Kecil-kecil Jadi Pelakor

Kecil-kecil Jadi Pelakor
Bab 95


__ADS_3

Bintang benar-benar di buat kerepotan dengan kehamilan Nadia. Pasalnya, istrinya itu selalu minta hal-hal yang di luar kemampuannya. Bahkan sesuatu yang tidak bisa di beli dengan uang sebanyak apapun.


Contohnya saat mereka sedang bepergian, Nadia melihat anak kecil yang sedang memegang balon berbentuk doraemon. Nadia merengek ingin balon itu, Bintang sudah menawarkan untuk membeli bonekanya saja yang paling besar, tapi Nadia hanya mau balon yang di pegang anak itu.


Jadilah Bintang turun dari mobilnya meminta balon pada anak kecil itu, Bintang memintanya dengan baik-baik dan memberikan anak itu uang tapi anak itu malah menangis menjerit-jerit saat Bintang mengambil balon itu dari tangannya.


Ibu dari anak itu yang sejak tadi asyik bercerita dengan ibu-ibu yang lain lansung berlari ketika mendengar anaknya menangis.


“Siapa kamu, kamu apakan anakku,” Ibu itu langsung menjauhkan anaknya dari Bintang. Matanya melotot menatap Bintang.


“Maaf, Bu. Istriku sedang hamil dan dia ingin balon yang di pegang anak Ibu” Bintang menunjuk mobilnya di mana berada Nadia di dalamnya.


“Aku akan membeli balon ini sepuluh kali lipat, bisakah Ibu membantuku menagmbil balon itu,” Bintang berbicara dengan sangat sopan pada Ibu itu.


Wanita itu melihat Nadia di dalam mobil, dia ingat kalau orang ngidam memang kadang minta yang aneh-aneh. Ibu itu lalu membujuk anaknya untuk memberikan balonnya pada Bintang.


“Lihat, Om memberikan kamu uang yang banyak. Kita jual satu balonnya pada, Om, lalu kita beli lagi balon yang banyak. Bagaimana?” bujuk Ibunya. Anak itu nampak cemberut tapi dia memberikan balonnya pada Bintang dan mengambil uangnya lalu sembunyi di belakang Ibunya.


“Terima kasih, Bu” Bintang mengambil balon itu dengan wajah yang senang karena sudah berhasil menuruto keinginann istrinya walaupun dia harus menghadapi ibu dan anak itu.


“Sayang, ini balonnya,” Bintang memberikan balon itu pada Nadia. Gadis itu mengambil balonnya, dia melihatnya lalu membuka kaca mobil dan menerbankan balon itu. Bintang memandang dengan wajah kesal pada istrinya. Jika hanya untuk di terbangkan, kenapa dia tidak beli yang baru saja tapi malah mencari masalah dengan anak kecil.


Nadia tersenyum manis saat melihat Bintang geleng-geleng kepala sambil menghela nafas. Melihat senyuman manis istrinya yang seperti tanpa dosa, kesal di hatinya pun menghilang. Bintang mencium kening istrinya lalu melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah.

__ADS_1


Saat ini usia kandungan Nadia sudah memasuki bulan ke tiga, perutnya juga sudah mulai membuncit. Dan dari hasil usg di ketahui bahwa yang ada di dalam perut Nadia adalah sepasang anak kembar. Bintang sangat bahagia mengetahui kalau Nadia tidak hanya memberikan satu anak padanya, tapi dua. Nadia langsung memberikan dua anaknya padanya dalam sekali hamil.


Selama hamil, Bintang sangat memanjakan istrinya. Dia selalu berusaha memenuhi semua keinginan Nadia meskipun itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal baginya. Bintang juga melarang Nadia untuk kuliah selama dia hamil. Bintang tidak mau Nadia kelelahan dan membahayakan anak mereka. Jadilah Nadia hanya tinggal di rumah sepenjang waktu. Untung saja Angel sering datang mengunjunginya sehingga Nadia tidak terlalu merasa kesepian.


Waktu terus berlalu tidak terasa usia kandungan Nadia sudah memasuki bulan ke sembilan dan beberapa hari lagi adalah tanggal yang di tetapkan dokter untuk Nadia melahirkan. Sejak semingu yang lalu Bintang sudah tidak lagi masuk kantor. Dia terus menemani istrinya di rumah karena perutnya yang sangat besar membuatnya kesulitan bergerak.


