Sinta memberitahu bahwa Angel akan tinggal di rumah dan mungkin dia akan selamanya tinggal di rumah orang tuanya.
Dia dan istrinya menyadari bahwa selama ini mereka terlalu fokus pada Marisa dan melupakan anak bungsu mereka setelah Sinta menceritakan padanya apa yang dia bicarakan pada Angel saat gadis itu pulang ke rumah.
“Sayang,” Angel terkejut saat mendengar Aris memanggilnya seperti itu. Sudah sejak lama sejak terakhir kali dia mendengar Papanya memanggilnya dengan panggilan yang penuh kasih sayang itu.
“Iya, Pa. Angel kerja di restoran sepulang kuliah,” meski curiga dan merasa ada yan aneh, Angel tetap menjawab pertanyaan Aris dengan sopan.
“Kamu nggak perlu kerja lagi mulai besok,” Angel mengkerutkan keningnya. Tidak selang berapa lama, Sinta ikut masuk kedalam kamar Angel.
“Tapi uang jajan yang Papa kasih ke Angel itu tidak cukup, belum lagi di kampus ada masalah jadi mungkin Angel sudah tidak bisa dapat beasiswa,” kata Angel.
Dia ingat kalau beasiswanya adalah berkat bantuan Alex dan juga kampus itu milik keluarga Alex, jadi kemungkinan mereka bertiga akan pindah ke kampus yang lain karena tidak mau berurusan dengan Alex lagi.
“Angel, mungkin selama ini kamu merasa kami membeda-bedakan kamu dengan Kakakmu. Kamu pergi dari rumah dan tinggal sendirian di luar karena kamu kecewa dengan kami. Benar kan?”
__ADS_1
Angel terkejut tapi dia bersyukur orang tuanya akhirnya menyadarinya. Setelah beberapa tahun ini akhirnya mereka menyadari bahwa mereka telah membeda-bedakan kedua anak gadis mereka.
“Sejak beberapa tahun lalu kami tahu kalau Kakakmu, Marisa, sedang menderita sebuah penyakit yang cukup parah. Papa sangat merasa bersalah karena ternyata itu adalah akibat dari Papa yang selalu merokok saat Mama mu dengan mengandung Marisa, bahkan saat Marisa lahir Papa masih merokok di depannya,”
Aris menceritakan sebuah fakta yang cukup membuat Angel terkejut, selama ini dia tidak pernah melihat Kakaknya itu sakit. Angel lalu ingat kalau Marisa memang pernah di rawat di rumah sakit selama hampir satu bulan. Tapi setelah itu Marisa tidak pernah sakit lagi.
“Kami sepakat memberikan semua yang terbaik untuknya untuk menebus kesalahan kami, terutama Papa. Papa selalu menomor satukan jika itu untuk Marisa, tapi bodohnya Papa lupa kalau Papa masih punya satu anak gadis lain yang begitu cantik,” lanjut Aris.
“Tapi kenapa kalian nggak cerita sama Angel, kalau Angel tahu seperti itu Angel pasti akan mengerti dan tidak sakit hati pada Papa dan Mama,” kata Angel. Dia semakin merasa terluka karena tidak di beritahu yang sebenarnya oleh orang tuanya.
“Kami hanya tidak mau kau juga terbebani, biarkan ini menjadi tanggung jawab Papa dan Mama saja,”
“Dengan mengabaikan Angel, dengan menganggap Angel bukan bagian dari keluarga ini.”
Air mata Angel akhirnya mengalir, dia benar-benar merasa terluka. Dia merasa itu bukan sebuah alasan yang tepat untuk mengabaikan dirinya. Mereka masih bisa memberikan semuanya pada Marisa tanpa melupakan keberadaannya.
Sinta memeluk Angel, dia ikut menangis merasakan sakit yang di rasakan Angel. Dia lah yang paling bersalah. Jika Aris ingin memberikan semuanya pada Marisa, setidaknya Sinta bisa memberikan kasih sayangnya pada Angel sehingga dia tidak terlalu merasa di abaikan.
“Maafkan, Papa. Papa benar-benar minta maaf kamu harus merasakan semuanya. Ini semua salah Papa, sejak awal semua adalah kesalahan Papa,” kata Aris. Dia memeluk Angel dan mencium pucuk kepala anaknya itu berulang-ulang.
“Mulai sekarang Papa berjanji tidak akan membuat kamu merasakan apa yang selama ini kamu rasakan. Papa akan menjadi Papa yang akan selalu menyayangi kamu dan memeberikan semua yang kamu inginkan,” kata Aris. Dia masih memeluk anak gadis cantiknya itu.
Aris mengurai pelukannya dan mengusap mata Angel yang masih di genangi butiran bening. Dia baru meyadari bahwa anak yang selama ini mereka abaikan sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik. Dia kembali mebawa Angel dalam pelukannya.
__ADS_1
Angel merasa sangat bahagia, pelukan hangat dari Papa dan Mama yang selama ini dia rindukan akhirnya bisa juga dia rasakan. Padahal Angel sudah berfikir bahwa dia akan kembali merasakan sakit hati melihat perlakuan tidak adil dari kedua orang tuanya.