Aisyah dan Hidayat juga sudah berada di rumah Bintang sejak beberapa hari yang lalu. Mereka tidak pernah meninggalkan Nadia sebentarpun. Sebentar lagi keinginan mereka akan segera terwujud, keinginan selama bertahun-tahun kini sudah dekat di depan mata. Menantu mereka akan memberikan mereka sepasang cucu kembar membuat mereka sangat bahagia.


Berbeda dengan Nadia yang merasa takut hari demi hari menuju persalinannya. Belum melahirkan dia sudah sering merasakan sakit  pinggang dan punggungnya. Mungkin karena terlalu berat membawa dua bayi sekaligus di usianya yang masih sangat muda.  


Tapi Nadia tidak pernah menunjukkan rasa takutnya di depan suami dan mertuanya. Dai tidak mau merusak rasa bahagia mereka dengan kekhawatiran akan dirinya. Jika di tanya apakah Nadia sudah siap. Dia akan langsung menjawab bahwa di belum siap sama sekali menghadapi hari persalinannya. Nadia hanya terus di hibur oleh Angel, gadis itu masih serin datang mengunjunginya walaupun dia sendiri sedang sangat sibuk.


Berbicara tentang Angel, sekarang gadis itu sudah menjadi manager di restoran siap saji tempatnya dan Nadia pernah bekerja. Manager sebelumnya yang ternyata adalah sekertaris Bryan harus kembali ke luar negeri karena Bryan membutuhkannya di sana.


Restoran juga mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak dia menjadi manager. Bryan memberinya kebebasan untuk melakukan apapun yang ingin dia lakukan. Hingga restoran itu sudah mempunyai cabang baru di tempat lain.


Dari jauh Bryan terus memantau gadis itu, dia juga sering berkomunikasi dengannya untuk menanyakan apa saja kesulita yang dia alami selama memegang restoran itu.


Hingga suatu hari hal yang tidak pernah Angel bayangkan sebelumnya muncul di depannya.


“Om Bryan” Angel berlari kecil dan langsung memeluk Bryan. Lalu saat dia menyadari bahwa mungkin Bryan datang bersama istrinya, Angel dengan cepat melepaskan pelukannya.


Bryan tersenyum sambil mengusap lembut rambutnya.

__ADS_1


“Apa kabar?” tanya Bryan saat mereka bertemu lagi untuk pertama kali setelah berpisah setahun lebih.


“Kita kan selalu telfonan, Om. Om liat kan, aku baik-baik aja,” katanya.


Melihat Bryan sekarang sangat berbeda saat dia melihatnya dulu saat masih menjadi sugar babynya. Sekarang ada yang lain di hatinya. Tapi Angel mencoba mengabaikannya, mungkin saja itu hanya rasa rindu karena lama tidak bertemu.


“Bagaimana restoran?” Bryan melihat restorannya sedang ramai. Jam makan siang memang adalah puncaknya restoran ramai.


“Om bisa lihat sendiri, restoran lagi ramai. Sekarang omset kita juga naik lima puluh persen dari bulan lalu,” Angel lalu mengajak Bryan ke ruangannya. Di dalam ruangan, Ange memberikan kursinya pada Bryan.


“Duduk, Om”


Bukannya duduk, Bryan malah memeluk Angel. Gadis itu awalnya terkejut lalu membalas pelukan Bryan.


“Aku kangen banget sama kamu,”


“Aku juga kangen sama, Om”


“Bagaimana kalau kita mengulang kisah kita yang lalu. Tapi kali ini bukan sebagai sugar baby, tapi sebagai kekasihku. Kau mau kan menjadi kekasihku?”


Angel membulatkan matanya dengan mulut yang menganga. Mengulang kisah yang dulu? Angel dengan cepat menggeleng.


“Aku tidak mau, Om. Aku tidak mau jadi perusak rumah tangga orang,” kata Angel dengan tegas. Dalam hati yang paling dalam dia merasa kecewa karena ternyata Bryan sama saja dengan banyak laki-laki lain yang ternyata melakukan kebaikan karena menginginkan sebuah balasan.

__ADS_1


__ADS_2